Di ruang pertemuan, sejumlah polisi tengah berdiskusi tentang pembunuhan yang pelakunya belum terlacak sampai sekarang.
Agha, seorang detektif polisi muda yang baru saja bergabung sejak tiga bulan yang lalu setelah kelulusannya.
Walaupun tergolong masih baru tapi kemampuan Agha tuai banyak pujian dari rekannya atau pun para atasan. Beberapa kali Agha mengungkap kasus kriminal yang tergolong sulit dan berbahaya dengan hasil yang sangat memuaskan.
Kini Agha ditugaskan untuk membantu memecahkan kasus pembunuh misterius yang terjadi di ibu kota belakangan ini.
“Bagaimana Agha? Apa sudah ada perkembangan dari penyelidikanmu?” tanya atasan Agha yang bernama Efrito.
“Dari penyelidikan saya, pelaku membunuh korban untuk mengambil organ dalam yang berharga seperti jantung, hati, ginjal dan mata yang laku di pasaran gelap. Bisa jadi Pelaku adalah anggota Mafia atau hanya psikopat gila yang memiliki gangguan mental obsesi saja,” ujar Agha menjelaskan.
TOK TOK TOK
“Masuk,” jawab Atasan ketika pintu di ketuk.
“Pak, ditemukan lagi mayat di pinggir sungai,” lapor seorang polisi.
Yara sibuk mengerjakan tugas yang katanya kelompok tapi nyatanya Yara mengerjakan semuanya sendiri, sedangkan yang lain sibuk ketawa ketiwi seperti tidak ada beban.
Dari pada menunggu mereka mengerjakannya Yara lebih memilih mengerjakan semuanya sendiri dari pada besok ke sini lagi dan pulang tanpa membawa hasil.
Pukul 01.11 malam, Yara meregangkan tubuhnya merasa lelah setelah menyelesaikan tugas, ia memasukkan semua barangnya ke dalam tas dan beranjak untuk pergi.
“Hei Yara kau mau kemana?” tanya Retno yang melihat Yara berdiri.
“Pulang,” jawab Yara.
“Sudah selesai semua?”
“Hmm.”
“Terus mana nama kami, kenapa tidak ada?”
“Ketik saja sendiri, kalian tau huruf kan?” Tak menunggu lama lagi Yara langsung keluar dari rumah itu.
\>\>\>
Sepanjang jalan menuju halte tersimpan rasa takut dalam pikiran Yara, bagaimana tidak? Ini sudah sangat larut, pikiran Yara mengarah ke para penjahat malam yang mungkin sedang berkeliaran.
Yang benar saja. Di seberang sana Yara melihat kumpulan laki laki remaja yang sepertinya geng motor.
Dengan memberanikan diri, Yara melangkah cepat lewat di depan mereka.
“Cewek, mau kemana tuh malam malam gini,” tegur salah satu dari mereka.
“Beh cantik banget.” Terlihat seorang cowok keluar dari kerumunan mencoba menghampiri Yara.
Seketika Yara langsung berlari menyadari hal itu.
“Eits mau kemana? Kenalan dulu dong, tenang saja kita gak jahat kok,” ucapnya yang sudah menahan tangan Yara.
“Lepas!” bentak Yara sambil memberontak.
Kerna merasa terancam, Yara langsung menendang selang\*kangen cowok itu hingga terdengar suara teriakan kesakitan.
Tak membuang kesempatan ini, Yara berlari ke sembarang arah, beberapa dari mereka mengejar Yara sambil berteriak mengancam.
“*Tuhan tolong bantu Yara jauhkan Yara dari mereka*.” Kaki Yara tak berhenti melangkah tak memperdulikan segala makian dan ancaman dari beberapa orang yang mengejar Yara, hanya satu dalam pikiran Yara, ia harus tetap berlari jangan sampai tertangkap berandal seperti mereka
.
.
“Kemana tuh cewek?” Keluhnya tak mendapati Yara lagi di penglihatan mereka.
“Gak tau, sepertinya dia bersembunyi.”
Sedangkan Yara mendekap mulutnya sendiri berusaha tidak menciptakan suara dalam bak mobil yang mengangkut barang bekas.
“*Sampai kapan mereka di sana, ini sudah sangat larut aku harus pulang*,” ujar Yara dalam hati.
Tiba tiba mesin mobil hidup, Yara merasakan ada pergerakan dan ternyata mobil tersebut berjalan “Apa! Bagaimana ini,” panik Yara.
Tbc...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments