Pernikahan

Hanya hitungan jam, kini Haira sudah sah menjadi istri Mirza. Tak banyak orang yang datang ke acara itu. Sangat tertutup untuk kalangan orang kaya. Hanya beberapa tamu yang sengaja diundang untuk menyaksikan pernikahannya. Pernikahan atas dasar sebuah balas dendam karena kematian calon istri Mirza.

Haira mematung di sudut ruangan. Menatap Mirza yang terlihat bercanda dengan seorang pria yang tak ia kenal. Matanya mengelilingi beberapa pelayan yang melintas di depannya. Menyuguhkan hidangan layaknya di pesta pernikahan. Tidak ada yang menyapa, kehadirannya seakan tak berarti di mata mereka. 

"Sebentar, nanti aku kembali," ucap Mirza pada Aslan. Ia menghampiri Haira lalu menarik tangan gadis itu dengan paksa. 

Arini yang melihat itu hanya bisa tertawa, meskipun kini Haira adalah istri Mirza, tak menyurutkan niatnya untuk merebut sang kakak kembali. 

"Tuan, lepaskan saya!" Haira sempoyongan, mengikuti langkah lebar Mirza yang mencengkram pergelangan tangannya. Namun, tenaganya yang lebih kecil tak mampu melawan tenaga Mirza. 

Gaun mewahnya itu terus terinjak high heels yang dipakai hingga sesekali Haira terhuyung menabrak tubuh sang suami. 

Setibanya di kamar 

Mirza mendorong tubuh Haira hingga gadis itu jatuh di lantai. Ia ikut masuk dan mengambil dua buku dari saku jas nya. Merobek surat nikah yang beberapa menit ditanda tangani lalu melemparkan ke arah Haira. 

"Sekarang kamu tidak bisa lepas dariku." 

Hahaha

Tertawa keras, menggema hingga membuat Haira takut. Mirza bagaikan monster di matanya. Sampai kapan ia akan bertahan menghadapi manusia setengah siluman seperti suaminya. 

Mirza kembali mendekat. Lalu berjongkok mencekik leher Haira hingga sang empu meringis kesakitan. 

"Lepaskan saya, Tuan," ucap Haira dengan suara serak. 

Mirza menatap mata Haira. Rahang kokohnya semakin mengeras. "Lepas, kamu bilang, bahkan ini belum seberapa dibandingkan dengan kematian Lunara. Sekarang nikmati, aku akan membuatmu mati perlahan."

Cairan bening menetes membasahi pipi Haira. Dadanya terasa sesak, kedua tangannya gemetar saat ia kesulitan bernapas. Tangan Mirza seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawanya. 

Merasa puas, Mirza melepaskan tangannya lalu berdiri memunggungi Haira. 

Gadis itu menghela napas panjang. Ia pikir akan meregang nyawa saat itu juga, tapi nyatanya Tuhan berkata lain, Haira masih diberi kesempatan untuk hidup, meskipun dunianya semakin kelabu. 

"Ini belum seberapa, bersiap lah untuk menikmati hukumanmu." Mengucapkan dengan tegas. Memberi peringatan pada Haira supaya tahu apa yang akan dihadapi nanti. 

Sekarang Haira paham, jika kedatangannya ke rumah Mirza bukan mendapatkan jalan keluar akan masalahnya, tetapi menyerahkan nyawa. 

Ponsel yang ada di saku celana Mirza berdering. Sang pemilik segera merogoh dan menatap layarnya. 

"Halo, Kak," sapa Mirza pada orang yang ada di balik benda pipihnya. 

"Maaf, Za. Aku dan Kak Nita belum bisa pulang. Kakak ikut berduka cita atas meninggalnya Lunara. Kamu yang sabar, tabahkan hati kamu. Semoga Tuhan memberikan jodoh yang lebih baik lagi." 

"Nggak papa, Kak," jawab Mirza lirih. Ia masih belum bisa melupakan Lunara yang kini berada di dunia yang berbeda. 

Haira hanya bisa mendengarkan obrolan suaminya tanpa ingin pindah dari duduknya. Menunggu Mirza keluar dari kamar itu. 

Setelah selesai berbincang, Mirza pergi tanpa menoleh ke arah Haira. 

"Kalau aku tahu akan seperti ini, aku akan memilih dipenjara seumur hidup. Tapi sekarang aku tidak ada pilihan. Aku akan mati di tangan Tuan Mirza." 

Haira bangkit, ia menyeret kakinya menuju ke arah meja rias. Menatap bayangannya dari pantulan cermin, betapa malang nasibnya saat ini. Menjadi seorang istri, namun hanya tempat pelampiasan amarah suami. 

Gaun pengantin yang berwarna putih itu menjadi simbol jika dirinya tak lagi sendiri, ia bukan gadis yang bisa bebas di luaran sana, namun seorang istri dari pria yang membencinya. 

Hanya doa dari nenek yang bisa membuatku bisa bertahan, jangan pernah berhenti menguatkan aku, Nek. Suatu saat pasti aku bisa pulang, dan kita akan hidup bersama lagi. 

Terkadang masih berpikir ingin pulang, namun saat Mirza menyiksanya, Haira pun pasrah akan nasibnya. 

Setelah mengganti pakaiannya, Haira membaringkan tubuhnya mengurai lelah.

Baru beberapa menit terlelap, tubuh Haira merasa terguncang. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya pelan.

"Kamu siapa?" tanya Haira dengan suara khas bangun tidur. Menatap sosok yang berdiri di tepi ranjang. 

"Panggil saya Naina, sekarang Nona dipanggil Tuan Mirza di ruang makan," ucap Naina ketus lalu pergi.

Setelah punggung Naina menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat, Haira bergegas turun dari ranjang. Menguncir rambutnya dengan asal, tak lupa mencuci muka sebelum berhadapan dengan Mirza. 

Seperti perintah Naina, Haira langsung ke ruang makan menemui Mirza yang nampak duduk termenung. 

"Maaf, Tuan memanggil saya?" Tangan Haira saling terpaut. 

Tidak ada tanggapan, tangan Mirza yang ada di atas meja mengepal sempurna. Entah kenapa, dadanya terasa meletup-letup jika dirinya berada di dekat Haira. Bayangan Lunara melintas membuat Mirza kembali murka. 

"Kamu bukan Nyonya di sini, jadi tidak ada waktu untuk tidur. Apa kamu tidak paham dengan peraturan kemarin?"

"Saya tahu, Tuan. Tapi kepala saya pusing dan butuh istirahat, nanti kalau sudah sembuh pasti saya akan menjalankan semua perintah, Tuan." 

Haira mengucap dengan berani. 

"Maaf Nona, jika anda kurang paham. Mohon dibaca lagi." Erkan menyodorkan kertas itu lagi di depan Haira. 

"Saya paham, tidak boleh membantah atau menolak, harus menuruti semua perintah Tuan Mirza," ucap Haira tanpa membacanya lagi. 

"Sekarang waktunya Tuan Mirza makan siang, tolong Anda memasak untuknya."

Haira mengangguk lalu berjalan menuju dapur. Meskipun penghuni rumah itu sangat banyak, tetap saja ia merasa sendiri dan asing. 

Baru beberapa langkah, tragedi keji sudah menimpanya, Haira jatuh tersungkur saat kakinya menyandung sesuatu. 

Lututnya yang tidak tertutup rok terluka dan mengeluarkan cairan merah karena terbentur lantai. 

Bi Enis hanya bisa diam. Ia tak berani membantu Haira yang nampak kesakitan. 

"Sakit?" tanya wanita yang berdiri di depan Haira. Melipat kedua tangannya dan tersenyum lebar. Siapa lagi kalau bukan Arini, si biang kerok.

Mirza hanya menatap sekilas tanpa ingin ikut campur. 

Aku tidak boleh lemah. Perempuan seperti ini harus dilawan. Hanya Tuan Mirza yang berhak menghukumku, bukan orang lain.

Haira berdiri lalu mengulurkan tangannya. Mendaratkan tamparan keras di pipi Arini yang membuat sang empu menjerit. 

Terpaksa Mirza beranjak dari duduknya menghampiri Arini dan Haira. 

"Ada apa ini?" tanya Mirza, tatapannya mengarah pada Haira. 

Arini berhamburan memeluk sang kakak sambil menangis. Mengelus pipinya yang terasa perih. 

"Dia menamparku, Kak," adu Arini menunjuk dada Haira. 

"Tapi dia yang bersalah, Tuan. Dia yang membuat saya terjatuh dan terluka." 

Haira menunjuk lututnya yang memar. 

Mirza tak peduli itu, baginya saat ini, sebaik apapun, Haira tidak akan ada artinya. 

"Sekarang kamu minta maaf pada Arini, atau hukuman kamu lebih berat." 

"Tapi ini semua salah dia, Tuan."

Entah, rasa takut itu tiba-tiba saja lenyap. Haira membela dirinya yang merasa benar.

Mirza hanya bisa mengeratkan giginya. Kali ini tangannya terasa berat untuk memukul Haira yang berani melawannya.

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

ya ampun kasian haira... .... kpn sih Mirza sadar klo salah faham

2025-02-20

0

Febby Fadila

Febby Fadila

jangan mudah ditindAs...

2024-07-03

1

Sweet Girl

Sweet Girl

bagus, untuk mengobati hati yang perih.

2024-03-19

3

lihat semua
Episodes
1 Awal mula
2 Membuat surat perjanjian
3 Pilihan dari Mirza
4 Pelecehan
5 Pernikahan
6 Mabuk
7 Salah
8 Terpengaruh
9 Melawan
10 Pil KB
11 Ternodai
12 Luka dalam
13 Lemas
14 Pingsan
15 Pergi
16 Penyesalan
17 Kemal
18 Penyesalan
19 Membatalkan
20 Hadirnya kehangatan
21 Mencari bukti
22 Membeli mainan
23 Tidur bersama
24 Hukuman baru
25 Hasil tes DNA
26 Penyesalan Mirza
27 Kedatangan kakak
28 Kemarahan kakak Mirza
29 Hukuman
30 Bertemu lagi
31 Siap pulang
32 Tiba di rumah
33 Salah paham
34 Kemarahan Nada
35 Panik
36 Kejutan
37 Pesta
38 Malam kedua
39 Perjanjian lagi
40 Lunara hamil
41 Memanfaatkan perjanjian
42 Lebah jantan
43 Terbongkar
44 Membujuk Arini
45 Diary yang terlupakan
46 Membereskan semua kenangan
47 Bukan upah, tapi tumbal
48 Menuntaskan masalah
49 Di balik kotak putih
50 Puaskan aku
51 New York
52 Mengagumi
53 Di rumah Tuan Billy
54 Lucinta dan Lunara
55 Mulai misi
56 Pulang
57 Terjawab
58 Hari pertama sekolah
59 Cemburu
60 Ulah Kemal
61 Orang misterius
62 Sandiwara dimulai
63 Salah terka
64 Peperangan
65 Kemenangan Mirza
66 Mengejutkan
67 Sadar
68 Hamil?
69 Pulang
70 Ingin menjauh
71 Kekesalan Mirza
72 Kembar tiga
73 Ngidam konyol
74 Tusukan
75 Rencana pembalasan
76 Menemukanmu
77 Memaafkan
78 Tiba di rumah nenek
79 Membongkar jati diri
80 Ternyata
81 Salah lagi, kan?
82 Pusat perhatian
83 Terkena imbas
84 Diare karena sabalak
85 Berkenalan
86 Lagi-lagi salah
87 Minta bantuan
88 Ngidam belanja
89 Veronika
90 Rencana Mirza untuk Meyzin
91 Jejak Veronika
92 Makam Veronika
93 Lamaran dadakan
94 Menemukan Liontin
95 Bau terasi
96 Bukti baru
97 Penyesalan Meyzin
98 Balas dendam
99 Menutupi jati diri
100 Menerima
101 Ikut pulang
102 Terluka lagi
103 Bertemu Veronika
104 Penolakan Mirza
105 Bumil sensitif
106 Tuduhan Ayla
107 Dinner sambil kerja
108 Nyonya Alvero
109 Tidak setuju
110 Hukuman
111 Setuju
112 Hanya mimpi
113 Kemarahan Ibu Negara
114 Tertunda
115 Melahirkan
116 Keseharian Mirza
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Awal mula
2
Membuat surat perjanjian
3
Pilihan dari Mirza
4
Pelecehan
5
Pernikahan
6
Mabuk
7
Salah
8
Terpengaruh
9
Melawan
10
Pil KB
11
Ternodai
12
Luka dalam
13
Lemas
14
Pingsan
15
Pergi
16
Penyesalan
17
Kemal
18
Penyesalan
19
Membatalkan
20
Hadirnya kehangatan
21
Mencari bukti
22
Membeli mainan
23
Tidur bersama
24
Hukuman baru
25
Hasil tes DNA
26
Penyesalan Mirza
27
Kedatangan kakak
28
Kemarahan kakak Mirza
29
Hukuman
30
Bertemu lagi
31
Siap pulang
32
Tiba di rumah
33
Salah paham
34
Kemarahan Nada
35
Panik
36
Kejutan
37
Pesta
38
Malam kedua
39
Perjanjian lagi
40
Lunara hamil
41
Memanfaatkan perjanjian
42
Lebah jantan
43
Terbongkar
44
Membujuk Arini
45
Diary yang terlupakan
46
Membereskan semua kenangan
47
Bukan upah, tapi tumbal
48
Menuntaskan masalah
49
Di balik kotak putih
50
Puaskan aku
51
New York
52
Mengagumi
53
Di rumah Tuan Billy
54
Lucinta dan Lunara
55
Mulai misi
56
Pulang
57
Terjawab
58
Hari pertama sekolah
59
Cemburu
60
Ulah Kemal
61
Orang misterius
62
Sandiwara dimulai
63
Salah terka
64
Peperangan
65
Kemenangan Mirza
66
Mengejutkan
67
Sadar
68
Hamil?
69
Pulang
70
Ingin menjauh
71
Kekesalan Mirza
72
Kembar tiga
73
Ngidam konyol
74
Tusukan
75
Rencana pembalasan
76
Menemukanmu
77
Memaafkan
78
Tiba di rumah nenek
79
Membongkar jati diri
80
Ternyata
81
Salah lagi, kan?
82
Pusat perhatian
83
Terkena imbas
84
Diare karena sabalak
85
Berkenalan
86
Lagi-lagi salah
87
Minta bantuan
88
Ngidam belanja
89
Veronika
90
Rencana Mirza untuk Meyzin
91
Jejak Veronika
92
Makam Veronika
93
Lamaran dadakan
94
Menemukan Liontin
95
Bau terasi
96
Bukti baru
97
Penyesalan Meyzin
98
Balas dendam
99
Menutupi jati diri
100
Menerima
101
Ikut pulang
102
Terluka lagi
103
Bertemu Veronika
104
Penolakan Mirza
105
Bumil sensitif
106
Tuduhan Ayla
107
Dinner sambil kerja
108
Nyonya Alvero
109
Tidak setuju
110
Hukuman
111
Setuju
112
Hanya mimpi
113
Kemarahan Ibu Negara
114
Tertunda
115
Melahirkan
116
Keseharian Mirza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!