Hadirnya kehangatan

Untuk yang kesekian detik Mirza terpaku. Matanya tak berkedip dengan bibir terkunci. Itu seperti sebuah mimpi baginya. Selama tujuh tahun Mirza larut dalam penyesalan karena perbuatannya. Terkadang sempat mengira jika orang yang ada di hadapannya saat ini sudah mati. Ia tenggelam dengan rasa bersalah yang mendalam. Namun sekarang, Tuhan memberikan jawaban, ia di pertemukan dengan wanita yang masih berstatus istrinya. 

Haira menarik tubuh mungil Kemal lalu bersandar di  dinding. Kepalanya terus menggeleng. Dadanya menyimpan ketakutan yang sangat luar biasa. 

Wajahnya yang sangat tampan tak membuat Haira lupa, hingga apa yang pernah dilakukan Mirza padanya itu terlintas. 

"Tu…tuan Mirza," sapa Haira tanpa menatap. 

"Haira…" Akhirnya panggilan itu lolos dari bibir Mirza dengan lugas. 

Keringat dingin bercucuran membasahi kulit Haira. Ingin berlari, namun ia menemui jalan buntu, ingin berbicara takut. Takut jika Mirza akan memarahi dan memukulnya seperti kala itu. 

Jadi ibunya Kemal adalah Haira, lalu siapa Daddy nya? Kenapa Kemal bilang daddy nya tidak akan pernah hadir diantara mereka?

Mirza mencerna setiap ucapan bocah itu. Menatap ibu dan anak itu bergantian. 

"Apa aku boleh masuk?" tanya Mirza dengan ragu. Meskipun dirinya yang lebih berkuasa dan bisa melakukan apapun yang diinginkan, namun ia merasa saat ini menjadi tamu yang harus minta izin pada sang pemilik. 

"Mommy, Om nya bertanya?" Kemal menarik ujung baju Haira saat wanita itu nampak bengong. 

"Silahkan, Tuan," jawab Haira gugup. 

Kenapa Tuan Mirza bisa menemukanku. Bagaimana kalau dia membunuh Kemal. 

"Tidaaaak…" 

Haira menjerit lalu menangis histeris. Menggendong tubuh Kemal dan membawanya ke kamar. Menutup pintu dengan keras, menandakan jika ia sangat ketakutan.

Mirza hanya diam menatap pintu yang tertutup rapat. Merutuki dirinya sendiri yang mungkin seperti monster di mata Haira. Pergerakannya tercekat. Haira mampu membuatnya lemah tak berdaya. 

Mendengar teriakan dari dalam membuat Erkan ikut masuk dan menghampiri Mirza. 

"Ada apa, Tuan?" tanya Erkan. 

"Tidak ada apa-apa. Kamu keluar saja!" titah Mirza pelan. 

Sayup-sayup Erkan mendengar tangisan seorang perempuan, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan Mirza. 

Setelah beberapa menit bergelut dengan otaknya, Mirza beranjak dari duduknya. Mengetuk pintu, kemana Kemal dan Haira masuk. 

"Ra, buka pintunya!" ucap Mirza lirih. 

Haira semakin mengeratkan pelukannya. Sedikitpun tak membiarkan Kemal lepas darinya. 

"Mommy…" 

Kemal menatap wajah Haira yang nampak kacau. Tangannya mengulur, mengusap air mata yang terus membasahi pipi Haira. 

"Om itu baik, Mommy jangan takut. Dia sudah berjanji padaku, tidak akan menggusur rumah kita."

"Ra, kamu buka pintunya sekarang, atau aku dobrak," ancam Mirza yang sudah kehabisan kesabaran. 

"Mommy, nanti kalau om itu dobrak pintunya, siapa yang akan benerin, Mommy kan gak punya uang. Biar aku yang buka." 

Kemal melorot, lalu berlari dan membuka pintunya. 

Senyum manis menyapa Mirza yang mematung di depan kamar Kemal. 

"Erkan," teriak Mirza memanggil sang sekretaris. 

Erkan menghampiri Mirza. 

"Ajak Kemal main di luar." 

Erkan langsung menggendong tubuh mungil Kemal dan membawanya pergi. 

Mirza membuka pintu kamar Haira lebar-lebar. Matanya menyusuri ruangan yang nampak sempit dan sederhana. Tirai terbuat dari kain dan ranjang yang nampak rapuh. Langit-langit berlubang hingga menampakkan genting nya. 

Pandangannya berhenti pada sosok wanita yang duduk dilantai dengan merengkuh kedua lututnya. Kaki Mirza mengayun menghampirinya. 

"Jangan mendekat!" pekik Haira, menatap kaki Mirza yang sudah berada di depannya. 

"Kenapa kamu pergi dariku?" ucap Mirza mengawali pembicaraan. 

"Bukankah kamu sudah berjanji akan menjalani hukuman itu seumur hidup?" imbuhnya. Menatap rambut Haira yang sedikit kusam. 

Mirza mendenguskan hidungnya saat mencium aroma yang menyengat dari kolong ranjang. Ternyata itu berasal dari obat nyamuk bakar yang menyala. 

Apa Haira dan Kemal selalu memakai ini? 

Mirza mengambilnya lalu membuang di luar jendela. Ia mengangkat tubuh Haira dan membawanya ke ranjang, lalu mendudukkannya dengan pelan.

Mirza menutup tirai jendela lalu kembali duduk di samping Haira. Tak peduli dengan sprei yang jauh di bawah standar, yang pastinya membuat Mirza nyaman.

"Sa…saya __"

"Kamu sudah membohongiku, Ra. Dan kamu tahu apa konsekuensi untuk orang yang sudah melanggar janjinya."

Mirza tersenyum tipis. Melirik ke arah Haira yang nampak ketakutan. 

"Saya minta maaf, Tuan. Saya __" Lagi-lagi ucapan Haira terpotong saat Mirza  memeluknya tanpa aba-aba. 

Eh, ada apa ini, kenapa Tuan Mirza baik padaku, apa saat ini dia kerasukan jin baik. Atau ini caranya untuk membawaku kembali. 

Haira mendongak, menatap wajah Mirza dengan lekat. 

Sama seperti dirinya, Mirza pun nampak berkali-kali mengusap pipinya yang dipenuhi air mata.

Haira menyandarkan kepalanya di dada Mirza. Mendengarkan detak jantung pria itu. Ketakutan nya lenyap saat tangan kekar sang suami terus mendekapnya. Kehangatan yang pernah ia rindukan dari seorang suami, namun tak pernah ia dapatkan meskipun hanya sekali.

"Sekarang katakan padaku, siapa ayah Kemal? Kenapa dia bilang kalau Daddy nya tidak akan pernah hadir." 

Deg deg deg 

Jantung Haira berdegup dengan kencang. Itulah yang ia takutkan, dan akhirnya Mirza mempertanyakan jati diri putranya. 

"Daddy Kemal sudah meninggal. Itulah kenapa saya bicara seperti itu padanya."

Ternyata ayah Kemal bukan aku.

Mirza sangat kecewa dengan ucapan Haira. Padahal, ia berharap penuh jika wanita itu menyebut namanya, namun semua itu hanyalah keinginan yang tak akan pernah terwujud. 

Ingin marah, namun apa daya, Mirza tak berhak melakukan itu lagi.

Dia adalah putramu, darah  dagingmu, tapi aku nggak mau kalau sampai kamu merenggutnya dariku. 

Mirza melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Haira. Suara yang tadi sudah tersusun rapi tiba-tiba ambyar. Ia belum bisa untuk mengungkap sebuah fakta yang menyelimuti nya. 

"Maafkan aku, Ra." Mirza menyatukan keningnya dengan kening Haira. Tangannya terus mengelus pipi wanita itu dengan lembut. 

Tidak ada jawaban, Haira masih mencoba mencerna apa yang diucapkan Mirza. Ia tak mau percaya diri, dan menganggap Mirza adalah Tuannya seperti dulu. 

"Om, aku mau naik yang itu." 

Teriakan Kemal dari arah luar membuat Haira tersenyum. Dari lubuk hati yang terdalam, ia ingin mengungkap semuanya, tapi rasa takut itu seolah-olah menariknya hingga bibirnya harus berbohong. 

"Apa kamu mau pulang denganku?" pinta Mirza penuh harap.

Wajah Haira meredup. Bibirnya terasa berat untuk menjawab. Ia tak ingin mengulang masa-masa itu. Kasihan Kemal jika harus menyaksikan penderitaannya. 

"Tapi __"

Ssstttt

Mirza mendaratkan jarinya di bibir Haira. "Kita akan menjalani kehidupan baru, selayaknya suami istri. Kamu akan menjadi nyonya Glora di rumah kita."

Haira kembali terisak di pelukan Mirza. Meluapkan kebahagiaannya yang selama ini tak pernah ia dapatkan. 

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

Haira kenapa 𝚐𝚊𝚔 𝚓𝚞𝚓𝚞𝚛 𝚜𝚒𝚑 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚖𝚒𝚛𝚣𝚊

2025-02-22

0

Dewi Ansyari

Dewi Ansyari

Thorr aku benar2 sedih karena senang akhirnya Mirza mau terima Haira jadi istrinya😭😭😭😁

