Bab Lima Belas. NTC.

Annisa masuk ke kamar setelah membersihkan meja makan dan mencuci piring.

Annisa membersihkan wajah dan mengambil wudu. Setelah melaksanakan solat malam, wanita itu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Mata Annisa tertuju pada majalah yang berada di atas nakas. Annisa bangun dan mengambilnya.

Annisa kaget saat melihat banyak foto Sherlin dengan pose menantang dan berpakaian minim.

Annisa melihat dengan seksama wanita yang ada di majalah itu sekali lagi.

Ini emang Sherlin. Kenapa dia berpose menantang begini? Kenapa Kak Farhan nggak melarang?

Nissa yang asyik memperhatikan foto dalam majalah itu tidak menyadari kedatangan Farhan.

Farhan menarik majalah yang sedang di pegang Annisa. Tampak wajahnya memerah menahan marah.

"Kamu terlalu lancang, Nissa?" teriak Farhan. Beruntung kamar yang ditempati Farhan saat ini kedap suara. Jika tidak, pasti ayah dan ibu mendengar teriakan Farhan.

"Maaf, Kak."

"Ini barangku. Jangan pernah kamu menyentuh barang-barang milikku tanpa izin. Kamu bukan siapa-siapaku. Jika ingin melihat atau memegang milikku, izin dulu." Farhan masih berteriak mengucapkan semua itu.

"Aku pikir nggak apa karena itu hanya sebuah majalah, Kak."

"Hanya sebuah majalah katamu. Dengar Annisa, jika saat ini aku mau tidur denganmu itu karena permintaan ayah dan ibu. Jangan ngelunjak. Jangankan sebuah majalah, selembar kertaspun jangan pernah kau sentuh jika itu milikku."

"Baik, Kak. Aku sadar siapa aku ini. Aku hanyalah istri di atas kertas seperti yang sering kakak katakan seharusnya aku tidak menyentuh apapun itu milik Kak Farhan,"ucap Annisa.

"Dengarlah Kak Farhan, jangan pernah meninggalkan seseorang yang baik untuk orang yang kini kau anggap terbaik. Pada saatnya nanti, jika aku akhirnya memilih pergi. Kau mungkin akan sadar bahwa yang terbaik sebenarnya sudah ada padamu sejak lama." Annisa menarik napas dalam dan panjang untuk meredakan amarahnya.

"Sampai saat ini saya masih bisa bertahan dengan kesabaran tapi ingat kesabaran itu mempunyai titik jenuh apabila sudah tidak dihargai lagi.Kadang seseorang berhenti peduli, bukan karena sudah tidak peduli lagi, tapi karena dia sadar kepeduliannya tidak dihargai sama sekali. Setidaknya cobalah untuk peduli, meskipun hanya sesekali. Sebab suatu saat mungkin kau akan menyesal saat tau bagaimana rasanya berjuang tapi tak pernah dihargai," ucap Annisa lagi.

Annisa keluar dari kamar. Dia tidak peduli jika kedua orang tua Farhan bertanya kenapa tidur terpisah.

Saat Annisa keluar dari kamar, ayah dan ibu telah masuk ke kamar sehingga Annisa lebih bebas masuk ke kamar yang biasa dia tempati.

"Terkadang lebih baik menjauh daripada tidak dihargai bukan maksud membenci tapi agar sadar diri.Jangan bersedih jika kamu tidak dihargai. Bersedihlah jika kamu tidak berharga lagi."

"Akan ada waktu ketika orang yang sabar menjadi muak, orang yang peduli menjadi masa bodoh, orang yang setia menjadi angkat kaki. Itu adalah ketika sifat sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai. Setiap orang butuh untuk dihargai perjuangannya. Pilihannya adalah ia menjadi senang karena telah dihargai atau menjadi luka batin karena tidak pernah merasa dihargai. Perjuangan terhadap cintaku kepadanya tak dihargai, selalu menunggu dan mengerti dia saja. Mungkin ini saatnya aku berhenti berharap. Semoga kau terus mengingat bahwa titik tertinggi dari kecewa adalah tidak peduli lagi."

...----------------...

Pagi harinya setelah membuat sarapan, Annisa pamit dengan ayah dan Ibu. Pagi ini Ayah dan Ibu akan kembali ke kampung.

"Maaf, Ayah, Ibu. Aku nggak bisa melepaskan keberangkatannya. Aku harus kerja. Semoga perjalanan ayah dan ibu selamat sampai tujuan."

"Nggak apa, Nak. Ayah dan Ibu mengerti."

"Aku pamit dulu," ucap Annisa. Dia menyalami kedua tangan mertuanya.

"Mana Farhan. Ibu nggak melihatnya."

"Aku dengan taksi aja berangkat kerjanya,Bu."

"Kenapa nggak diantar Farhan. Apa anak itu masih tidur? Kamu nggak bangunkan Farhan?"

