...🍀🍀🍀...
Setelah mendengar penjelasan tabib, Amber, Daniar dan Derrick terdiam sejenak. Lalu ibu dan anak perempuannya itu langsung menyeret Roselia dari atas ranjang yang empuk itu.
"Anak sialan! Kembali ke kamarmu sekarang juga, ini kamarku!" ujar Daniar emosi.
"Aku tidak mau pergi, aku suka kamar ini." jawab Roselia, lalu duduk kembali di atas ranjang.
Untuk terhindar dari kematian sebagai putri penjahat, aku harus segera keluar dari rumah dan untuk itu aku perlu uang, lalu hidup tenang dengan uang banyak. Pikir Roselia dalam hatinya.
"Kau--tidak tahu malu!!" bentak Daniar pada Roselia.
"Sudahlah Daniar, biarkan saja dia tinggal disini." Derrick menatap Roselia dengan aneh dan heran, namun menelisik.
Amber menaikkan kedua alisnya, ia menatap Derrick dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu Derrick? Ini adalah kamar adikmu, Daniar!"
"Ibu, Rose sedang sakit dan awalnya kamar ini adalah kamarnya juga...jadi--"
"Ibu, aku tidak mau!" seru Daniar merengek pada ibunya, dia tak sudi kamarnya ditempati oleh Roselia sepupunya sendiri.
"Aku juga tidak mau pergi dari sini, aku nyaman berada di kamar ini. Dan aku dengar dari beberapa pelayan di rumah ini, kalau mansion ini adalah aset milik mendiang ayahku." tutur Roselia dengan wajah datarnya.
Roselia alias Ariana ingat benar bahwa ibu dan anak itu selalu menyiksa Roselia di rumahnya sendiri, maka Ariana akan membalasnya sebentar sebelum kabur dari rumah itu.
"Kau! Beraninya kau bicara begitu, ayahmu tidak punya apa-apa setelah dia di hukum mati, dia hanya meninggalkan banyak hutang padaku, BIBIMU. Jadi wajar saja kalau mansion ini diberikan padaku, agar ayahmu membayar hutang!"
"Oh begitu ya." Roselia tersenyum menyeringai mendengarnya.
Dasar pembohong, aku tau kaulah yang berhutang dan kau yang membuat harta peninggalan ayah Roselia habis. Aku sudah tau cerita novelnya.
"A-apa kau tidak percaya?" tanya Amber lagi.
Roselia merasa pusing dengan semua perdebatan yang tidak ada akhirnya itu. Akhirnya dia memilih untuk berakting pusing, sakit kepala agar semua orang pergi dari sana.
"Auchhh... kepalaku, astaga..."
"Kau kenapa Rose?" tanya Derrick dengan suara cemas.
"Kepalaku sangat sakit--" Roselia memegang kepalanya, dia meringis kesakitan.
Ada apa dengan si Derrick? Bukankah dia tidak peduli pada Roselia?
"Ibu, lebih baik kita panggil tabib saja!" ujar Derrick panik.
"Apa maksudmu Derrick? Tidak perlu!"
"Ya itu benar, kau tidak perlu memanggil tabib untukku tuan." ucap Roselia. "Aku hanya perlu beristirahat."
Akhirnya Derrick mengajak adik dan ibunya dengan susah payah untuk keluar dari kamar itu. Setelah ibu dan adiknya pergi, Derrick masih berdiri di depan kamar Roselia. Pria itu menatap pintu dengan tatapan menelisik.
"Ini aneh, Roselia hilang ingatan tapi dia bersikap seolah-olah dia tau semuanya...yang lebih aneh lagi, sikapnya begitu berbeda." gumam Derrick berpikir apa yang terjadi dengan Roselia.
Entah kenapa aku merasa simpati melihatnya berubah seperti ini? Kenapa aku peduli?
Seorang pelayan berjalan mendekati kamar Roselia, dia membawa nampan berisi makanan dan segelas susu. "Kau...Doris?" tanya Derrick pada pelayan dengan rambut berwarna coklat di kepang dua itu.
"Iya tuan muda,"
"Makanan itu untuk siapa?" tanyanya lagi.
"Untuk nona Daniar,"
"Berikan saja itu untuk Roselia, dia adalah di dalam kamar ini."
Doris tercekat mendengarnya, ia bertanya-tanya kenapa Roselia bisa menempati kamar Daniar. "Ta-tapi tuan muda, nanti nona Daniar akan marah kepada saya."
"Biar aku yang tanggungjawab. Cepat kau masuklah! Pastikan dia menghabiskan semua itu dan juga obatnya," ucapnya pada Doris, lalu dia berlalu pergi dari sana.
Doris sungguh takjub dengan sikap tuan mudanya yang biasanya cuek pada Roselia, kini malah jadi perhatian kepadanya. "Demi apa? Kenapa tuan muda jadi bersikap baik pada Rose--eh maksudku nona Roselia." Tampaknya Doris masih belum terbiasa memanggil Roselia dengan panggilan nona, dia terbiasa memanggil gadis itu dengan namanya.
Pelayan berusia muda itu masuk ke dalam kamar yang ada Roselia didalamnya. Roselia tersenyum bahagia melihat kedatangan Doris.
Doris! Di dalam novel, dia adalah satu-satunya orang yang berpihak pada Roselia sampai Roselia menutup matanya. Doris bahkan rela dihukum mati bersama Roselia, dia adalah teman baik yang setia.
"Rose--eh maksud saya nona." ucap Doris menyapa Roselia yang sedang duduk sambil bersandar di head board ranjangnya.
"Kemarilah Doris!" ujarnya seraya tersenyum.
"Ya, nona."
Doris berjalan mendekati Roselia, lalu dia menyimpan nampan berisi makanan dan segelas susu ke atas meja disamping ranjang Roselia. "Doris, apa kau membuat ini untukku?" mata Roselia berbinar melihat makanan yang tampak lezat itu. Sejak masuk beberapa jam yang lalu ke dalam tubuh Roselia, dia selalu merasa lapar.
Gadis itu tersenyum mengangguk. "Iya nona,"
"Wah terima kasih, Doris...tapi aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengambilkan semua ini?"
"Tuan muda Derrick yang meminta saya untuk membawakan makanan ini untuk nona."
Roselia menaikan kedua alisnya, dia mengerutkan kening. Lagi-lagi Derrick? Kenapa dia bersikap tidak sesuai novel aslinya?
"Oh begitu, tapi Doris... kau jangan memanggilku nona, panggilah aku seperti biasanya."
"Saya...saya mana berani," Doris menundukkan kepalanya dengan tidak percaya diri didepan Roselia.
"Bukankah kau bilang kita teman?" Roselia memegang tangan Doris.
"Mana berani saya berteman dengan nona--"
"Doris, selama ini kau sudah banyak membantuku. Kita berteman, jadi kau boleh memanggil namaku..."
"Tidak nona, saya tidak mungkin melakukan itu. Nanti saya bisa dianggap tidak sopan kepada seseorang yang posisinya lebih tinggi daripada saya yang seorang pelayan rendahan ini." jelasnya sambil tersenyum sendu.
"Oh ya, aku lupa di dunia ini sangat mementingkan sistem kasta dan status sosial seseorang." gumam Roselia pelan. "Ah baiklah! Saat tidak ada orang, memanggil namaku sepuas hatimu...aku mohon Doris." ucapnya seraya memohon pada Doris.
"Baiklah nona Roselia."
"Kau tenang saja Doris, aku akan pastikan bahwa kita berdua akan hidup bahagia dalam kehidupan kali ini."
"Hah?" Doris terperangah dan tidak paham dengan ucapan Roselia. Pikirnya mungkin karena gadis itu hilang ingatan, jadi bicaranya pun jadi ngawur. "Saya harap anda segera sembuh," ucapnya tulus.
*****
Setelah itu Roselia mendapatkan fasilitas yang seharusnya dia dapatkan, itu pun karena dia bersusah payah. Ibu dan anak perempuannya masih bersikap buruk padanya, tapi mereka tidak berani macam-macam karena Roselia melapor pada penasehat keluarganya. Bahwa semua harta kepemilikan Roselia dari mendiang ayahnya, akan tetap dititipkan kepada duchess Sullivan dengan syarat, ia harus merawat Roselia dan memberikannya kehidupan yang layak.
Sekarang Roselia memakai gaun yang mewah dan dia tidak lusuh lagi. 3 Minggu menjadi Roselia, kini tubuh dengan jiwa Ariana itu agak gemukan walau sedikit.
Bosan hanya berdiam diri di mansion dan kamarnya, Roselia berpikir untuk pergi keluar rumah.
"Pasti Roselia bahagia, bila aku membawa tubuhnya keluar untuk jalan-jalan. Selama ini dia selalu terkurung di ruang bawah tanah dan tak pernah melihat dunia luar kecuali saat bertemu Stella...oh ya tentang Stella, gadis itu dia dimana? Harusnya dia sudah muncul 1 Minggu yang lalu."
****
Sementara itu ditempat lain, tampak seorang gadis cantik dengan rambut perak terlihat sedang berjalan bersama seorang pria gemuk. "Ingat! Sesampainya di rumah itu kau harus melakukan tugasmu!"
"Baik tuan," jawab gadis itu seraya menganggukan kepala dan menghela nafas berat.
...*****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
༄ᴵᵏᵏQuenzyᥫ᭡
sepertinya itu stela kalo ga salah
2024-12-17
1
Frando Kanan
hm...Dia Stella? klo bner mka gk heran knp Roselia mati
2024-04-10
1
rewa999999999
cerita asu
2023-01-02
0