Mabuk

"Lunara, jangan tinggalkan aku," teriak Mirza dengan suara parau. Satu tangannya mencengkeram baju Erkan dengan erat, sedangkan yang satunya memegang botol wine yang masih separo. 

Sudah hampir tiga jam Mirza menghabiskan waktunya di klub. Meluapkan amarahnya pada minuman. Menikmati alunan musik khas dengan berjoget kecil. Lampu remang-remang seakan menggambarkan hatinya saat ini yang sangat suram. Kepergian Lunara benar-benar meninggalkan luka yang mendalam bagi Mirza. Ia tak bisa melupakan begitu saja sang kekasih yang kini telah tiada. 

Erkan hanya bisa membisu. Menopang tubuh Tuannya yang hampir ambruk. Sesekali ia merebut botol yang ada di tangan Mirza, namun aksinya selalu gagal.

Wanita cantik dengan wajah kebule-bulean dan bermata coklat serta rambut pirang itu datang menghampiri Mirza. 

"Selamat malam, Tuan," sapa nya dengan ramah. Mengambilkan gelas kosong untuk pria itu. 

Mirza yang hampir tak sadar karena mabuk itu pun membuka matanya yang terasa berat. Menatap gadis itu dengan lekat lalu tertawa keras. Tangannya mengulur, menyentuh pipi mulus wanita di depannya. 

"Lebih baik kamu pergi sekarang," usir Erkan dengan tegas, namun langsung ditahan oleh Mirza. 

"Jangan pergi, Lunara. Aku tidak bisa hidup tanpamu," ucap Mirza merangkul tubuh wanita itu. Menghirup dalam-dalam aroma parfum yang menyeruak menembus rongga hidung. Bajunya yang seksi membangunkan gairah Mirza yang lama terpendam. 

"Apa Anda menginginkanku, Tuan?" bisik wanita itu menggoda. 

Mirza mengangguk kecil. Bibirnya menyusuri leher jenjang wanita itu dengan lembut. Tangannya merayap, menyentuh bagian tubuh yang nampak menonjol. 

"Tuan, jangan! Anda tidak boleh seperti ini." 

Erkan berusaha melepaskan tubuh Mirza dari wanita itu. Mendorong dengan kuat hingga mereka saling terlepas. 

Seketika itu pukulan mendarat di wajah tampan Erkan. Pria itu jatuh tersungkur menabrak beberapa pengunjung yang melintas. 

"Berani-beraninya kamu melarangku, akan aku pastikan kamu mati." 

Mirza merangkul tubuh wanita tadi lalu berjalan membelah para pengunjung yang sedang asyik menikmati alunan musik. 

Jaga Mirza dengan baik, jangan sampai hidupnya hancur karena keputus asaan. Aku tahu ini berat untuk kamu, tapi aku tidak bisa meminta bantuan siapa-siapa, hanya kamu orang yang bisa aku percaya. 

Ucapan itu terngiang-ngiang di telinga Erkan. Ia langsung bangkit dan berlari meninggalkan tempat itu. 

Matanya menyisir ke arah lorong menuju kamar. Tidak ada siapapun di sana. Hanya pelayan yang berlalu lalang menjalankan tugasnya. 

Erkan mendekati seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar. 

"Permisi, apa Anda melihat dua orang lewat sini?" tanya Erkan. 

"Maksud saya laki-laki dan perempuan," imbuhnya menjelaskan. 

"Tadi dia ke arah sana." 

Menunjuk kamar vvip yang ada di dalam Klub itu. 

Erkan berlari kecil ke arah jari orang tadi menunjuk. Ia memeriksa beberapa kamar yang tidak terkunci. Matanya berhenti pada sebuah pintu ruangan yang ada di bagian pinggir. Ia mendekat, lalu memasang telinganya dengan baik. Terdengar suara ******* wanita dari dalam. Ia semakin yakin jika itu adalah suara wanita tadi. 

Tanpa aba-aba Erkan langsung mendobrak dengan paksa. Tiga kali tendangan, akhirnya ia bisa membuka pintu itu. 

Erkan masuk ke dalam, ia menarik tubuh Mirza yang sudah telanjang dada. Mendudukkannya di tepi ranjang. 

"Tuan, ini salah. Bagaimana kalau Tuan Deniz tahu, pasti dia akan marah." 

Erkan sedikit membentak. Memungut baju Mirza yang teronggok di lantai, ia tak peduli dengan Mirza yang sudah menatapnya tajam. Baginya saat ini harus menjalankan amanah yang ia pegang. 

Wanita yang ada di atas seranjang itu menarik selimut, menutupi dadanya yang sudah terekspos, gerakan Mirza yang kilat membuat sebagian bajunya robek. 

"Ini uang untuk kamu, dan sekarang pergi! Cari mangsa yang lain." 

Erkan melempar beberapa lembar uang di wajah wanita itu.

Sialan, kenapa harus ada dia sih, padahal sedikit lagi Tuan Mirza akan menjadi milikku, berantakan. 

Wanita itu pergi dengan hati yang dongkol. Meskipun begitu, ia sudah mendapatkan uang banyak tanpa harus menyerahkan tubuhnya. 

Erkan membantu Mirza memakai baju. Pria itu sedikit sadar, meskipun tak sepenuhnya, ia bisa melihat wajah Erkan di depannya. 

"Jika Anda menginginkan perempuan, saya bisa mencarikan. Tapi, jangan kotori tubuh Anda dengan wanita murahan." 

Mirza memijat pelipisnya, memakai sepatunya lagi lalu keluar. 

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Haira menyandarkan kepalanya di atas meja ruang makan. Setelah kejadian tadi siang, ia tak ingin melakukan kesalahan lagi. Ia mengingat perjanjian yang telah ditetapkan, bahwa harus menyambut Mirza saat pulang dan menyiapkan segala kebutuhan pria itu dari bangun tidur sampai tidur lagi. 

Malam semakin larut, hanya ada kesunyian di rumah itu, meskipun banyak penghuni, nyatanya Haira tetap merasa sendiri.

Bunyi klakson dari arah depan menggema. Haira mengerjap-ngerjapkan matanya. Mengembalikan nyawanya yang sempat tercecer. 

"Apa ini suara mobil Tuan Mirza?" Berbicara pada diri sendiri. 

Haira segera berlari ke depan membuka pintu lebar-lebar. Menatap Erkan yang membantu Mirza turun dari mobil. 

Haira menghampiri Erkan yang nampak kesusahan saat memapah Mirza. 

"Saya bantu, Tuan." Meraih tangan kekar Mirza yang terasa lemas lalu merangkul punggung lebar pria itu. 

Haira membungkam mulutnya. Menahan bau tubuh Mirza yang membuatnya mual.

Ternyata Tuan Mirza mabuk, apa dia masih memikirkan Lunara? Aku harus bisa memulihkan keadaan. Aku harus bisa membuatnya lupa pada Nona Lunara. 

Awww

Haira meringis saat sebagian tubuhnya menghempas dinding. Tubuhnya yang terlalu kecil masih saja kewalahan menyangga tubuh suaminya. 

Ya ampun, ternyata tubuh Tuan Mirza berat banget. Pantesan Tuan Erkan sempoyongan. 

Erkan membawa Mirza ke kamar. Membaringkan tubuh bos nya dengan pelan lalu melepas sepatunya. 

"Biar saya yang mengganti baju Tuan Mirza, Tuan," tawar Haira. Sebab, ia tak mau melanggar perjanjian yang sudah ditandatangani. 

"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu." 

Erkan keluar dari kamar Mirza lalu menutup pintu kamar itu. Meninggalkan Haira dan Mirza dalam satu ruangan, namun hatinya tak cemas sedikit pun. 

Haira membuka baju Mirza dengan pelan. Mengambil air dari kamar mandi. Membasuh dada suaminya yang terkena minuman. 

Setelah bersih dan wangi, ia memakaikan piyama lagi di tubuh Mirza. Mengusap wajahnya yang berkeringat. Merapikan rambut Mirza yang berantakan. 

Matanya berkaca mengingat kecerobohannya. 

"Maafkan saya, Tuan. Karena kejadian malam itu hidup Tuan hancur. Calon istri Tuan meninggal. Tapi saya tidak salah sepenuhnya, dia yang sengaja berlari ke arah motor saya."

Haira sesenggukan di samping tubuh Mirza yang tak sadarkan diri. 

"Saya tidak tahu akan sampai kapan bertahan dengan hukuman ini, tapi saya tidak akan ingkar. Semoga Tuan secepatnya mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi, supaya Tuan bisa melepaskan saya."

Haira mengusap pipinya yang basah. Percuma, menghabiskan air mata pun tidak akan bisa mengembalikan waktu. Andai saja ia tahu akan se kacau ini, pasti malam itu ia yang memilih untuk menyerahkan nyawanya pada truk yang melintas. 

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

untung aja sang asisten gercep.. jadi Mirza ham jadi main sama jalang

2025-02-20

0

Erni Wati

Erni Wati

cerita yg unik,lanjutkan kk

2024-07-09

1

🇮🇩Imelda🇰🇷

🇮🇩Imelda🇰🇷

lanjut makin penasaran

2024-03-19

2

lihat semua
Episodes
1 Awal mula
2 Membuat surat perjanjian
3 Pilihan dari Mirza
4 Pelecehan
5 Pernikahan
6 Mabuk
7 Salah
8 Terpengaruh
9 Melawan
10 Pil KB
11 Ternodai
12 Luka dalam
13 Lemas
14 Pingsan
15 Pergi
16 Penyesalan
17 Kemal
18 Penyesalan
19 Membatalkan
20 Hadirnya kehangatan
21 Mencari bukti
22 Membeli mainan
23 Tidur bersama
24 Hukuman baru
25 Hasil tes DNA
26 Penyesalan Mirza
27 Kedatangan kakak
28 Kemarahan kakak Mirza
29 Hukuman
30 Bertemu lagi
31 Siap pulang
32 Tiba di rumah
33 Salah paham
34 Kemarahan Nada
35 Panik
36 Kejutan
37 Pesta
38 Malam kedua
39 Perjanjian lagi
40 Lunara hamil
41 Memanfaatkan perjanjian
42 Lebah jantan
43 Terbongkar
44 Membujuk Arini
45 Diary yang terlupakan
46 Membereskan semua kenangan
47 Bukan upah, tapi tumbal
48 Menuntaskan masalah
49 Di balik kotak putih
50 Puaskan aku
51 New York
52 Mengagumi
53 Di rumah Tuan Billy
54 Lucinta dan Lunara
55 Mulai misi
56 Pulang
57 Terjawab
58 Hari pertama sekolah
59 Cemburu
60 Ulah Kemal
61 Orang misterius
62 Sandiwara dimulai
63 Salah terka
64 Peperangan
65 Kemenangan Mirza
66 Mengejutkan
67 Sadar
68 Hamil?
69 Pulang
70 Ingin menjauh
71 Kekesalan Mirza
72 Kembar tiga
73 Ngidam konyol
74 Tusukan
75 Rencana pembalasan
76 Menemukanmu
77 Memaafkan
78 Tiba di rumah nenek
79 Membongkar jati diri
80 Ternyata
81 Salah lagi, kan?
82 Pusat perhatian
83 Terkena imbas
84 Diare karena sabalak
85 Berkenalan
86 Lagi-lagi salah
87 Minta bantuan
88 Ngidam belanja
89 Veronika
90 Rencana Mirza untuk Meyzin
91 Jejak Veronika
92 Makam Veronika
93 Lamaran dadakan
94 Menemukan Liontin
95 Bau terasi
96 Bukti baru
97 Penyesalan Meyzin
98 Balas dendam
99 Menutupi jati diri
100 Menerima
101 Ikut pulang
102 Terluka lagi
103 Bertemu Veronika
104 Penolakan Mirza
105 Bumil sensitif
106 Tuduhan Ayla
107 Dinner sambil kerja
108 Nyonya Alvero
109 Tidak setuju
110 Hukuman
111 Setuju
112 Hanya mimpi
113 Kemarahan Ibu Negara
114 Tertunda
115 Melahirkan
116 Keseharian Mirza
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Awal mula
2
Membuat surat perjanjian
3
Pilihan dari Mirza
4
Pelecehan
5
Pernikahan
6
Mabuk
7
Salah
8
Terpengaruh
9
Melawan
10
Pil KB
11
Ternodai
12
Luka dalam
13
Lemas
14
Pingsan
15
Pergi
16
Penyesalan
17
Kemal
18
Penyesalan
19
Membatalkan
20
Hadirnya kehangatan
21
Mencari bukti
22
Membeli mainan
23
Tidur bersama
24
Hukuman baru
25
Hasil tes DNA
26
Penyesalan Mirza
27
Kedatangan kakak
28
Kemarahan kakak Mirza
29
Hukuman
30
Bertemu lagi
31
Siap pulang
32
Tiba di rumah
33
Salah paham
34
Kemarahan Nada
35
Panik
36
Kejutan
37
Pesta
38
Malam kedua
39
Perjanjian lagi
40
Lunara hamil
41
Memanfaatkan perjanjian
42
Lebah jantan
43
Terbongkar
44
Membujuk Arini
45
Diary yang terlupakan
46
Membereskan semua kenangan
47
Bukan upah, tapi tumbal
48
Menuntaskan masalah
49
Di balik kotak putih
50
Puaskan aku
51
New York
52
Mengagumi
53
Di rumah Tuan Billy
54
Lucinta dan Lunara
55
Mulai misi
56
Pulang
57
Terjawab
58
Hari pertama sekolah
59
Cemburu
60
Ulah Kemal
61
Orang misterius
62
Sandiwara dimulai
63
Salah terka
64
Peperangan
65
Kemenangan Mirza
66
Mengejutkan
67
Sadar
68
Hamil?
69
Pulang
70
Ingin menjauh
71
Kekesalan Mirza
72
Kembar tiga
73
Ngidam konyol
74
Tusukan
75
Rencana pembalasan
76
Menemukanmu
77
Memaafkan
78
Tiba di rumah nenek
79
Membongkar jati diri
80
Ternyata
81
Salah lagi, kan?
82
Pusat perhatian
83
Terkena imbas
84
Diare karena sabalak
85
Berkenalan
86
Lagi-lagi salah
87
Minta bantuan
88
Ngidam belanja
89
Veronika
90
Rencana Mirza untuk Meyzin
91
Jejak Veronika
92
Makam Veronika
93
Lamaran dadakan
94
Menemukan Liontin
95
Bau terasi
96
Bukti baru
97
Penyesalan Meyzin
98
Balas dendam
99
Menutupi jati diri
100
Menerima
101
Ikut pulang
102
Terluka lagi
103
Bertemu Veronika
104
Penolakan Mirza
105
Bumil sensitif
106
Tuduhan Ayla
107
Dinner sambil kerja
108
Nyonya Alvero
109
Tidak setuju
110
Hukuman
111
Setuju
112
Hanya mimpi
113
Kemarahan Ibu Negara
114
Tertunda
115
Melahirkan
116
Keseharian Mirza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!