Setelah beberapa jam perjalanan, mobil yang membawa Yara pun berhenti. Sebelum supir mengetahui keberadaan Yara, terlebih dahulu Yara turun dari bak lalu berlari menjauh menuju ke kegelapan.
“Di mana ini kenapa kotor sekali?” tanya Yara, melihat kumuhnya tempat yang sekarang ia pijak.
Di tepi sungai Yara melihat Ray yang sepertinya sibuk melakukan sesuatu.
“Bukannya itu kak Ray ya? Apa dia tinggal di sini? Kukira dia akan menginap di kost kak Poppy,” tanya Yara, ia mendekati Ray untuk bertanya jalan kembali.
Lagi lagi pemandangan yang menjijikan dilihat Yara, Ray yang sibuk dengan pisau penuh darahnya tidak menyadari keberadaan Yara di kejauhan 4 meter.
Walaupun gelap Yara masih bisa melihat apa yang di lakukan Ray berkat bantuan cahaya bulan yang begitu terang malam ini.
“Guk”
“Guk”
“Guk”
Yara semakin ketakutan kerna suara anjing di belakang nya membuat Ray menoleh ke arah Yara sekarang.
“Anjing sialan!” batin Yara, ia sudah pasrah dengan takdir. Kaki nya sudah lelah untuk terus berlari. “Sepertinya umurku memang pendek,” ucap Yara dalam hati penuh kepasrahan.
Ray tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan kaki yang terus melangkah mendekati Yara. “Lagi lagi kau Yara, ini yang kedua kalinya kau memergoki ku. Kenapa bisa kau sampai ke sini?” ujar Ray yang sudah berhadapan dengan Yara.
“J-jadi kak Ray adalah seorang pembunuh?”
“Seperti yang kau lihat, kau ingin melaporkan aku ke polisi?” Ray menyingkirkan rambut yang menutupi mata Yara.
“Emang nya kaka akan membiarkan aku hidup?”
“Tentu saja, tapi jika kau berani membocorkan rahasia ini maka aku akan membunuh kaka mu, Poppy. kau ingat? Dia sangat tergila-gila denganku sampai memutuskan hubungannya dengan Gilang si ketua OSIS itu,” ancam Ray yang terdengar santai namun mengerikan di pendengaran Yara.
“Baiklah aku janji,” tanpa pikir panjang Yara menyetujui tawaran Ray, yang terpenting sekarang adalah tetap hidup, tak mungkin Yara menyia nyiakan kesempatan ini. Semua orang pasti melakukan hal yang sama, Rela menyembunyikan kejahatan orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Ray kembali berjalan ke arah sungai untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Em tunggu,” ucap Yara menghentikan langkah Ray.
“Ada apa lagi?”
“Aku tidak tau jalan pulang,” tutur Yara denban kepala yang menunduk tak berani menatap.
“Kalau gitu bagaimana bisa kau sampai ke tempat ini?” tanya Ray menaikkan alisnya terheran.
Yara menarik napasnya panjang lalu menceritakan apa yang ia alami secara ringkas.
“Oh begitu, menginaplah dulu di rumah ku, besok ku antar pulang,” tawar Ray.
“Menginap di rumah mu?”
“Kenapa? Kau tidak mau? Yasudah kalau gitu pergilah.”
“Ah tidak, aku mau kok,” pasrah Yara, padahal dia memergoki Ray tengah melakukan hal keji, dapat keberanian dari mana dia hingga mau menginap di rumah Ray?
“Tunggu lah di situ, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku terlebih dahulu.” Ray kembali melangkah, seperti kata Ray, Yara benar benar menunggu di tempat awalnya.
“Bukankah dia terlalu baik pada ku? Padahal aku mengetahui rahasia besarnya, tidak yang seperti di film film kalau mengetahui rahasia besar seperti ini pasti langsung dibunuh. Semoga saja benar kalau dia tidak akan membunuh ku asalkan menepati janji.”
Yara duduk meringkuk tak ingin melihat hal kejam yang di lakukan Ray, matanya ngantuk ingin rasanya segera istirahat dari malam sialnya ini.
“Tohan tolong lindungi aku,” ucap Yara sebelum akhirnya tertidur meletakkan kepalanya di lutut meringkuk sambil duduk.
Tbc.
Visual Fray Grayson (Ray)
...Ayok Like, Vote and coment...
...Jangan lupa tambahkan ke favorit jika kalian suka dengan karya Author...
...Thank You...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments