Self Healing
2 hari setelah kegiatan hiking yang diselenggarakan oleh organisasi remaja masjid di Jakarta Selatan, aku mendapati kedua kakiku bengkak. Memang kegiatan itu cukup melelahkan, dengan berjalan menanjak di daerah pegunungan Cisarua, Megamendung, Bogor dengan curug Cilember yang indah sebagai destinasi perjalanan.
Melihat keadaan kakiku yang tak kunjung normal, aku pun tidur dengan posisi kaki di atas dengan bersandar di dinding samping tempat tidurku, karena aku mengira bengkak ini akibat dari kegiatan hiking yang cukup melelahkan. Aku pun tertidur dengan durasi yang cukup panjang karena kelelahan, yang membuat wajahku menjadi sembab. Tetapi keesokan harinya, kakiku tetap saja bengkak. Keluargaku tidak ada yang mengetahuinya, karena aku selalu memakai celana panjang walaupun di dalam rumah. Tetapi ibuku mengatakan sesuatu akan wajahku yang sembab.
"Mukamu kok sembab banget ?"
"Hmmm, palingan karena kelamaan tidur, makanya jadi sembab," jawabku, paling tidak menurutku seperti itu.
Tetapi kemudian, aku mengeluhkan keadaan kakiku yang bengkak kepada kedua orang tuaku.
"Bu, kakiku kok, masih bengkak ya? Padahal sudah lewat 5 hari dari acara hiking," ucapku kepada ibu sambil menunjukkan kedua kakiku.
Ibuku adalah seorang mantan bidan, sehingga ia sedikit banyak mengetahui tentang ilmu kesehatan. Ia pun segera memeriksa kedua kakiku dengan cara menekan-nekannya dengan jari tangannya yang kemudian meninggalkan bekas cekungan pada kakiku.
"Lin, sudah berapa lama bengkaknya?" tanya ibu dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Dari Ahad, pulang hiking," jawabku.
"Kok kamu nggak bilang ke ibu?! buang air kecilnya gimana? normal atau berbuih?" tanya ibu lagi.
"Hmmm kayaknya ada buihnya sih, tapi aku nggak tahu juga, Bu. Aku nggak merhatiin," jawabku.
Ibu pun segera masuk ke dalam kamarnya dan sesaat kemudian, ayah mendatangiku bersama ibu.
"Lin, kita ke dokter sekarang. Di rumah ujung itukan internis, kita segera periksa ke sana. Ayo, cepat ganti baju !" ucap ayah.
Aku pun segera mengganti pakaianku dan memakai jilbab instanku lalu dengan diantarkan oleh kedua orang tuaku, aku berjalan menuju tempat praktek dr. Tedi, SpPD, yang hanya di terpaut 5 rumah dari tempat tinggalku. Sesampainya disana, aku tidak perlu mengantri, karena aku adalah pasien pertamanya.
Sebelum memasuki ruang praktek, aku menimbang beratku terlebih dahulu, aku cukup terkejut, karena terakhir aku menimbang berat badanku, sekitar sebulan yang lalu, beratku 42 kg, tetapi sekarang beratku menjadi 45 kg. Apakah mungkin beratku bertambah 3 kg hanya dalam jangka waktu 1 bulan? sedangkan tipe badanku adalah tipe yang tidak mudah untuk menaikkan berat badan.
Lalu, aku pun memasuki ruang praktek dr. Tedi bersama kedua orang tuaku.
"Silahkan, atas nama Halina Ramadhani?" sapa dr. Tedi dengan senyuman hangat.
"Iya, Dok," jawabku.
"Ada keluhan apa?" tanyanya lagi.
"Ini Dok, kedua kaki anak saya bengkak dan katanya urinenya berbuih, wajahnya juga sedikit sembab," jelas ibu.
Dokter Tedi pun melihatku dengan seksama, lalu memintaku untuk naik ke atas bed periksa. Setelah aku berasa di atas bed periksa, dr. Tedi mulai melakukan pemeriksaannya, dari tekanan darah, kemudian denyut jantung serta memeriksa seluruh tangan dan kakiku.
Ibuku mendampingiku selama pemeriksaan, ia berdiri di samping bed periksa, untuk memastikan pemeriksaan yang dilakukan dr. Tedi padaku. Sementara itu, dr. Tedi menekan-nekan kuku jari tanganku lalu berpindah pada kakiku yang bengkak. Ia juga menekan-nekan kakiku dengan jarinya, lalu bekas jarinya yang ditekannya pada kakiku meninggalkan bekas cekungan akibat dari tekanannya, hal ini membuatku merasa aneh dan juga kedua orang tuaku. Sedangkan dr. Tedi terlihat berfikir sesaat, kemudian ia menyudahi pemeriksaan fisikku dan kembali ke meja periksanya dan aku pun mengikutinya.
"Ada keluhan lain? seperti kurang nafsu makan, mudah lelah, tidak bersemangat?" tanya dr. Tedi.
"Iya, Dok," jawabku.
"Usianya hampir 14 tahun, ya?" tanya dr. Tedi.
"Iya, Dok," jawab ibuku.
"Begini, saya minta tes darah dan urine untuk memastikan penyakitnya," ucap dr. Tedi sambil menuliskan daftar pemeriksaan laboratorium yang harus aku lakukan.
"Periksa lab-nya pagi-pagi yaa, jam 6-7 pagi. Setelah hasil lab-nya keluar, bisa kembali lagi kesini," lanjutnya.
Keesokan paginya, dengan diantar oleh kedua orang tuaku, pada pukul 06.00 pagi aku melakukan pemeriksaan di laboratorium yang tak jauh dari tempat tinggalku dan searah menuju sekolah.
Salah satu perawat segera mempersiapkan botol-botol untuk sampel darah dan urine kemudian ia menempelkan stiker yang bertuliskan namaku serta keterangan waktu, setelah ibuku memberikan kertas pemeriksaan laboratorium dari dr. Tedi.
"Puasa?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
"Silahkan buang air kecil disini, itu kamar mandinya," ucapnya lagi.
Aku hanya mengangguk dan menuruti perintahnya dan menuju toilet yang berada di ujung lorong ruang pemeriksaan.
Setelah itu, aku didudukkan di sebuah sofa untuk pengambilan sampel darah. Aku melihat perawat berjalan ke arahku dengan membawa peralatannya, jarum suntik, tali pengikat lengan dan tabung sampel darah.
Ia lalu duduk di sampingku lalu mengoleskan lenganku dengan kapas yang telah dibasahi alkohol.
"Maaf yaa, nanti sakit sedikit. Sekarang dikepal jarinya yang kuat," ucapnya.
Aku pun mengepalkan jari-jemariku. Lalu ia menepuk-nepuk lenganku agar pembuluh darahnya terlihat. Ia melakukannya berulang-ulang, membuat firasatku tidak enak.
Lalu sepertinya ia sudah menemukan pembuluh darah yang ia cari, "Saya suntik yaa, tarik nafas....., lepas."
Aku pun mengikuti perintahnya, tetapi tidak ada cairan darah yang keluar, sehingga ia memulainya kembali, alhamdulillah darah pun keluar mengisi tabung suntik. Tetapi belum sepenuhnya terisi, aliran darahku terhenti. Perawat itu pun terlihat bingung, lalu ia menggerakkan jarum suntiknya untuk mencari pembuluh darahnya, hal itu dilakukan berulang sehingga membuatku kesakitan dan ibuku pun melayangkan protesnya.
"Mbak, bisa ngambil darahnya nggak sih? Kasihan anak saya, masak lengannya bolak-balik ditusuk-tusuk seperti itu?!"
Perawat itu pun terlihat gugup setelah mendengar protes ibuku. Lalu seorang perawat lain, mungkin yang lebih senior mengambil alih tugasnya.
"Maaf yaa. Hmmm, ini pembuluh darahnya tipis sekali, jadi memang lebih sulit. Coba tangannya naik turun seperti angkat barbel, seperti ini," ucapnya lagi sambil mencontohkannya.
Aku pun mengikuti perintahnya. Setelah beberapa saat, ia pun kembali memulai proses pengambilan sampel darahku. Alhamdulillah, kali ini berhasil. Cairan berwarna merah pekat pun mulai mengalir mengisi tabung-tabung yang telah diberi nama dan keterangan waktu.
