...🍁🍁🍁...
"Ibu, kita harus memusnahkannya! Aku tidak mau kita ditindas Bu!"
"Tenanglah sayang, dia pasti akan tiada. Ibu akan membalas semua perbuatannya," ucap Amber sambil menatap putrinya. "Dia memang tidak seharusnya berada di dunia di mana kita berada."
"Ibu benar, dia harus MATI!" ujar Daniar marah.
"Daniar! Panggilkan Elder ke ruangan ibu!" titah Amber pada putrinya.
"Baik ibu," Daniar tersenyum begitu mendengar nama Elder.
Mati kau wanita pembawa sial, Elder akan menghabisimu.
"Kita tidak bisa membiarkan rumput liar hidup di sekitar kita, maka rumput itu harus dicabut.' gumam Amber dengan seringai dibibirnya.
Amber pun pergi meninggalkan putrinya dan berjalan ke ruangan baca, sementara itu Daniar pergi memanggilkan Elder. Pengawal terhebat di mansion itu.
****
Malam itu Roselia tidak keluar dari kamarnya, dia malas keluar dari kamar dan bertemu dengan Amber juga Daniar. Dia minta agar Doris membawakan makanan ke kamarnya saja.
Doris pun pergi ke bagian dapur dan bermaksud membawa makanan, disana ia tak sengaja mendengar gosip yang tidak-tidak tentang Roselia.
"Apa benar si wanita pembawa sial Roselia itu memiliki hubungan gelap dengan tuan muda Derrick?"
"Astaga! Mereka kan sepupuan,"
"Itu benar, aku pernah melihat mereka berdua berpelukan...itu sering."
"Melihat sikap tuan muda Derrick yang berubah, pasti wanita pembawa sial itu sudah menyerahkan tubuhnya pada tuan muda. Sungguh dia sangat menjijikan! Berhubungan dengan sepupunya sendiri," kata seorang pelayan dengan raut wajah yang menunjukkan jijik.
"Hey kalian jangan bicara begitu! Bukankah sekarang dia adalah nona kita, siapa tau itu semua hanya gosip. Tuan muda Derrick berubah karena dia ingin menjadi kakak yang baik untuk nona Roselia." ucap seorang pelayan muda berusaha berpikir positif.
"Kau sangat naif, Miley. Mana mungkin kakak adik biasa akan berciuman."
"Kata siapa nona Roselia dan tuan muda Derrick berciuman?!" celetuk Doris yang menunjukkan dirinya, dia sudah tidak tahan mendengarkan secara diam-diam tentang Roselia.
"Stella, dia bilang dia melihat kalau wanita pembawa sial itu berciuman dengan tuan muda." kata salah seorang pelayan lalu melirik ke arah Stella yang sedang bersih-bersih di atas pantry.
Doris menatap Stella dengan tajam. "Apa itu benar?"
"Ah...aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu, ini semua tidak benar!" sangkal Stella.
"Stella, bukankah kau yang bilang begitu?" tanya seorang pelayan lainnya.
"A-aku tidak bilang begitu." sangkal Stella lagi. "Banyak yang membicarakan tentang itu dan bukan aku yang menyebarkannya." ucap Stella dengan wajah polosnya.
Sial, kenapa mereka harus mengingat bahwa aku yang menyebarkan gosip itu. Jangan sampai Doris curiga padaku.
"Tapi kau--"
"Doris, bukankah kau kemari untuk mengambil makanan? Ambil makanan untuk nona, pasti dia sudah menunggu." Annie tiba-tiba memotong ucapan Doris.
Doris hampir lupa tujuannya datang ke dapur adalah untuk mengambil makanan, akhirnya mau tidak mau dia mengakhiri pembicaraannya dengan pelayan-pelayan dapur dan menyiapkan makanan untuk nonanya.
Kini Doris sudah berjalan dengan membawa nampan berisi sepiring nasi dengan beberapa lauk pauk disana, juga segelas air putih. Derrick yang baru saja keluar dari ruang bacanya, melihat Doris berjalan di lorong. "Doris, kau mau bawa makanan itu kemana?"
"Selamat malam tuan, saya akan membawakan makanan ini ke kamar nona Roselia."
Derrick mengerutkan keningnya, ia memegang pelipisnya dengan bingung. "Kenapa kau mengantar makanan itu ke kamar? Apa mungkin terjadi sesuatu kepada Roselia?"
"Tidak tuan muda, nona baik-baik saja karena nona hanya ingin makan di kamar saja."
"Oh begitu ya...baiklah kalau begitu biar aku yang membawakan makanan ini untuknya."
"Apa?" Doris menengadah.
"Doris, apa perlu aku mengulangi ucapanku?"
"Baik tuan." Doris pun menyerahkan nampan itu kepada Derrick. Lalu Derrick memerintahkan kepada Doris untuk mengambil makanan ringan untuk dibawa ke kamar Roselia.
Doris paham dan dia kembali pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
Sementara Derrick pergi ke kamar Roselia, setelah mengetuk pintunya beberapa kali namun tidak ada jawaban. Akhirnya ia masuk dengan membawa nampan itu, dilihatnya wanita cantik itu sedang duduk di dekat jendela sambil melihat ke luar dengan tatapan sendu.
Derrick meletakkan nampan berisi makanan itu diatas meja. "Ada apa dengannya? Kenapa dia sampai tidak menyadari keberadaanku di sini?" tanya Derrick heran.
Sudah lama...aku tidak melihat raut wajahnya yang begitu sedih.
Wanita itu terlihat sedih, tiba-tiba dia teringat dengan hidupnya di dunia modern dan di dunia sekarang yang begitu berbeda. Tiba-tiba dia ingin pulang, dia rindu rumahnya.
Tuhan, aku harus berada disini sampai kapan. Aku rindu rumah...aku rindu nonton tv, aku rindu ponselku, aku rindu teman-temanku dan aku rindu dengan manager Liam. Disini tidak ada tv, tidak ada ponsel, sangat membosankan. Aku ingin pulang.
Sebuah tangan menyentuh pipinya yang basah dengan lembut, membuat dia tersadar dari lamunannya. "Kakak!" pekik Roselia kaget.
"Rose, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Derrick lalu duduk disamping Roselia.
"Tidak apa-apa kak," jawab Roselia sambil menyeka air matanya.
Rupanya aku menangis.
"Katakan padaku! Ada apa?"
"Kak...aku tidak mau tinggal di rumah ini lagi, kakak tolong bantu aku agar aku bisa keluar dari sini." ucap Roselia yang membuat Derrick terkejut.
"Mengapa kau mau pergi? Kenapa? Ada apa Roselia? Apa ibuku dan Daniar--" kening Derrick berkerut.
"Tidak kakak! Aku ingin pergi dari sini, aku yakin kau pasti bisa membantuku!"
"TIDAK Roselia, kau tidak boleh pergi dari sini!" teriak Derrick tiba-tiba marah.
Melihat reaksi penolakan dari Derrick, Roselia yakin bahwa Derrick memiliki perasaan padanya.
****
Sementara itu di istana kerajaan Gamarcus, seorang pria berambut hitam dengan mata berwarna abu-abu terlihat sedang berjalan menuju ke ruangan besar yang ada kursi singgasana disana.
"Hormat saya pada yang mulia Raja," Mikhael berlutut didepan Raja Gamarcus itu.
"Ya, putraku." pria paruh baya itu tersenyum melihat putranya. "Sebentar lagi ada pesta untukmu, kau pilihlah salah satu putri yang nanti akan hadir di pesta itu."
"Yang mulia--"
"Jangan menolak lagi Mikhael, usiamu sudah cukup untuk menikah." ucap sang Raja tegas.
"Ayah, aku belum berniat untuk menikah."
"Kalau kau tidak menikah dalam tahun ini, maka akan aku serahkan tahtaku kepada pamanmu!" ujar Raja mengancam.
Mata abu-abu Mikhael menatap ayahnya dengan panik.Tangannya terkepal kuat.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
༄ᴵᵏᵏQuenzyᥫ᭡
wah makin seru ni
2024-12-17
1
Frando Kanan
ini pelayan setia apaan 🤦
2024-04-10
0
yang nempel banget sama HP kalo ngisekai gimana ya dia? 🤣
2022-12-08
6