2024-07-08

1

Febby Fadila

Febby Fadila

yeeee
msa langsung mau si setidakx buat mirza berusaha kek

2024-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 Awal mula
2 Membuat surat perjanjian
3 Pilihan dari Mirza
4 Pelecehan
5 Pernikahan
6 Mabuk
7 Salah
8 Terpengaruh
9 Melawan
10 Pil KB
11 Ternodai
12 Luka dalam
13 Lemas
14 Pingsan
15 Pergi
16 Penyesalan
17 Kemal
18 Penyesalan
19 Membatalkan
20 Hadirnya kehangatan
21 Mencari bukti
22 Membeli mainan
23 Tidur bersama
24 Hukuman baru
25 Hasil tes DNA
26 Penyesalan Mirza
27 Kedatangan kakak
28 Kemarahan kakak Mirza
29 Hukuman
30 Bertemu lagi
31 Siap pulang
32 Tiba di rumah
33 Salah paham
34 Kemarahan Nada
35 Panik
36 Kejutan
37 Pesta
38 Malam kedua
39 Perjanjian lagi
40 Lunara hamil
41 Memanfaatkan perjanjian
42 Lebah jantan
43 Terbongkar
44 Membujuk Arini
45 Diary yang terlupakan
46 Membereskan semua kenangan
47 Bukan upah, tapi tumbal
48 Menuntaskan masalah
49 Di balik kotak putih
50 Puaskan aku
51 New York
52 Mengagumi
53 Di rumah Tuan Billy
54 Lucinta dan Lunara
55 Mulai misi
56 Pulang
57 Terjawab
58 Hari pertama sekolah
59 Cemburu
60 Ulah Kemal
61 Orang misterius
62 Sandiwara dimulai
63 Salah terka
64 Peperangan
65 Kemenangan Mirza
66 Mengejutkan
67 Sadar
68 Hamil?
69 Pulang
70 Ingin menjauh
71 Kekesalan Mirza
72 Kembar tiga
73 Ngidam konyol
74 Tusukan
75 Rencana pembalasan
76 Menemukanmu
77 Memaafkan
78 Tiba di rumah nenek
79 Membongkar jati diri
80 Ternyata
81 Salah lagi, kan?
82 Pusat perhatian
83 Terkena imbas
84 Diare karena sabalak
85 Berkenalan
86 Lagi-lagi salah
87 Minta bantuan
88 Ngidam belanja
89 Veronika
90 Rencana Mirza untuk Meyzin
91 Jejak Veronika
92 Makam Veronika
93 Lamaran dadakan
94 Menemukan Liontin
95 Bau terasi
96 Bukti baru
97 Penyesalan Meyzin
98 Balas dendam
99 Menutupi jati diri
100 Menerima
101 Ikut pulang
102 Terluka lagi
103 Bertemu Veronika
104 Penolakan Mirza
105 Bumil sensitif
106 Tuduhan Ayla
107 Dinner sambil kerja
108 Nyonya Alvero
109 Tidak setuju
110 Hukuman
111 Setuju
112 Hanya mimpi
113 Kemarahan Ibu Negara
114 Tertunda
115 Melahirkan
116 Keseharian Mirza
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Awal mula
2
Membuat surat perjanjian
3
Pilihan dari Mirza
4
Pelecehan
5
Pernikahan
6
Mabuk
7
Salah
8
Terpengaruh
9
Melawan
10
Pil KB
11
Ternodai
12
Luka dalam
13
Lemas
14
Pingsan
15
Pergi
16
Penyesalan
17
Kemal
18
Penyesalan
19
Membatalkan
20
Hadirnya kehangatan
21
Mencari bukti
22
Membeli mainan
23
Tidur bersama
24
Hukuman baru
25
Hasil tes DNA
26
Penyesalan Mirza
27
Kedatangan kakak
28
Kemarahan kakak Mirza
29
Hukuman
30
Bertemu lagi
31
Siap pulang
32
Tiba di rumah
33
Salah paham
34
Kemarahan Nada
35
Panik
36
Kejutan
37
Pesta
38
Malam kedua
39
Perjanjian lagi
40
Lunara hamil
41
Memanfaatkan perjanjian
42
Lebah jantan
43
Terbongkar
44
Membujuk Arini
45
Diary yang terlupakan
46
Membereskan semua kenangan
47
Bukan upah, tapi tumbal
48
Menuntaskan masalah
49
Di balik kotak putih
50
Puaskan aku
51
New York
52
Mengagumi
53
Di rumah Tuan Billy
54
Lucinta dan Lunara
55
Mulai misi
56
Pulang
57
Terjawab
58
Hari pertama sekolah
59
Cemburu
60
Ulah Kemal
61
Orang misterius
62
Sandiwara dimulai
63
Salah terka
64
Peperangan
65
Kemenangan Mirza
66
Mengejutkan
67
Sadar
68
Hamil?
69
Pulang
70
Ingin menjauh
71
Kekesalan Mirza
72
Kembar tiga
73
Ngidam konyol
74
Tusukan
75
Rencana pembalasan
76
Menemukanmu
77
Memaafkan
78
Tiba di rumah nenek
79
Membongkar jati diri
80
Ternyata
81
Salah lagi, kan?
82
Pusat perhatian
83
Terkena imbas
84
Diare karena sabalak
85
Berkenalan
86
Lagi-lagi salah
87
Minta bantuan
88
Ngidam belanja
89
Veronika
90
Rencana Mirza untuk Meyzin
91
Jejak Veronika
92
Makam Veronika
93
Lamaran dadakan
94
Menemukan Liontin
95
Bau terasi
96
Bukti baru
97
Penyesalan Meyzin
98
Balas dendam
99
Menutupi jati diri
100
Menerima
101
Ikut pulang
102
Terluka lagi
103
Bertemu Veronika
104
Penolakan Mirza
105
Bumil sensitif
106
Tuduhan Ayla
107
Dinner sambil kerja
108
Nyonya Alvero
109
Tidak setuju
110
Hukuman
111
Setuju
112
Hanya mimpi
113
Kemarahan Ibu Negara
114
Tertunda
115
Melahirkan
116
Keseharian Mirza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!