Sinar matahari pagi yang mencorong begitu kuat dan menyilaukan telah membangunkan Ruby dari tidurnya di sofa panjang dalam pesawat pribadi milik keluarga Wan.
" Nggg.." Keluh Ruby mengucek -ucek sepasang matanya dengan buku jarinya.
" Kau sudah bangun ? Ayo, kau bersiaplah untuk mandi lalu turun dari pesawat agar kamu dapat secepatnya di rapikan oleh tim perawatan wajah dan tubuh terbaik kami sebelum kamu menikah di hari ini." Kata seseorang yang membungkuk di dekat Ruby.
" Ah,aku menikah hari ini ?" Seakan tak percaya apa yang di dengarnya itu.Ruby membuka kedua matanya dengan cepat dan menemukan Devano Wandani bertolak pinggang di depannya dengan wajah dingin pria itu.
" Emm..Cepatlah dan jangan membuatku harus menunggu kamu berjam -jam di tempat yang tak ku inginkan ini..!" Perintah Devano Wandani nada ketus sekali kepada Ruby Yolanda.
" Aish, pagi -pagi kamu sudah narik urat lehermu itu..! Uh, sungguh orang yang tak bisa sabar sekali sih.."Kata Ruby Yolanda memasang wajah masam kepada Devano Wandani.
"..." Gumam Devano Wandani sambil berjalan lurus menuju pintu keluar dari pesawat pribadi keluarga besar Wan tanpa menengok kembali kepada Ruby Yolanda yang menggeliat sejenak di sofa panjang sebelum gadis ini mengikutinya berjalan keluar dan turun dari pesawat pribadi keluarga besar Wan.
Setibanya mereka berdua di sebuah rumah yang amat besar sekali dengan jumlah orang yang hadir di rumah itu begitu banyak dan berseragam yang sama dengan orang -orang yang menyambut baik kedatangan mereka berdua di bandara.
"Nona silakan Anda mengikuti kami ke bagian kiri rumah keluarga besar Wan." Kata seorang wanita berjas merah dengan rapi kepada Ruby Yolanda di pintu masuk ruangan dalam rumah itu.
Di ruangan yang persis salon kecantikan kelas atas ,Ruby berjumpa dengan Mama dan Papanya serta sejumlah keluarga besarnya yang hari ini berpakaian pesta yang sangat resmi.
" Ma...Pa..Apakah yang ada di otak kalian berdua sih dengan menikahkan ku pada Devano Wandani merupakan suatu musibah bagiku?" Tanya Ruby masam dan menuntut kedua orang tuanya itu.
" Kebahagiaan yang besar untuk mu,Sayangku dan manisku." Jawab Cecilia Yung memeluk Ruby.
"Ya, kamu bisa memperkuat posisi keluarga kita di dunia kalangan jetset Asia dan dunia,Sayangku." Tambah Alexander Rolando menyakinkan sekali.
" Ug..Yang kalian pikirkan cuma uang,perusahaan dan keinginan serakah kalian di balik kemuliaan yang kalian berikan kepadaku sejak aku lahir di dunia ini.Aku masih berpikir jernih kalau Aku pasti bukanlah putri kalian yang sebenarnya karena jika Aku putri kalian yang kalian sayangi ini..!Kalian tak kan pernah memberikanku kepada keluarga besar Wan..!" Ujar Ruby Yolanda dengan airmata marah kepada kedua orang tuanya.
"Sayang, kamu sejak bayi sudah di jodohkan oleh orang tua kami dengan keluarga besar Wan.Maka hari ini kami tak bisa menolak apa yang sudah di janjikan keluarga besar Rolando dengan keluarga besar Wan." Kata Cecilia Yung dengan sorotan mata yang mengharuskan Ruby mematuhinya.
" Tapi, Ma..?Aku masih ingin berkarier di duniaku yang sangat bebas dan ku cintai sejak aku masih kecil..! Aku juga ingin menikah dengan pasangan hidup pilihan hatiku sendiri..!" Ucap Ruby Yolanda dengan suara tersendat -sendat karena dirinya di saat ini ingin sekali menangis sekencang mungkin untuk menenangkan pikirannya yang kacau itu.
Di ruangan yang lainnya, Devano Wandani begitu mirip harimau muda yang sedang kebingungan dan pemuda ini terus mondar mandir di ruangan itu dengan perasaan hatinya gelisah,panik dan juga marah.
" Aku harus menjelaskan apa nantinya saat Aku jumpa kembali dengan Lucia sesuai janjiku pada gadis kesayanganku itu." Kata Devano Wandani di batinnya seraya memandangi dirinya yang sudah di rapikan itu.
" Dev, ada telepon untukmu dari negara Malaysia?" Lapor salah satu sepupu Devano Wandani yang datang kepadanya di ruang rias.
"Bayu..Tolong kamu berikan ponsel itu kepadaku." Kata Devano Wandani meminta ponsel pribadinya kepada Bayu Wandani sepupunya yang berasal dari Indonesia namun sudah lima tahun lamanya Bayu ini tinggal di Ibukota Beijing,China.
"Ini.Ambillah dan cepat kamu selesaikan semua hal yang ingin kamu kerjakan untuk kamu dapat meneruskan hidupmu dengan ringan bersama orang pilihan dari Ahma kita." Kata Bayu Wandani memberikan ponsel kepada Devano Wandani yang mengganggukan kepalanya.
Devano Wandani berjalan ke sudut paling ujung sekali dari ruang rias untuk dirinya dapat leluasa berbicara di ponselnya dengan seorang gadis lain dari negeri yang sangat jauh sekali dari negeri nya itu.
"Lucia, apakabar mu di Kualalumpur? Gimanakah kuliah mu itu ?" Tanya Devano Wandani dengan nada lembut sekali kepada Lucia gadis manis di seberang pulau nan jauh di sana.
"Kurang baik, Kak Dev.Lucia di haruskan pindah kuliah dan kerja di Jakarta oleh Papa nya Lucia yang kolot itu. Dan, sekarang Lucia amat resah dan gelisah nih apalagi Lucia dengar kalau Kakak Devano hari ini akan menikah dengan gadis yang di pilihkan oleh keluarganya Kakak Devano..!Hati ini hancur lebur, Kak." Jawab Lucia yang terdengar begitu hancur sekali oleh telinganya Devano.
"Oh,sayangku tolong kamu jangan merasa aku melupakan mu,ya ?Aku tetap Devano Wandani mu yang paling mencintaimu sepenuh hati ku untuk kamu,Lucia.Aku janji padamu bahwa Aku tidakkan pernah menyentuh wanita itu seumur hidupku ini karena tubuhku dan hatiku hanyalah untuk kamu seorang Lucia." Kata Devano Wandani dengan hati yang sangat perih juga mendengar tangisan Lucia di ponselnya itu.
"Percuma saja,Kak.Karena cepat atau lambat diri kakak akan luluh dengan gadis pilihan keluarga kakak..!" Tutur Lucia begitu sedih sekali dari nada suaranya itu.
" Oh, aku harus bagaimana supaya kamu dapat mempercayai janjiku padamu,Lucia?Aku Devano Wandani selamanya hanyalah menginginkan kau menjadi belahan jiwaku." Kata Devano Wandani dengan suara sangat pelan sekali karena Devano mendengar suara Akong nya memanggilnya dari pintu ruang rias.
"Vano..Ayo cepatlah kamu keluar dari ruangan mu itu dan segeralah kamu temui calon mempelai wanita mu yang sudah menunggu mu di ruangan menuju ke ruang pemberkatan pernikahan kalian berdua." Kata Tuan Besar Peter Wan dengan nada suara yang begitu keras sekali sampai ponsel di tangan Devano Wandani meluncur jatuh ke dalam toilet.
" Astaga..! Bagaimana ini ?! " Rintih Devano yang tampak merana melihat ponselnya telah rusak itu.
" Kau sedang apa di sana? Aduh ,barang rusak itu kenapa kamu buang sembarangan di toilet sih ?" Tegur Tuan Besar Peter Wan dengan suaranya itu tepat di belakang Devano Wandani yang membeku seketika itu juga.
Bersambung..!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Stanalise (Deep)🖌️
ini sih bener-bener keinginan tiap wanita, perawatan. Pagi buta begitu, udah disambut, dimanja in gitu
2022-10-23
2
Nona Angel™©🍼🍼
Astaga Vano kenapa hp mu bisa jatuh ke dalam toilet sih 🙄🙄
Kasian Lucia hati nya hancur saat mengetahui sang kekasih akan menikah dengan perempuan lain
Yang sabar ya Lucia mungkin Vano bukan jodoh mu
2022-09-21
0
R. Yani aja
aduh Tuan besar... itu bukan dibuang tapi jatuh... 😭😭😭🙃🙃🙃
2022-09-18
0