Flashback Of

" Apakah Calista tidak ingin memeluk abang mu yang ganteng ini ? " Ucap radit.

Calista tidak menjawab, tapi langsung melangkah kearah Abang baru nya itu dan langsung memeluk mereka satu persatu. Setelah memeluk mereka lista meminta izin mau ke toilet. Mereka pun hanya mengangguk menyetujuinya.

Setelah Calista masuk ke kamar mandi mereka beralih menatap Dinda.

" kenapa Calista begitu cuek dek " heran satria, apakah memang sifatnya seperti itu. Tapi dengan sifat Calista yang sedikit bicara membuat suasana canggung, berbeda dengan Dinda yang ramah dan mudah bergaul.

Dinda pun menceritakan yang selama ini terjadi dengan mereka. Lebih tepatnya Calista sehingga mengubah sifat nya menjadi cuek, datar plus dingin.

Mereka mendengar itu, sangat marah dengan orang tua Dinda dan calista dan juga merasa sedih atas apa yang menimpa mereka berdua.

Mereka kompak langsung memeluk Dinda. Tidak menyangka gadis kecil ini mengalami hidup yang pahit.

" Mulai sekarang Dinda jangan sedih lagi, ada bunda, ayah dan juga abang-abang kalian, jadi kalian berdua anak bunda juga. " ucap bunda menatap Dinda sedih. Dia sebagai orang tua aja tidak akan tega memperlakukan anak anak dengan buruk. Bagaimana pun besok saat dia tua hanya anak-anak lah yang mengurusnya.

" Terima kasih kalian semua udah mau menerima Dinda dan Kakak. " Tangis Dinda pecah dalam pelukan mereka. Ia tak menyangka akan memiliki keluarga lagi yang lebih tulus.

Calista yang melihat itu tersenyum manis, sangat cantik, tapi sayang tidak ada yang mengetahui kecantikannya.

Flashback Of

Tes!

Air mata Calista jatuh, karna mengingat masalalu nya. Untuk pertama kali nya setelah kejadian itu. Tidak terasa 1 tahun mereka berdua tinggal di rumah orang tua angkatnya.

Tok!

Tok!

Tok!

Suara ketukan dari luar.

buru-buru calista menghapus air mata nya. Dia sama sekali tidak ingin ada satu orang pun melihat dirinya yang sedang menangis.

" Kakak ayo makan, Dinda udah lapar nih. " Teriak Dinda di luar kamar.

" Kenapa teriak-teriak sih dek. " Tegur calista saat melihat Dinda berdiri di depannya.

" Kakak sih di panggil-panggil gak jawab, yaudah Dinda teriak. " Balas Dinda yang juga kesel. Dia udah lama berdiri di depan pintu, di ketuk dan di panggil secara baik baik tidak bisa, mungkin saat dia teriak masih di abaikan mungkin Dinda sudah menyuruh salah satu abangnya untuk mendobrak pintu.

" yaudah ayok kita turun." ucap lista lembut karena memang dia yang salah. Mengapa dia harus mengingat kenangan lama itu.

Setelah dua minggu terakhir Dinda sudah sehat berkat donor darah dari calista. Walau pun Calista sakit beberapa hari karna kehabisan darah tapi tidak membuatnya menyesal.

" kok lama banget sih dek? " Ridho bertanya saat melihat Calista dan dinda.

" ini Kaka lama banget buka pintunya setelah Dinda teriak baru di bukain. " Dia duduk di ikuti Calista di samping nya.

" kalian semua kalau mau makan gak perlu nunggu Calista, kalau Calista lapar nanti minta sama

bibi. " Calista menatap keluarga.

" Kalau kami tidak mengajak kamu makan yang ada kamu gak makan. " Sahut satria sudah tau tabiat Calista.

yah, semua keluarga Winata tau kalau Calista sangat susah untuk makan, karna mungkin sudah terbiasa makan 1 kali sehari atau tidak makan sama sekali.

" iya bener kata abang satria, Calista harus makan banyak biar gemuk kayak Dinda" ujar Radit dengan mata yang menggoda Dinda.

" Dinda mana gemuk tau cuma pipi nya aja yang chubby." kesel Dinda yang tidak terima.

" haha, Iya-iya Dinda enggak gemuk tapi pipinya aja yang em " ucap radit dengan menggembung kan pipinya. Seketika Dinda semakin kesal.

" Sudah-sudah ayo makan." lerai ayah yang tidak ingin terjadi keributan di meja makan.

Setelah mengatakan itu tidak ada yang bersuara lagi, hanya dentingan sendok yang terdengar di ruangan makan.

Selesai sarapan pagi mereka pun duduk di ruangan keluarga, karena hari ini hari Minggu jadi mereka tidak ada kerjaan.

" bang siapa yamg di antara kalian bertiga libur? " Tanya calista dengan menatap ketiga Abangnya.

Selama 1 tahun menempati keluarga Winata Calista sudah mulai berubah, tapi tidak di luar dia akan tetap sama cuek pada sekitar.

" abang dek, besok abang cuti selama seminggu. " sahut radit dengan cepat. " Emang kenapa kok naya kayak gitu? " tambah nya penasaran.

" Calista ingin abang temenin Calista ke bandung untuk memeriksa kafe di sana. " ujar lista dengan menatap Radit.

" oh gitu ya gak papa , malah Abang seneng bisa jalan-jalan sama Calista." senang Radit sambil melihat wajah cemberut satria dan ridho. Senyuman Radit semakin mengembang seolah mengejek mereka.

" kalian kenapa? " Tanya Radit pura-pura tidak tau , padahal dia tau Abang dan adeknya ingin ikut juga.

" aku juga mau ikut tapi aku blm menyelesaikan diskripsi ku. " ucap ridho sedih. Padahal dia juga ingin jalan-jalan dengan Calista, sangat jarang loh Calista mau mengajak seperti ini.

" aku juga karna ada meeting " sahut satria dengan wajah cemberut, kalau bukan karena ini penting mungkin sudah dia batalkan dan ikut dengan Calista dan Radit.

" yang g sabar ya. " ejek Radit menatap mereka dengan kasihan. Saat itu juga dia langsung mendapat kan tatapan tajam dari mereka berdua, bukan nya takut malah ketawa.

" Haha!!.." tawa Radit pecah.

" Bunda liat tu Abang Radit " adu ridho kepada bunda. kalau melawan menggunakan fisik juga ridho tidak akan menang. Jadi satu satunya ya mengadu pada sang ratu Winata.

" Radit " tegur bunda, Radit pun langsung terdiam. Senyuman puas muncul di bibir ridho.

" Apa boleh Calista dan abang Radit ke bandung? " tanya Calista kepada bunda dan ayah. Bagiamana calista sudah menjadi bagian mereka, jadi mau kemanapun dia harus meminta izin pada mereka.

.

.

jangan lupa like, komen, favorit , kasih 🌹 dan bintang 5

sampai jumpa di bab berikut nya...

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!