🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Akhirnya Valerie pun sampai di kantor The Black Hunter dengan penampilan yang sangat acak-acakan sehingga semua yang melihat tampak heran.
Valerie masuk ke dalam ruangan timnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Astaga Vale, kamu kenapa? kok penampilan kamu acak-acakan seperti itu?" tanya Rosa yang merupakan bagian dari timnya juga.
"Biasa habis olahraga siang," sahut Valerie dengan memejamkan matanya.
Rosa tanpa banyak bertanya lagi, langsung mengambil kotak obat kemudian duduk di samping Valerie, perlahan Rosa meneteskan obat ke atas kapas dan mengoleskannya ke sudut bibir Valerie.
Valerie langsung membuka matanya, Valerie tahu kalau Rosa adalah teman yang paling perhatian, bukan kepadanya saja ke semua orang pun Rosa sangat perhatian.
"Bagaimana misinya, apa sudah kelihatan ada yang aneh-aneh?" tanya Rossa.
"Belum, keadaan masih normal dan kondusif."
"Julian mana?"
"Entahlah, tadi dia ada tugas dari Wakil Ketua. Mbak, aku mau tidur dulu sebentar ya! nanti bangunkan aku kalau si Panjul sudah datang," seru Valerie.
"Oke."
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Valerie pun terlelap. Rosa tampak geleng-geleng kepala, kemudian Rosa pun mengambil selimut untuk menutupi paha Valerie.
Rosa pun kembali duduk di meja kerjanya, tidak lama kemudian pintu ruangan pun terbuka menampilkan Julian dan Wakil Ketua.
"Selamat siang Wakil Ketua, ah sebentar saya bangunkan Valerie dulu."
"Rosa tunggu! sudah biarkan saja dia tidur, mungkin dia kecapean."
"Baik Wakil Ketua."
Rosa pun kembali ke meja kerjanya, sedangkan Wakil Ketua mengotak-ngatik laptop miliknya. Julian memperhatikan Valerie yang sedang tidur.
"Nih anak kenapa? penampilannya acak-acakan, mana sudut bibirnya lebam lagi," seru Julian.
"Katanya sih habis olahraga siang, Jul," sahut Rosa.
"Hah, siapa yang sudah ngajak dia olahraga?"
Rosa mengangkat bahunya tanda tidak tahu, Julian yang memang jahil mulai tersenyum menyeringai. Julian mengambil bulu kemoceng kemudian memasukannya ke hidung Valerie membuat seketika Valerie bersin.
Haciwww....
Seketika hujan lokal menyembur ke wajah Julian membuat Julian seketika menjauh.
"Busyet, habis jigong kamu nyembur ke wajahku," seru Julian.
"Apaan si Panjul, gangguin orang tidur aja!" bentak Valerie.
Valerie belum sadar kalau ada Wakil Ketuanya, Rosa dan yang lainnya hanya bisa menahan tawanya, mereka tidak berani tertawa karena ada Wakil Ketua yang judesnya melebihi emak-emak komplek.
Julian mengedipkan matanya ke arah Valerie, bermaksud memberinya kode kalau Wakil Ketua sedang memperhatikannya.
"Ngapain kamu kedip-kedip ke aku, Panjul. Mau mencoba merayuku?" kesal Valerie.
Julian menepuk jidatnya sendiri, hingga tanpa sengaja Valerie menoleh dan melihat Wakil Ketua sedang menatapnya dengan tajam.
"Allohuakbar."
Valerie langsung merapikan penampilannya dan berdiri dengan tegap.
"Selamat siang, Wakil Ketua!" sapa Valerie.
"Valerie, Julian, kalian duduk di sini," seru Wakil Ketua.
Dengan ragu-ragu, Valerie dan Julian pun duduk di hadapan Wakil Ketua.
"Saya sudah memantau kalian, sepertinya suasana di sekolahan itu masih aman-aman saja dan kalian harus hati-hati dengan yang namanya Roy, dia siswa yang paling ditakuti di sekolahan itu dan kalian jangan terlalu sering menunjukan kemampuan kalian, takutnya mereka akan curiga kepada kalian."
"Baik Wakil Ketua," sahut Valerie dan Julian bersamaan.
"Satu lagi, kalian jangan sampai terlalu dekat dengan penghuni sekolah itu karena bisa jadi si pelaku itu bagian dari penghuni sekolah dan berada dekat dengan kalian, jadi intinya kalian harus bersikap sewajarnya jangan terlalu dekat dengan mereka, takutnya kalian ketahuan."
"Siap Wakil Ketua."
"Sekarang kalian boleh pulang dan persiapkan fisik kalian untuk besok."
Wakil Ketua pun bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu, membuat semua orang yang ada di sana menghembuskan nafas lega.
