Di depan TV, yara menonton sambil makan cemilan yang sempat ia beli setelah pulang sekolah tadi.
{Berita selanjutnya di temukan mayat seorang perempuan di jalan S dengan keadaan yang sangat mengenaskan, sampai sekarang belum di ketahui siapa pelaku dan motifnya dalam melakukan hal keji tersebut. di himbau untuk masyarakat setempat untuk berhati hati ...}
Mata Yara membulat sempurna setelah mendengar berita di TV, pasalnya tempat dan kejadian sama persis dengan kejadian yang Yara anggap mimpi, bahkan gambar blur yang di tunjukkan presenter di TV tergambar jelas di ingatan Yara dengan ceceran darah dan wanita dengan perut robek.
“Huek.” Yara berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan makanannya.
“Saat itu bukan lah mimpi, namun nyata. Tetapi kenapa saat aku bangun berada di kamar ini? Bagaimana ini? Otak ku sulit mencerna semuanya, aku pusing,” ucap Yara memegang kepala yang terasa berat sebelah.
“Mata itu! Mata yang sama dengan Kak Ray, bahkan tinggi dan postur tubuh juga sama, tapi tidak mungkin kan?” pikir Yara.
TOK TOK TOK
Di sela sela pusingnya Yara, pintu kost di ketuk dari luar. Yara membasuh mukanya untuk mencoba menghilang raut panik.
CKLEK.
“Ada apa kak?” tanya Yara.
“Apa yang kau lakukan di dalam? Kenapa selalu lama membukakan pintu hah!?” marah Poppy.
“Iya iya maaf.”
“Aku datang ke sini hanya untuk memperingati mu, jangan dekat dekat dengan Ray, dia itu gebetan ku. Awas saja kalau sampai kau goda dia, habis kau di tangan ku Yara!” ancam Poppy pada adiknya.
“Bukankah dia sudah punya pacar?” jawab Yara menanggapi.
“Hanya Maya, dia tidak begitu cantik. Apa yang perlu aku takutkan paling bentar lagi juga putus.” Secara tidak langsung Poppy memuji Yara cantik, dia takut dengan tampang Yara yang lebih menarik darinya.
“Terus kenapa kaka takut dengan ku?”
“Jangan banyak tanya, pokoknya kau jangan berpikir untuk mendapatkan, Ray.” Poppy pergi setelah mengancam Yara.
Setelah turun Poppy ke gerbang kost kerna sudah ada seseorang yang sedang menunggu nya. “Eh Gilang, apa kau menunggu lama?” tanya Poppy menghampiri.
“Untuk mu aku rela menunggu bahkan sampai dunia ini kiamat sayang,” balas Gilang sambil memainkan alisnya menggoda.
“Gak lucu,” jawab Poppy sambil tertawa memukul pundak Gilang.
Gilang membantu Poppy memakai helm, lalu mereka pergi dari perkarangan kost.
Ternyata dari atas Yara melihat mereka.
“Punya gebetan dan juga pacar, hebat sekali kakakku itu. Terus nanti kalau dia diterima sama kak Ray apa dia akan melepaskan pacarnya itu? Tauk ah udah pusing malah tambah pusing” ucap Yara, dia kembali masuk ke kamar dan kembali pusing memikirkan kejadian semalam.
Pukul 01.20 malam, seorang pemuda membersihkan tangannya dari lumuran darah di tepi sungai dekat punggiran kota yang kumuh, rata-rata orang yang tinggal di sana adalah orang yang tak mampu dan banyak pengemis yang kelaparan.
Ray, pemuda itu emang sering ke sini kerna mengingat seorang wanita paruh baya menampungnya saat Ray kebingungan mau kemana 10 tahun yang lalu.
Sekarang kemana wanita itu? Ia sudah meninggal 6 tahun lalu kerna terkena tikaman dari seorang bandar narkoba yang lari ke daerah tersebut. Saat itu terjadi kejar kejaran antara pembandar dan polisi membuat sang pembandar narkoba itu berlindung di balik sanderanya.
Ray yang masih umur 12 tahun menyaksikan wanita yang merawatnya selama 4 tahun meninggal, seandainya orang yang ia anggap ibu itu tidak memberontak mungkin sekarang ia masih hidup.
“Ibu aku membawakan mu bunga,” ujar Ray setelah sampai ke tujuannya, kemudian menaruh bunga mawar di makam tersebut.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments