Annisa berjalan keluar kantor dengan perlahan menuju taksi yang terparkir di depan perusahaan tempat dirinya bekerja.
Saat akan naik ke taksi,Annisa mendengar namanya di panggil. Annisa menoleh ke asal suara. Tampak Farhan melambaikan tangannya dari dalam mobil.
Annisa membatalkan rencananya masuk ke taksi dan menghampiri Farhan.
"Kak Farhan, apa kakak datang untuk menjemputku?" tanya Annisa.
"Jika bukan kamu, siapa yang aku jemput di perusahaan ini."
"Terima kasih, Kak."
"Masuklah! Kita mampir ke supermarket sekalian."
"Iya, Kak," ucap Annisa dan langsung masuk ke mobil.
Farhan menghentikan mobilnya di salah satu supermarket. Farhan meminta Annisa membeli semua kebutuhan untuk di rumah.
"Kak Farhan mau aku masakan apa?" tanya Annisa.
"Terserah aja. Yang penting Ayah dan Ibu suka."
Annisa mengambil ikan gurami dan sayur-sayur yang dibutuhkan untuk membuat capcai.
Saat Annisa memilih bahan untuk kebutuhan dapur, Farhan berkeliling supermarket. Tiba di rak penjualan koran dan majalah, mata Farhan melihat satu majalah dewasa yang menarik perhatiannya. Letak majalah itu cukup tersembunyi tapi entah kenapa mata Farhan tertuju ke sana.
Farhan mengambil majalah itu, dan dia makin kaget melihat siapa yang menjadi model majalah itu. Sherlin, kekasihnya berpose sangat menantang, dengan hanya memakai bikini.
Farhan membuka majalah itu. Di dalam majalah banyak foto Sherlin berpose dengan memeluk erat model cowok.
Farhan melihat dengan wajah marah menahan marah. Dia udah pernah mengingatkan pada Sherlin untuk menolak pemotretan dengan busana minim.
Farhan mengambil majalah itu dan membayar di kasir. Annisa yang telah selesai mengambil semua kebutuhan dapur menghampiri Farhan.
"Kak, aku rasa semua kebutuhan dapur telah lengkap di sini."
"Hitung aja di kasir. Ini ... kamu bayar sana." Farhan menyodorkan kartu debitnya.
Setelah melakukan pembayaran, Farhan mengajak Annisa pulang.
"Untuk beli baju dan kebutuhan kamu, kita pergi setelah ibu pulang ke kampung aja. Kalau sekarang, takut Ibu kelamaan menunggu untuk makan malam. Nggak apa'kan?"
"Nggak apa, Kok. Aku juga nggak butuh apapun saat ini. Majalah apa yang Kak Farhan beli itu?" Annisa menunjuk ke arah majalah yang dipegang Farhan.
"Ini majalah tentang bisnisku."
Annisa hanya mengangguk mendengar jawaban dari Farhan.
Sampai di rumah, setelah menyalami ibu dan bapaknya, Farhan langsung masuk ruang kerja.
Dia mencoba menghubungi kekasihnya Sherlin untuk minta penjelasan.
Sherlin yang baru selesai pemotretan di Australia, masuk ke kamar hotel dengan seorang pria.
"Sayang, kapan sih aku dapat job yang sangat besar. Percuma aja aku jadi kekasih kamu. Sebagai pimpinan sebuah majalah seharusnya kamu bisa memberikan aku kerjaan sebagai model dengan perusahaan brand ternama."
"Suatu hari pasti akan aku beri. Jika bukan karena aku, kamu juga nggak mungkin menerima job hingga keluar negeri seperti saat ini. Apa kamu pikir semua ini karena prestasi kamu? Semua ini atas rekomendasi dariku. Jadi aku harap kamu dapat menerima ini dulu. Banyak model yang lebih berpotensi dari kamu."
"Kamu meragukan kemampuan aku, Angga."
"Bukan aku meragukan, tapi emang kenyataan yang ada, jika kamu kurang berpotensi. Aku aja yang sering merekomendasikan, sehingga kamu bisa menerima job saat ini."
"Angga, kamu juga memberikan aku job nggak gratis. Aku sudah memberikan kepuasan padamu."
"Jangan mulai hitungan, Sherlin. Aku bisa mendapatkan wanita manapun yang aku inginkan. Seharusnya kamu bersyukur karena aku memilih kamu untuk menjadi teman ranjangku."
Sherlin tampak menahan marah. Pipinya memerah,napasnya memburu. Sherlin harus menjadi pemuas ranjang pimpinan salah satu majalah.
Cintanya pada Farhan harus dia gadai. Jika ditanya, apakah Sherlin sudah tidak cinta lagi dengan Farhan, jawabnya ... masih. Semua demi mewujudkan impiannya menjadi model internasional.
Di tempat lain, Farhan masih mencoba menghubungi Sherlin. Ponselnya dimatikan.
Farhan yang gusar karena tidak bisa menghubungi Sherlin melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
Farhan ingin mendengar alasan Sherlin masih mengambil job sebagai model majalah dewasa.
Dulu, Farhan dan Sherlin pernah berdebat masalah ini. Sherlin berjanji tidak akan mengulangnya lagi.
Farhan sudah sering meminta Sherlin berhenti bekerja sebagai model. Farhan berjanji akan memenuhi semua kebutuhannya nanti. Namun Sherlin menolak.
Saat makan malam, Farhan hanya diam, kurang bersemangat makannya. Ibu yang memperhatikan putranya itu, bertanya.
"Kenapa kamu nggak semangat makannya,Nak? Apakah kurang sedap rasanya?" tanya ibunya Farhan.
"Enak kok, aku hanya capek, Bu," jawab Farhan.
"Kamu pasti saat ini telah terbiasa dengan masakan istrimu, sehingga masakan ibu sudah nggak enak. Kemarin Annisa masak, kamu lahap banget makannya."
"Itu hanya kebetulan, Bu. Masakan ibu tetap nomor satu dilidahku ini."
"Kamu lagi ada masalah? Pikiran kamu seperti melayang dari tadi."
"Hanya ada sedikit masalah di kantor. Masih bisa aku atasi," ucap Farhan.
Jangan sampai ayah dan ibu tau dan melihat foto Sherlin di majalah. Bisa-bisa Ayah dan Ibu makin tidak suka dengannya. Aku harus sembunyikan majalah itu.
Setelah makan, Farhan kembali ke ruang kerja. Pria itu kembali mencoba menghubungi Sherlin, namun ponselnya masih mati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Heni Nurliani
rasain lo parhaaan...makan tu...😅
2024-05-27
0
Rus Diana
moga aza Farhan tetap sama sherlin dehhh...biar tau rasa tuhhh...Nisa sama atha ya thorrr....goodddd.....
2023-12-24
0
Jong Nyuk Tjen
ad ya laki2 be go ky farhan ?
2023-12-13
0