Agha dan polisi lainnya sudah sampai di tepi sungai tempat ditemukannya mayat seorang pria tanpa organ ataupun mata.
“Sepertinya ini ulah pembunuh yang sama,” ujar Agha meneliti mayat. ”Tapi kenapa dia tidak membuang mayat ini ke sungai? Dia sangat santai ternyata,” sambungnya.
Kemudian Agha berjalan mendekati rekannya Javer. “Apa sudah di temukan identitas dari si korban?”
“Sudah, Namanya Nardo usia 36 tahun. bulan lalu ia tertuduh sebagai pelaku pedofilia, tetapi kerna tidak adanya bukti serta korban tidak membuka suara, Nardo bebas dari tuduhan, ” Jelas Javer sembari membaca dokumen berbentuk pdf di ponselnya.
“Apakah korban diancam?” Pikir Agha.
“Polisi sudah mengatakan jangan takut mengatakan kebenaran dan akan melindunginya, tetapi anak itu bilang dia tidak sedang di ancam,” jelas Javer kembali.
“Kita kesampingkan dulu itu nanti, aku akan menyelidiki lagi. Sepertinya ini ada hubungannya dengan kematian Nardo. Jadi waktu kematian mayat itu kapan?”
“Belum sampai 24 jam, mungkin sekitar pukul dua malam tadi.”
Agha manggut manggut dan beralih pada satu rekannya lagi yang sibuk memuntahkan isi perut kerna melihat mayat yang tidak layak.
“Hei brengsek tidak berguna, kau cepat selidiki tentang Nardo di masa lalu,” suruh Agha pada teman seangkatannya semasa pelatihan.
“Tunggu sebentar,” ujar Dario terduduk lemas di tanah sambil memegang perutnya yang seakan sudah kosong.
Agha terheran dengan Dario, pemuda itu sangat lambat beradaptasi dengan lingkungan. Agha kembali menelusuri tempat untuk menyelidiki. “Apa yang kalian temukan di sini,” susul Agha berjalan sejauh 4 meter dari mayat.
“Pak kami menemukan jejak sepatu yang ukuran nya berbeda dari yang kita temukan di awal dekat mayat.”
Agha mengamati jejak sepatu tersebut “Dibandingkan jejak sepatu di tepi sungai, sepatu ini lebih terlihat seperti sendal cewek, ukuran nya kecil dan sempit.”
“Kemungkinan pelaku tidak bekerja sendiri pak,” komentar salah satu petugas.
“Benarkah? Tapi di dekat mayat tidak ditemukan jejak sendal seperti ini. Ini daerah sepi tidak mungkin seorang wanita bermain di tempat ini, siapa yang menemukan mayat?” tanya Agha.
“Itu pak, lagi di interogasi dengan ketua,” tunjuknya.
Agha pun menghampiri mereka yang terlihat sibuk.
“Bagaimana Agha?” tanya ketua setelah melihat kedatangan Agha.
“Biarkan saya bertanya pada bapak ini pak,” ujar Agha. Ketua pun mengangguk.
“Apa anda sendiri yang menemukan mayat ini?” tanya Agha.
“Iya, tadinya saya sedang mencari ayam saya yang lepas, tapi malah ketemu dengan tu mayat.”
“Apa penduduk tempat sering ke sini?”
“Jarang pak, ini tanah pribadi milik tetangga saya. Sekarang mereka tinggal di kota tiga tahun yang lalu, tanah ini kosong tak terurus.”
Yara masih bergulung di selimut padahal sudah sangat siang, tidak biasanya jam segini Yara belum bangun. Suara dentingan sendok sedikit mengusik Yara yang sudah akan bangun.
“Hemmm.” Yara meregangkan tubuhnya lalu merenung beberapa saat.
“Sudah bangun,” tanya seorang laki laki yang duduk di kursi kayu sambil meminum kopi.
“Hah!” Yara terkeget dia tadi sempat berpikir ini adalah kamarnya.
“Mau kopi?” tawar Ray menunjukkan gelasnya.
“Kau yang membawaku ke sini?” tanya Yara memastikan.
“Siapa lagi kalau bukan aku? Emangnya kau bisa tidur sambil berjalan?”
“Kenapa tidak bangunkan saja semalam?”
“Sudah terlanjur, jadi jangan di pertanyakan lagi.”
“Jam berapa sekarang?” tanya Yara mencari keberadaan jam.
“Jam sebelas siang.”
“Hah!” Lagi lagi Yara terbelalak kaget, ini pertama kalinya ia bangun sesiang ini.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments