Reka berbaring dengan nyaman di ranjang, matanya terpejam tapi belum terlelap. Dia hanya berpura-pura tidur menunggu respon dari Nara.
Nara baru saja masuk kamar membawa gelas berisi air minum. Berdiri di samping ranjang, "Reka," panggil Nara. Namun, tidak ada jawaban. Nara pun merebahkan diri disisi ranjang yang kosong di sebelah Reka.
Meletakan guling diantara mereka, kemudian mencoba terlelap. Setelah yakin Nara tertidur, Reka pun membuka kedua matanya. Menyingkirkan guling yang menjadi pembatas keduanya lalu berbaring miring menghadap Nara.
Reka meyakini kecantikan Nara. Namun, hatinya sedikit geram mengingat istrinya ini masih penuh rahasia. Berjanji akan berusaha menaklukan hati Nara. Tak tahan dengan wajah cantik Nara yang harus diabaikan, jemari Reka sudah berada didepan wajah Nara. Mengelus pipi mulus itu dan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi mata yang tatapannya pernah membuat keduanya berseteru di kelas.
Esok pagi, Nara terbangun mengerjapkan kedua matanya dan merasakan berat di atas perutnya. Dia hampir menjerit saat saat menoleh ke samping ternyata Reka. Wajah pria itu sangat dekat, bahkan hembusan nafasnya sangat terasa di wajah Nara.
Salah satu tangan Reka berada di atas perut Nara. Saat Nara mencoba mengangkat tangan itu, Reka malah semakin mengeratkan pelukan dan menarik tubuh Nara semakin dekat dengannya. Kini kaki kanan Reka sudah berada di atas Paha Nara, tubuh Nara sudah seperti guling bagi Reka.
"Reka," panggil Nara.
"Hmm," jawab Reka tanpa membuka matanya.
"Bangun."
"Udah bangun kok, nggak percaya buka aja sendiri."
"Ishh, Reka cepat bangun. Geser tubuh kamu, ini sudah siang."
Reka bergeming, sedangkan Nara masih terus mengoceh agar Reka bergeser.
"Stt, berisik. Morning kiss dulu," ucap Reka masih dengan mata terpejam.
Nara terpaku memandang wajah Reka, setelah baru saja mengatakan ingin dicium olehnya. Nara menjulurkan tangannya akan menyentuh wajah Reka, tapi tiba-tiba Reka membuka matanya.
"Kenapa?"
Nara berada di situasi tidak nyaman karena kepergok akan menyentuh wajah Reka. Reka bergerak cepat dengan mencuri cium bibir Nara, membuat Nara membelakan matanya.
"Reka," ucap Nara.
"Apa? Mau Lagi?"
Nara refleks memukul lengan Reka. "Kalau mau kenalan dengan tubuh aku, bilang aja. Enggak usah malu-malu," ucap Reka.
"Reka, lepas. Ini sudah siang," ujar Nara menahan agar tubuhnya tidak menempel pada tubuh Reka karena Reka makin mengeratkan pelukannya.
Melihat dagu, leher juga lengan Nara yang terekspos karena gaun tidur yang dipakai bukan model pakaian penutup keseluruhan tubuh membuat Reka menelan saliva karena ada keinginan berbeda dalam tubuhnya.
"Aishh," teriak Reka lalu mengurai pelukannya dan menarik selimut menutupi tubuhnya sampai dengan kepala.
"Aneh," ucap Nara lalu beranjak dari ranjang.
"Bukan aneh tapi normal. Gue laki-laki normal, Bu Dosen," teriak Reka.
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, ponsel Nara berdering. Tidak lama kembali berdering kembali membuat Reka beringsut mendekati nakas melihat panggilan tersebut. Panggilan dengan nomor yang belum tersimpan.
Setelah dering tersebut berhenti, tidak lama ada pesan masuk. Reka berhasil membaca pop up pesan tersebut.
'Nara, jawab telpon aku. Jangan abaikan aku lagi. Kita harus bertemu.'
'Kamu tidak akan bisa sembunyi dariku.'
'Aku sayang kamu Nara. Maafkan kesalahanku sebelumnya.'
Reka menyimpan kembali ponsel Nara, setelah membaca pop up pesan yang berkali-kali diterima.
"Sebenarnya, rahasia apa yang kamu sembunyikan," ucap Reka.
Hayo, Rahasia apa ya
Tunggu kelanjutannya ya 😀
\=\=\=\=\=\=
Advertisiment
Mampir yuk ke karya rekan author.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Rinisa
Next...
Cerita yg bagus...👍🏻
2024-10-20
0
Jamilah BundawafieYafi
lanjuuut...
2023-09-10
1
afrena
hauhaaaa masa gk peka nara ck
2022-11-22
0