"Ibu aja yang bangunkan. Aku harus cepat pergi kerja."

"Kalian bertengkar?" tanya Ibu.

"Kenapa Ibu berpikir begitu?" Annisa balik bertanya.

"Ibu udah tau. Ibu juga pernah muda seperti kalian berdua. Saat dulu bertengkar, Ibu juga pernah melakukan hal yang sama denganmu. Tidak mau diantar suami dan juga tidak mau bangunkan suami."

"Ibu tanyakan aja semuanya pada Farhan. Jika Ibu belum dapat jawaban yang memuaskan dari Kak Farhan, ibu bisa hubungi aku, akan aku jawab."

Annisa kembali pamit pada kedua orang tua Farhan sebelum masuk ke taksi yang akan ditumpanginya.

Baru saja taksi yang ditumpangi Annisa pergi, Farhan keluar dari kamar, dengan pakaian kerja yang telah rapi.

Melihat ayah dan Ibunya, Farhan pamit dengan menciumi kedua tangan orang tuanya.

"Kamu nggak sarapan?" tanya Ibu.

"Aku sarapan di kantor aja, Bu. Ibu dan Ayah jam berapa berangkat. Aku nggak bisa menunggu hingga ibu dan ayah berangkat."

"Ayah dan Ibu setelah sarapan juga akan berangkat."

"Ini buat diperjalanan," ucap Farhan memberikan amplop berisi uang.

"Ada yang ingin Ibu tanyakan. Apa kamu nggak keberatan?" tanya Ibu

"Ibu mau tanya apa?"

"Apa kamu dan Annisa bertengkar. Annisa tadi pergi dengan taksi?"

"Annisa sudah terbiasa pergi ke kantor dengan taksi, Bu. Bukan karena aku yang nggak mau mengantar. Annisa ingin cepat sampai. Jika denganku bisa telat. Kantor kami berlawanan."

"Itu bukan alasan bagimu membiarkan Annisa pergi sendirian. Kalian bisa pergi kerja lebih awal. Pasti tidak akan terlambat. Ibu melihat mata Annisa bengkak, pasti habis menangis semalaman. Kalian bertengkar'kan?"

"Sebenarnya emang ada pertengkaran kecil tadi malam."

"Dan kamu membiarkan Annisa menangis semalaman?"

"Aku harus bagaimana, Bu?"

"Tentu aja kamu harus minta maaf dan membujuknya."

"Bukan aku yang salah. Annisa yang memulainya."

"Nggak peduli siapa yang salah atau benar. Seharusnya kamu tetap bujuk saat melihat istrimu menangis."

"Anak laki-laki yang baik tidak pernah meneriaki wanita apalagi membuatnya sedih dan tersakiti.Jadilah lelaki yang bisa menyayangi seorang istri selayaknya ketulusanmu pada ibu," ucap Ibu lagi.Farhan hanya menunduk tanpa suara.

Ayah mendekati Farhan. Memintanya duduk. Farhan duduk dihadapan ayahnya.

"Farhan, Istrimu rela meninggalkan kedua orangtua yg sudah menyayanginya sejak kecil..

Rela meninggalkan rumahnya yg merupakan tempat ternyamannya sejak kecil..

Hanya demi menaati..mengikutimu dan membahagiakanmu suaminya."

Ayah menjeda ucapannya, dan menarik napas sebelum melanjutkan.

"Dia hanya berharap kamu lah suami yang akan menjadi pengganti orang yang menyayanginya dan menjadi tempat ternyamannya setelah meninggalkan rumahnya. Setengah dari suami memahami haL itu. Setengahnya lagi tak mau tau akan haL itu. Maka,hargai perasaan istrimu,sayangi istrimu,jangan disakiti lagi dengan hal-hal lain. Sungguh, kedua orangtuanya mengizinkan ia menikah denganmukarena mereka berharap,engkau bisa membahagiakannya. Karena itu, jika istri sudah bahagia,maka tidak sulit baginya utk selalu menaatimu," ucap Ayah menasehati Farhan. (sumber : google).

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bersambung

Terpopuler

Comments

Rahmah

Rahmah

kata kata yg di pakai Anisa selalu ber ulang ulang jd terkesan berlebihan

2024-03-24

1

Lienda nasution

Lienda nasution

alah...cerita bodoh sebel aq bacanya kok ada cewek bodoh kek Anisa apa gak bisa menghargai diri sendiri supaya Isa dihargai orang

2024-03-08

0

Rossel

Rossel

Maaf, ijin memberi masukan ya, author.🙏
Yang dibilang Annisa benar tapi disampaikannya dengan cara terlalu panjang lebar. Jadi, kesannya karakter Annisa ini jadi kebanyakan ngomong. Kalau di dunia sehari-hari, orang yang terlalu panjang lebar saat bicara biasanya malah dicuekin karena pada bosan nunggu dia bicara ga kelar-kelar. 😁

2023-12-25

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!