Reka duduk bersandar pada headboard dengan tangan dilipat di dada. Menatap Nara yang keluar dari walk in closet sudah dengan penampilan khas Nara sebagai dosen.
Duduk di depan meja rias, menyapukan tipis make up di wajah. Lalu mengatur cepolan rambutnya. "Tunggu," ucap Reka saat Nara beranjak akan keluar dari kamar.
Reka turun dari ranjang menghampiri Nara. "Bisa ganti rok ini?" tanya Reka sambil menyentuh rok yang dikenakan Nara.
"Kenapa harus ganti?"
Reka berdecak, "Lihat, belahan rok di belakang. Setiap kamu melangkah, paha kamu ...." Reka mengacak rambutnya. "Kadang mahasiswa terhadap dosen perempuan bukan hanya menyimak materi yang disampaikan, tapi ada juga yang berpikiran lain atau berfantasi aneh." (Maaf pembaca, ini hanya sedikit konflik yg dibuat agar cerita lebih menarik. Bukan menjudge pihak2 terkait ).
Nara memicingkan matanya. "Termasuk kamu?"
"Ya enggak lah. Kalau sekarang sih iya, kamu pake piyama doang juga aku bakal berpikir yang aneh dan yang enak-enak."
Nara akan memukul lengan Reka, tapi Reka lebih gesit dengan menggenggam tangan Nara dan menarik tubuh Nara ke dalam pelukannya.
Nara membelalakkan matanya, ketika merasakan bagian tubuh Reka yang terasa mengeras menempel pada perut Nara.
"Reka, kamu?"
"Apa? Makanya aku bilang ganti, ya ganti." Reka lalu mengurai pelukannya. "Ponsel kamu sejak tadi berdering," ucap Reka lalu beranjak ke kamar mandi.
Nara mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Membuka beberapa pesan masuk dan wajah Nara memperlihatkan keterkejutan ketika membaca banyak pesan dari Reno. Melihat ke arah toilet memastikan Reka sudah tidak ada lalu keluar dari kamar. Berbarengan dengan panggilan masuk dari pria yang sudah dihindari.
“Halo,” ujar Reno diujung telpon.
“Reno, kamu tidak usah hubungi aku lagi,” jawab Nara. Tanpa Nara ketahui jika Reka keluar dari toilet dan mendengarkan pembicaraan Nara dari balik pintu kamar.
“Tidak bisa begitu Nara, aku akan kembali ke Jakarta. Kita akan bertemu, jadi percuma kamu memblokir kontak aku.”
“Aku sudah menikah, jadi jangan ganggu aku.”
Reno terbahak, “Tidak mungkin sayang, kamu wanita setia. Termasuk denganku.”
“Aku serius, aku sudah menikah. Jadi jangan pernah hubungi aku lagi.”
Terdengar decakan kesal Reno, “Tunggu aku, sayang. Kamu akan berubah pikiran ketika aku sudah di Jakarta. Apalagi ketika bertemu denganku.”
Nara mengakhiri panggilannya. Memblokir kontak tersebut dan menghapus semua pesan-pesan yang sudah masuk dari Reno. Kemudian kembali ke kamar dan menuju walk in closet. Nara mengganti roknya sesuai permintaan Reka.
Bugh.
Nara menabrak tubuh Reka ketika dia berbalik ingin keluar dari ruangan. “Mau kemana, buru-buru amat?”
“Aku ada kelas,” jawab Nara.
“Hmm.”
Nara berjalan meninggalkan Reka. “Hati-hati, nanti ada mahasiswa yang iseng atau jahil sama kamu. Harus bisa jaga diri,” ujar Reka. Nara hanya tersenyum lalu menoleh. “Mahasiswa aku yang paling menyebalkan hanya kamu,” ejek Nara lalu bergegas keluar dan menutup pintu walk in closet.
“Aishh,” ujar Reka. “Kemarin aku menyebalkan, besok-besok kamu pasti bucin karena terjerat pesona aku.”
Reka sudah tidak ada jadwal kuliah. Seminggu sebelum dia menikah dengan Nara adalah ujian akhir semester dan hari ini dia akan fokus mengerjakan skripsinya.
Sore hari, Nara sudah tiba di apartemen. Terkejut saat masuk ke dalam unit, melihat Reka yang tertidur di sofa. Di atas meja berserakan buku juga laptop di atas meja dalam keadaan hidup. Nara meletakan tasnya di salah satu sofa, lalu melepaskan blazernya.
Dia duduk di lantai menghadap laptop Reka. Bersandar pada sofa yang ditiduri Reka. Membaca skripsi yang Reka kerjakan, menggeser mouse agar tampilan pada layar bergerak. Cukup lama, Nara fokus pada laptop Reka. Tanpa dia sadari Reka sudah terjaga. Wangi parfum Nara menguar di hidungnya. Memandang ceruk leher Nara, bahkan Reka membayangkan dia membenamkan wajah dan merusuh di sana.
Tidak tahan Reka Akhirnya mengalungkan tangannya pada leher Nara dan mencium pipi wanita dihadapannya.
"Reka, lepas. Aku sedang baca skripsi kamu."
"Jangan hanya dibaca, revisi sekalian kalau ada yang salah," titah Reka.
"Nggak, itu urusan kamu. Aku hanya menuliskan bagian mana yang belum sesuai."
Reka berdecak mendengar jawaban Nara. "Ra," panggil Reka yang saat ini masih berbaring di sofa memandang langit-langit kamar.
"Hmm."
"Kamu nggak ada mau cerita apa gitu ke aku," pancing Reka agar Nara mau jujur.
"Nope."
"Lalu, alasan kamu mau menerima pernikahan ini kapan mau cerita?"
Nara mengedikkan bahunya. Reka hanya menghela nafas. "Jangan-jangan kamu terpesona dan jatuh cinta gara-gara perseteruan kita di kelas."
Nara tertawa, "Drama sekali, mirip dengan kisah dalam novel. Suamiku Mahasiswaku," ejek Nara.
“My lecture is my wife,” balas Reka. "Malam ini aku ada jadwal isi acara, sepertinya tidak pulang karena lanjut persiapan event besok." Nara menghentikan fokusnya dari membaca naskah Reka, "Maksudnya kamu kerja?"
"Hmm."
"Sejak kapan?"
"Kalau tidak salah setelah Rika menikah. Banyak waktu luang, karena si jelek sudah bukan tanggung jawab aku kalau kemana-mana."
Tidak lama kemudian Reka mandi dan bersiap berangkat. "Kamu nggak takut 'kan di sini sendiri?" Nara menggelengkan kepalanya. Reka menghampiri Nara tapi Nara mundur beberapa langkah saat Reka semakin dekat. "Mau apa?"
"Aku butuh penyemangat Ra," sahut Reka lalu mencium kening istrinya. "Jangan nakal!"
Nara mengernyitkan dahinya. "Yang ada kamu dong yang jangan nakal. Playboy cap ...."
Reka menutup mulut Nara dengan tangannya, "Nanti aku hentikan mulut kamu bukan pakai tangan tapi pakai bibir."
...***...
Reka sedang beristirahat sambil menghisap rokoknya. Event yang dia ikuti sudah selesai satu jam yang lalu. Dirinya memang sering mengikuti kegiatan EO untuk acara perform artis tempat rumah produksi musik milik Pamannya. Ponselnya bergetar, terlihat nama Eltan di layar.
“Halo Bang,” ujar Reka.
“Ka, kamu di Two Season ya?” tanya Eltan diujung telpon.
“Nggak, gue baru aja beres event. Kenapa ?”
“Aku lihat istri kamu di lobbi,” ucap Eltan.
Reka terkejut, dia teringat dengan pop up pesan dua hari lalu di ponsel Nara. “Bang, bisa minta tolong!”
“Apa?”
“Tolong awasi Nara, aku langsung otw ke sana. Kalaupun dia naik, pastikan nomor kamarnya ya?”
“Ini nggak seperti yang aku duga ‘kan?”
“Nanti gue cerita, pastikan yang tadi gw minta.”
Reka mengakhiri panggilan lalu menuju motornya. Melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menuju Two Season. Berbagai prasangka aneh tentang Nara, apalagi wanita itu tidak memberi kabar pada Reka jika dia keluar rumah dan saat ini berada di hotel.
“Shitt,” maki Reka karena hampir bersinggungan dengan sebuah mobil. Reka memarkir sembarang motornya di parkiran VIP. “Titip, aku buru-buru,” ujarnya pada bagian keamanan yang sudah mengenal siapa Reka.
Reka berlari menuju resepsionis karena melihat Eltan di sana. “Dimana?” tanya Reka.
“Barusan aja ambil acces card untuk kamar 751, dipesan atas nama Reno.”
“Gue perlu ke sana,” ujar Reka.
“Ayo,” ajak Eltan membawa acces card khusus.
\=\=\=\=\=
Ihh deg-degan dehhh, 😁
Jangan lupa mampir di karya rekan Author ya.
IZINKAN AKU PERGI, milik Pipih Permatasari
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Sita Aryanti
astaga Nara bego tau pa sih msk di ajak ketemuan di hotel mau..km udah punya status
2025-04-02
0
Katherina Ajawaila
Nara ko mau aja, ntar di perkosa kapok lo
2023-10-03
0
Chandra Dollores
taro hadiah vote fav bintang 5 dll di sini
nyampe ga
hahaha
pamerrrrr
2023-05-06
0