' Clek ' pintu terbuka.
Pertama yang mereka rasakan adalah aroma wangi lavender begitu jelas memasuki penciuman mereka. Rasa menenangkan menghampiri mereka, rasa tubuh mereka lebih rileks dari sebelumnya.
" silahkan masuk "
Mereka pun masuk dengan pandangan mengelilingi ruangan.
Mereka semua terpukau dengan ruangan Calista yang terlihat begitu rapi dan juga nyaman, deretan buku berjajar di belakang meja kerja Calista, di sudut ruangan terdapat sofa dan tv , dan terlihat di balik kaca terdapat kamar dan toilet.
Terdapat meja makan di sudut ruangan. Seperti hotel bintang 5 benar-benar lengkap.
Tidak lupa bingkai besar foto keluarga winata mengisi ruangan tersebut.
" Silahkan duduk jangan sungkan." Ucap Dinda menyadarkan mereka dari kekaguman nya
termasuk dengan radit.
yah, Radit pertama kali datang kesini. Kecuali satria dia sudah pernah kesini sebelum nya.
" dek ruangan mu sangat nyaman dan sangat indah " ucap Radit sambil duduk di sofa panjang bersama dengan yang lain. Radit merasa rugi karena tidak pernah ikut Calista sebelumnya.
" A'a Rio suruh pelayan membawa makanan yang paling populer di sini " ucap Calista yang sudah duduk di meja kerjanya.
" oke. " Jawab singkat Rio, langsung pergi meninggalkan mereka.
****
" Abi, umi seneng banget bisa masuk, di sini sangat nyaman umi sangat suka.n" Bahagia umi Vita
masih dengan melihat sekeliling. Vita merasa tidak rugi datang ke sini, tidak perduli nanti dia akan membayar cukup malah. Melihat isi dalamnya mungkin hal ini sepadan.
" alhamdulilah kalau umi seneng " Abi Ahmad bersyukur melihat istrinya bahagia.
Tidak lama kemudian pelayan masuk dengan berbagai makanan, setelah di izin kan masuk.
setelah mereka menata makanan di meja lalu izin pergi.
" Sebaiknya kita makan karena ini sudah masuk makan siang. " ucapan Radit, di anggukan semua
termasuk Rio ada disana.
" Apa kah nak Calista tidak makan " tanya umi Aisah melihat kearah Calista yang masih fokus dan tidak memperhatikan mereka sama sekali, lalu beralih kepada mereka bertiga.
" ih bang Radit kok bisa lupa sih, nanti kalau Kaka gam makan jangan salah kan Dinda ya klau kena marah sama bunda dan ayah. " ucap Dinda menyalahkan radit yang tidak mengingat pesan dari bunda dan ayah.
" Kamu juga lupa kan dek jangan salah kan Abang juga dong " balas Radit tidak terima di salah kan. Dia berdebat tidak melihat umur sama sekali. dasar Radit.
" Yaudah ayok kita ajak nak Calista makan, gak usah debat. " ujar umi Aisah menyelesaikan pertengkaran mereka.
" tapi..." Belum siap Dinda bicara sudah di potong oleh Rio.
" Tapi apa lagi, biar A'a Rio aja yang ajak Calista makan. " Rio tidak menunggu ucapan mereka langsung ke meja Calista yang tidak jauh dari mereka.
" kita lihat saja gimana dia bisa ngajak calista makan. " gumam Radit sambil tersenyum licik.
Mereka yg mendengar gumaman itu bingung. Apa maksud nya? pikir mereka.
" Calista ayok kita makan mereka sudah nungguin kamu " ujar Rio
" Kalian makan saja nanti kalau lapar aku akan nyari sendiri." Balas Calista tidak mengalihkan pandangan nya dari laptopnya sesekali dia akan melihat ke arah kertas yang entah apa itu.
" Calista ayok makan keburu dingin nanti makanannya. "
Calista lagi memeriksa perusahaan nya. Sedangkan kafenya sudah dia selesaikan. Mendengar ucapan Rio membuat Calista memutarkan bola matanya. " pergi, aku tidak akan makan. "
" Tapi mereka menunggu kamu, apakah Calista tidak ingin makan bersama keluarga kiyai? Jarang jarang loh kita bisa makan bersama orang besar seperti mereka. " bujuk Rio tidak menyerah. Dalam hati dia tidak menyangka membujuk Calista sangat membutuhkan waktu.
" Tidak! " Singkat, jelas, dan padat.
" ayolah Calista pasti kamu juga belum makan bukan? Lagian ini merupakan kehormatan bagi kita bisa makan dengan keluarga kiyai" bujuknya yang masih belum menyerah walaupun sudah berulang kali di tolak.Tapi lagi-lagi jawaban yang sama.
" TIDAK " Tekan Calista.
Huh...
Rio membuang nafas kasar. Dengan lesu dia langsung menuju ke tempat duduk nya semula.
" gimana? " Radit bertanya namun senyum mengejeknya terlihat jelas.
" Pasti Lo udah tau kalau Calista tidak mau makan bukan? " selidik Rio. Melihat tampang Radit seakan Rio sudah menebak pria ini tau sesuatu.
" iya " ucap Radit santai.
" kalau gitu kenapa Lo gak mau bilang. " Rio menatap kesel Radit. Dia sudah mengeluarkan kata-kata yang panjang namun hasilnya nihil tidak ada sama sekali.
" Tadi Dinda mau bilang tapi A'a Rio udah pergi duluan. " sahut Dinda tak kalah sebel.
" hehe maaf. " Rio hanya bisa cengar-cengir. Cukup malu karena dia yang salah.
" Jadi apa Calista tidak makan?" Rio cukup penasaran.
" ya makan lah, kalau gak makan hancur ni kafe di buat singa betina dan singa jantan " ujar Radit
menyebut kedua orang tuanya.
" terus gimana ?" ucap Rifqi yang dari tadi menyimak.
dia khawatir dalam hati kalau Calista nanti sakit.
" Dengan ini. " Sambil menunjuk kan handphonenya sendiri.
hah? Wajah bingung mereka
tidak di perduli kan Radit.
" Assalamualaikum , bunda " setelah tersambung.
" Waalaikumsalam, ada apa ? apakah Calista " Bunda akan sudah tau.
" iya Bun."
" kasih handphone nya ke Calista " Perintah bunda. Radit pun beranjak ke arah Calista
" nih bunda mau bicara" radit menyodorkan handphonenya dengan pandangan mengarah pada yang lain.
Calista hanya bisa menatap tajam radit, tapi tidak di perduli kan dan langsung ke tempat meja makan.
" assalamualaikum Bun." ucap Calista lembut.
Mereka yang mendengar itu terperangah mendengar suara lembut Calista.
" Kaka memang gitu dia akan lembut sama orang yang di sayang tapi tidak dengan orang asing dia akan cuek datar dan dingin " jelas Dinda
mereka pun akhir mengerti.
" Dan satu lagi kakak sangat susah untuk di ajak makan tapi kalau udah bunda yang bicara kakak langsung di turuti. " tambah nya lagi tanpa di tanya dia menjelaskan dengan panjang.
" Jadi itu salah satu sifat mu, dan kenapa kamu sangat susah makan? apakah ada sesuatu yg membuat mu seperti ini ?" batin Rifqi bertanya tanya dlm hati
Tidak berapa lama Calista datang dan langsung memberi kembali handphone pada radit.
dia langsung duduk di bangku yang kosong.
" Silahkan makan. " ucap Calista kembali datar berbeda saat berbicara dengan bundanya. Bukannya tidak sopan melainkan karena dia sudah memutuskan untuk tidak terlalu memperdulikan apapun kecuali keluarga.
Mereka pun makan dengan kesunyian, hanya suara dentingan sendok dan alat makan lain nya.
.
.
Terimakasih telah mau membaca karya pertama author...
jangan lupa like,komen, favorit, vote ,kasih 🌹dan bintang 5..
bay..bay 👋 sampai jumpa di bab berikut ny..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments