" A'a Dinda datang! " teriak Dinda sambil berlari meninggalkan Radit di belakang.
Mereka yang berada di dalam ruangan itu terkejut mendengarkan teriakan seseorang.
" Dinda? " Rio terkejut melihat kehadiran Dinda yang tiba-tiba. Dalam perasaan senang dia menghampiri Dinda dan langsung memeluk Dinda.
" Apa kabar Dinda? " Rio menatap Dinda dengan wajah cerah.
" alhamdulilah Dinda baik A'a , klau A'a gimn? "
" Baik juga"
" Lepaskan adek gue. " ketus Radit dan langsung melepaskan pelukan Dinda dari Rio.
Dia cemburu melihat adek kesayangan nya di peluk orng lain salain keluarga nya.
" Siapa Lo. " ucap Rio tak kalah ketus. Dia tidak senang pada pria yang tiba-tiba datang ini.
" Gue Abang nya " ucap radit bangga dengan menatap sinis Rio.
" Sejak kapan Dinda punya Abang? " ucapnya bingung. Selama ini dia hanya tahu kalau dinda hanya punya kakak.
" Emng harus gitu gue jawab. " ujar Radit malas.
" ya harus lah " paksa Radit yang ingin tahu.
Keluarga Jonathan yang tidak mengerti hanya bisa melihat pertengkaran mereka.
sampai suara dingin membuat mereka berhenti bertengkar.
" sudah selesai debat nya " ucap Calista dingin.
Calista baru saja masuk setelah teleponan dengan Arya tapi malah melihat pertengkaran yang tidak berguna. Semua orng yang berada di ruangan itu langsung menatap nya.
deg! Suara jantung Rifqi berdetak lebih kenceng saat melihat siapa pemilik suara tersebut. Di sisi lain Fiki juga terkejut ternyata orng yg mereka tabrak berada dalam satu ruangan dengannya.
" Saya tanya sekali lagi sudah atau belum berdebat nya?"
" Maaf! " ucap pelan Rio dan Radit. Mereka mengenal bagaimana watak Calista, bagaimana mereka begitu berani padanya.
Keluarga Jonathan terkejut melihat manager kafe meminta maaf. Mereka bertanya tanya siapa perempuan yang bersikap dingin itu.
Termasuk Rifqi karna dia sudah mencari tentang identitas Calista tapi sama sekali tidak dapat menemukan apa pun.
karena calista sudah mengakses agar tidak satu pun orng yamg tau identitas sebenarnya.
Calista tidak menjawab ia langsung duduk di tempat biasa Rio duduk yaitu meja kerja nya.
" Mana berkasnya. " ucap datar
" ini nona Calista " ucap Rio canggung.
Hanya kesunyian di dalam ruangan itu. Tak berapa lama suara tawa pecah menghancurkan kesunyian itu.
" hahaha " tawa Dinda pecah. Matanya bersinar karena tertawa.
Tawa Dinda menarik perhatian semua orng kecuali Calista yang cuek bebek. Dia masih setia dengan berkas yang di pegangannya.
" Ada apa dengan mu Dinda. " ucap Rio bingung, perasaan tidak ada yg lucu.
" Lucu bngt A'a Rio bahasa formal sama kakak Calista, ha ha " ucapnya masih dengan tawa nya.
" Soal nya A'a takut " bisik rio tapi masih di dengar semua orng
" takut kenapa? " Tanya dinda penasaran. Perasaan tidak ada yang aura menakutkan sama sekali.
" apa Dinda tidak melihat wajah kakak mu itu, seperti ingin memakan A'a hidup+hidup " Rio bergidik seolah ngeri.
" Dasar penakut " ejek Radit.
Sebelum Rio menjawab.
Deheman dari Fiki menyadarkan mereka semua kalau di ruangan ini tidak mereka saja. kecuali Calista sudah dari pertama masuk iya sudah menyadari klau ada orng lain disini.
sebenar nya calista terkejut siapa yg ada di ruangan tersebut tapi dengan cepat merubah raut wajahnya datar.
" Siapa mereka? " tanya radit cukup terkejut ada orang lain di sini.
" Mereka adalah keluarga Jonathan, maaf kan saya karna melupakan kalian semua. " ucap Rio merasa bersalah, kedatangan Dinda membuat Rio melupakan mereka.
" Tidak masalah "ucap umi Aisah lagi pula dia terhibur melihat tingkah mereka.
Dinda yang baru menyadari mereka adalah keluarga Jonathan pun heboh.
" apa keluarga Jonathan " teriak Dinda membuat dua pria di dekatnya langsung menutup telinga.
" jangan teriak-teriak Dinda kamu pikir ini hutan apa." ucap Radit merasa telinga berdenging. " Emang kamu kenal? " radit yang tidak tahu menahu siapa orang yang membuat adiknya ini heboh.
" Siapa sih yang tidak mengenal keluarga Jonathan yang mempunyai pesantren terbesar di bandung ,dan juga ustadz-ustadz tampan yang merupakan CEO dan asisten, itu sudah tersebar luas sampai Jakarta." puji Dinda heboh dan dengan mata berbinar-binar.
Mereka yg mendengar itu hanya bisa tersenyum.
berbeda dengan Rifqi yang tidak mendengar sama sekali iya masih fokus melihat Calista yang sangat cuek.
" Ternyata memang tampan." Mata Dinda seakan ingin keluar melihat mereka.
" Tutup mata mu dek." tegas Radit tak ingin Dinda bertingkah aneh.
" Assalamualaikum kiyai,nyai, ustadz dan ustazah, ucap Dinda ,iya sama sekali tidak mendengarkan ucapan Radit.
" Waalaikumsalam" ucap mereka bersamaan.
" maaf kan Dinda dan Abang Dinda yang tidak menyadari kiyai,nyai dan semua nya disini. " ujar Dinda sopan. Namun binar matanya tidak bisa hilang.
" Tidak masalah. " ucap nyai Aisah
" kalau boleh tau ada masalah apa sehingga menemui manager di sini " ujar Dinda penasaran.
mereka pun menceritakan tentang Vita ingin makan di lantai 3 yaitu ruangan khusus milik kafe.
sementara Dinda dan Radit terkejut mendengar itu.
" tapi sayang saya tidak bisa mengabulkan permintaan calon bayi saya." ucap umi Vita sedih padahal dia sudah sangat ingin sekali.
" kenapa ?"
.
.
.
bersambung....
mau tau kelanjutannya nya ikuti trus crita author..
jangan lupa like,komen, favorit ,kasih🌹,dan bintang 5....
sampai jumpa di bab berikut nya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments