Yara memandang ruangan yang sepenuhnya terbuat dari kayu, rumah yang sangat kecil ukuran 3x2 bahkan tidak memiliki kamar ataupun dapur sendiri.
semuanya tergabung menjadi satu, kasur di sisi kiri sedang kan alat alat masak dapat terlihat dua meter darinya, terdapat juga meja kayu yang pendek serta kursi kayu di samping jendela tempat Ray duduk tadi.
“Rumah ini sangat sempit, tadi malam kak Ray tidur di mana?” tanya Yara hati-hati, ia takut menyinggung Ray.
“Tidur di samping mu.”
“Apa!” teriak Yara.
“Kasur nya cuman satu,” jelas Ray, Yara membungkam mulut lnya dan berpikir seharusnya ia berterimakasih kerna diberi tumpangan untuk tidur nyaman.
“Kau tidak senang? Itu lebih baik kan dari pada kubiarkan kau tidur di luar,” sambung Ray kembali.
“iya iya terimakasih kak,” pasrah Yara.
“Kau lapar? Aku hanya punya roti di sini,” tawar Ray sambil menunjukkan rotinya.
Tiba tiba mata Yara berkaca kaca mendengar Ray hanya punya roti untuk dimakan, bukannya menolak atau tidak mau, tapi Yara merasa sedih berpikir Ray sangat miskin dan pasti jarang makan.
“Kenapa tiba tiba menangis? Kau tidak mau?” ujar Ray masih memegang Roti.
“Kak Ray tidak makan?” tanya Yara.
“Aku sudah makan satu tadi, kau makanlah roti itu untuk sedikit mengisi perutmu”
Tangisan Yara semakin deras kerna merasa kasihan. “Apakah kaka mencari makan dari hasil menjual organ?” tanya Yara tersedu-sedu.
“Iya, aku bertahan hidup dengan cara kotor seperti itu,” jawab Ray.
“Jadi organ yang kaka ambil dari orang semalem belum laku ya? makanya kaka hanya ada roti,” isak Yara, sambil mengelap ingusnya yang meleleh.
“Apa dia berpikir aku hidup miskin dan menyedihkan? pfft lucu sekali, dia sampai menangis seperti itu.” Ray menahan tawanya melihat Yara yang masih berlelehan air mata.
“Kaka jadi playboy kerna ingin menguras uang pacar kaka kan? Hiks ternyata kaka memanfaatkan ketampanan kaka juga untuk mencari uang kasian sekali kaka,” tutur Yara.
“Hei! aku tidak memakan uang cewek!” Ray tidak terima dengan tuduhan Yara. “Berhentilah menangis, makanlah rotimu setelah itu aku akan mengantar mu pulang.”
“Terimakasih rotinya kak,” ucap Yara menerima.
Di meja kayu yang pendek, Yara memakan roti dengan dicelupkan kopi hitam buatan Ray.
“Rotinya beli di mana kak? Enak banget, apalagi dicampur kopi seperti ini, kaka mau? Yara masih ada sedikit nih,” tawar Yara senang.
melihat Yara tersenyum seperti itu membuat Ray juga ikut senang. “Kau makan saja, kaka sudah kenyang,” tolak Ray halus.
“Yasudah kalau gitu Yara habiskan ya.”
“Habiskan lah.”
Setelah selesai makan dan mandi, Yara tetap memakai pakaian yang ia pakai semalam, Ray sudah menunggu di depan pintu untuk mengantar Yara.
“Yara kau sudah selesai?” teriak Ray dari luar.
“Iya sebentar lagi.”
Saat Yara keluar, Ray duduk di atas motor sportnyai “Apa motor itu hasil jual organ?” ucap Yara lagi dalam hati.
“Apa lagi yang kau tunggu ayo cepat naik.”
“ah iya.”
Yara dan Ray pun keluar dari kawasan kumuh itu menggunakan motor. Ray mengantar Yara sampai di depan gerbang kost untung saja Poppy tidak ada.
setelah Yara masuk ke dalam Ray pun merogoh tasnya untuk mengambil HP menghubungi seseorang.
“Aku mau roti yang seperti kau bawa waktu itu,” pinta Ray.
“Tapi itu aku beli di Prancis” Jawabnya
“Itu urusanmu, aku tidak mau tau secepatnya aku mau roti itu ada di rumahku, uang nya akan kutransfer sekarang.” Ray mentransfer uang dari HP-nya.
“ini kebanyakan.”
“Untuk mu saja sisanya.”
Ray memutuskan panggilannya sepihak, lalu kembali menghidupkan motor pergi dari situ menuju ke suatu tempat.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
vie gumi
Yara ko ga takut sih secara si Ray kn pembunuh,,jual organ ny jg ,, walopun dia kakak yg kita kenal,, pasti ny kita tetep takut lah kl lihat kejadian pembunuhan ky gt
2023-02-01
0