Jeff saat ini sudah berada di apertemennya. Ia berdiri sembari berkacak pinggang, dan menatap ke bawah sana di mana di belut listrik terkulai lemas tidak berdaya, dengan dua telur yang menggantung dan masih bisa di selamatkan.
"Bagaimana?" tanya Jeff kepada Dokter pria yang sedang memeriksa anu-nya.🤣
"Heum, kenapa bisa sampai seperti ini?" Dokter tersebut malah bertanya balik, membuat Jeff berdecak kesal.
"Aku bertanya kepadamu, kenapa kamu malah balik bertanya? Dasar bodoh!" umpat Jeff dengan perasaan kesal.
"Hei! Jaga bicaramu! Aku 'kan hanya ingin tahu kenapa Si Jery bisa terluka seperti ini?" jawab Dokter tersebut seraya mencebik.
"Hanya terbentur benda keras," jawab Jeff asal, seraya memalingkan wajahnya yang merona malu.
"Benda keras kok di benturkan dengan benda keras. Benda keras itu harusnya di benturkan dengan benda lembut," jawab Doter tersebut absurd dan terdengar ambigu.
"Sialan!" umpat Jeff, ingin menaikkan celananya namun di cegah okeh dokter tersebut.
"Sebentar aku ingin melihat belalai si Jery," cegah dokter tersebut, sembari menoel-noel milik Jeff dengan jari telunjuknya. "Aman, masih bisa di pakai," lanjut dokter tersebut, seraya menegakkan badannya.
"Jadi masih bisa di gunakan?" tanya Jeff, seraya menaikkan celana beserta boxer-nya.
"Iya, masih bisa di gunakan," jawabnya, sembari mengambil obat pereda nyeri dan di berikan kepada Jeff. "Di minum sehari tiga kali." Jeff menerimanya sembari mengangguk pelan.
Jeff bernafas lega, karena alat tempurnya masih berfungsi denga baik. Itu tandanya, masih bisa memuaskan Safira.
"Baiklah, aku permisi. Jangan lupa bayaranku di transfer saja. 10 juta ya."
"Hei! Kamu mau merampokku?!" tanya Jeff kesal, menatap sengit dokter yang sedang tersenyum tengil.
"Anggap saja bonus untukku. Kamu ini kaya raya, tapi pelit sekali!" cibirnya kepada Jeff.
"Jika kamu bukan temanku, sudah ku penggal kepalamu!" kesal Jeff, seraya mengambil ponselnya lalu mengirimkan sejumlah uang melalui M-banking ke rekening dokter tersebut. "Sudah! Dasar mata duitan!" Jeff memperlihatkan layar ponselnya yang tertera bukti transaksi pengiriman uang.
"Wah, terima kasih Tuan Jeff," ucap Dokter tersebut sangat senang, lalu segera berlalu begitu saja dari apartemen Jeff.
*
*
*
"Papi!!! Kenapa malah memberikan kesempatan kepada Jeff?!" tanya Safira kesal, setelah mendengar ucapan ayahnya itu. "Apakah Papi tidak mempedulikan perasaanku? Apa Papi tidak tahu jika hati ku ini masih sangat terluka?" Safira berkata dengan menggebu sembari menunjuk dadanya sendiri dengan perasaan yang teramat kesal.
"Sayang, dengarkan Papi dulu. Papi melakukan semua ini demi kamu," jelas Devan, ingin membuat putrinya yang keras kepala itu mengerti.
"Papi dari dulu selalu egois!" Safira tidak mau mendengarkan perkataan ayahnya lagi lantaran terlalu kesal.
Raya menghela nafas dengan resah, menatap suaminya dengan perasaan gamang. "Apa yang harus kita lakukan?"
Devan mengusap wajahnya dengan kasar, seraya menggenggam tangan istrinya dengan erat, seolah meyakinkan istrinya jika semua ini akan baik-baik saja.
"Kita semua tahu jika ini tidak akan mudah untuk Safira. Tapi, percaya lah jika ini juga demi kebaikan Safira. Apa kamu ingin putri kita mengandung tanpa suami?" tanya Devan.
Raya menggeleng dengan pelan, seraya menyederkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Aku sudah tidak kuat jika harus melihat putriku menderita lagi. Sudah cukup 10 tahun ini untuknya."
"Iya, mereka berdua masih sangat mencintai. Pengorbanan cinta mereka sangat luar biasa," gumam Devan.
Jangan lupa like dan Votenya ya❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Silvi Vicka Carolina
pak dokter gak geli aap ya megang belalai pasienya
2025-01-18
0
Agustina Kusuma Dewi
ihssin q.. nowel doang ambek nyekel belalai belalang tempur
bayaran 10jt
fantastis /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-07-13
0
Wati_esha
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2024-07-09
0