Pil KB

Pengakuan Ayla tak berpengaruh apa-apa. Rasa cinta Mirza untuk Lunara tak bisa digeser begitu saja, meskipun yang berjasa waktu itu adalah Ayla, tetap saja pelabuhan hatinya Lunara. Gadis yang pertama kali membuka pintu hatinya dan bersemayam di sana. 

Tapi ia salut pada Ayla yang mementingkan persahabatan daripada cinta nya. 

Tak mendapat respon positif, Ayla memilih pergi, mungkin belum saatnya menduduki tempat Lunara. Butuh waktu dan kesabaran untuk bisa menggantikan posisi sang sahabat. 

"Tutup pintunya!" titah Mirza pada Erkan yang mematung di samping pintu. 

Menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, kepala mendongak menatap langit-langit ruangannya. 

Ternyata perempuan itu sama saja. Mereka akan melakukan apapun demi mendapatkan laki-laki yang dicintai. 

Tertawa dalam hati mengingat kisah Lunara dan Ayla yang sama-sama mencintainya. 

Mirza tersenyum sendiri. Tak ada yang tahu apa yang ia pikirkan, kecuali Tuhan. 

Erkan pun tak bisa menebak jalan pikiran Tuannya. Kebersamaannya selama ini hanya urusan bisnis, bukan pribadi atau membaca isi hati. 

Mungkinkah karena Ayla. 

Melirik sekilas ke arah Mirza lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. 

"Sudah waktunya pulang, Tuan." 

Memberi aba-aba pada Mirza yang nampak lupa dengan waktu. 

Hari ini Mirza membatalkan pertemuannya dengan Izi demi mendengar cerita konyol dari Ayla. Ternyata kisah cintanya pun terbilang rumit, hanya saja Mirza tak memperdulikan itu. 

Mirza beranjak dari duduknya. Meraih jas lalu memakainya. Merapikan penampilannya lalu keluar. Mirza duduk di jok belakang, tiba-tiba ucapan Tuan Bahadir melintasi otaknya yang sedikit lelah. 

"Berhenti di apotik, belikan ini!"

Memperlihatkan gambar yang didapat dari internet. 

Itu kan pil kb, untuk siapa?

Bertanya dalam hati. Matanya menatap wajah Mirza yang sangat mengerikan. Menyimpan sejuta teka-teki yang tak dimengerti Erkan. 

Erkan berusaha untuk melajukan mobilnya dengan tenang, meskipun hatinya sedikit waswas dengan perintah Mirza, setidaknya ia harus mencari tahu lebih dulu. 

Mobil Erkan berhenti di halaman apotik. Ia langsung turun dan masuk ke dalam. 

 

"Mau beli apa, Tuan?" tanya pelayan dengan ramah. 

Erkan menoleh, menatap ibu-ibu yang berdiri di sampingnya. Nampak wanita itu sedang memilih alat tes kehamilan dan juga alat kontrasepsi untuk seorang pria. 

Kenapa Tuan Mirza memilih pil, kenapa nggak di sarungin saja burungnya? menggerutu dalam hati. Kalau bukan karena rasa hormat dan patuh yang mendarah daging, Erkan tidak mungkin menjalankan perintah yang memalukan itu. 

Ini adalah perintah yang paling menggelikan bagi Erkan. Seumur hidupnya hanya Mirza yang berani menjatuhkan harga dirinya. 

Wanita yang ada di depan Erkan menatap bingung.

Apa dia sedang mikirin aku.

 

Terlalu percaya diri melihat ketampanan Erkan yang di atas rata-rata. 

"Maaf, Tuan. Mau beli apa?" tanya pelayan itu lagi. 

Erkan menghadapkan layar ponselnya di depan wanita itu. Menunjukkan gambar barang yang akan ia beli. 

"Pil kb?" Mengucapkan dengan keras sehingga membuat wajah Erkan merah merona. 

Pengunjung lain menatap Erkan dengan tatapan aneh. Ada yang tertawa menggelitik.

"Tuan masih muda, kenapa istrinya  harus meminum Pil kb?"

Wajah Erkan bak tersiram air comberan. Rasa malunya hingga ke ubun, demi apapun Mirza benar-benar membuatnya mati kutu. Menurunkan derajatnya sebagai sekretaris angkuh. 

Ehem 

Erkan berdehem. Merapikan dasinya memasang wajah dinginnya lagi. 

"Ini, Pak." 

Erkan segera mengambilnya. Memberikan selembar uang lalu pergi, tak mengindahkan suara pelayan yang ingin menyerahkan kembaliannya. 

"Dasar usil, terserah aku mau ngapain, kenapa dia yang urus?" 

Dalam perjalanan menuju mobil, Erkan terus menggerutu kesal. Bibirnya komat-kamit seperti membaca mantra. 

"Ini Tuan." Erkan menyerahkan pil itu pada Mirza lalu kembali melajukan mobilnya. 

Hening, tidak ada pembicaraan apapun antara Mirza dan Erkan. Mereka saling bergulat dengan otak masing-masing 

Apa Tuan Mirza ingin melakukan itu dengan Haira? terka Erkan, menatap Mirza dari pantulan spion yang menggantung. 

Tapi dalam perjanjian itu sudah tertulis kalau Tuan Mirza tidak akan menyentuh Haira. Dia hanya ingin balas dendam pada gadis itu. 

Ssssttt

Erkan mendadak menginjak rem saat sebuah motor melintas di depannya, gara-gara memikirkan pil kb, ia tak bisa fokus dengan jalan yang lumayan padat. 

"Kamu mau bunuh diri, hah?" ucap Mirza, mengelus keningnya yang menghantam bagian belakang jok. 

Erkan hanya bisa menerima omelan Tuannya, melanjutkan laju mobilnya dengan kecepatan sedang. 

Di rumah 

Mirza melangkah gontai memasuki rumah mewahnya. Matanya berkeliling menyusuri setiap sudut ruangan, tidak ada yang berbeda, banyak pelayan yang berlalu lalang menjalankan aktivitasnya. 

Naina pun menyambut kedatangannya, mengambilkan sandal Mirza dari rak. 

Di mana perempuan itu? 

Mirza duduk di sofa ruang tengah. Berbagai suguhan pun sudah menghiasi meja, namun ada yang ganjil, dari semua pelayan, Mirza tak mendapati Haira. 

Apa dia tidur?

Mirza mengerutkan alisnya mengingat cctv yang diputar tadi pagi. Tak menyangka, Haira berani melawan sepupunya yang terkenal arogan itu. 

"Tuan mau makan apa malam ini?" 

Bi Enis berdiri di samping sofa. 

"Terserah, Bibi saja. Bukankah itu tugas Haira? Kenapa bibi yang bertanya, mana tanggung jawabnya sebagai seorang istri?"

Ingin bertanya keberadaan Haira, namun Mirza malu dan mengurungkan niatnya. Menggenggam lagi pil yang dibeli Erkan lalu masuk ke kamar.

Mirza membuka bungkus pil kb itu. Membaca tulisannya dengan teliti. Ia tak ingin benihnya tertanam di rahim perempuan miskin seperti Haira, begitulah pikirnya. 

"Kamu berani berurusan denganku, itu artinya kamu harus siap menanggung konsekuensinya." Tersenyum licik. 

Meraih ponselnya lalu menghubungi sang sekretaris. 

"Suruh Haira ke kamarku, sekarang juga." 

Mirza melucuti semua bajunya di sisi ranjang. Ia masuk ke kamar mandi dalam keadaan polos tanpa kain. Tanpa menutup pintu ia mengguyur sekujur tubuhnya di bawah shower. 

Entah apalagi yang akan direncanakan, kali ini benar-benar membuat Erkan kebingungan. 

Erkan mengetuk pintu kamar Haira. Dalam hitungan detik, gadis itu membuka pintunya. 

"Kamu disuruh ke kamar tuan Mirza, sekarang juga," ucap Erkan seperti perintah Mirza lewat sambungan telepon. 

Haira berlari kecil ke arah kamar Mirza. Pintu sedikit terbuka, ia langsung masuk tanpa mengetuk. 

Suara gemericik air terdengar jelas dari arah kamar mandi. Haira menatap baju Mirza yang teronggok di lantai. Memungutnya satu persatu dan meletakkannya di keranjang kotor. 

"Aku tahu kamu sudah berada di kamarku." Suara bariton mengejutkan Haira yang nampak melamun. 

"Cepat ke sini! Ambilkan sabun!" pinta Mirza dengan suara lantang. 

Apa-apaan, ngapain dia menyuruhku ke kamar mandi, kalau dia telanjang bagaimana?

Deg deg deg 

Detakan jantung Haira tak karuan, ia tak bisa membayangkan jika mata sucinya harus ternodai dengan tubuh Mirza yang pastinya sempurna. 

"Cepat!" teriak Mirza membuat Haira tersentak. 

"I… iya, Tuan." 

Haira berjalan ragu mendekati pintu kamar mandi. Tangannya gemetar saat satu kakinya melangkah masuk. Baru satu langkah, sebuah tangan kekar menarik tubuhnya dari samping. 

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

𝙠𝙡𝙤 𝙢𝙖𝙡𝙪 𝙣𝙜𝙤𝙢𝙤𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙣𝙜𝙚𝙩𝙞𝙠 𝙥𝙠𝙚 𝙝𝙥

2025-02-20

0

Eva Marlina siboro

Eva Marlina siboro

lawan haira jangan mau di tindas,,, 😡😡

2024-07-05

0

Febby Fadila

Febby Fadila

kasihan hairA

2024-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 Awal mula
2 Membuat surat perjanjian
3 Pilihan dari Mirza
4 Pelecehan
5 Pernikahan
6 Mabuk
7 Salah
8 Terpengaruh
9 Melawan
10 Pil KB
11 Ternodai
12 Luka dalam
13 Lemas
14 Pingsan
15 Pergi
16 Penyesalan
17 Kemal
18 Penyesalan
19 Membatalkan
20 Hadirnya kehangatan
21 Mencari bukti
22 Membeli mainan
23 Tidur bersama
24 Hukuman baru
25 Hasil tes DNA
26 Penyesalan Mirza
27 Kedatangan kakak
28 Kemarahan kakak Mirza
29 Hukuman
30 Bertemu lagi
31 Siap pulang
32 Tiba di rumah
33 Salah paham
34 Kemarahan Nada
35 Panik
36 Kejutan
37 Pesta
38 Malam kedua
39 Perjanjian lagi
40 Lunara hamil
41 Memanfaatkan perjanjian
42 Lebah jantan
43 Terbongkar
44 Membujuk Arini
45 Diary yang terlupakan
46 Membereskan semua kenangan
47 Bukan upah, tapi tumbal
48 Menuntaskan masalah
49 Di balik kotak putih
50 Puaskan aku
51 New York
52 Mengagumi
53 Di rumah Tuan Billy
54 Lucinta dan Lunara
55 Mulai misi
56 Pulang
57 Terjawab
58 Hari pertama sekolah
59 Cemburu
60 Ulah Kemal
61 Orang misterius
62 Sandiwara dimulai
63 Salah terka
64 Peperangan
65 Kemenangan Mirza
66 Mengejutkan
67 Sadar
68 Hamil?
69 Pulang
70 Ingin menjauh
71 Kekesalan Mirza
72 Kembar tiga
73 Ngidam konyol
74 Tusukan
75 Rencana pembalasan
76 Menemukanmu
77 Memaafkan
78 Tiba di rumah nenek
79 Membongkar jati diri
80 Ternyata
81 Salah lagi, kan?
82 Pusat perhatian
83 Terkena imbas
84 Diare karena sabalak
85 Berkenalan
86 Lagi-lagi salah
87 Minta bantuan
88 Ngidam belanja
89 Veronika
90 Rencana Mirza untuk Meyzin
91 Jejak Veronika
92 Makam Veronika
93 Lamaran dadakan
94 Menemukan Liontin
95 Bau terasi
96 Bukti baru
97 Penyesalan Meyzin
98 Balas dendam
99 Menutupi jati diri
100 Menerima
101 Ikut pulang
102 Terluka lagi
103 Bertemu Veronika
104 Penolakan Mirza
105 Bumil sensitif
106 Tuduhan Ayla
107 Dinner sambil kerja
108 Nyonya Alvero
109 Tidak setuju
110 Hukuman
111 Setuju
112 Hanya mimpi
113 Kemarahan Ibu Negara
114 Tertunda
115 Melahirkan
116 Keseharian Mirza
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Awal mula
2
Membuat surat perjanjian
3
Pilihan dari Mirza
4
Pelecehan
5
Pernikahan
6
Mabuk
7
Salah
8
Terpengaruh
9
Melawan
10
Pil KB
11
Ternodai
12
Luka dalam
13
Lemas
14
Pingsan
15
Pergi
16
Penyesalan
17
Kemal
18
Penyesalan
19
Membatalkan
20
Hadirnya kehangatan
21
Mencari bukti
22
Membeli mainan
23
Tidur bersama
24
Hukuman baru
25
Hasil tes DNA
26
Penyesalan Mirza
27
Kedatangan kakak
28
Kemarahan kakak Mirza
29
Hukuman
30
Bertemu lagi
31
Siap pulang
32
Tiba di rumah
33
Salah paham
34
Kemarahan Nada
35
Panik
36
Kejutan
37
Pesta
38
Malam kedua
39
Perjanjian lagi
40
Lunara hamil
41
Memanfaatkan perjanjian
42
Lebah jantan
43
Terbongkar
44
Membujuk Arini
45
Diary yang terlupakan
46
Membereskan semua kenangan
47
Bukan upah, tapi tumbal
48
Menuntaskan masalah
49
Di balik kotak putih
50
Puaskan aku
51
New York
52
Mengagumi
53
Di rumah Tuan Billy
54
Lucinta dan Lunara
55
Mulai misi
56
Pulang
57
Terjawab
58
Hari pertama sekolah
59
Cemburu
60
Ulah Kemal
61
Orang misterius
62
Sandiwara dimulai
63
Salah terka
64
Peperangan
65
Kemenangan Mirza
66
Mengejutkan
67
Sadar
68
Hamil?
69
Pulang
70
Ingin menjauh
71
Kekesalan Mirza
72
Kembar tiga
73
Ngidam konyol
74
Tusukan
75
Rencana pembalasan
76
Menemukanmu
77
Memaafkan
78
Tiba di rumah nenek
79
Membongkar jati diri
80
Ternyata
81
Salah lagi, kan?
82
Pusat perhatian
83
Terkena imbas
84
Diare karena sabalak
85
Berkenalan
86
Lagi-lagi salah
87
Minta bantuan
88
Ngidam belanja
89
Veronika
90
Rencana Mirza untuk Meyzin
91
Jejak Veronika
92
Makam Veronika
93
Lamaran dadakan
94
Menemukan Liontin
95
Bau terasi
96
Bukti baru
97
Penyesalan Meyzin
98
Balas dendam
99
Menutupi jati diri
100
Menerima
101
Ikut pulang
102
Terluka lagi
103
Bertemu Veronika
104
Penolakan Mirza
105
Bumil sensitif
106
Tuduhan Ayla
107
Dinner sambil kerja
108
Nyonya Alvero
109
Tidak setuju
110
Hukuman
111
Setuju
112
Hanya mimpi
113
Kemarahan Ibu Negara
114
Tertunda
115
Melahirkan
116
Keseharian Mirza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!