"Kenapa tersenyum?" tanya Dani sedikit geram melihat tingkah Radit tersebut. Radit menggelengkan kepalanya meskipun sebenarnya ada hal yang menggelitik di pikirannya. Radit meletakkan beberapa berkas di depan Dani.
"Itu bonus dariku, sebuah rumah di kawasan desa X. Kau bisa melihat beberapa hari ke depan, meskipun tidak sebesar mansion, aku yakin kau bahagia hidup di sana bersama dengan wanita yang sepesial," ucap Radit.
Dani melirik berkas di atas meja, meraih beberapa lembar berkas yang diserahkan oleh Radit. Dilihatnya sebuah sertifikat tanah beserta bangunan atas Nama Ardani.
Dani tersenyum dan menatap Radit, meletakkan kembali sertifikat itu.
"Aku punya cukup tabungan untuk membeli rumah yang sama, Radit. Bahkan aku gini pun punya usaha dan tak kalah jauh dari bisnismu," tolak Dani dengan santai.
Radit terusik oleh ucapan saudara sekaligus sahabatnya itu.
"Memang siapa yang merendahkan atau menyepelekanmu? Aku memberikan bonus karna kerjakerasmu selama ini, apa itu salah?" ucap Radit. Dani terdiam.
"Kalau kau tidak mau menerima, jangan salahkan aku bila aku tidak akan pernah menyetujui pengajuan rigsenmu," ucap Radit kemudian melangkah pergi. Dani menghela napas panjang dan menatap punggung Radit yang menjauh darinya.
"Oke, aku akan melihat rumah itu lusa. Bukankah besok kita harus pergi bersama?" teriak Dani. Radit menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Dani.
"Itu yang aku ingin dengar darimu," Jawabnya.
Dani menghela napas panjang, rumah di desa X? Dia sangat suka dengan kesunyian. Fik, lusa dia akan melihatnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Emely keluar dari mobilnya, berjalan ke arah restauran mewah yang letaknya dekat dengan Sheyna Bontique. Raymond mengirimkan alamat restauran tersebut, sehingga Emely dengan semangat bergegas menuju ke restauran tersebut.
Dua minggu tak bertemu, membuat wanita cantik itu merasa rindu pada kekasih hatinya. Emely melangkah pelan menapaki anak tangga demi anak tangga. Jantungnya berdetak hebat. Rasanya sangat bahagia akan bertemu dengan kekasihnya.
Emely telah sampai di ruangan VIP, membuka pintu dengan akses cars, tak ada seseorang di sana. Emely menghela napas panjang. Apa dia harus kecewa lagi? Apa memang dia harus kecewa? Apa memang harus dia merasakan sakit? Mata Emely mengedar, melihat pemandangan ini. Wajahnya tampak merah.
"Apa memang aku tidak ada artinya? Apa menikah karna dijodohkan menjadi alasan dari semuanya? Seharusnya kamu bilang, Mas jika memang menolak. Sekarang, bahkan aku tak tau apapun." ucap Emely sambil memejamkan mata indahnya.
"Apa yang kamu pikirkan? Kamu cantik, bedak kamu bisa hilang bila kamu menangis," seseorang menutup mata Emely dengan telapak tangannya.
Emely mengangkat tangannya, bibirnya tersenyum. Lengan kekar dengan yang sekarang tengah menutup matanya adalah tangan dari Raymon. Emely menghela napas panjang. Menggenggam tangan Raymon yang kini masih menutup mata indahnya.
"Hem, aku hanya ingin melihat wajahmu saja,." ucap Emely. Emeli melepaskan tangan Raymon dari matanya.
Emely memutar langkah dan berjalan mendekat ke arah Raymon. Keduanya saling memandang, sebenarnya bertemu sebentar saja bisa menyembuhkan luka hatinya. Akan tetapi, saat tak bertemu rasanya sangat berbeda.
"Apa kau merindukan aku?" tanya Raymon pada Emely yang kini menatapnya. Tanpa menjawab, Emely tersenyum singkat. Emely terkekeh geli dan berhamburan ke pelukan Raymon. Raymon membalas pelukan Emely dan mengusap wajahnya dengan tenang.
"Aku sangat mencintaimu," lirih Emely. Raymon menghela napas panjang dan segera menatap ke arah anak buahnya itu.
"Aku tau, aku bisa membaca dari mimik wajahmu," ucap Raymon sambil tersenyum.
"Sekarang makan dulu, setelah itu kita ke Sheyna bontiku, untuk fitting baju, " ucap Raymon lagi pada ke dua orang tuanya dan diangguki olehnya.
🌹🌹🌹🌹❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Mbah Edhok
kekasihku...
2022-11-03
0
candra rahma
bonus dani luwar biyasah😊
2022-06-09
1
Daniel Aufa Daniel Aufa
up
2022-06-09
1