Stella mendengus kesal, namun dia menahannya karena disana banyak orang yang memperhatikannya. Lantas ia pun mempertahankan wajah manis dan lemah lembutnya di hadapan semua orang.
Atensi Asteorope tetap tertuju pada Roselia yang kini sudah duduk manis di dalam kereta, bersama Doris dan Derrick, diikuti dengan Stella yang juga akan naik ke dalam sana.
Mata Asteorope terus memperhatikan Roselia hingga membuat gadis itu tak bisa diam saja dengan tatapan mengintimidasi itu. "Cih! Dasar gila!" gadis itu berdecih melihat Asteorope mengedipkan sebelah matanya.
Derrick langsung menutup tirai jendela kereta itu setelah Stella masuk ke dalam kereta dan duduk di samping Doris.
"Roselia, siapa pria itu?" tanya Derrick sambil melihat ke arah Roselia yang duduk disampingnya.
"Bukan siapa-siapa."
"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa kau bisa jalan bersamanya? Kenapa bisa kau makan bersamanya?" ucap pria itu bertanya dengan nada mengintrogasi.
Roselia terkesiap mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Derrick yang berstatus sebagai kakak sepupunya. "Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?"
Ada apa dengan novel sialan ini? Kenapa semua orang didalamnya tidak bersikap sesuai alur cerita?. Gerutunya dalam hati.
"Aku sedang bertanya kepadamu, Kenapa kau tidak menjawabnya dan malah balik bertanya?"
"Kalau aku tidak mau jawab, kau mau apa? Apa kau mau mengadukanku pada duchess?"
"Roselia, apa susahnya menjawab pertanyaanku?!"bentak Derrick pada Roselia hingga membuat semua atensi semua orang tertuju padanya.
Sial! Aku lupa ada Doris dan Stella disini.
Ada apa dengan si Derrick? Kurasa novel ini sudah kacau! Percuma saja aku membaca cerita itu lebih dari 10 kali, tak berguna. Roselia terus saja menggerutu dalam hatinya ,bahwa beberapa karakter novel love for Stella berubah. Namun ia berpikir ulang, perubahan ini adalah sesuatu yang bagus untuknya? Karena Derrick terlihat peduli padanya, Asteorope juga terlihat baik tidak memusuhinya.
Ketika sampai di mansion Sullivan, Roselia turun lebih dulu dari kereta diikuti oleh Doris, Stella dan Derrick. Sementara itu beberapa pengawal membawakan barang belanjaan Roselia ke dalam mansion.
"Dia benar-benar..." Derrick mendessah kesal karena Roselia sama sekali tidak mau diajak bicara olehnya. Dia melihat gadis itu berjalan menuju ke dalam mansion mewah Sullivan dengan terburu-buru.
Kenapa kau berubah Roselia? Dulu kau sangat lemah lembut, kenapa sekarang kau menjadi ketus padaku? Padahal dulu kau selalu mengharapkan kasih sayangku? Kenapa saat aku ingin memberikannya padamu, kau malah menjauh?
"Tuan muda, saya tidak tahu kalau nona adalah orang yang seperti ini. Saya--"
"Apa maksudmu bicara begini tentang Roselia?" pungkas Derrick sambil melihat ke arah Stella yang ternyata masih berdiri disana.
"Maafkan saya tuan muda, saya hanya-hanya mendengar dari beberapa pelayan di mansion ini, kalau nona Roselia sebelumnya adalah orang yang lemah lembut, tapi karena beliau jatuh ke dalam kolam dan hilang ingatan. Saya rasa nona Roselia mulai berubah, jadi tuan muda tolong maafkan dia..." lirih Stella dengan gaya lemah lembut nan gemulai itu.
"Siapa kau harus meminta maaf atas namanya? Lakukan tugasmu dengan benar dan jangan banyak bicara!" tegas Derrick, kemudian ia berlalu pergi masuk ke dalam mansion.
Raut wajah Stella yang tadinya santai, kini langsung berubah menjadi raut wajah yang menyeringai. "Cih! Kenapa dia begitu sombong? Apa benar aku sudah ditakdirkan oleh dewa untuk memikat hati semua pria? Atau semua ramalan itu hanya bohong? Buktinya, wanita yang seharusnya dibenci semua orang... kenapa dia jadi di cintai? Ini salah besar! Harusnya aku yang mendapatkan semua perhatian itu!" gerutu Stella seraya menatap ke arah mansion Sullivan.
*****
Dua hari sebelumnya, sebelum Stella memasuki mansion Sullivan dan datang ke negeri Gamarcus. Stella tinggal di sebuah desa kecil di perbatasan negeri Gamarcus dan Albarca, dia hanya seorang pelayan yang tinggal bersama seorang petani kecil.
"Ayah, aku tidak mau berada disini lagi. Aku ingin pergi ke kota untuk mengadu nasib!" kata Stella pada ayah angkatnya.
"Kenapa nak? Kau tidak bahagia tinggal bersama ayah? Bukanlah selama ini kau baik-baik saja tinggal disini?" tanya pria paruh baya itu pada Stella. Dia adalah France, ayah angkat Stella.
"Kalau aku tinggal disini sampai aku tua, yang ada aku tidak akan pernah bahagia dan menikah. Ayah pahamilah aku...aku tidak mau selamanya tinggal disini."
"Stella...."
"Ayah kan sudah dengar sendiri dari pendeta di kuil, suatu saat nanti aku akan menjadi orang besar jika aku pergi ke negeri Gamarcus. Aku akan menjadi Ratu negeri ini yang dicintai oleh semua orang, ayah."
"Stella, mungkin pendeta itu berbohong padamu. Jangan percaya padanya...."
Stella menatap ayahnya dengan sinis."Kau bicara seperti ini karena kau tidak mau aku pergi, kan? Aku lelah mengurus ayah yang terus sakit-sakitan!" gerutu Stella pada France.
"Kau...tidak boleh pergi nak, kau--uhuk...uhuk..."
Tiba-tiba saja pria paruh baya itu memuntahkan darah. Dia menatap Stella yang tersenyum menyeringai. "Stella...apa yang kau campurkan--pada--uhuk--uhuk..." France melihat ke arah cangkir yang sudah kosong itu. Belum lama dia meminumnya.
"Oh ayah, tenanglah...aku hanya mengakhiri penderitaanmu saja." kata Stella santai melihat ayahnya sekarat.
"DASAR kau anak tidak TAHU DI--RII!!" teriak France, dengan tatapan murka dan sekuat tenaganya. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.
"Maaf ayah, terserah ayah mau bilang apa...tapi tidak ada yang bisa menghalangiku untuk pergi ke negeri Gamarcus." Stella tersenyum melihat ayahnya ambruk ke lantai dengan kondisi sekarat. Mata France menatapnya dengan tajam, penuh murka.
Tak lama kemudian, pria paruh baya itu menghembuskan nafas terakhirnya. Stella buru-buru menyingkirkan cangkir itu, lalu dia menghampiri ayahnya. "Maaf ayah." gumamnya pelan sambil memeluk France yang sudah terbujur kaku.
"Tolong! Tolong ayah saya! Tolong....hiks.. ayah...ayah...."
Benar-benar drama queen sekali Stella ini, dia berpura-pura menjadi korban padahal di tersangka. Semua orang mendatanginya dan menolongnya menguburkan sang ayah. Setelah itu 2 hari kemudian Stella pergi ke kota, ia senang meninggalkan desa kecilnya.
Beberapa hari yang lalu, Stella bertemu dengan seorang pendeta di kuil kecil di desa itu.
"Kau cantik nak, kau akan mendapatkan kebahagiaan bila kau pergi dari tempat ini. Kau akan menjadi seorang ibu negeri Gamarcus, takdirmu sudah ditentukan."
"Benarkah itu pendeta?" Stella tampak berbinar-binar.
"Iya, dewa sudah memilihmu...kau adalah pemeran utama, empat orang pria yang memiliki posisi tinggi, mereka akan melindungimu dan menyanjungmu setinggi langit."
Stella benar-benar bahagia mendengar ramalan tentang dirinya ,dia percaya diri bahwa nasibnya baik. Dia tak mau hidup miskin lagi, mungkin karena dia cantik maka hidupnya akan menjadi lebih baik. Ya, dia percaya diri begitu.
"Tapi--"
Gadis itu tercekat saat si pendeta menyebutkan kata tapi yang menggantung disana. "Ada seseorang yang akan memiliki nasib yang sama denganmu dimasa depan, di kemungkinan dia akan menjalani jalan yang sama denganmu. Jika kau tidak menyingkirkannya maka kau yang akan tamat."
Mendadak Stella menjadi tegang saat mendengar penuturan dari pendeta itu. "Lalu siapa dia? Siapa wanita itu?"
"Roselia Mariana Edenbell,"
Mata Stella membulat mendengar nama itu, nama seorang putri penjahat yang tidak asing.
...****...
Hai Readers, makasih ya komen dan vote kalian... author jadi semangat up nih ☺️👍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
༄ᴵᵏᵏQuenzyᥫ᭡
pendeta abal abal itu
2024-12-17
1
Frando Kanan
hmph 😒....
2024-04-10
0
Frando Kanan
tuh kn.... ckckck e
2024-04-10
0