TOK TOK TOK
Yara mengetuk pintu kamar Poppy, berberapa menit ia menunggu di depan pintu namun tak kunjung dapat respon dari Poppy.
“Kak? Kak Poppy,” panggil Yara sambil mengetuk pintu.
Seorang perempuan yang sedari tadi melihat Yara di depan pintu Poppy pun buka Suara
“Yara kau mencari Poppy?”
“iya kak,” jawab Yara.
“Tadi aku lihat dia pergi bareng cowok yang biasanya menjemput dia pakai motor.”
“Oh cowok itu, kak Poppy masih dekat apa sama dia, bukannya udah jadian sama kak Ray?” ucap Yara dalam hati.
Yara turun dari tangga pergi menuju kamarnya di lantai dua, baru saja membuka pintu moodnya seketika hancur melihat kamar yang berantakan serta pakaian yang belum di cuci.
“Huh,” Yara mengehela napas kasar, ia mulai membersihkan kamar hingga semua terlihat rapi dan tertata sesuai tempatnya.
Yara merebahkan tubuhnya ke atas kasur. “Hari libur gini enaknya ngapain ya?” Dengan malas Yara berusaha mengambil remot di nakas dekat kasurnya.
Setelah berhasil mendapatkannya Yara menghidupkan TV tapi tidak menontonnya, ia malah sibuk dengan ponsel.
Di halaman Gogglenya terdapat berita penemuan mayat di tepi sungai, jantung Yara berdetak dengan cepat, ia merasa takut kerna menyembunyikan hal yang seharusnya ia beritahu untuk keamanan masyarakat, mau bagaimana lagi? Yara juga tidak ingin mati ditambah Poppy jadi bahan pertaruhannya juga.
“Lebih baik aku tidak mengetahui apapun dari pada seperti ini,” gumam Yara pelan.
Drett..Drett..Dreet.
HP Yara bergetar di atas nakas, dengan cepat Yara melihat siapa yang menghubungi.
“Kak Agha?” ucap Yara, lalu mengangkat telpon dari kaka sulungnya.
“Halo kak,” jawab Yara duluan.
“Yara di mana?”
“Di kost, emangnya kenapa?”
“Tidak ada hanya memastikan, Poppy kok di telpon gak dia angkat angkat?” tanya Agha, emang adik ke-dua nya itu sedikit liar membuat Agha terkadang khwatir dengan pergaulan bebas Poppy.
“Tadi pergi ka, Yara tidak tau kemana.”
“Yara hati-hati, sekarang rawan pembunuhan jangan keluar malam-malam walaupun penting tunda saja urusan nya ini demi keselamatan,” ujar Agha memperingati.
Yara tertegun, beru kali ini Agha terlihat menghawatirkannya bahkan selama ini ia selalu cuek dengan Yara.
“iya kak,” jawab Yara tanpa sadar air matanya menetes, Yara hanyalah seorang gadis lemah yang berusaha terlihat kuat. Lagian siapa yang tidak menangis ketika orang yang kita anggap tidak menganggap keberadaan kita ternyata diam-diam sayang.
Setelah sambungannya putus Yara menaruh HP di nakas, mengelap sisa air yang menetes begitu saja. “Oh iya, sekarang kak Agha kan detektif polisi, apa sekarang dia ditugaskan untuk menangani kasus ini ya?” tanya Yara pada dirinya sendiri.
“Kak Ray sekarang kau di mana?” ujar Yara sambil melihat foto masa kecilnya dengan Ray sang kaka tirinya yang kabur dari rumah sepuluh tahun yang lalu.
“Apa kaka masih membenci Yara?” Kembali ke ingatannya dulu dimana Ray mengatakan kalau ia membenci Yara kerna hanya melihat Ray disiksa tanpa melakukan apapun.
Yara membuka bungkusan yang isinya bingkai foto putih ukuran 5x7 untuk tempat foto itu, lalu meletakkan nya di atas meja. Selama ini Yara tidak pernah memajang foto itu kerna akan di marahi mamanya, sekarang Yara dengan bebas memasang foto tersebut.
“Ok sangat bagus,” puji Yara melihat bingkai yang ia beli sangat cocok dengan interior kamarnya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments