“Aku sudah akrab Bun, saking akrabnya kalau nilai aku di mata kuliah dia tidak dapat 'A' iya nggak lulus.”
“Tegas juga calon istri kamu sebagai dosen,” ucap Elang.
“Akhirnya si playboy cap kodok ada pawangnya juga,” sahut Kevin sambil menyerahkan Kyra pada Kayla karena sudah mulai tidak nyaman karena haus. Lalu beralih pada Kiran yang sedang mulai berjalan.
“Mau ke mana?” tanya Meera melihat Reka beranjak.
“Kamar Bun, gatal aku dibully mereka.”
Reka kembali ke kamar. Melihat ada beberapa kali panggilan tak terjawab. “Nara,” ucap Reka. Lalu membuka pesan masuk salah satunya dari Nara.
‘Reka, bisa kita bertemu? Penting!’
“Hah, apa gue bilang, lo sudah mulai terjebak pesona Reka Chandra.”
...***...
Reka sudah berada di cafe, lokasi yang disampaikan Nara. Melihat sekeliling belum menemukan Nara di sana, Reka memilih meja outdoor di beranda samping. Smoking area, lebih tepatnya. Saat membuka buku menu, Reka dikejutkan dengan seorang gadis yang tiba-tiba duduk pada kursi dihadapannya.
“Bu Nara?”
Nara berdecak, dia lalu menoleh ke kiri dan kanan. Setelah itu membuka kaca mata hitam dan masker yang menutupi wajahnya. Sejenak Reka terpana oleh wajah Nara tanpa make up tapi terlihat cantik alami. Rambutnya Nara digerai dan tanpa kacamata, menambah aura kecantikannya. Sangat berbeda dengan Nara ketika di kampus. Reka menjadi merasa bersalah mengingat dia pernah menyebut Nara perawan tua. Bagaimana bisa disebut perawan tua jika aslinya sangat cantik dan masih terlihat muda.
“Ehem,” Reka berdehem untuk menghilangkan pikiran yang muncul dalam benaknya. (Mikirin apa thor? Entahlah tanya saja ke Reka).
“Ada apa? Gue nggak ada banyak waktu,” ujar Reka. Nara baru akan bicara, tapi pelayan datang menanyakan pesanan. Reka menyebutkan pesananannya, lalu menoleh pada Nara.
“Lemon tea iced,” ucap Nara.
Reka bersandar pada kursi dengan kedua tangan dilipat di dada, menatap gadis di hadapannya. Sedangkan Nara hanya menunduk, dia tidak berani menatap balik Reka. Nyalinya ciut, tidak bisa menunjukan taring dan wibawanya seperti saat di kelas.
Reka berdecak, “Mau ngomong atau kita diem-dieman terus sampai lebaran monyet.”
Nara mengangkat wajahnya menatap Reka, dia ingin bicara tapi ragu. Lebih tepatnya khawatir, khawatir jika Reka akan mengejek, menghina atau bahkan menolak apa yang akan dia usulkan. Keduanya kembali diam karena pelayan mengantarkan pesanan mereka. Reka mengaduk minumannya, melahap makanan yang sudah dia pesan. “Belum mau ngomong juga?” tanya Reka.
“Kamu habiskan dulu makananmu.”
“Iyalah, aku belum makan. Lagian ngajak ketemu pagi bener,” sahut Reka.
Nara menatap heran pada Reka yang sibuk mengunyah. “Ini jam sebelas siang,” sahut Nara.
“Bagiku ini masih pagi, karena weekend.”
Nara memilih diam, karena pria dihadapannya terkenal pintar bicara. Nara berfikir, Reka biasa merayu para gadis dengan rayuan mautnya menjadi kelebihan dari pria itu.
“Jadi?” tanya Reka setelah dia melap sudut bibirnya dengan tisu.
“Hmm, tentang rencana perjodohan kita,” jawab Nara.
Reka mengangguk, “Aku tidak mungkin menolak permintaan Bunda, nggak tega melihat dia sampai meneteskan air mata. Jadi, kalau kamu menolak atau keberatan silahkan saja sampaikan. Aku juga berharap kamu menolak, karena kalau dari aku sepertinya tidak mungkin,” tutur Reka.
Pernyataan Reka barusan sukses membuat Nara kecewa karena tidak selaras dengan apa yang direncanakan. Aku harus bagaimana, batin Nara.
“Masih belum mau bicara juga? Katanya penting, atau hanya alasan doang karena mau bertemu ....”
“Jangan tolak perjodohan ini,” ucap Nara memotong kalimat Reka.
“Hahh!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Maya Ratnasari
lemon iced tea juga bisa.
2024-03-10
0
Katherina Ajawaila
asal aja Reka jgn geer ribet 🧐🧐🧐
2023-10-03
0
Noo Naa
English nya ICE LEMON TEA thor.
2023-02-14
0