Salah

Cahaya mentari yang menerpa wajah mengusik hingga membuat Mirza menggeliat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih sangat berat. Tangannya bergerak, memijat kepalanya yang terasa pusing. 

Mengembalikan nyawanya yang tercecer. Mengingat kejadian sebelum ia tertidur pulas. 

Semalam aku ke klub. 

Menghembuskan napas, lalu menyibak selimutnya. Dengan susah payah Mirza bangun dan bersandar di hardboard.

"Kenapa kepalaku pusing sekali, memangnya berapa botol minuman yang aku habiskan?" gumam nya lirih. Tubuhnya terlalu lemah untuk turun hingga berdiam sejenak. Jika dulu ia selalu mendapat sambutan setelah bangun tidur, kini hatinya seakan kosong, tiada penghuni yang bersemayam di sana.

Setelah cukup mengembalikan seluruh ingatannya, Mirza menurunkan kedua kakinya. Matanya menatap setelan kantor yang sudah siap di samping lemari. 

"Siapa yang menyiapkan baju kantor ku?" 

Mirza melangkah. Mengangkat satu persatu baju yang sudah siap membalut tubuhnya. 

"Apa mungkin ini kerjaan Naina?" terka nya, mengembalikan gantungan itu lalu keluar. Pasalnya, hanya Naina pelayan yang berani masuk ke kamarnya. Bahkan bi Eniz pun tak sembarang masuk jika tidak ada perintah.

Matanya menatap ke arah Haira yang sedang membersihkan ruang keluarga. Ia tak peduli dan melintas segitu saja tanpa ingin menyapa gadis yang semalam bersusah payah membantunya mengganti baju. 

Haira tersenyum kecil saat menatap punggung Mirza yang semakin menjauh. 

Tampan sekali, apalagi gambar piyama nya, lucu. Apa dia sangat menyukai kartun doraemon.

Mirza duduk di ruang tengah. Menyeruput kopinya yang sudah mulai menghangat, tangannya meraih ponsel yang ada di sana. 

Erkan yang baru datang menahan tawa melihat piyama yang melekat ditubuh Tuannya. Namun, ia tak ada keberanian untuk menegur. 

Apa semalam beneran Haira yang mengganti baju Tuan Mirza? Tapi sepertinya Tuan Mirza tidak menyadarinya. 

Seandainya itu bukan Tuannya, Erkan sudah terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya. 

"Semalam aku pulang jam berapa?" tanya Mirza tanpa menatap. 

"Jam sepuluh, Tuan," jawab Erkan seketika. 

Pura-pura merapikan dasinya yang memang sudah rapi.

Mirza mendongak ke atas. Jika mengingat Lunara, kepalanya seperti mau pecah, rasa rindunya tak bisa dikendalikan dan terkadang membuatnya kacau. 

"Apa saja jadwal hari ini?" tanya Mirza datar. Melirik Haira yang nampak menghampirinya. 

"Sarapan Anda sudah siap, Tuan," selak Haira sebelum Erkan menjawab pertanyaan Mirza. 

Tidak ada jawaban, Mirza justru memalingkan wajahnya, enggan untuk bertatap langsung dengan gadis itu. Beranjak dari duduknya lalu membuka lemari pendingin, tanpa sengaja Mirza mendengar suara tawa kecil dari arah dapur. 

Ehem

Mirza berdehem, mengambil sebotol air dingin dari sana. Menatap Bi Enis yang baru saja keluar. Wanita itu membungkuk ramah, menyapa. Lalu, melanjutkan aktivitasnya tanpa ingin mengatakan sesuatu. Meskipun ada yang menjanggal, tetap memilih bungkam.

Sepertinya rumah ini penuh keanehan. 

Mirza pindah dan duduk di ruang makan. Diikuti Erkan dari belakang. 

"Hari ini ada pertemuan dengan Tuan Bahadir. Dia ingin membicarakan tambang batu bara milik Tuan yang ada di luar kota. Jam dua ada pertemuan dengan Izi, yang ingin bekerja sama dengan pabrik garmen."

Mirza hanya mendengarkan tanpa menjawab. Ia kembali ke kamar. Baru saja berdiri di depan cermin, dahinya mengernyit dengan mata yang memicing. Menatap piyama nya dari pantulan cermin. 

"Apa ini?" Menjewer baju piyama yang membuatnya jijik. 

Jadi semua orang menertawakan ku, pikirnya, mengingat tatapan Erkan yang tak di mengerti. Juga para pelayan yang menatapnya dengan tatapan aneh. 

Brak

Mirza menggebrak meja. Menarik bajunya dengan kasar lalu menggenggamnya  hingga berbentuk lingkaran. 

"Kurang ajar, siapa yang berani melakukan ini padaku. Aku pastikan dia tidak bisa lagi bernafas."

Mirza membuka pintu dengan keras. Menunjukkan kemarahannya yang memuncak. 

Semua orang yang mendengar itu tersentak kaget, bahkan bi Enis mengelus dadanya melihat Mirza yang telanjang dada dengan wajah yang dipenuhi amarah. Matanya merah menyala dengan tatapan tajam. 

"Erkan, suruh semuanya berkumpul di sini, termasuk kamu!" titah Mirza dengan suara lantang. 

Setelah mendapat perintah dari Erkan, seluruh pelayan yang ada di rumah itu berhamburan menghampiri Mirza. Mereka berbaris rapi menghadap sang Tuan yang memamerkan dada bidangnya. 

Haira berdiri paling belakang. Sedikitpun tak berani menatap Mirza mengingat piyama yang saat ini ada di tangan pria itu. 

"Siapa yang tadi malam menganti bajuku?" Melirik Erkan yang berdiri di sampingnya, karena hanya pria itu yang selalu bersama Mirza, kemanapun dan dimanapun. 

Arini yang ada di sudut tangga melipat kedua tangannya. Bersiap menyaksikan apa yang akan dilakukan Mirza pada orang yang sudah mempermalukan nya. 

Erkan langsung menatap Haira. Itu saja sudah cukup memberi tanda jika wanita itu lah pelakunya. 

Hening

Semua saling tatap dan mengangkat bahu, sedangkan Haira hanya bisa menunduk, menahan dadanya yang mulai bergemuruh hebat. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi kulitnya, rasa takut menyelimuti hingga membuat sekujur tubuhnya bergetar. 

"Jika tidak ada yang mengakui, aku akan __" 

"Sa… saya, Tuan." 

Haira mengangkat tangannya.

Seketika itu juga Mirza melempar bajunya tepat di wajah Haira. 

Semoga Tuan Mirza tidak menghukum Haira dengan berat. 

Bi Enis hanya bisa membantu doa. Sebab, tidak ada yang berhak membela siapapun yang melakukan kesalahan di rumah itu. 

"Sekarang semua pergi, kecuali kamu." Menunjuk Haira yang mencengkeram erat piyama milik Mirza. 

Haira masih menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap wajah Mirza yang menurutnya sangat mengerikan. 

"Apa menurutmu ini lucu?" tanya Mirza datar. 

Lucu, Haira hanya menjawab dalam hati. 

"Tidak, Tuan," jawab Haira sambil menggelengkan kepala. 

Mirza mencengkram lengan Haira hingga membuat sang empu meringis. 

"Saya minta maaf, Tuan. Semalam saya tidak melihat baju tidur Tuan, selain ini."

Haira berusaha mencengkal tangan Mirza. Matanya menangkap perut sang suami yang berbentuk kotak-kotak. Naik ke atas, otot pria itu pun nampak menonjol membuat tubuhnya terlihat sempurna. 

Mirza menarik Haira ke kamarnya. Membawa gadis itu menuju lemari. Membuka lebar-lebar dan mengambil beberapa baju yang menggantung di sana.

"Apa mata kamu buta, ini semua baju tidur. Tapi kenapa kamu mengambil yang ini? Apa kamu sengaja membuatku malu di depan semua pelayan, hah?" bentak Mirza di telinga Haira. 

Haira memejamkan mata. Ia hanya menerima luapan amarah Mirza yang semakin menjadi. Mungkin itu akan diterimanya setiap hari, mengingat hukumannya yang sudah tercatat seumur hidup. Melompat dari takdir hingga menemukan tempat yang mencekam.

"Maafkan saya, Tuan." 

Haira menangkup kedua tangannya di depan Mirza. Memohon belas kasihan pada pria itu. 

Mirza menarik rambut Haira. Memutar tubuh gadis itu hingga terhempas di dinding. Meraih tangannya ke belakang. Satu tangannya mencengkeram dagu Haira hingga meringis kesakitan. 

"Tidak ada kata maaf bagi orang yang sudah melakukan kesalahan. Mulai hari ini, jangan berani menyentuh bajuku dan aku. Kamu bukan istri yang sesungguhnya, jangan pernah bermimpi bisa menikmati tubuhku dan menjadi nyonya Glora."

Haira berdecih, sedikitpun ia tak ingin disentuh oleh Mirza. Juga tak ingin memiliki kedudukan seperti yang disebut suaminya.

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

dihhh pke tanya yg nyiapin baju kantor ya jelas bini mu lah bang

2025-02-20

0

Febby Fadila

Febby Fadila

klw bgt kamu harus jd pelayan rmah saja hairA

2024-07-03

1

Sweet Girl

Sweet Girl

Sempet sempetnya kamu ya Haira... menikmati keseksian Suamimu...
inget... kamu akan kenak hukuman...

2024-03-19

1

lihat semua
Episodes
1 Awal mula
2 Membuat surat perjanjian
3 Pilihan dari Mirza
4 Pelecehan
5 Pernikahan
6 Mabuk
7 Salah
8 Terpengaruh
9 Melawan
10 Pil KB
11 Ternodai
12 Luka dalam
13 Lemas
14 Pingsan
15 Pergi
16 Penyesalan
17 Kemal
18 Penyesalan
19 Membatalkan
20 Hadirnya kehangatan
21 Mencari bukti
22 Membeli mainan
23 Tidur bersama
24 Hukuman baru
25 Hasil tes DNA
26 Penyesalan Mirza
27 Kedatangan kakak
28 Kemarahan kakak Mirza
29 Hukuman
30 Bertemu lagi
31 Siap pulang
32 Tiba di rumah
33 Salah paham
34 Kemarahan Nada
35 Panik
36 Kejutan
37 Pesta
38 Malam kedua
39 Perjanjian lagi
40 Lunara hamil
41 Memanfaatkan perjanjian
42 Lebah jantan
43 Terbongkar
44 Membujuk Arini
45 Diary yang terlupakan
46 Membereskan semua kenangan
47 Bukan upah, tapi tumbal
48 Menuntaskan masalah
49 Di balik kotak putih
50 Puaskan aku
51 New York
52 Mengagumi
53 Di rumah Tuan Billy
54 Lucinta dan Lunara
55 Mulai misi
56 Pulang
57 Terjawab
58 Hari pertama sekolah
59 Cemburu
60 Ulah Kemal
61 Orang misterius
62 Sandiwara dimulai
63 Salah terka
64 Peperangan
65 Kemenangan Mirza
66 Mengejutkan
67 Sadar
68 Hamil?
69 Pulang
70 Ingin menjauh
71 Kekesalan Mirza
72 Kembar tiga
73 Ngidam konyol
74 Tusukan
75 Rencana pembalasan
76 Menemukanmu
77 Memaafkan
78 Tiba di rumah nenek
79 Membongkar jati diri
80 Ternyata
81 Salah lagi, kan?
82 Pusat perhatian
83 Terkena imbas
84 Diare karena sabalak
85 Berkenalan
86 Lagi-lagi salah
87 Minta bantuan
88 Ngidam belanja
89 Veronika
90 Rencana Mirza untuk Meyzin
91 Jejak Veronika
92 Makam Veronika
93 Lamaran dadakan
94 Menemukan Liontin
95 Bau terasi
96 Bukti baru
97 Penyesalan Meyzin
98 Balas dendam
99 Menutupi jati diri
100 Menerima
101 Ikut pulang
102 Terluka lagi
103 Bertemu Veronika
104 Penolakan Mirza
105 Bumil sensitif
106 Tuduhan Ayla
107 Dinner sambil kerja
108 Nyonya Alvero
109 Tidak setuju
110 Hukuman
111 Setuju
112 Hanya mimpi
113 Kemarahan Ibu Negara
114 Tertunda
115 Melahirkan
116 Keseharian Mirza
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Awal mula
2
Membuat surat perjanjian
3
Pilihan dari Mirza
4
Pelecehan
5
Pernikahan
6
Mabuk
7
Salah
8
Terpengaruh
9
Melawan
10
Pil KB
11
Ternodai
12
Luka dalam
13
Lemas
14
Pingsan
15
Pergi
16
Penyesalan
17
Kemal
18
Penyesalan
19
Membatalkan
20
Hadirnya kehangatan
21
Mencari bukti
22
Membeli mainan
23
Tidur bersama
24
Hukuman baru
25
Hasil tes DNA
26
Penyesalan Mirza
27
Kedatangan kakak
28
Kemarahan kakak Mirza
29
Hukuman
30
Bertemu lagi
31
Siap pulang
32
Tiba di rumah
33
Salah paham
34
Kemarahan Nada
35
Panik
36
Kejutan
37
Pesta
38
Malam kedua
39
Perjanjian lagi
40
Lunara hamil
41
Memanfaatkan perjanjian
42
Lebah jantan
43
Terbongkar
44
Membujuk Arini
45
Diary yang terlupakan
46
Membereskan semua kenangan
47
Bukan upah, tapi tumbal
48
Menuntaskan masalah
49
Di balik kotak putih
50
Puaskan aku
51
New York
52
Mengagumi
53
Di rumah Tuan Billy
54
Lucinta dan Lunara
55
Mulai misi
56
Pulang
57
Terjawab
58
Hari pertama sekolah
59
Cemburu
60
Ulah Kemal
61
Orang misterius
62
Sandiwara dimulai
63
Salah terka
64
Peperangan
65
Kemenangan Mirza
66
Mengejutkan
67
Sadar
68
Hamil?
69
Pulang
70
Ingin menjauh
71
Kekesalan Mirza
72
Kembar tiga
73
Ngidam konyol
74
Tusukan
75
Rencana pembalasan
76
Menemukanmu
77
Memaafkan
78
Tiba di rumah nenek
79
Membongkar jati diri
80
Ternyata
81
Salah lagi, kan?
82
Pusat perhatian
83
Terkena imbas
84
Diare karena sabalak
85
Berkenalan
86
Lagi-lagi salah
87
Minta bantuan
88
Ngidam belanja
89
Veronika
90
Rencana Mirza untuk Meyzin
91
Jejak Veronika
92
Makam Veronika
93
Lamaran dadakan
94
Menemukan Liontin
95
Bau terasi
96
Bukti baru
97
Penyesalan Meyzin
98
Balas dendam
99
Menutupi jati diri
100
Menerima
101
Ikut pulang
102
Terluka lagi
103
Bertemu Veronika
104
Penolakan Mirza
105
Bumil sensitif
106
Tuduhan Ayla
107
Dinner sambil kerja
108
Nyonya Alvero
109
Tidak setuju
110
Hukuman
111
Setuju
112
Hanya mimpi
113
Kemarahan Ibu Negara
114
Tertunda
115
Melahirkan
116
Keseharian Mirza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!