Malam hari, di kediaman Brahma Widjhaja. Marco sedang marah-marah kepada penjaga rumah.
“Kemana pelayan itu?” tanya Marco kepada penjaga.
“Kami tidak tahu, Tuan. Tadi siang, Mbok Jum pergi untuk berbelanja, tapi sampai malam begini belum juga kembali,” jelas penjaga rumah itu.
“Bod*h! Kemana perginya wanita tua itu?” Marco kesal setengah mati kepada Mbok Jum. Pasalnya, kini cacing yang ada di perut Marco sedang berdemo minta di isi.
Ia pun membanting baran-barang yang ada di area dapur itu.
“Marco! Apa yang kau lakukan?” Brahma datang dan bertanya kepada Marco.
“Marco akan pergi keluar, Papa. Marco lapar, tapi wanita tua yang bertugas menyiapkan keperluan Marco di rumah ini. Entah pergi mana,” kata Marco dengan wajah kesal. Lalu ia berjalan melalui Brahma begitu saja.
“Ckckk.. Anak ini. Selalu saja,” Brahma memijat keningnya yang terasa berdenyut, akibat melihat tingkah putranya itu.
Setelah kepergian Marco, Brahma meminta salah satu pengawal untuk mencari keberadaan Mbok Jum.
Sedangkan Mbok Jum yang di bantu oleh Mayang, kini ia tengah memasak untuk makan malam Jack, dan Dean.
“Silahkan, Tuan muda,” Mbok Jum meletakan makanan di atas meja.
“Terimakasih, Mbok!” Dean menyahuti perkataan Mbok Jum dengan ramah. Ia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa dia adalah salah satu kelompok Mafia.
Prang.. Suara piring terjatuh ke lantai. Mayang langsung memejamkan matanya, tangannya langsung berkeringat.
Keadaan yang tadinya tenang, berubah mencekam setelah Mayang dengan tidak sengaja menjatuhkan piring yang ia pegang.
Jack yang baru saja hendak menyendok makanannya langsung melirik tajam ke arah Mayang.
“Apa yang kau lakukan, gadis bod*h? Kau ingin membuat selera makan ku hilang?” bentak Jack.
“Ma-maafkan Mayang, Kak,” ucap Mayang dengan lirih. Dengan cepat Mayang duduk dan membersihkan pecahan piring itu. “Auuuchhh,” rintih Mayang saat becahan piring itu mengenai jarinya. Darah pun keluar dari jari telunjuknya itu.
Jack yang melihat kejadian itu hanya memejamkan matanya, “Kembali ke kamar mu! Aku tidak mengizinkan kau menginjak dapur ini!” perintah Jack.
Mayang mendongakkan wajahnya, lalu bangkit dari tempatnya duduk.
“Mbok, suruh pelayan lain yang membersihkannya,” kata Dean kepada Mbok Jum.
“Aku tidak habis pikir, kenapa Jack memperlakukan dua wanita baik ini dengan buruk. Apakah ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Jack?” Batin Dean bertanya-tanya.
Makan malam pun telah selesai, kini Jack dan Dean hendak kembali ke rumah Kakek.
“Kamu, kemari!” Jack memanggil Mbok Jum dengan sebutan kamu.
“Iya, Tuan.” Mbok Jum berjalan menuju tempat Jack dengan tergesa-gesa.
“Beri gadis tadi makan, jangan sampai dia kelaparan,” kata Jack. “Aku akan pergi, ingat! Jangan pernah berfikir untuk kabur. Atau aku akan membuatmu enggan untuk hidup lagi,” ancam Jack kemudian. Mbok Jum pun mengangguk paham.
Keesokan harinya, Jack dan Dean hendak berangkat ke kantor. Tapi mereka di hentikan oleh Sam.
“Apa yang kau lakukan di depan mobilku?” Jack menatap Sam dengan tatapan tajam.
“Tenang, Tuan. Aku ingin ikut ke kantor,” kata Sam dengan wajah santai.
“Atas dasar apa kau ingin ikut denganku ke kantor?” Jack menatap sinis.
“Atas dasar keahlianku yang terpendam,” balas Sam.
Dengan berani, Sam membuka pintu mobil bagian depan dan duduk di sana.
“Pffftt,” Dean menutup mulutnya, berusaha untuk tidak tertawa melihat tingkah Sam yang menurutnya sangat berani kepada Jack.
“Anak sialan!” maki Jack, tapi Jack tidak memperpanjang masalah. Ia segera memasuki kursi bagian belakang.
Mobil sudah melaju, meninggalkan pekarangan rumah kakek yang luas.
“Tunggu dulu!” teriak Jack dengan keras. Matanya melotot, aura wajahnya menunjukan tanda peperangan.
Citt.. Dean menginjak pedal rem dengan mendadak.
“Ada apa, Jack?” tanya Dean, terkejut.
“Kakak, lihatlah anak ini!” tunjuk Jack dengan suara yang kencang.
“Ada apa dengan bocah ini?” Dean memandang Sam yang duduk di sampingnya. Sedangkan yang di bicarakan diam saja, tampaknya ia sudah tau apa yang di bicarakan permasalahkan Jack.
“Apa kakak tidak lihat, dia memakai kemeja dan jasku!” pekik Jack, Dean juga ikut terkejut. Ia tidak meyangka, bahwa bocah yang baru berumur 19 tahun itu sangat berani.
“Kenapa kalian melihatku?” tanya Sam seperti bocah tanpa dosa.
“Kau berani memaki jas, Ku? Dasar bocah kurang ajar!” maki Jack.
“Aku memintanya pada kakek, dan kakek memberiku stelan jas ini,” timbal Sam dengan santai.
“Menyesal aku memungutmu dari Klan Tiger,” ucap Jack. “Ayo kak, lanjutkan saja!” sambung Jack dengan wajah dongkol.
“Sekarang kakak bilang menyesal, tapi sebentar lagi. Kakak akan terkagum-kagum,” kata Sam.
Entah bocah yang bersama Sam itu, hanya nekat atau memang berani terhadap Jack. Atau karena ia memang tak sayang dengan nyawanya. Sebelumnya ia sangat takut kepada Jack, tapi entah kenapa di pagi hari itu ia sangat berani mengeluarkan sikap bar-barnya yang di atas rata-rata.
Tak lama kemudian, mereka bertiga sampai di perusahan B. Sam pun ikut masuk tanpa di persilahkan.
Dean geleng-geleng kepala melihat tingkah Sam yang sangat tengil itu.
“Kakak, kenapa kak Jack selalu memakai topengnya? Apakah wajahnya begitu jelek?” bisik Sam yang berjalan di samping Dean.
“Diamlah! Dia sangat menyeramkan jika berada di kantor, jangan menyinggungnya. Atau kau akan di sepak seperti aku,” bisik Dean. Ia membalas ucapan Sam.
“Hahaha,” tawa Sam pecah. Seluruh karyawan memandang ke arah mereka dengan pandangan aneh.
“Jika kalian tidak bisa bekerja dengan serius, silahkan kembali!” Jack yang berkepribadian ganda itu mulai merubah sikapnya lagi.
“Kan, apa yang aku katakan. Kontrol lah dirimu, atau kau akan kehilangan nyawa,” bisik Dean, Sam pun hanya bisa keneguk Slavina nya dengan kasar.
Sam mengikuti Jack dan Dean ke ruangan mereka. Ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Kakak, apa ada perusahaan yang kalian incar saat ini?” tanya Sam pada Jack dan Dean.
“Apa maksudmu?” Jack mengangkat kepalanya yang fokus pada laptop di hadapanya.
“Jika ada perusahaan yang kalian inginkan, Aku Samuel tampan bisa membantu!” ujar Sam dengan percaya diri.
“Memang kau bisa?” tanya Dean.
“Jika tidak di coba, aku belum bisa memastikan,” kata Sam sambil mengusap asbak yang ada di hadapannya.
“Coba kau cari tahu data-data mengenai perusahan F milik Gunawan Hendarso.” Dean sengaja memancing apa yang akan di lakukan bocah tengil itu.
“Pinjam salah satu komputer!” pinta Sam.
“Jangan komputer yang ada di ruangan ini, kau minta saja pada karyawan yang ada di luar,” kata Dean. Sedangkan Jack pura-pura fokus dengan pekerjaannya, padahal ia juga penasaran dengan apa yang akan di kerjakan oleh Sam.
Sam segera berjalan ke luar ruangan, ia pun memanggil salah satu karyawan.
“Hust.. Hust.. Cantik!” panggil Sam dari pintu ruangan Jack dan Dean, kepada salah satu karyawan wanita.
“Saya?” tunjuk karyawan itu pada dirinya sendiri.
“Iya, kamu. Masa hantu,” kata Sam. “Tolong bantu aku, aku butuh itu!” tunjuk Sam pada wanita itu.
Perkataan ambigu Sam, membuat wanita itu salah paham dan salah tingkah. Pasalnya Sam menunjuk area depannya.
“Apa yang kau pikirkan? Cepat kemari!” perintah Sam. Wanita itu segera berjalan dengan tergesa.
Tangan Sam berjalan mendekat pada bagian depan wanita itu. “Pak, tolong jangan di sini. Banyak orang,” kata karyawan itu.
“Memangnya aku mau apa?” Sam langsung menyambar laptop yang di dekap wanita itu di dadanya. “Dasar wanita mesum!” Sam meninggalkan wanita itu, dan kembali masuk ke ruangan Jack.
Apa yang akan di lakukan Samsul dengan laptop itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟMisty_
astogeh sam bikin galfok kau wkwkwkkw
2022-06-17
0
@♕🍾⃝𝙾ͩʟᷞıͧvᷠεͣᵉᶜw⃠❣️
Sam bikin ngakak
2022-05-14
1
𝕾𝖆𝖒𝖟𝖆𝖍𝖎𝖗
bacanya berasa manggil diri sendiri wkwkwk
2022-04-27
2