Ternodai

Mirza mengunci pergerakan Haira. Menarik tangan gadis itu ke belakang. Membenamkan wajahnya di dinding hingga tak bisa berkutik. 

Bibirnya menyusuri leher Haira yang nampak putih mulus. Menyesap aroma parfum dalam-dalam. Menggigitnya dengan kasar hingga meninggalkan bekas memerah. 

Aaawww

Reflek, Haira meringis saat gigi Mirza menancap di kulitnya. 

"Lepaskan saya, Tuan!" Haira memohon dengan suara gemetar. Mencoba mencengkal tangan Mirza yang mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. 

Senyum licik terukir saat Mirza melihat ketakutan di wajah Haira. Jaraknya yang terlalu dekat membuat Haira bisa merasakan hembusan nafas hangat Mirza. 

"Tidak semudah itu, kamu harus mempertanggung jawabkan kematian Lunara. Aku akan membuat hidupmu menderita."

Mirza menggiring Haira keluar dari kamar mandi menuju ranjang. Mengambil pil yang ada di nakas tanpa melepaskan tangan gadis itu. Lalu mendorong tubuh Haira hingga terhempas di atas ranjang. 

Mirza ikut merangkak naik dan kembali mengungkung tubuh Haira. 

Kedua lututnya menopang tubuh di antara paha Haira. Ia mengambil satu pil dari bungkusnya dan mencengkram erat dagu gadis itu. 

"Ap, apa itu, Tuan?" tanya Haira terputus-putus, menahan air matanya yang menumpuk di pelupuk. Menatap pil yang ada di tangan Mirza. Mencoba membungkam mulutnya rapat-rapat. 

"Kamu tidak punya hak untuk bertanya," ucap Mirza dingin. Ia membuka mulut Haira dengan paksa lalu memasukkan pil itu ke dalamnya. Mengambil segelas air putih dan meminumkannya. 

Seketika Haira terbatuk saat merasakan sesuatu masuk ke tenggorokannya. 

"Kamu ingat kan, dengan surat perjanjian itu?"

Haira memegang lehernya yang masih terasa sakit lalu mengangguk cepat. Ia mengingat semua kalimat yang tertera, dan ia pun tidak ingin mengingkarinya. 

"Itu artinya kamu siap melayaniku dalam urusan ranjang," bisik Mirza di telinga Haira. 

Mata Haira membulat sempurna. Ia menelan sisa ludah yang mulai mengering, tatapan mereka bertemu. 

Sorot matanya menyala, ingin marah dan memaki pria di depannya itu, namun ia tak ada keberanian untuk itu. 

Haira menggeleng, "Kenapa saya harus melayani, Anda?" tanya Haira dengan lirih, jika Mirza ingin menindas nya silahkan, namun ia tetap mempertahankan kesuciannya. "Bukankah ini tidak ada dalam surat itu, bahkan Anda sendiri yang bilang jijik dengan tubuh saya."

Haira mengembalikan setiap ucapan Mirza yang pernah terlontar padanya. 

"Apa kamu tidak bisa membaca di beberapa poin, bahwa kamu harus nurut dan tidak boleh membantah apapun kemauan ku." Mirza membantah, meskipun ia memang menuliskan itu, namun poin lainnya tak membuatnya kalah telak. 

"Jangan, Tuan. Saya akan melakukan apapun yang Anda inginkan, asalkan jangan nodai saya."

Mirza menarik tali jubah mandinya hingga memperlihatkan dadanya yang bidang. 

Apa-apaan ini, apa dia tuli, bukankah aku sudah bilang akan melakukan apa yang dia minta kecuali ini, kenapa dia malah melepas bajunya. 

Mirza melempar jubahnya hingga teronggok di samping jendela. Kini pria bertubuh gagah itu sudah polos tanpa sehelai benang. 

Haira memalingkan pandangan dan memejamkan matanya. Demi apapun, dia belum siap untuk mengotori matanya yang masih suci. 

Tangan Mirza mulai merayap melepaskan kancing baju Haira bagian atas. 

"Jangan, Tuan." Mata Haira masih terpejam sempurna. Tangannya mencoba menahan tangan Mirza yang terus membuka satu persatu kancing bajunya. Tapi nihil, semua itu tak berhasil, kini Mirza sukses membuang baju yang membalut tubuh Haira. 

Haira tak begitu histeris karena ia pikir Mirza akan melakukan seperti waktu itu saja. Hanya menelanjangi lalu meninggalkannya. 

Setelah berhasil, Mirza mengunci dua tangan Haira. Membenamkan wajahnya di ceruk leher. Menggigit nya lagi dengan kasar tanpa ampun. 

Gesekan kulit keduanya membuat bulu halus Haira merinding. Ia terperangkap oleh tubuh Mirza yang sangat besar. Pria keturunan Turki itu bahkan menindih dan tak memberi ruang padanya untuk bergerak.

Apa ini, bahkan dia berani menciumku terus menerus. 

Haira hanya bisa menggerutu dalam hati saat bibir Mirza terus mengabsen tubuhnya. 

