Membuat surat perjanjian

Bibir Haira tak henti-hentinya memohon pada beberapa polisi yang melintas di depan sel. Memasang wajah melas dan meminta ampunan. Sepuluh jemarinya terus menggenggam rakitan besi yang mengurung dirinya saat ini. Matanya sembab dan memerah. Wajahnya layu dengan rambut yang berantakan.

"Obati luka kamu!" Seorang petugas datang membawa salep dan juga kapas. Menyodorkan ke arah Haira tanpa membuka pintu. 

Haira mengambilnya tanpa bertanya. Percuma saja, mereka tidak akan menganggapnya, apalagi mendengarkan kata-katanya. 

Bagi orang lain, dirinya bukan apa-apa. Hanya kelinci kecil yang tidak berhak untuk membela diri. Semua hanya berpihak pada mereka yang memiliki harta dan kekuasaan. 

Ia duduk lalu membersihkan setiap luka di tubuhnya. Membersihkan darah yang mulai mengering. Ternyata luka itu tak seberapa sakitnya dibandingkan dengan hatinya yang kini tersayat. 

Bagaimana nasib nenek Jubaida dan Nada sang adik, pasti mereka akan bertanya-tanya tentang kabar dirinya yang kini mendekam di penjara. Apa yang akan terjadi jika dirinya dihukum seumur hidup seperti ucapan Mirza.

"Aku harus melakukan sesuatu supaya nenek dan Nada tidak mendengar kabar ini."

Mata sembab Haira mulai menyipit. Seharusnya ini waktu nya ia beristirahat setelah seharian penuh bekerja. Namun, ia harus bergelut dengan otaknya mencari cara untuk bisa keluar dari tempatnya saat ini. 

"Pak, tolong saya!" ucap Haira untuk yang kesekian kali. 

Polisi yang berjaga hanya menatap tanpa ingin mendekat. Itu sudah biasa dilakukan semua tahanan, memohon untuk dilepaskan dengan berbagai alasan. 

"Saya tidak bersalah," lanjut Haira dengan suaranya yang semakin serak dan hampir habis. Setelah tak mendapat respon, terpaksa ia pasrah menerima nasibnya. 

Mendaratkan tubuhnya di lantai yang sangat dingin. Tidak ada alas sedikitpun  untuk menghangatkan tubuhnya, bahkan Haira memakai kedua tangannya sebagai bantal. 

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Acara pemakaman sudah usai, kini semua itu tinggal kenangan. Hari yang seharusnya bahagia berubah menjadi duka. Karangan bunga kini berbalik menjadi ucapan bela sungkawa atas musibah yang menimpa. 

Mirza memakai lagi kaca mata hitamnya lalu turun dari mobil. Mencoba sekuat hati untuk tidak meneteskan air mata. Meskipun luka itu sangat mendalam, ia harus bangkit dari keterpurukan. 

"Maaf, aku baru datang." Suara berat menyapa di depan gerbang. Seorang pria tampan dan bertubuh kekar itu berhamburan memeluk Mirza yang tampak lesu. 

"Nggak papa." Mirza menepuk bahu lebar Aslan sang sahabat sambil tersenyum paksa. Keduanya berjalan bersejajar lalu masuk, diikuti beberapa ajudan yang bertugas. 

"Aku dengar orang yang menabrak Lunara sudah tertangkap," ucap Aslan memastikan. 

Mirza menggebrak meja. Jika teringat wajah Haira, amarahnya kembali memuncak di ubun-ubun dan ingin segera menghabisi wanita itu. 

Tatapannya kembali tajam saat mengamati foto Luna yang masih terpajang di dinding ruang tamu. Senyum manis gadis itu seakan tak akan hilang dalam ingatan. 

"Aku akan menghabisinya secara perlahan, dia harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini." Mengepalkan kedua  tangannya dengan mata yang tak berkedip. 

Aslan merinding mendengar perkataan itu, tubuh Mirza seperti dirasuki setan yang terkutuk hingga tak punya belas kasihan. 

"Permisi, Tuan," sapa Erkan yang baru saja tiba. 

Hemmm 

Hanya itu jawaban Mirza  saat membuka kacamatanya. 

"Nama gadis itu Haira, asalnya dari pinggiran kota dan bekerja di pabrik garmen milik, Tuan. Dia tinggal dengan nenek dan juga adiknya, saat ini ia menjadi tulang punggung keluarga. Mereka hanya keluarga miskin dan tidak punya apa-apa."

Apa yang bisa dihancurkan selain tubuh dan harga dirinya.

Mirza tersenyum licik mendengar penjelasan dari Erkan. 

Mirza menyungutkan kepalanya ke arah ruang kerja. Setelah Erkan pergi, Mirza pun beranjak dari duduknya meninggalkan Aslan. Mengikuti langkah sang sekretaris. 

"Apa yang ingin Anda lakukan, Tuan?" tanya Erkan setelah menutup pintu. 

Mirza berdiri di depan jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke kantong celana. Memunggungi Erkan yang ada di belakang pintu. 

Tidak ada yang sulit bagi Mirza, apapun bisa ia kendalikan, termasuk hidup Haira. Namun, ia akan mencari cara yang tepat untuk semua itu. 

"Aku akan menikahinya." 

Seketika Erkan membulatkan mata. Dadanya bergemuruh dengan detak jantung tak karuan. Entah apa yang akan dilakukan Mirza, Erkan mempunyai firasat yang buruk. 

"Ap… apa maksud, Tuan?" tanya Erkan terputus, bahkan ia meraih tisu yang ada di meja untuk mengusap peluh yang kian deras menembus pori-porinya. 

"Buatkan surat perjanjian, dan tulis secara terperinci. Setelah dia menikah denganku, maka dia adalah milikku. Jika dia setuju, aku akan membebaskannya dari penjara. Tapi jika tidak, dia akan menghabiskan hidup di bui untuk selama-lamanya." 

Ada senyum  mengerikan yang mengembang di sudut bibir Mirza, Erkan tahu maksud dari semua itu, namun ia tak bisa mencegah ataupun menghindar. 

Surat perjanjian hitam di atas putih sudah di buat. Erkan menulis sesuai keinginan Mirza. Ia membaca dengan lantang tulisan acara pernikahan yang berkedok hukuman itu. 

"Poin terakhir, dengan ini aku menyerahkan seluruh hidupku untuk Tuan Mirza." Suara Erkan terdengar begitu lantang hingga menggema di seluruh ruangan. 

Mirza tertawa keras. Peraturan itu membuatnya puas, bahkan belum apa-apa pun dirinya sudah yakin jika Haira akan memilih nya. 

Suara ketukan pintu menghentikan perbincangan Mirza dan Erkan. Sang sekretaris membuka pintu menatap gerangan yang datang. 

"Ngapain kamu ke sini? Tuan Mirza tidak mau diganggu," sapa Erkan ketus. 

"Aku hanya mengantarkan ini." Menunjukkan secangkir  kopi hitam di tangannya. 

Erkan melebarkan pintunya membiarkan wanita itu masuk. 

"Maaf, Kak. Bukan maksudku mengganggu, aku hanya tidak ingin kamu larut dalam kesedihan."

Mirza mengangkat tangannya. "Keluar dari sini, aku tidak ingin bertemu siapapun, termasuk kamu," usir Mirza dengan nada sinis.

Mau sampai kapan kamu membenciku, Za. Tapi aku tidak akan tinggal diam, sekarang aku memang belum mendapatkan kamu, tapi nanti, aku yakin kamu akan bertekuk lutut padaku. 

Wanita itu meninggalkan ruangan dengan hati kesal.

"Arini," sapa seseorang yang ada di balik tangga. 

Ya, wanita tadi adalah Arini. Dia adalah sepupu Mirza, namun juga sangat mencintai sang kakak. Bahkan cintanya tak surut meskipun Mirza sudah hampir menikah. Bagi Arini, Mirza bukan milik siapa-siapa, termasuk Lunara. 

"Ayla, ngapain kamu ke sini?" tanya Arini menghampiri Ayla yang ada di ambang pintu. 

Aslan yang belum pergi pun hanya menatap kedua wanita itu.

"Aku mau bertemu dengan Mirza. Aku mau memberikan ini." Menggenggam sebuah kotak putih di tangannya. 

Arini hanya menatap tanpa ingin menyentuhnya. 

"Apa itu?" tanya Arini menyelidik. Menatap benci pada setiap wanita yang mendekati kakaknya.

"Hanya ucapan bela sungkawa, dengan ini aku yakin Mirza akan cepat melupakan Lunara."

"Berikan padaku, biar aku saja yang memberikan pada kak Mirza, sekarang dia sedang istirahat." 

Terpaksa Ayla memberikan kotak itu dengan berat hati. 

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

menikah hanya untuk menyiksa... hadehhh safiss benerrr sihhhh

2025-02-20

0

Safa Almira

Safa Almira

suka

2024-07-20

1

Febby Fadila

Febby Fadila

kayakx arini sama Ayla ni musuh dalam selimut...

2024-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 Awal mula
2 Membuat surat perjanjian
3 Pilihan dari Mirza
4 Pelecehan
5 Pernikahan
6 Mabuk
7 Salah
8 Terpengaruh
9 Melawan
10 Pil KB
11 Ternodai
12 Luka dalam
13 Lemas
14 Pingsan
15 Pergi
16 Penyesalan
17 Kemal
18 Penyesalan
19 Membatalkan
20 Hadirnya kehangatan
21 Mencari bukti
22 Membeli mainan
23 Tidur bersama
24 Hukuman baru
25 Hasil tes DNA
26 Penyesalan Mirza
27 Kedatangan kakak
28 Kemarahan kakak Mirza
29 Hukuman
30 Bertemu lagi
31 Siap pulang
32 Tiba di rumah
33 Salah paham
34 Kemarahan Nada
35 Panik
36 Kejutan
37 Pesta
38 Malam kedua
39 Perjanjian lagi
40 Lunara hamil
41 Memanfaatkan perjanjian
42 Lebah jantan
43 Terbongkar
44 Membujuk Arini
45 Diary yang terlupakan
46 Membereskan semua kenangan
47 Bukan upah, tapi tumbal
48 Menuntaskan masalah
49 Di balik kotak putih
50 Puaskan aku
51 New York
52 Mengagumi
53 Di rumah Tuan Billy
54 Lucinta dan Lunara
55 Mulai misi
56 Pulang
57 Terjawab
58 Hari pertama sekolah
59 Cemburu
60 Ulah Kemal
61 Orang misterius
62 Sandiwara dimulai
63 Salah terka
64 Peperangan
65 Kemenangan Mirza
66 Mengejutkan
67 Sadar
68 Hamil?
69 Pulang
70 Ingin menjauh
71 Kekesalan Mirza
72 Kembar tiga
73 Ngidam konyol
74 Tusukan
75 Rencana pembalasan
76 Menemukanmu
77 Memaafkan
78 Tiba di rumah nenek
79 Membongkar jati diri
80 Ternyata
81 Salah lagi, kan?
82 Pusat perhatian
83 Terkena imbas
84 Diare karena sabalak
85 Berkenalan
86 Lagi-lagi salah
87 Minta bantuan
88 Ngidam belanja
89 Veronika
90 Rencana Mirza untuk Meyzin
91 Jejak Veronika
92 Makam Veronika
93 Lamaran dadakan
94 Menemukan Liontin
95 Bau terasi
96 Bukti baru
97 Penyesalan Meyzin
98 Balas dendam
99 Menutupi jati diri
100 Menerima
101 Ikut pulang
102 Terluka lagi
103 Bertemu Veronika
104 Penolakan Mirza
105 Bumil sensitif
106 Tuduhan Ayla
107 Dinner sambil kerja
108 Nyonya Alvero
109 Tidak setuju
110 Hukuman
111 Setuju
112 Hanya mimpi
113 Kemarahan Ibu Negara
114 Tertunda
115 Melahirkan
116 Keseharian Mirza
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Awal mula
2
Membuat surat perjanjian
3
Pilihan dari Mirza
4
Pelecehan
5
Pernikahan
6
Mabuk
7
Salah
8
Terpengaruh
9
Melawan
10
Pil KB
11
Ternodai
12
Luka dalam
13
Lemas
14
Pingsan
15
Pergi
16
Penyesalan
17
Kemal
18
Penyesalan
19
Membatalkan
20
Hadirnya kehangatan
21
Mencari bukti
22
Membeli mainan
23
Tidur bersama
24
Hukuman baru
25
Hasil tes DNA
26
Penyesalan Mirza
27
Kedatangan kakak
28
Kemarahan kakak Mirza
29
Hukuman
30
Bertemu lagi
31
Siap pulang
32
Tiba di rumah
33
Salah paham
34
Kemarahan Nada
35
Panik
36
Kejutan
37
Pesta
38
Malam kedua
39
Perjanjian lagi
40
Lunara hamil
41
Memanfaatkan perjanjian
42
Lebah jantan
43
Terbongkar
44
Membujuk Arini
45
Diary yang terlupakan
46
Membereskan semua kenangan
47
Bukan upah, tapi tumbal
48
Menuntaskan masalah
49
Di balik kotak putih
50
Puaskan aku
51
New York
52
Mengagumi
53
Di rumah Tuan Billy
54
Lucinta dan Lunara
55
Mulai misi
56
Pulang
57
Terjawab
58
Hari pertama sekolah
59
Cemburu
60
Ulah Kemal
61
Orang misterius
62
Sandiwara dimulai
63
Salah terka
64
Peperangan
65
Kemenangan Mirza
66
Mengejutkan
67
Sadar
68
Hamil?
69
Pulang
70
Ingin menjauh
71
Kekesalan Mirza
72
Kembar tiga
73
Ngidam konyol
74
Tusukan
75
Rencana pembalasan
76
Menemukanmu
77
Memaafkan
78
Tiba di rumah nenek
79
Membongkar jati diri
80
Ternyata
81
Salah lagi, kan?
82
Pusat perhatian
83
Terkena imbas
84
Diare karena sabalak
85
Berkenalan
86
Lagi-lagi salah
87
Minta bantuan
88
Ngidam belanja
89
Veronika
90
Rencana Mirza untuk Meyzin
91
Jejak Veronika
92
Makam Veronika
93
Lamaran dadakan
94
Menemukan Liontin
95
Bau terasi
96
Bukti baru
97
Penyesalan Meyzin
98
Balas dendam
99
Menutupi jati diri
100
Menerima
101
Ikut pulang
102
Terluka lagi
103
Bertemu Veronika
104
Penolakan Mirza
105
Bumil sensitif
106
Tuduhan Ayla
107
Dinner sambil kerja
108
Nyonya Alvero
109
Tidak setuju
110
Hukuman
111
Setuju
112
Hanya mimpi
113
Kemarahan Ibu Negara
114
Tertunda
115
Melahirkan
116
Keseharian Mirza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!