Kelas menjadi hening, Reka berdiri lalu berjalan mendekati Nara. Kini Nara dan Reka dalam posisi berhadapan. Netra keduanya saling menatap tajam. Nara harus menengadah sedangkan Reka sedikit menunduk. Karena tinggi badan keduanya tidak seimbang. Reka yang termasuk kategori tinggi sedangkan Nara hanya sebatas bahu Reka.
“Keluar!”
Reka belum beranjak, dia masih berdiri menatap Nara, tersenyum sinis lalu meninggalkan kelas.
Sepeninggal Reka, kelas lebih kondusif dan hening. Nara menjelaskan materi dan memberi sesi tanya jawab pada kelasnya. Menghela nafas setelah kelasnya bubar. Membereskan perlengkapan mengajarnya lalu kembali ke ruang dosen.
Nara tergolong baru sebagai Dosen di kampus itu, telah menyelesaikan pendidikan S2 nya dan saat ini berumur 25 tahun. Nara belum mendapatkan ruangan khusus, dia menempati salah satu kubikel khusus dosen. Di sampingnya adalah kubikel Ardi, rekan sesama dosen.
“Sudah selesai?” tanya Ardi sambil menoleh pada Nara.
“Hmm.”
“Kenapa? Kayak yang bete gitu?”
Nara menyandarkan punggungnya pada kursi, “Apa aku boleh mengajukan menolak menjadi dosen pengganti Pak Rasdan?” tanyanya.
Ardi memutar kursinya menghadap ke arah Nara. “Ada masalah?”
Nara kembali menghela nafas, “Enggak ada.”
Sedangkan ditempat berbeda, Reka yang menunggu kedua rekan gesreknya di kantin sambil berkirim pesan dengan kenalan wanita di club beberapa hari yang lalu.
“Parah lo,” ujar Dewa.
“Nantangin dosen, mana cewek pula. Mending lo tantang di ranjang dah,” tambah Yasa.
“Berisik.”
Dewa yang duduk di hadapan Reka meraih botol air mineral milik Reka. Menghabiskan setengah isi botol yang tersisa. “Tapi lo mesti temuin Bu Nara deh, sebelum dia lapor ke Pak Rasdan terus mata kuliah lo dibatalin. Selamat mengulang dan menunda kelulusan,” tutur Dewa.
Bener juga ya. Gue enggak mau sampe batal lulus. Kuliah enggak kelas-kelar, batin Reka.
“Mau ke mana?” tanya Yasa melihat Reka beranjak dari kursinya. Padahal dia baru mendapatkan rejeki gorengan dari cewek yang duduk di meja sebelahnya.
“Memperjuangkan kelulusan gue. Ogah amat jadi maskot kampus,” sahut Reka.
Niat menemui dosen karena khawatir kelulusannya akan bermasalah karena mengulang mata kuliah menjadi keberuntungan Reka karena orang yang dicari saat ini sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
“Permisi, Bu. Minta waktu Ibu sebentar.”
“Saya sibuk,” jawab Nara sambil terus berjalan.
Shitt, banyak gaya banget ini cewek, batin Reka.
“Saya mau bicara masalah tadi di kelas,” ujar Reka mensejajari langkah Nara.
Nara tetap pada tujuannya, menuju cafe yang berada dalam kampus. Memesan capuccino ice, acuh dengan Reka yang masih mengekor. Setelah mendapatkan pesanannya, Nara urung berada di tempat, memilih kembali ke ruang kerjanya.
“Saya enggak melihat sibuk yang Ibu maksud deh,” ucap Reka masih mensejajari Nara.
“Sibuk saya dan kamu itu berbeda. Mungkin yang dimaksud sibuk oleh kamu itu membuat kelas gaduh dan menghina dosen yang sedang mengajar.”
Jleb. Ucapan Nara sukses menyentil hati Reka, karena hal itu persis sudah dia lakukan hari ini. Reka menghentikan langkah Nara dengan berdiri dihadapannya.
“Saya minta maaf, untuk kelas berikutnya saya pastikan tidak akan terulang,” ujar Reka.
Nara sempat mengalihkan pandangannya sebelum kembali memandang Reka, “Tidak ada kelas berikutnya, karena saya sudah laporkan ke Pak Rasdan, kalau kamu tidak perlu ikut kelas saya.”
“Jangan begitu Bu, mata kuliah ini ada lagi semester ganjil. Ini sama saja saya gagal lulus tahun ini,” sahut Reka. Nara tidak perduli dengan Reka, memilih melanjutkan langkahnya.
“Bu,” panggil Reka. “Ibu ada masalah apa sih?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Chandra Dollores
kocak juga hahaha
"Ibu ada masalah apa"
hahaah
berasa suami aja nanya begitu hahaha
2023-05-04
2
Thressia Gwatiny Tan
orkay mang gt ,kuliah bkn belajar sungguh2 ,malah sk menghina dosen,kl merasa pintar y gk usah kuliah deh buat orkay2 manja.
2023-01-15
1
Jernita Yanti Simbolon
Thor....ga usah diulang2 lagi dari Bab sebelumnya....🙏
2023-01-10
0