***
Keesokan harinya...
Valerie dan Julian pun kembali masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bu Anti.
"Selamat pagi, Bu!"
Bu Anti membuka absen siswa dan tampak mengerutkan keningnya.
"Siapa diantara kalian yang rumahnya dekat dengan Wanti?" tanya Bu Anti.
Semua siswa saling pandang satu sama lain, dan menggelengkan kepalanya.
"Sudah dua hari dia tidak masuk sekolah, bahkan tidak ada keterangan sama sekali," seru Bu Anti.
Valerie dan Julian saling pandang, mereka sudah punya firasat aneh.
"Jul, apa jangan-jangan----?"
"Ssstttt, diam nanti kita cari tahu," bisik Julian.
Waktu istirahat pun tiba, semua siswa langsung berlarian ke kantin, sedangkan Valerie dan Julian memutuskan untuk menyelediki sekolah itu.
Valerie dan Julian berjalan santai mengelilingi sekolah, seakan-akan mereka sedang jalan-jalan, padahal mereka sedang memperhatikan setiap ruangan yang ada di sekolah itu.
Tiba-tiba, seorang cleaning servise berlari ketakutan sampai-sampai menabrak Valerie dan Julian.
"Astaga, Bapak kenapa lari-lari kaya gitu?" tanya Julian.
Pak Udin yang merupakan cleaning servis hanya bisa menganga, nafasnya terlihat ngos-ngosan.
"Bapak lihat hantu?" tanya Valerie.
Pak Udin menggelengkan kepalanya dengan mata yang terlihat ketakutan.
"Jul, belikan air minum sepertinya Pak Udin sudah melihat sesuatu," seru Valerie.
"Oke, tunggu sebentar."
Julian segera berlari membeli air mineral untuk Pak Udin, beberapa saat kemudian, Julian pun kembali dengan membawa air mineral.
"Ini Pak, minum dulu," seru Julian.
Pak Udin pun dengan cepat meminum air itu sampai tandas membuat Pak Udin sedikit merasa tenang. Valerie mengusap punggung Pak Udin dan Pak Udin pun mulai tenang dan nafasnya pun kembali teratur.
"Ada apa, Pak?" tanya Valerie kembali.
"A-ada mayat."
"Apa?"
"Di mana, Pak?" tanya Julian.
"Di gudang, tadi saya ingin menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai tapi saya di kejutkan dengan adanya mayat seorang siswi," sahut Pak Udin dengan tubuh yang bergetar.
"Ya sudah, lebih baik Pak Udin sekarang lapor kepada kepala sekolah, aku dan Valerie ingin melihat mayat itu," seru Julian.
"Baik."
Pak Udin pun segera berlari menuju ruangan kepala sekolah untuk memberitahukan mengenai penemuannya, sedangkan Valerie dan Julian segera menuju gudang.
Perlahan keduanya masuk ke dalam gudang dan mencari keberadaan mayat itu.
"Astagfirullah."
Julian langsung membalikan tubuhnya, sedangkan segera mengambil gambar mayat itu dan memperhatikannya dengan seksama, di tubuhnya terdapat banyak luka memar, di lehernya ada bekas jeratan, matanya melotot dengan lidah terjulur keluar, dan tidak lupa di tubuhnya terdapat cairan sp***ma yang biasa ditinggalkan pelaku.
"Ciri-cirinya sama Jul, sama pelaku pembunuhan berantai itu," seru Valerie.
"Jangan menyentuh apa pun, Val. Kamu sudah mengambil gambarnya, kan?"
"Sudah Jul."
"Oke, kita keluar, biarkan polisi yang mengurusnya."
Valerie dan Julian pun keluar dan tidak lama kemudian, kepala sekolah bersama polisi datang ke gudang itu.
Polisi memeriksanya dan segera memasukan mayat siswi itu ke kantong jenazah dan kemudian membawanya. Komandan Alan menghampiri Valerie dan Julian.
"Kalian harus hati-hati, jangan sampai ada yang tahu siapa kalian," bisik Komandan Alan.
"Siap Komandan."
Polisi pun akhirnya pergi dari sekolah itu, seketika suasana sekolah menjadi riuh pasalnya siswi yang tewas itu adalah Wanti, siswi yang berada di kelas Valerie dan Julian yang dinyatakan sudah dua hari tidak masuk sekolah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
▫▶Kellenk_Rus ◀▫
wanti baru slsai msak rendang bu ada apa manggil"😄😄
2022-11-02
2
❤️Akunku
yaaampun ngeri sekali ,Ayo Valerie jangan sampai ada korban lagi
2022-08-29
3
Hoki Terus
gilak banget nih oranggg
masih teka teki ,,bisa aja siswa atao guru pelakunya
2022-08-28
3