Terpengaruh

Mirza menyeret tubuh Haira dari dalam ke luar kamar. Lalu mendorongnya hingga gadis itu jatuh tersungkur. Tak ada belas kasihan bagi Haira. Kebencian Mirza memuncak dan tak ada kata maaf lagi. 

"Aku peringatkan sekali lagi, kedudukanmu di rumah ini seperti pelayan. Bukan istri." Menjelaskan dengan suara lantang. Merendahkan derajat wanita yang ia menikahi. Seperti ucapannya, Mirza mulai membunuh Haira dengan perlahan. 

Beberapa orang yang ada di ruangan itu bisa mendengar perkataan Mirza. Namun, mereka bagaikan patung yang tak bisa berbuat apa-apa. 

Mirza menutup pintu dengan keras hingga Haira tersentak kaget. Ia tidak masalah dengan itu, baginya saat ini bisa menjalani hukuman dengan baik, dan bisa lepas dari jeratan Tuan Mirza. Bertemu dengan neneknya dan Nada, itu sudah cukup dari segala kenikmatan yang ada di bumi. 

Arini bertepuk tangan berjalan menghampiri Haira. Hatinya berbunga-bunga melihat penderitaan wanita itu. Ternyata di rumah itu ada boneka yang bisa menghiburnya saat bosan. 

"Kamu dengar, kan. Kata kak Mirza, di sini kamu bukan siapa-siapa, hanya pelayan." Arini menoyor kening Haira. Lalu meninggalkannya. 

Ini tidak ada sangkut pautnya dengan wanita itu, namun masih saja usil mengganggu Haira.

Haira menatap punggung Arini berlalu. Ia menyesal dengan pilihannya. Ternyata hidup di rumah Mirza jauh lebih mengerikan daripada jeruji besi. Ia bagaikan tawanan yang terbelenggu pada sebuah perjanjian. Bukan ini yang ia inginkan, namun takdir yang mengantarkan pada seseorang yang sangat kejam. Menikah dengan tuntutan balas dendam.

Haira memahat semua yang dikatakan Mirza, tak boleh menyentuh apapun yang berhubungan dengan pria itu. Menangis pun percuma, Tidak akan mengembalikan keadaan, Haira pasrah akan nasibnya yang entah bagaimana nantinya. 

Ia bangkit, berjalan tertatih-tatih menghampiri bi Enis yang ada di dapur. Meskipun banyak orang tetap saja suasana rumah itu senyap bagaikan tanpa penghuni. 

Haira menatap semua orang. Matanya berhenti pada Erkan yang mematung di samping meja makan. 

"Tuan, katakan apa yang harus saya lakukan. Tuan Mirza meminta saya untuk melayaninya dari bangun tidur sampai mau tidur, tapi tadi dia bilang tidak ingin melihat wajah saya."

Erkan hanya diam, itu perkara yang sangat membingungkan baginya. Penuturan Mirza memang sulit dimengerti, bahkan terkadang Erkan tak bisa membaca keinginan Tuannya tersebut. 

Melirik ke arah kamar Mirza sekilas, lalu menatap Haira.

"Maaf, Nona. Saya tidak bisa memberi pendapat. Hanya Tuan Mirza yang berhak mengatur hidup, Anda. Bukan saya atau orang lain."

Haira tertunduk lesu.

Mengatur hidup, ucapan itu sudah  mencakup nasib Haira yang akan datang, begitu ia mengartikan perkataan Erkan. 

Haira mengusap air matanya yang sempat lolos membasahi pipinya. Lalu meletakkan baju Mirza di tempat cucian.

Kalau tidak suka dengan piyama ini, kenapa ada di lemarinya?

Pintu kamar Mirza terbuka. Haira yang hampir tiba di ruang makan langsung berlari ke dapur mengingat ucapan Mirza yang tak ingin melihat wajahnya. 

Suara dentuman sepatu dan lantai semakin dekat dan berhenti di ruang makan. Haira menyandarkan punggungnya di belakang lemari. Suara sendok dan piring pun saling mengiringi. 

Pasti Tuan Mirza sedang sarapan, tebak Haira dalam hati. 

Tidak ada yang berani bersuara. Haira menautkan kedua tangannya menunggu kepergian Mirza. Sesekali mengintip dari balik gorden untuk memastikan. 

Ternyata Mirza pun tak memakai baju pilihannya.

Setelah Mirza meninggalkan ruang makan, Haira mengelus dadanya bernafas dengan lega, setidaknya ia mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri sampai Mirza pulang. 

Haira menarik tangan Bi Enis lalu berbisik di telinga wanita itu. 

Naina yang sedang membersihkan dapur itu pun melihat gerak-gerik Haira yang sedikit mencurigakan. 

"Maaf, Nona. Bibi tidak berani, di rumah ini ada peraturan yang harus dipatuhi oleh semua pelayan, jadi kami tidak boleh sembarangan keluar rumah."

Aku lupa, ini rumah Tuan Mirza, orang yang paling berkuasa. Nenek, Nada, maafkan aku karena tidak bisa menghubungi kalian. 

Meskipun khawatir, Haira tak bisa berbuat apa-apa. Menerima apa yang ia jalani sekarang, terkurung dalam penjara Tuan Mirza.

"Baiklah, Bi. Maaf kalau aku selalu merepotkan."

Bi Enis hanya menggeleng tanpa suara. 

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Setibanya di halaman gedung pencakar langit, Mirza turun dari mobil. Ia disambut seluruh pegawainya dengan sopan. 

"Tuan Bahadir sudah menunggu, Tuan," lapor seorang wanita cantik yang ada di samping mobil. 

Mirza melangkah lebar memasuki kantor miliknya. Erkan mengikuti dari belakang. Keduanya langsung masuk ke ruang meeting. 

"Selamat pagi Tuan Mirza," sapa Tuan Bahadir sambil membungkuk ramah. 

Tidak ada jawaban, Mirza duduk di tempatnya. Tangannya mengulur membuka dokumen yang ada di depannya. Tidak ada yang penting dan wajib dibahas selain pekerjaan. 

"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Nona Lunara." Tuan Bahadir mengucapkannya dengan ragu. Bukan saatnya untuk basa-basi. Ia hanya memecahkan keheningan yang tercipta. 

"Kasus Anda seperti yang menimpa anak saya." Tuan Bahadir mencoba untuk mengalihkan perhatian Mirza yang nampak serius dengan map di depannya. 

Tidak ada sanggahan, itu artinya Mirza mengizinkan Tuan Bahadir untuk melanjutkan ceritanya.

"Waktu itu tunangan anak saya juga meninggal karena seseorang, setelah itu dia menikahinya hanya untuk balas dendam."

Ungkapan itu murni yang dialami anak Tuan Bahadir, namun seperti sebuah sindiran bagi Mirza yang juga menikahi Haira hanya untuk balas dendam.

"Lalu?" Mirza meletakkan kedua tangan nya di atas meja. Kali ini ia antusias mendengar cerita dari kliennya itu. 

"Dia tidak ingin menjamah wanita di luaran, yang pastinya sudah dipakai banyak orang. Maka dari itu dia menikahi orang yang sudah membunuh calon menantu saya," imbuhnya. 

Kejadian itu bahkan seperti sebuah foto kopi bagi Mirza saat ini. Sama persis, hanya saja, pembunuhan itu sengaja dan tidak. 

"Setelah anak saya puas menghancurkan kehidupan perempuan itu, dia menceraikannya. Sekarang dia sudah menikah dengan perempuan yang dicintai. Ia sudah lega bisa membalaskan dendam atas kematian tunangannya."

Terdengar sangat keji, namun Mirza menyukainya, ia seperti mendapat jalan bagaimana harus memperlakukan Haira dengan tidak adil.

Ponsel milik Mirza berdering, ia segera mengangkatnya setelah melihat tulisan yang tertera di layar. 

"Za, malam ini aku punya santapan empuk buat kamu. Dia model terkenal yang baru datang dari luar negeri," ucap seseorang dari seberang ponsel.

Mirza tak tertarik dengan itu semua, namun ia harus mencari pasangan hidup yang membuatnya lupa akan masa lalunya bersama Lunara. Tidak mungkin ia larut dalam kesedihan yang tidak bisa mengembalikan sang kekasih. 

"Baiklah, nanti malam kita bertemu," jawab Mirza lalu menutup sambungannya. 

Bersiaplah menerima hadiah dariku. Kehancuranmu adalah kesuksesan bagiku. Aku tidak akan membiarkanmu menikmati indahnya dunia.

Mirza mengepalkan kedua tangannya. Bibirnya tersenyum licik mengisyaratkan sesuatu.

Terpopuler

Comments

𝐝𝐞𝐰𝐢

𝐝𝐞𝐰𝐢

𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐤𝐬𝐚 𝐂𝐂𝐓𝐕 𝐣𝐠 𝐬𝐢𝐡 𝐬𝐢 𝐌𝐢𝐫𝐳𝐚 𝐢𝐧𝐢

2025-03-01

0

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

𝙠𝙖𝙨𝙞𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙞𝙧𝙖... 𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙘𝙡𝙨𝙖𝙗𝙖𝙧 𝙮𝙖𝙖𝙖

2025-02-20

0

Sweet Girl

Sweet Girl

Hah...🤔🤔🤔🤔

2024-03-19

3

lihat semua
Episodes
1 Awal mula
2 Membuat surat perjanjian
3 Pilihan dari Mirza
4 Pelecehan
5 Pernikahan
6 Mabuk
7 Salah
8 Terpengaruh
9 Melawan
10 Pil KB
11 Ternodai
12 Luka dalam
13 Lemas
14 Pingsan
15 Pergi
16 Penyesalan
17 Kemal
18 Penyesalan
19 Membatalkan
20 Hadirnya kehangatan
21 Mencari bukti
22 Membeli mainan
23 Tidur bersama
24 Hukuman baru
25 Hasil tes DNA
26 Penyesalan Mirza
27 Kedatangan kakak
28 Kemarahan kakak Mirza
29 Hukuman
30 Bertemu lagi
31 Siap pulang
32 Tiba di rumah
33 Salah paham
34 Kemarahan Nada
35 Panik
36 Kejutan
37 Pesta
38 Malam kedua
39 Perjanjian lagi
40 Lunara hamil
41 Memanfaatkan perjanjian
42 Lebah jantan
43 Terbongkar
44 Membujuk Arini
45 Diary yang terlupakan
46 Membereskan semua kenangan
47 Bukan upah, tapi tumbal
48 Menuntaskan masalah
49 Di balik kotak putih
50 Puaskan aku
51 New York
52 Mengagumi
53 Di rumah Tuan Billy
54 Lucinta dan Lunara
55 Mulai misi
56 Pulang
57 Terjawab
58 Hari pertama sekolah
59 Cemburu
60 Ulah Kemal
61 Orang misterius
62 Sandiwara dimulai
63 Salah terka
64 Peperangan
65 Kemenangan Mirza
66 Mengejutkan
67 Sadar
68 Hamil?
69 Pulang
70 Ingin menjauh
71 Kekesalan Mirza
72 Kembar tiga
73 Ngidam konyol
74 Tusukan
75 Rencana pembalasan
76 Menemukanmu
77 Memaafkan
78 Tiba di rumah nenek
79 Membongkar jati diri
80 Ternyata
81 Salah lagi, kan?
82 Pusat perhatian
83 Terkena imbas
84 Diare karena sabalak
85 Berkenalan
86 Lagi-lagi salah
87 Minta bantuan
88 Ngidam belanja
89 Veronika
90 Rencana Mirza untuk Meyzin
91 Jejak Veronika
92 Makam Veronika
93 Lamaran dadakan
94 Menemukan Liontin
95 Bau terasi
96 Bukti baru
97 Penyesalan Meyzin
98 Balas dendam
99 Menutupi jati diri
100 Menerima
101 Ikut pulang
102 Terluka lagi
103 Bertemu Veronika
104 Penolakan Mirza
105 Bumil sensitif
106 Tuduhan Ayla
107 Dinner sambil kerja
108 Nyonya Alvero
109 Tidak setuju
110 Hukuman
111 Setuju
112 Hanya mimpi
113 Kemarahan Ibu Negara
114 Tertunda
115 Melahirkan
116 Keseharian Mirza
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Awal mula
2
Membuat surat perjanjian
3
Pilihan dari Mirza
4
Pelecehan
5
Pernikahan
6
Mabuk
7
Salah
8
Terpengaruh
9
Melawan
10
Pil KB
11
Ternodai
12
Luka dalam
13
Lemas
14
Pingsan
15
Pergi
16
Penyesalan
17
Kemal
18
Penyesalan
19
Membatalkan
20
Hadirnya kehangatan
21
Mencari bukti
22
Membeli mainan
23
Tidur bersama
24
Hukuman baru
25
Hasil tes DNA
26
Penyesalan Mirza
27
Kedatangan kakak
28
Kemarahan kakak Mirza
29
Hukuman
30
Bertemu lagi
31
Siap pulang
32
Tiba di rumah
33
Salah paham
34
Kemarahan Nada
35
Panik
36
Kejutan
37
Pesta
38
Malam kedua
39
Perjanjian lagi
40
Lunara hamil
41
Memanfaatkan perjanjian
42
Lebah jantan
43
Terbongkar
44
Membujuk Arini
45
Diary yang terlupakan
46
Membereskan semua kenangan
47
Bukan upah, tapi tumbal
48
Menuntaskan masalah
49
Di balik kotak putih
50
Puaskan aku
51
New York
52
Mengagumi
53
Di rumah Tuan Billy
54
Lucinta dan Lunara
55
Mulai misi
56
Pulang
57
Terjawab
58
Hari pertama sekolah
59
Cemburu
60
Ulah Kemal
61
Orang misterius
62
Sandiwara dimulai
63
Salah terka
64
Peperangan
65
Kemenangan Mirza
66
Mengejutkan
67
Sadar
68
Hamil?
69
Pulang
70
Ingin menjauh
71
Kekesalan Mirza
72
Kembar tiga
73
Ngidam konyol
74
Tusukan
75
Rencana pembalasan
76
Menemukanmu
77
Memaafkan
78
Tiba di rumah nenek
79
Membongkar jati diri
80
Ternyata
81
Salah lagi, kan?
82
Pusat perhatian
83
Terkena imbas
84
Diare karena sabalak
85
Berkenalan
86
Lagi-lagi salah
87
Minta bantuan
88
Ngidam belanja
89
Veronika
90
Rencana Mirza untuk Meyzin
91
Jejak Veronika
92
Makam Veronika
93
Lamaran dadakan
94
Menemukan Liontin
95
Bau terasi
96
Bukti baru
97
Penyesalan Meyzin
98
Balas dendam
99
Menutupi jati diri
100
Menerima
101
Ikut pulang
102
Terluka lagi
103
Bertemu Veronika
104
Penolakan Mirza
105
Bumil sensitif
106
Tuduhan Ayla
107
Dinner sambil kerja
108
Nyonya Alvero
109
Tidak setuju
110
Hukuman
111
Setuju
112
Hanya mimpi
113
Kemarahan Ibu Negara
114
Tertunda
115
Melahirkan
116
Keseharian Mirza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!