Sebulan sudah semenjak kepergian Ezra, Ray benar benar kesepian sendirian tiada tempat untuk mengadu.
Yara sering di kurung Reva kerna berani membangkang, tidak hanya Ray yang tersiksa di rumah ini tapi juga Yara yang juga selalu mendapat kekerasan dari mamanya.
“Kenapa kau ke sini lagi, pergi sana,” usir Ray pada Yara, ia tidak tau saja Yara rela di benci oleh mama, nenek, dan kakak kakak nya demi Ray. Bukan tanpa alasan Yara membela Ray di banding kan keluarga kandung nya sendiri, itu kerna ia merasa keluarganya berubah menjadi orang jahat selain papanya.
“Kak Ray jangan benci Yara,” tangis Yara, memegang tangan Ray namun dengan cepat Ray menepisnya.
Kerna itu tidak sengaja Ray melihat lebam biru keunguan di pergelangan di balik baju lengan panjang yang di pakai Yara.
“Ini apa Yara?” tanya Ray meraih tangan Yara.
“Sama seperti yang ada di punggung dan di kaki kak Ray, hanya saja Yara tadi terjatuh, bukan seperti kak Ray yang sering di pukuli Nenek dan ka Agha,” Jawab Yara berbohong padahal lebam yang ada di tubuh nya itu akibat perbuatannya yang tidak menurut dengan mama Reva.
“Kau ceroboh,” ketus Ray. “Yara,” panggil Ray menatap mata gadis yang sama tinggi.
“Iya,” jawab Yara.
“Aku akan pergi dari rumah ini, mungkin besok kau tidak melihat ku lagi. Tapi ingat ini Yara, aku membenci mu dan keluarga mu,” ucap Ray, dia menaruh dendam atas perlakuan Yara yang pernah mencueki nya semasa Ezra hidup.
“Kaka mau kemana? Tolong jangan benci Yara.”
“Bagaimana bisa aku tidak membencimu Yara? Melihat ku di siksa selama ini kau hanya diam saja. Dan soal aku mau kemana, itu bukan urusan mu.” Ray mendorong Yara dari kamar nya untuk keluar.
Yara hanya pasrah, ia mematung beberapa detik kemudian ia merasa pilihan Ray untuk pergi mungkin adalah yang terbaik, mengingat Ray yang tersiksa di rumah ini bukan lah hal yang pantas terus membiarkan Ray menderita, pikir Yara.
Tengah malam pukul 02.00, Ray memulai aksi melarikan dirinya, ia sudah menyiapkan uang tabungan nya untuk kabur. Setelah selesai berkemas kemas Ray keluar dari kamar dan di kejutkan oleh gadis kecil yang duduk di depan pintu kamar Ray.
“Yara? Ngapain kau di sini?” ucap Ray pelan agar tidak ketahuan orang lain.
“Yara ingin melepas kepergian Kak Ray.” Yara langsung memeluk tubuh Ray. “Jangan lupakan Yara ya kak,” ujar Yara menangis mendekap erat tubuh Ray.
“Lepaskan aku Yara,” ucap Ray pelan, ia menahan air mata yang sebentar lagi jatuh.
Menyadari tingkah Yara, Ray mengecup kening Yara lembut kemudian berkata, “Walaupun aku membenci mu anggap saja ciuman itu tanda perpisahan kita” ujar Ray.
“Yara sayang kak Ray.”
“Kaka pergi dulu yara,” pamit Ray. Jika berlama lama berhadapan dengan Yara, pertahanan untuk tidak menangis Ray akan runtuh.
Yara melambaikan tangannya dari balkon melihat Ray yang sudah berlari di jalan dengan sebuah tas yang cukup besar, kerna tidak tega Ray pun ikut melambaikan tangan nya.
“*Semoga kak Ray bertemu dengan orang baik, Tuhan tolong pertemukan Yara dengan kak Ray lagi kelak*,” doa Yara dalam hati, air mata tak henti hentinya keluar.
Esok nya seperti yang Ray katakan ia benar benar pergi, papa Calvin sibuk mencarinya kemana mana tapi tidak menemukan keberadaan Ray sama sekali.
Yara hanya diam saja menjadi saksi bisu, seolah tidak tau apa apa.
Tbc
...Cerita gadis dan laki laki kecil berakhir di sini, Bab selanjutnya mereka sudah remaja. ...
...Vote, like and Coment untuk mendukung karya ini maju. ...
...Terimakasih...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
zhA_ yUy𝓪∆𝚛z
kamu mau pergi kemana anak kecil?
kasian sekali kamu...
padahal kan harusnya udah biarin ajalah gak usah benci sama ray..lagian sekarang mamanya ray udah gak ada...
2022-07-07
0