Dalam hati Yara mengumpat memaki guru yang mengganggu jam makan siangnya, kerna dia disuruh untuk mengembalikan tumpukan buku ke perpustakaan. Sebalnya lagi Yara kesulitan melihat jalan dengan buku-buku yang menjulang tinggi.
“Empat bulan ini kenapa aku yang selalu di suruh sih? Emang tak ada orang lain ya, ck mana berat lagi,” gerutu Yara dalam hati, ditambah tidak ada satupun orang yang ingin membantunya kerna reputasi Yara yang buruk di sekolah ini akibat keseringan bertengkar dengan kaka senior ataupun teman sebayanya.
“Seandainya waktu bisa diputar aku akan memilih mengikuti kata Linda dari pada jadi musuh sisiwi satu sekolah.” Dulu, awalnya Yara ingin diam saja saat di usik, tetapi entah kenapa semakin didiamkan malah semakin marak orang yang mengganggu nya, bahkan para cowok cowok semakin tak punya rasa segan pada Yara, dengan terang terangan mereka menyibak rok Yara serta memegang bokong Yara.
Kerna Yara tidak terima dengan perlakuan tidak terpuji mereka, Yara langsung melaporkan kelakuan mereka saat itu juga pada kepala sekolah, tapi pihak sekolah hanya memperingati mereka, hanya itu tidak lebih.
Kerna keluhan nya tidak di anggap serius, Yara mengancam untuk membawa masalah ini ke hukum atas tindakan pelecehan. Pihak sekolah yang tak ingin nama baik sekolah hancurpun segera menangani keluhan Yara dengan serius.
Pada hari itu orang tua atau wali murid di panggil ke sekolah tak terkecuali Papa Yara juga hadir.
Semenjak hari itu Yara dikenal dengan nama gadis pengadu atau sebut saja cepu.
Jadilah sekarang Yara sendiri, bahkan Linda menjauhi Yara.
“Ck kalau mengingat hari itu aku jadi kesal sendiri, sebenernya letak kesalahan ku di mana? Aku kan hanya membela diri ku.”
BRUK.
Sibuk dengan pikirannya, tanpa sadar Yara menabrak seseorang yang hanya berdiri diam. buku-buku yang Yara bawa berserakan di lantai.
“Aduh,” keluh Yara sambil menggosok pantatnya yang terasa sakit. Sedangkan yang di tabrak hanya diam di tempat dengan wajah datar.
“Maaf kak Ray, Yara tidak melihat mu tadi.”
“Kenapa membawa buku sebanyak itu sendiri?” tanya Ray membantu Yara menyusun buku.
“Huh,” Yara menghela napas. “Aku tidak punya teman dan entah kenapa aku yang selalu disuruh untuk hal yang seperti ini,” Keluh Yara.
“Ini buku mu bawalah lagi sana.” Ray meninggalkan Yara, yang masih terduduk di tempatnya.
“Ku kira dia akan membantu ku membawa buku ini ke perpustakaan seperti yang ada di drama drama.”
Sungguh sial, sangat sangat sial. Tugas yang Yara benci lagi lagi muncul.
Tugas kelompok!
Kalau bisa memilih, Yara lebih memilih mengerjakan semuanya sendiri dari pada terkucilkan seperti ini. Hanya Yara satu-satunya orang yang belum mendapatkan kelompok, tidak ada orang yang ingin merekrutnya.
“Siapa yang belum mendapatkan kelompok?” tanya Buk Elin.
Yara terdiam seribu bahasa, dia membuang pandangannya ke jendela kerna tidak di pungkuri sudah tergenang air di pelupuk matanya, ia berusaha untuk tidak menangis.
“Yara nama mu tidak ada di list kelompok manapun.” Buk Elin sudah berada di depan Yara, ia tau Yara sedang menahan tangisnya, maka dari itu ia melindungi Yara dengan tubuhnya agar tidak kelihatan orang lain.
“Kalau gitu biar ibu pilihkan kelompok mu ya,” ujarnya lembut. Yara itu lemah, tetapi ia berusaha terlihat kuat, itulah yang ada dipikiran Buk Elin. “Retno, Yara akan masuk ke dalam kelompok mu.”
“Apa!” teriak Retno. Padahal dia musuhan sama Yara, ini pertama kalinya Retno satu kelompok dengan Yara.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments