Di sebuah kantor polisi, Emely yang baru saja turun dari mobil, melangkah dengan pelan. Hatinya yang sebenarnya sangat panik, sebisa mungkin mencoba untuk tenang.
Emely membarengi langkah polisi yang kini mempersilahkan masuk ke dalam. Di sana, sudah duduk seorang lelaki yang entah, dia seperti tak asing di matanya. Lelaki itu memunggunginya dan berbicara pada salah satu polisi di depan sana.
"Selamat malam Pak, ini Nona Emely, pemilik mobil," ucap pak polisi itu.
Deg, jantung Dani Tampak berdetak lebih cepat.
Emely? Pemilik mobil? Bukannya wanita yang tadi dilihatnya? Bukannya wanita yang kemaren siang berdebat dengannya? Apa namanya Emily? Dani Mengepalkan tangannya. Rasanya ingin memberikan hukuman yang setimpal. Meskipun keluarga Micel memilih jalan damai.
Dani mencoba diam, berharap wanita di belakangnya bukan orang yang sama dengan yang kemarin siang.
"Silahkan duduk Nona," ucap polisi itu. Segera wanita cantik itu melangkah dan duduk di samping lelaki yang tadi dilihatnya.
"Selamat malam Nona Emely, ini Tuan Dani. Keluarga korban yang kecelakaan bersama anda," ucapnya. Emely mengangguk dan mencoba meyakinkan hatinya bahwa tidak akan terjadi apapun.
"Maafkan aku, Tuan. Ini murni kecelakaan dan saya tidak sengaja," ucap Emely dengan tenang, sambil menatap ke arah Dani.
Dani yang semula menundukkan kepala, kini mengangkat wajahnya, menatap ke arah wanita cantik yang kini menatapnya dengan cemas.
Deg,
Jantung Emely berdetak lebih cepat, saat pandangan matanya tertuju pada lelaki yang kini ada di hadapannya. Keduanya saling berpandangan. Saling meyelami memori yang ada di otak masing masing.
"Kau," ucap Emely saat mengenali wajah Dani yang kini menatapnya dengan tajam. Dani menghela napas panjang. Merasakan sesak yang mendera jiwanya.
"Penjarakan dia!" ketus Dani. Emely memejamkan matanya. Rasanya sakit, ketika mendengar penuturan lelaki itu. Emely menghela napas dalam-dalam. Mencoba untuk menyemangati dirinya. Sebisa mungkin dia harus melawan.
"Aku tidak bersalah," jawab Emely.
"Tak ada maling mengaku, maling mengaku penjara penuh, Nona," sentaknya.
"Aku tidak bersalah, aku juga bukan maling. Tuan Ardani," sentak Emely lagi.
Perdebatan terus saja berlangsung, membuat pak polisi geleng kepala. Pasalnya Emely bilang korban kecelakaan yang di tabraknya menyebrang dengan tiba-tiba. Sedangkan Dani menuntut pertanggungjawaban agar Emely di kasuskan.
Tapi, wanita itu menolak dan meminta perdamaian. Dua jam di dalam kantor polisi belum juga menemukan titik temu, membuat pak polisi geleng kepala karna perdebatan sengit antara keduanya.
"Aku tidak salah," bentaknya.
"Lalu kau pikit adikku yang salah?" sentak Dani.
"Lalu siapa lagi? Pak polisi yang salah? Tidak mungkin kan?" sentak wanita itu lagi. Dani membelalakan matanya.
Menatap wanita yang menabrak adik sepupunya membuat dirinya sangat emosi. Micel adik yang sangat disayangi harus terluka karna wanita menyebalkan di depannya.
"Pak polisi, saya adalah korban dari manusia ceroboh yang menyebrang jalan seenaknya. Saya juga mengalami kerugian besar karna mobil saya ringsek. Beruntung nyawa saya masih selamat, jadi tolong bapak bilang pada manusia laknat ini untuk tidak melanjutkan kasus. Kita ambil jalan damai," sentak Emili.
Sebenarnya dirinya sangat takut dan masih syok. Tapi, bagaimana lagi? Dirinya sendiri, Vino dan Willy yang katanya mau menyusul tak juga datang sampai saat ini. Mau tidak mau dia harus menghadapi sendiri manusia menjengkelkan di depannya.
"Apa kau bilang? Manusia laknat?" sentak Dani.
"Lalu apalagi?" bentak Emili.
"Stop, Tuan Dani dan Nona Emyli. Kalian sepertinya sama-sama orang berpendidikan dan bukan orang sembarangan, jadi mohon untuk bisa menjaga emosi," ucap Pak Polisi.
Dani dan Emily saling melirik benci, sedang pak polisi tampak mengamati mereka bergantian.
"Nona Emyli dan Tuan Dani, mohon maaf, sepertinya jalan damai adalah yang terbaik. Lagi pula, Tuan Reynaldi juga memutuskan begitu. Nona Emyli benar, dia juga korban. Adiknya Tuan Dani juga korban, tidak ada yang mau hal seperti ini terjadi, jadi alangkah baiknya kalian saling berdamai. Mungkin untuk biaya kerusakan, bahkan perawatan rumahsakit bisa dibicarakan baik-baik," ucap Pak polisi yang papan namanya bertuliskan Rico itu.
Dani merasa kecewa dengan keputusan pak polisi dan juga kakek Reynaldi yang baru saja menghubungi dirinya. Hati kecil Dani memberontak. Entah bagaimana dia ingin wanita dasampingnya menderita.
❤❤❤❤🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Arsyilla Maroon
tenang Dani itu calon istrimu🤭
2024-04-19
0
Siti Sarfiah
jangan begitu ardani nanti kamu akan menikahinya
2023-02-26
0
candra rahma
lanjut
2022-06-12
1