Pusing Karena Nara

Reka," panggil Nara lagi. 

"Enggak usah tunggu aku." Reka keluar dari apartemen. Alih-alih mengatakan dia akan ke club, Reka menuju kostan Yasa. 

"Idih, penganten udah kemari aja. Gimana rasanya belah duren?" 

"Tajem," jawab Reka. "Gue numpang tidur, udah nggak usah banyak tanya." 

Yasa dan Dewa saling tatap lalu mengedikkan bahunya melihat Reka yang langsung merebah di ranjang. Yang mereka tau adalah Reka menikah bukan karena saling mencintai tapi dijodohkan.

Di tempat berbeda, Nara kecewa mendengar Reka akan bersenang-senang. Meskipun dia sendiri yang mengatakan setelah menikah Reka boleh kembali ke kehidupan pribadinya

Kenapa aku merasa seperti sedang cemburu? Apa aku menyukai Reka, batin Nara. 

Menghabiskan malam itu dengan gelisah, tidak bisa tidur sambil menunggu kedatangan Reka. 

Keesokan pagi, Nara bangun dengan wajah tidak segar. Dengan mata pandanya karena kurang tidur, dia menyapukan make up untuk menutupi hal itu. 

Belum melihat Reka di apartemen, Nara pun menghubungi Reka tapi tidak ada jawaban. Akhirnya memutuskan berangkat ke kampus. 

Sesampainya di ruangan Dosen, Nara langsung menuju kubikelnya. Suasana ruangan saat ini terlihat sepi karena masih pagi. 

Tidak lama kemudian, datanglah Ardi. "Nara, kamu benar sudah menikah?" Nara menoleh lalu mengangguk. 

"Kamu kok tau?" tanya Nara.

Ardi berdecak, "Apa yang aku nggak tau. Kalian bukan saling cinta ya? Kenapa tidak ada resepsi?" 

Nara membuka laptop dan menghidupkannya, "Menurut keluarga suami aku, resepsinya setelah dia wisuda." 

"Wisuda? Maksud kamu dia masih mahasiswa?" 

"Yups." 

"Siapa namanya?" tanya Ardi. 

Nara menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ardi tidak memaksa, karena Nara yang tidak ingin jujur. Dari sikap dan pertanyaan Ardi dapat disimpulkan pria itu ada rasa dengan Nara. Hal itulah yang membuat Nara membatasi diri dengan Ardi. 

Hari ini Reka ke kampus hanya untuk bimbingan skripsi dan tidak mendapatkan Nara sebagai dospemnya. Hampir jam makan siang saat Reka selesai bimbingan, saat berjalan dikoridor menuju parkiran dia melihat Nara dosen laki-laki berjalan bersisian. 

"Mau kemana dia?" tanya Reka mengikuti dari jauh. Ternyata keduanya memasuki kantin kampus. Reka urung ikut ke dalam kantin. 

"Hai, Reka. Makin ganteng aja deh?" tanya Lolita rekan satu kelas di mata kuliah Nara. Reka ada ide dengan kehadiran Lolita. 

"Lo mau ke kantin 'kan? Gue traktir ya, tapi harus duduk disebelah gw." 

"Wow, maulah masa nggak. Lebih dari duduk dan makan juga nggak apa-apa. Rela lahir dan batin," ujar Lolita. 

Reka bergidik mendengar ucapan Lolita, "Tapi gue yang nggak ikhlas lahir dan barin. Udahlah, ayo."

Nara yang sedang menunggu pesanannya melihat  kedatangan Reka, sorot matanya berubah kecewa ketika melihat ada seorang mahasiswi di samping Reka. Duduk hanya berselang beberapa meja dari hadapan Nara membuat apa yang Reka lakukan jelas dapat terlihat oleh Nara. 

Reka pura-pura tidak melihat Nara. Tapi dia risih dengan kegenitan Lolita. Nara menghabiskan makannya dengan lebih cepat karena tidak ingin tersiksa lebih lama melihat kenyamanan Reka bersama wanita lain. 

Setelah kepergian Nara, Reka menghela nafasnya. Apa karena dosen itu dia memilih menikah denganku. 

Reka pulang lebih dulu dibanding Nara. Bahkan sudah jam tujuh lewat tapi Nara belum terlihat kedatangannya. Duduk pada sofa dengan melipat kedua tangannya di dada sesekali menatap jam dinding. Akhirnya terdengar sensor pintu apartemen itu dan masuklah Nara.

Nara melewati belakang sofa tanpa menegur Raka. “Dari mana kamu, jam segini baru pulang?” pertanyaan Reka seperti seorang ayah pada anaknya yang terlambat pulang.

“Aku pulang ke rumah Kakek, ada barang yang harus aku ambil,” jawab Nara. Reka melihat Nara membawa tas jinjing. “Kenapa tidak kabari aku?”

Nara menoleh, “Untuk apa aku mengabari kamu?”

“Untuk apa? Aku ini suami kamu,” jawab Reka.

“Suami mana yang bermesraan dengan wanita lain di depan istrinya,” sahut Nara. Reka berjalan mendekati Nara, “Aku tidak bermesraan dengan wanita manapun.

“Oh ya, kedua mata aku masih sehat dengan melihat kamu juga seorang perempuan di kantin kampus.”

“Ahh, itu. Lolita memang seperti itu kesemua pria tampan. Kalaupun aku dekat dengan wanita lain seharusnya kamu tidak marah dong. Kamu sendiri yang membuat kesepakatan seperti itu. Atau kamu cemburu?” tanya Reka dengan wajah cengengesan.

Nara tidak menjawab, dia hanya diam menatap Reka. “Apa karena dosen yang bersama kamu di kampus, hingga kamu menerima perjodohan ini?” tanya Reka.

Nara menghela nafasnya, “Bukan.”

“Lalu?”

“Sudahlah Reka, aku lelah,” jawab Nara lalu masuk ke dalam kamar. 

Shitt, kenapa aku kesal begini dengan sikap Nara. Di tidak mengelak soal teman dosennya itu. Apa yang terjadi diantara mereka?

"Nara," panggil Reka memasuki kamar. Nara yang baru saja keluar dari walk in closet membuat Reka terpana dan menelan saliva memandang tubuh Nara.

Nara mengenakan gaun tidur, meskipun bukan model gaun seksi hanya tanpa lengan dan panjang selutut membuat bentuk tubuhnya terlihat menggoda. Bahkan Reka penasaran dengan bentuk dan isi dibalik gaun itu.

"Kenapa?" tanya Nara. Tiba-tiba apa yang ingin Reka pastikan dan tanyakan pada Nara hilang seketika. Yang ada diotaknya kini adalah Nara yang seakan menggoda untuk disentuh.

"Reka," panggil Nara dengan nada yang agak lebih tinggi membuat Reka tersadar.

"Aku tidak ingin melihat kamu dekat dengan pria itu," ujar Reka. "Pernikahan ini pilihan kita bersama, jangan buat kecewa keluarga dengan bermesraan di tempat umum dengan kekasih kamu," ungkap Reka.

"Begitu pun dengan kamu, jangan bermesraan dengan wanita lain."

Reka berdecak, "Lolita bukan tipeku, dia aja yang gatal. Nggak mungkin aku menyukai wanita yang bisa dipegang-pegang pria lain."

"Tapi kamu suka 'kan dipegang-pegang wanita itu?"

"Enggaklah," jawab Reka.

"Buktinya kamu ...."

"Stt, sudahlah. Jangan ngoceh terus, kepala aku tambah pusing," ujar Reka.

Nara berjalan menuju nakas, membuka salah satu laci untuk mengambil persediaan obatnya dan menyerahkan pada Reka. "Minum obat ini. Makanya jangan bergadang terus walaupun untuk kerjakan skripsi," ucap Nara.

Reka yang menerima obat dari Nara mengernyitkan dahinya. "Pusing aku enggak akan reda dengan obat ini."

"Lalu?"

Reka mengusap kasar wajahnya. "Yang pusing kepala aku bagian ... Ah sudahlah," ucap Reka sambil menyerahkan kembali obat ke tangan Nara dan menuju kamar mandi.

"Dasar tidak jelas, tadi bilang pusing dikasih obat malah marah." Nara heran karena Reka cukup lama di kamar mandi. Reka keluar kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.

"Kamu belum mandi?"

"Sudah."

"Kenapa mandi lagi?"

Reka berjalan mendekat pada Nara. "Eh, mau apa? Pakai baju kamu," ujar Nara. Walaupun dia tercengang melihat dada bidang Reka.

"Aku mandi lagi karena kamu yang buat aku pusing dan nggak bisa hilangkan pusing aku."

"Hahhh."

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

blng donk Reka yg pusing ade ku. malu2 segala😜😜😜

2023-10-03

0

afrena

afrena

pusing kepala ipin nya😁

2022-11-22

0

Ukhty Nur Siahaan

Ukhty Nur Siahaan

Terlalu polos Dosen ini bah
(ibu dosen Nara)

2022-11-21

1

lihat semua
Episodes
1 Tak Kenal Maka Tak Sayang
2 Keluar
3 Ibu, ada masalah apa?
4 Cari Jodoh
5 Menghormati Perempuan
6 Perawan Tua
7 Masa Lalu Nara
8 Bukan Tua tapi Dewasa
9 Jangan Tolak Perjodohan Ini
10 Please, Bantu Aku
11 Persiapan Pernikahan
12 Persiapan Pernikahan (2)
13 Sudah Siap?
14 Belah Duren
15 Bersenang-senang
16 Pusing Karena Nara
17 Rahasia Nara
18 Mencari Kebenaran
19 Niat Jahat Reno
20 Kamu Milikku
21 Kejujuran Nara
22 Gaplok Able dan Tendangable
23 Tipe Gue Banget
24 Masa Lalu Reka
25 Kepedulian Reka
26 Aroma Bucin
27 Susah Connect
28 Apalagi
29 i don't like monday
30 Harap-Harap Cemas
31 Ketakutan Nara
32 Hipotermia
33 Kenang-kenangan Dari Fans
34 Bau Rokok
35 Mencari Nara (1)
36 Mencari Nara (2)
37 Reka Frustasi
38 Berusaha Kabur
39 Percaya Aku
40 Sudah Mulai Bucin
41 Kita Perlu Bicara
42 Fans Nara
43 Bingung, Judulnya Apa
44 Kecewa
45 Jangan Dipercaya
46 Tamu Tak Diundang
47 Ayo Kita Masuk
48 Kejujuran Dan Masa Lalu
49 Keluarga Yang Aneh
50 Penggemar Reka
51 Tamu Tak Diundang
52 Sita Ponsel
53 Pagi Yang Tidak Damai
54 Bu Dosen Merajuk
55 Bodo Amat
56 Cemburu Boleh, Ngambek Jangan
57 Keluarga Toxic
58 Kita LDR
59 Akhirnya LDR
60 Benar-benar Selesai
61 Makan Malam Keluarga
62 Makan Malam Keluarga (2)
63 Lepaskan Aku
64 Partner Rumah Tangga
65 Bikinnya Sama-sama
66 Melepas Rindu
67 Emosi Reka
68 Ngarep Sama Pasangan Orang
69 Kamu Kenapa?
70 Wait and See
71 Bukan Ranah Kamu
72 Semakin Sibuk
73 Mandi Dulu
74 Tidak Tertarik
75 Mengancam Selly
76 Pulang Saja
77 Jangan Yang Itu
78 Makin Dewasa
79 Harus Hadir
80 Tunggu Aku di Jakartamu
81 Dasar Bocah
82 Aku Lapar
83 Obat Rindu
84 Rahasia Nara (2)
85 Undangan Pernikahan
86 Cinta Dibayar Tunai
87 Ruang Sidang
88 Candle Light Dinner
89 Drama Keluarga Kevin
90 Akhirnya Wisuda
91 Kebahagiaan Keluarga Kecil Reka dan Nara (End)
92 Boncap - Hooneymoon yang tertunda
93 KUKIRA KAU CINTA
94 Jerat Cinta Dibalik Dendam
95 Makin Benci, Makin Cinta
96 (Bukan) Suami Pengganti
97 Pesan Terakhir
98 Arini I'm In Love
99 Bukan Istri Salihah
100 Bosku Duda Arogan
101 SUAMIKU BUJANG LAPUK
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Tak Kenal Maka Tak Sayang
2
Keluar
3
Ibu, ada masalah apa?
4
Cari Jodoh
5
Menghormati Perempuan
6
Perawan Tua
7
Masa Lalu Nara
8
Bukan Tua tapi Dewasa
9
Jangan Tolak Perjodohan Ini
10
Please, Bantu Aku
11
Persiapan Pernikahan
12
Persiapan Pernikahan (2)
13
Sudah Siap?
14
Belah Duren
15
Bersenang-senang
16
Pusing Karena Nara
17
Rahasia Nara
18
Mencari Kebenaran
19
Niat Jahat Reno
20
Kamu Milikku
21
Kejujuran Nara
22
Gaplok Able dan Tendangable
23
Tipe Gue Banget
24
Masa Lalu Reka
25
Kepedulian Reka
26
Aroma Bucin
27
Susah Connect
28
Apalagi
29
i don't like monday
30
Harap-Harap Cemas
31
Ketakutan Nara
32
Hipotermia
33
Kenang-kenangan Dari Fans
34
Bau Rokok
35
Mencari Nara (1)
36
Mencari Nara (2)
37
Reka Frustasi
38
Berusaha Kabur
39
Percaya Aku
40
Sudah Mulai Bucin
41
Kita Perlu Bicara
42
Fans Nara
43
Bingung, Judulnya Apa
44
Kecewa
45
Jangan Dipercaya
46
Tamu Tak Diundang
47
Ayo Kita Masuk
48
Kejujuran Dan Masa Lalu
49
Keluarga Yang Aneh
50
Penggemar Reka
51
Tamu Tak Diundang
52
Sita Ponsel
53
Pagi Yang Tidak Damai
54
Bu Dosen Merajuk
55
Bodo Amat
56
Cemburu Boleh, Ngambek Jangan
57
Keluarga Toxic
58
Kita LDR
59
Akhirnya LDR
60
Benar-benar Selesai
61
Makan Malam Keluarga
62
Makan Malam Keluarga (2)
63
Lepaskan Aku
64
Partner Rumah Tangga
65
Bikinnya Sama-sama
66
Melepas Rindu
67
Emosi Reka
68
Ngarep Sama Pasangan Orang
69
Kamu Kenapa?
70
Wait and See
71
Bukan Ranah Kamu
72
Semakin Sibuk
73
Mandi Dulu
74
Tidak Tertarik
75
Mengancam Selly
76
Pulang Saja
77
Jangan Yang Itu
78
Makin Dewasa
79
Harus Hadir
80
Tunggu Aku di Jakartamu
81
Dasar Bocah
82
Aku Lapar
83
Obat Rindu
84
Rahasia Nara (2)
85
Undangan Pernikahan
86
Cinta Dibayar Tunai
87
Ruang Sidang
88
Candle Light Dinner
89
Drama Keluarga Kevin
90
Akhirnya Wisuda
91
Kebahagiaan Keluarga Kecil Reka dan Nara (End)
92
Boncap - Hooneymoon yang tertunda
93
KUKIRA KAU CINTA
94
Jerat Cinta Dibalik Dendam
95
Makin Benci, Makin Cinta
96
(Bukan) Suami Pengganti
97
Pesan Terakhir
98
Arini I'm In Love
99
Bukan Istri Salihah
100
Bosku Duda Arogan
101
SUAMIKU BUJANG LAPUK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!