Reka pikir dia datang lebih awal kelas dosen yang dipanggil perawan tua. Ternyata dua teman koplaknya sudah lebih dulu tiba. “Woi, Reka tidak terlambat saudara-saudara,” ujar Yasa. Reka acuh dan duduk pada salah satu kursi.
Dewa dan Yasa masih berceloteh menggodanya saat Rika dan Vano masuk kelas. “Eh, mau ngapain? Kalian salah kelas,” ujar Dewa sambil melambaikan tangan seakan mengusir. Reka, Rika dan Vano memang satu angkatan tapi mereka beda kelas.
“Two Season Hotel, Tirta Room jam tujuh malam. Pakai jas biar kelihatan makin ganteng,” ucap Rika sambil terkekeh geli. Reka menduga Bundanya yang meminta Rika menyampaikan langsung waktu dan tempat pertemuan padanya agar tidak ada alasan pesan tidak sampai jika mengirim via ponsel.
“Gue tunggu undangannya,” ucap Vano.
Reka berdecak, sedangkan Rika dan Vano bergegas meninggalkan kelas Reka.
“Hai, sayang.” Suara cempreng khas Lolita. Cewek genit yang menjadi maskot kelas Reka. Tiba-tiba duduk di kursi kosong disebelah Reka. Menyangga wajahnya dengan tangan kiri, dengan tatapan mengarah pada wajah Reka.
“Kamu kok kalau dilihat makin ganteng aja,” pujanya. Reka bergeming, rayuan Lolita tidak mempan untuknya. Jangankan goyah, tercubit pun tidak. Sedangkan wanita yang terlihat sangat dewasa yng baru saja masuk ke dalam ruangan dan menyimpan peralatan mengajarnya di meja dosen, mampu membuat Reka goyah. Tidak ada wanita yang mau berdebat dengannya kecuali Ibu Dosen yang saat ini berada di depan kelas.
Setelah menyapa, tanpa basa-basi langsung menjelaskan dan menyampaikan materi. Reka menatap ke depan, entah itu menyimak atau hanya melamun. Bahkan Dewa dan Yasa kali ini tidak berulah. Reka mengernyitkan dahinya saat Bu Nara menatap ke arahnya bahkan terlihat menghela nafas.
Benar-benar cari perkara terus, minggu lalu ribut di kelas. Sekarang ... batin Nara yang melihat Lolita menyandarkan kepalanya pada lengan kekar Reka. Whatever, kalau dia tidak dapat nilai A maka harus mengulang, batinnya lagi.
Di akhir sesi, Bu Nara memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya. “Kelas ini lebih kondusif dibandingkan dengan minggu lalu,” ucapnya sambil menunduk mengisi jurnal mengajarnya. “Tapi tolong, walaupun ada diantara kalian yang berpasangan atau berpacaran selama berada di dalam kelas tidak usah bermesraan.”
Terdengar deheman dan suara berbisik. Reka baru menyadari jika Lolita masih bersandar di lengannya. “Aishh,” pekik Reka lalu mendorong kepala Lolita agar menjauh. “Reka, kamu jahat banget sih,” ujar Lolita.
Nara mengucapkan salam lalu meninggalkan kelas.
Reka khawatir jika kejadian tadi berpengaruh lagi terhadap kelulusan mata kuliahnya. Meraih ranselnya lalu mengejar Nara.
“Bu,” panggil Reka sambil mensejajari langkah Nara.
Nara hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya. “Bu, saya tidak bermesraan dengan perempuan tadi. Dia memang begitu, suka nempel ke saya.”
“Bukan urusan saya,” jawab Nara.
“Akan jadi urusan saya, kalau Ibu bawa-bawa hal ini ke dalam penilaian.”
Nara menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Reka. “Dengar ya, saya selalu objektif jika memberi nilai. Bukan berdasarkan perasaan. Khusus untuk kamu,” tunjuk Nara pada Reka. “Keputusan sudah final jika saya tidak merekomendasikan kamu berada di kelas saya, walaupun kamu memaksa silahkan berusaha untuk mendapatkan nilai A. Jika tidak silahkan mengulang. Kamu mau dekat dengan mahasiswi manapun itu urusan kamu. Kamu mau pelukan mau mesum di kelas itu juga urusan kamu.” Nara melanjutkan langkahnya.
“Jangan terlalu kaku jadi orang, hidup dinikmati aja Bu. Atau jangan-jangan Ibu belum pernah pacaran ya. Ck ck ck, kasihan jadi perawan tua.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
emang g sopan tuh
2024-08-19
0
Becky D'lafonte
reka mulutmu licin kali
2023-10-09
0
Katherina Ajawaila
Reka mulutnya pedes amat, itu jodoh kamu loh, pusing2 ntar mlm ketemu😋😋😋
2023-10-03
0