"Tuan, saya mohon, jangan sentuh saya." 

Haira kembali memohon, otaknya bisa berpikir jernih saat mendengar hembusan nafas Mirza yang memburu. 

Sepertinya Tuan Mirza serius, bagaimana ini, siapa yang bisa menolongku. 

Sekujur tubuh Haira bergetar. Keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-pori. Mirza begitu liar seperti seseorang yang menahan hasrat. Tangannya merambat ke mana-mana hingga ke bagian sensitif sekali pun.

Buliran bening menetes membasahi pelipis Haira bersamaan saat Mirza melucuti semua bajunya. 

"Tuan, saya mohon jangan lakukan ini pada saya." Suara Haira terdengar mengiba, namun Mirza tak peduli itu, ia terus melanjutkan aksinya, merenggangkan kedua kaki gadis yang ada di bawahnya itu dengan lebar. 

Tanpa aba-aba, Mirza menyatukan tubuh mereka. Menerobos gawang Haira yang terasa sempit, meskipun sedikit kesulitan, Mirza berhasil merobek selaput dara gadis itu. 

Haira menjerit, kedua tangannya mencengkram erat sprei. Menahan rasa sakit akibat hentakan Mirza yang begitu keras. 

Seketika air matanya jatuh bersama dengan harga dirinya. Mirza benar-benar sudah menghancurkan masa depannya. Merenggut satu-satunya apa yang ia miliki. 

Setelah sekian menit, Mirza ambruk di atas Haira setelah mengeluarkan bibitnya, meskipun tak ingin menanam benih di rahim Haira, faktanya ia tetap menyemburkan ke dalam. 

Isakan itu terdengar di telinga Mirza yang masih mengatur napas. Ia menggeser tubuhnya. Duduk di tepi ranjang, menatap ke arah luar jendela. 

Entah kenapa, hatinya tiba-tiba tersayat mendengar isakan Haira. 

Jangan merasa bersalah, Mirza. Dia yang merampas kebahagiaanmu lebih dulu, dia pantas menerima pembalasan yang setimpal atas perbuatannya. 

Mirza beranjak, membuka lemari lalu memakai baju. Menatap punggung Haira yang masih bergetar hebat. Mengambil pil yang tersisa lalu memutari ranjang. 

"Kamu harus minum ini setiap hari, melemparnya di wajah Haira. "Aku tidak mau kamu mengandung anakku. Kalau sampai itu terjadi, kamu harus menggugurkannya."

Sebuah peringatan yang membuat dada Haira sesak. Ia menganggap dirinya lebih hina dari wanita malam. 

Mereka melepas sebuah keperawanan namun mendapatkan uang, sedangkan dirinya tak tahu harus sampai kapan menerima siksaan dari suaminya. 

Mirza keluar dari kamar. Menutup pintu dengan keras hingga membuat Haira terjingkat. 

Haira memukul dadanya dengan seluruh tenaganya yang tertinggal. Menggaruk lehernya yang dipenuhi dengan tanda merah. Ciuman itu masih sangat terasa hingga membuatnya mual. 

"Aku tidak akan pernah menghina orang tua yang melahirkan dan membesarkanmu, tapi aku tidak akan terima dengan kelakuan bejatmu. Aku bersumpah demi nenek dan Kedua orang tuaku, kamu akan menyesal karena memperlakukanku seperti ini."

Haira turun dari ranjang. Ia mengambil bajunya yang berceceran lalu memakai nya asal. 

Menangis pun percuma, kini dia hanya gadis  yang sudah ternodai, tidak ada lagi yang bisa ia banggakan. Mirza sudah merenggut semuanya, dan itu tidak akan bisa dikembalikan. 

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙛𝙖𝙝𝙖𝙢 🥲🥲🥲🥲

2025-02-20

0

Yulia Wati

Yulia Wati

kynya Mirza sbntar lgi bakal jatuh hati .

2024-07-08

1

Febby Fadila

Febby Fadila

😭😭😭😭😭😭😭😭

2024-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 Awal mula
2 Membuat surat perjanjian
3 Pilihan dari Mirza
4 Pelecehan
5 Pernikahan
6 Mabuk
7 Salah
8 Terpengaruh
9 Melawan
10 Pil KB
11 Ternodai
12 Luka dalam
13 Lemas
14 Pingsan
15 Pergi
16 Penyesalan
17 Kemal
18 Penyesalan
19 Membatalkan
20 Hadirnya kehangatan
21 Mencari bukti
22 Membeli mainan
23 Tidur bersama
24 Hukuman baru
25 Hasil tes DNA
26 Penyesalan Mirza
27 Kedatangan kakak
28 Kemarahan kakak Mirza
29 Hukuman
30 Bertemu lagi
31 Siap pulang
32 Tiba di rumah
33 Salah paham
34 Kemarahan Nada
35 Panik
36 Kejutan
37 Pesta
38 Malam kedua
39 Perjanjian lagi
40 Lunara hamil
41 Memanfaatkan perjanjian
42 Lebah jantan
43 Terbongkar
44 Membujuk Arini
45 Diary yang terlupakan
46 Membereskan semua kenangan
47 Bukan upah, tapi tumbal
48 Menuntaskan masalah
49 Di balik kotak putih
50 Puaskan aku
51 New York
52 Mengagumi
53 Di rumah Tuan Billy
54 Lucinta dan Lunara
55 Mulai misi
56 Pulang
57 Terjawab
58 Hari pertama sekolah
59 Cemburu
60 Ulah Kemal
61 Orang misterius
62 Sandiwara dimulai
63 Salah terka
64 Peperangan
65 Kemenangan Mirza
66 Mengejutkan
67 Sadar
68 Hamil?
69 Pulang
70 Ingin menjauh
71 Kekesalan Mirza
72 Kembar tiga
73 Ngidam konyol
74 Tusukan
75 Rencana pembalasan
76 Menemukanmu
77 Memaafkan
78 Tiba di rumah nenek
79 Membongkar jati diri
80 Ternyata
81 Salah lagi, kan?
82 Pusat perhatian
83 Terkena imbas
84 Diare karena sabalak
85 Berkenalan
86 Lagi-lagi salah
87 Minta bantuan
88 Ngidam belanja
89 Veronika
90 Rencana Mirza untuk Meyzin
91 Jejak Veronika
92 Makam Veronika
93 Lamaran dadakan
94 Menemukan Liontin
95 Bau terasi
96 Bukti baru
97 Penyesalan Meyzin
98 Balas dendam
99 Menutupi jati diri
100 Menerima
101 Ikut pulang
102 Terluka lagi
103 Bertemu Veronika
104 Penolakan Mirza
105 Bumil sensitif
106 Tuduhan Ayla
107 Dinner sambil kerja
108 Nyonya Alvero
109 Tidak setuju
110 Hukuman
111 Setuju
112 Hanya mimpi
113 Kemarahan Ibu Negara
114 Tertunda
115 Melahirkan
116 Keseharian Mirza
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Awal mula
2
Membuat surat perjanjian
3
Pilihan dari Mirza
4
Pelecehan
5
Pernikahan
6
Mabuk
7
Salah
8
Terpengaruh
9
Melawan
10
Pil KB
11
Ternodai
12
Luka dalam
13
Lemas
14
Pingsan
15
Pergi
16
Penyesalan
17
Kemal
18
Penyesalan
19
Membatalkan
20
Hadirnya kehangatan
21
Mencari bukti
22
Membeli mainan
23
Tidur bersama
24
Hukuman baru
25
Hasil tes DNA
26
Penyesalan Mirza
27
Kedatangan kakak
28
Kemarahan kakak Mirza
29
Hukuman
30
Bertemu lagi
31
Siap pulang
32
Tiba di rumah
33
Salah paham
34
Kemarahan Nada
35
Panik
36
Kejutan
37
Pesta
38
Malam kedua
39
Perjanjian lagi
40
Lunara hamil
41
Memanfaatkan perjanjian
42
Lebah jantan
43
Terbongkar
44
Membujuk Arini
45
Diary yang terlupakan
46
Membereskan semua kenangan
47
Bukan upah, tapi tumbal
48
Menuntaskan masalah
49
Di balik kotak putih
50
Puaskan aku
51
New York
52
Mengagumi
53
Di rumah Tuan Billy
54
Lucinta dan Lunara
55
Mulai misi
56
Pulang
57
Terjawab
58
Hari pertama sekolah
59
Cemburu
60
Ulah Kemal
61
Orang misterius
62
Sandiwara dimulai
63
Salah terka
64
Peperangan
65
Kemenangan Mirza
66
Mengejutkan
67
Sadar
68
Hamil?
69
Pulang
70
Ingin menjauh
71
Kekesalan Mirza
72
Kembar tiga
73
Ngidam konyol
74
Tusukan
75
Rencana pembalasan
76
Menemukanmu
77
Memaafkan
78
Tiba di rumah nenek
79
Membongkar jati diri
80
Ternyata
81
Salah lagi, kan?
82
Pusat perhatian
83
Terkena imbas
84
Diare karena sabalak
85
Berkenalan
86
Lagi-lagi salah
87
Minta bantuan
88
Ngidam belanja
89
Veronika
90
Rencana Mirza untuk Meyzin
91
Jejak Veronika
92
Makam Veronika
93
Lamaran dadakan
94
Menemukan Liontin
95
Bau terasi
96
Bukti baru
97
Penyesalan Meyzin
98
Balas dendam
99
Menutupi jati diri
100
Menerima
101
Ikut pulang
102
Terluka lagi
103
Bertemu Veronika
104
Penolakan Mirza
105
Bumil sensitif
106
Tuduhan Ayla
107
Dinner sambil kerja
108
Nyonya Alvero
109
Tidak setuju
110
Hukuman
111
Setuju
112
Hanya mimpi
113
Kemarahan Ibu Negara
114
Tertunda
115
Melahirkan
116
Keseharian Mirza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!