Akhirnya proses pengambilan darah pun selesai.
"Nanti hasilnya akan kami kirim ke rumah, sekitar jam 2 siang," ucap si perawat tadi.
Setelah itu, aku pun berangkat menuju sekolah. Aku terlambat sekitar 15 menit, tetapi aku mengantongi surat periksa dokter dan pengambilan darah yang harus dilakukan di pagi hari, sehingga aku tidak mendapatkan sanksi akan keterlambatanku.
Sore harinya, aku kembali memeriksakan diri ke dr. Tedi dengan membawa hasil pemeriksaan laboratorium. Banyak istilah-istilah yang aku tidak pahami, tetapi terdapat angka-angka yang dibintangi karena melebihi batas normal, yang membuatku yakin ada yang tidak normal dengan tubuhku.
"Hmmmm kadar protein dalam urinenya tinggi sekali," gumamnya pelan, tetapi tetap terdengar olehku.
Ia terlihat sangat serius membaca setiap lembar laporan hasil laboratoriumku, sambil sesekali mengerutkan dahinya. Tak lama kemudian, ia mulai menjelaskan kemungkinan yang terjadi.
"Setelah saya baca laporan hasil laboratorium Halina, dapat disimpulkan dengan banyaknya kadar protein yang keluar bersama dengan urine, sepertinya Halina mengidap sindrom nefrotik atau istilah awamnya disebut bocor ginjal," jelasnya.
Aku hanya diam, karena aku tidak mengerti dengah apa yang baru disampaikan oleh dr. Tedi, sedangkan ekspresi kedua orang tuaku tampak sangat khawatir.
"Halina, bisa naik ke bed periksa," pinta dr. Tedi yang segera kuikuti.
Seperti pemeriksaan sebelumnya, ia mengukur tekanan darahku dan pemeriksaan rutin terlebih dahulu, sebelum melakukan USG pada tubuhku. Lalu ia meminta agar aku menaikkan sedikit kaosku, aku sedikit terkejut ketika cairan dingin gel yang dioleskan pada area sekitar ginjalku.
Wajah dr. Tedi terlihat sangat serius, seperti sedang mencari-cari sesuatu pada layar USG.
Tak lama kemudian,
"Sepertinya ini," ucapnya sambil menunjuk pada layar dan sambil satu tangannya masih memegang alat USG.
"Ini letak kebocorannya, sangat kecil sekali mungkin hanya sebesar tusukan jarum," jelas dr. Tedi.
Tak lama, dr. Tedi menyudahi pemeriksaan fisik padaku dan kembali ke mejanya.
"Jadi, dapat dipastikan antara gejala dan hasil laboratorium menunjukkan bahwa Lina terkena penyakit sindrom nefrotik atau bocor ginjal. Apakah penyebabnya? sampai saat ini belum dapat diketahui penyebab pasti dari penyakit ini," jelas dr. Tedi.
"Tetapi penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat," tambahnya lagi.
Ibuku tampak menahan air matanya, sedangkan ayahku tampak lebih kuat dan menggenggam tangan ibuku, seolah-olah berkata, "She's gonna be fine, she'll be okay, don't you worry."
Sedangkan aku masih belum mengerti apa maksud dari sakitku ini. Yang kupikirkan hanya bagaimana aku bisa menderita penyakit yang namanya saja sulit kusebutkan, bahkan ini adalah pertama kalinya aku mendengar namanya.
Kemudian dr. Tedi, menuliskan resep obat untukku, sementara itu ibuku seperti memikirkan sesuatu.
"Dok, ada pantangan atau diet yang harus dilakukan untuk pengobatan, Lina?" tanya ibu.
"Tidak ada pantangan, semua tetap boleh dimakan, makan seperti biasa saja, bahkan tambahkan proteinnya, karena dia akan kekurangan protein akibat keluarnya protein bersama urine, jadi makan seperti biasa saja. Tinggal minum obat yang teratur," jelas dr. Tedi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Athifa
assalamualaikum kk
2024-05-25
1
teti kurniawati
aku mampir kak.. mampir juga di novel aku "Cinta berakhir di lampu merah. "
2022-10-16
0
leneva
perjalanan hidup 30 tahun pokoknya, masih panjang dan lama
2022-10-09
0