Nara melanjutkan langkahnya.
“Jangan terlalu kaku jadi orang, hidup dinikmati aja Bu. Atau jangan-jangan Ibu belum pernah pacaran ya. Ck ck ck, kasihan jadi perawan tua.”
Nara menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik menghampiri Reka. “Mau pacaran atau tidak itu urusan saya. Perawan tua atau bukan juga bukan urusan kamu. Aku bersumpah semoga kamu menikah dengan perawan tua.”
Reka menatap kesal pada Nara yang sedang berjalan menjauh darinya. “Sial banget gue hari ini.” Karena tidak ada jam kuliah lagi, Reka menyusul ke tempat tinggal Yasa. Kamar kost khusus laki-laki. Ketika sampai Reka langsung merebahkan diri di ranjang Yasa.
“Woy, bagus bener ya, datang langsung tidur,” ujar Yasa.
“Gue ada acara nanti malam, nanti tolong bangunkan.” Benar saja, tidak lama Reka sudah terlelap.
Menjelang malam, Reka mengerjapkan matanya. Melihat sekeliling dan menyadari saat ini bukan berada di kamar miliknya. Dia terkejut saat pandangannya melihat jam dinding. “Sial, bener-benar enggak bisa dipercaya dua orang lak*nat ini,” ucap Reka menatap kedua temannya yang juga sedang tidur di lantai.
Reka mengendarai motornya menuju rumah Eltan dan Rika.
“Bener-bener deh, udah dingetin dari pagi masih aja telat,” omel Rika.
“Berisik, gue ikut mandi ah.”
Rika sudah menyiapkan pakaian untuk Reka kenakan. Setelah berpakaian Reka masih sempat mencium pipi Kiran yang sedang digendong Rika. “Jangan buat Bunda dan Papih malu,” ucap Rika.
“Iya bawel,” ujar Reka sambil melambaikan tangan pada Kiran.
Untung saja Reka menggunakan motor, jadi bisa tiba lebih cepat walaupun dia sudah terlambat. Tiba di Two Season, berjalan sedikit menuju ruang pertemuan sambil memperbaiki penampilannya. Ruangan yang dituju sudah dekat, tapi ....
Bruk.
“Maaf.”
“Jalan pakai mata dong,” ujar Reka.
“Di mana-mana jalan itu pakai kaki.”
Reka dan wanita dihadapannya saling tatap. Nara menghela nafasnya, karena bertemu lagi dengan Reka. Sedangkan Reka menatap Nara dari kepala sampai kaki. “Bu Nara ‘kan?” tanya Reka.
“Kalau iya, kenapa?”
Reka masih tidak percaya dengan penampilan Nara. Rambutnya tidak dicepol tapi digerai. Walaupun masih mengenakan kaca mata,tapi kacamata dengan frame normal bukan frame tebal mencolok. Mengenakan dress selutut model one shoulders berwarna hitam dilengkapi dengan high heelsnya. Membuat wanita itu terlihat berbeda dan cantik. Bahkan Reka kembali menatap Nara dari kepala sampai dengan kaki.
“Jangan bilang tujuan kamu juga ruangan ini,” tunjuk Nara ke pintu.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dari dalam, keluarlah Elang. Elang adalah kakak ipar Reka, suami dari Kayla. Elang menatap pasangan di hadapannya, “Kalian sudah saling kenal?” tanya Elang.
Reka dan Nara menoleh pada Elang.
“Cepat masuk!” titah Elang sambil menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Nara dan Reka, setelah itu dia menutup pintu dari luar dan pergi.
“Nah, ini cucu saya sudah datang,” ucap Radit.
“Kalian datang bersama, itu Reka anak saya,” sahut Kevin. Reka menyapa Radit. Nara menyapa kedua orangtua Reka dan mencium tangan mereka dengan takjim setelah menyalami Radit.
Keduanya duduk dan saling diam. Nara tidak menyangka jika pasangan perjodohannya adalah Reka. Begitupun dengan Reka yang memikirkan hal yang sama. “Reka, Nara ini ternyata dosen di kampus kamu,” ucap Meera.
“Iya, Bun,” jawab Reka sambil tersenyum. Nara menatap sinis pada Reka karena menjawab dengan lembut sedangkan di kampus pria itu bersikap dan berkata kasar pada Nara. Makan malam itu diikuti Reka dan Nara dalam diam, keduanya hanya menjawab dan merespon jika ada pembicaraan yang melibatkan keduanya.
“Oke, jadi pernikahan kalian akan dilangsungkan tiga bulan lagi,” ujar Radit.
“Uhuk-uhuk,” Nara yang sedang menikmati hidangan terbatuk mendengar rencana pernikahannya dengan Reka. Padahal dia berencana membicarakan ulang dengan sang Kakek. Melirik ke arah Reka, menunggu respon dari mahasiswa menjengkelkan yang pernah ada. Tapi tidak ada respon apapun dari Reka.
Apa dia menerima begitu saja perjodohan ini, benar-benar aneh, batin Nara.
“Akad nikah saja, untuk resepsi mungkin kita tunggu kesepakatan mereka,” sahut Kevin. Selama pertemuan berlangsung Reka sesekali mencuri pandang pada Nara. Tidak menyangka jika wanita dihadapannya ini adalah dosen yang mengesalkan baginya. Bahkan dia mengejeknya perawan tua dan saat ini wanita itu akan dijodohkan dengannya.
Sudah merencanakan pembatalan perjodohannya dengan Nara tapi Reka ragu. Bunda Meera sudah sangat kecewa dengan pergaulan Reka. Jadi dia harus memikirkan cara membatalkan perjodohan tanpa menyakiti perasaan Bunda.
Setelah pertemuan berakhir, Reka mengantar orangtuanya sampai ke lobi. “Pulang, engak usah ke mana-mana,” titah Meera.
“Iya, aku ambil motor dulu.”
Reka menuju parkiran, kebetulan dia melihat Nara yang pulang terpisah sama seperti dirinya. “Bu Nara, Tunggu!” teriak Reka.
Nara menoleh, “Sepertinya ada yang harus kita bicarakan. Mana ponsel kamu?”
“Untuk apa?” tanya Nara.
“Ck, bawel bener. Udah sih keluarin aja dulu,” pinta Reka.
Nara menghela nafas, sepertinya pria di hadapannya memang terbiasa memaksakan kehendak. Mengeluarkan ponselnya dan membuka kunci layar, lalu menyerahkan pada Reka.
Reka melakukan panggilan ke ponselnya nenggunakan ponsel Nara.
“Itu nomor aku. Nanti aku hubungi kapan kita harus bicara. Sekarang saya sibuk,” ucap Reka sambil menyerahkan ponsel Nara.
“Bukan hanya kamu yang sibuk. Paling tidak aku sibuk untuk hal yang bermanfaat, entahlah dengan kamu,” sahut Nara lalu meninggalkan Reka.
Nara sudah tiba di kediaman kakeknya. Dia sudah berniat membicarakan ulang niat perjodohannya. Tapi mendengar Reka kalau mereka harus bicara, Nara pun mengurungkan niat tersebut. Memilih beristirahat dengan tenang malam ini. Walaupun hatinya masih jengkel karena ulah Reka saat di kampus, tapi dia coba menepis hal yang membuat perasaannya kacau.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyamanya, Nara merebahkan diri di ranjangnya. Mencoba memejamkan mata tapi terdengar suara dering ponsel. Menghela nafas dan akhirnya Nara meraba nakas tempatnya meletakan ponsel.
Nara mengerutkan keningnya saat melihat nomor tidak dikenal yang kembali menghubunginya. Menolak panggilan tersebut dan merubah mode ponselnya menjadi silent. Saat ingin meletakan kembali ponselnya, terdengar notifikasi pesan masuk. Raut wajah Nara berubah setelah membaca pesan tersebut.
“Reno,” ucap Nara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Becky D'lafonte
mantan ngapain hubungin lagi
2023-10-09
0
Katherina Ajawaila
keren banget thour ceritanya😋😋😋
2023-10-03
0
Yulia Aloysia
bikin penasaran ceritanya
2023-04-29
0