Pagi itu, Keluarga Widjhaja sedang sarapan bersama.
Suasana canggung menyelimuti Rahmat, ia tak berani mengangkat kepalanya atapun menyapa kedua orang yang ada di hadapannya itu.
“Rahmat, angkat kepalamu! Jangan sampai kepalamu membentur meja,” kata sang papa sambil tersenyum.
“I-iya, Pa-pa,” kata Rahmat terbata.
Lagi-lagi Rahmat hanya bengong. Ia melihat cara tuan Brahma memegang garpu dan pisau kecil.
Tuan Brahma menyadari hal itu, “Apa lagi yang kau lihat? Menatap makananmu, milik papa dan juga milik kakakmu secara bergantian?”
“Jangan bilang kamu gak bisa makan pakai sendok, garpu dan juga pisau kecil ini?” Ujar kembaran Rahmat dengan muka bantalnya. Pasalnya ia baru saja bangun dari tidurnya, itupun tidak bangun jika tidak di paksa sang papa.
Rahmat hanya nyengir kuda saat mendengar perkataan kakaknya itu.
“Ckkk.. Sudah ku duga,” kata kembaran Rahmat sambil mencebikkan wajahnya.
Dengan lambat, Rahmat mencoba memakan makanan yang ada di piring nya tanpa menggunakan alat makan. Membuat kembarannya tidak jadi menyantap makanannya.
Rahmat menyadari hal itu, lalu segera meminta maaf. “Maafkan saya,” ucapnya sembari menundukkan kepalanya. “Kalau begitu, saya akan makan di dapur saja bersama si Mbok,” Rahmat segera berdiri dan mengakat piringnya lalu berjalan menuju dapur.
“Tetap di sini, habiskan makananmu,” kata sang papa pada Rahmat.
“Papa!” protes kakak kembarnya.
“Apa? Ini perintah papa, kamu tidak boleh membantah!”
Rahmat tidak jadi pergi ke dapur, ia kembali mendudukan bokongnya di kursi tempat ia semula duduk. Namun sebelum duduk, ia melirik saudara kembarnya itu.
“Aku tidak jadi makan. Kalau begitu, aku akan lanjutkan tidur.” Kata kembaran Rahmat sambil berdiri dan pergi dari ruangan makan itu.
Tuan Brahma memijat kepalanya yang terasa nyeri. Ia bingung harus bersikap seperti apa saat ini, di satu sisi ada Rahmat yang akan berguna untuk nya. Dan di satu sisi lagi, ada putra sulungnya yang selama ini selalu ia manjakan.
“Maafkan Rahmat, Papa, sudah membuat kakak marah di pagi hari ini,” kata Rahmat sambil terus menundukkan kepalanya.
“Tidak perlu meminta maaf, cepat habiskan sarapanmu. Sebentar lagi, Li akan datang dan akan membawamu keluar,” Kata sang papa.
Sarapan pun selesai, Tuan Brahma segera pergi menyusul putra sulungnya yang pergi menuju kamar. Sedangkan Rahmat, jangan di tanya. Ia malah membantu si mbok beberes dapur.
“Tuan kedua, biar Mbok saja,” kata si mbok yang hendak mengambil piring kotor dari tangan Rahmat.
“Biar Rahmat saja, mbok. Rahmat sudah biasa,” kata Rahmat dengan sopan.
Mbok Jum termagu mendengar penuturan Rahmat, sungguh dua karakter yang berbeda. Kedua tuan mudanya itu hanya mirip wajahnya saja, tapi kepribadian dan perilaku mereka sangat jauh berbeda.
“Perilaku anak ini sopan sekali,” guman mbok Jum.
Sedangkan di lantai atas. “Kamu harus memperlakukan Rahmat dengan baik, tidak ada yang bisa membantu kita selain dia.” Jelas sang papa.
“Ckk.. Pria seperti dia, papa bilang akan berguna! Mata papa rabun,” kata kembaran Rahmat sambil menutup kepalanya menggunakan bantal. “Sudah sana papa pergi!” usirnya kemudian.
“Dengarkan, papa! Untuk sementara kau jangan kemana-kemana, dan perlakukan dia dengan baik.” Tuan Brahma keluar dan menutup pintu putranya itu.
Di lantai bawah, Asisten Li sudah datang dan menunggu Rahmat menyelesaikan pekerjaan mencuci piring kotor yang semula Rahmat kerjakan.
“Rahmat, segeralah bersiap! Li sudah menunggumu, biarkan pelayan yang menyelesaikan pekerjaan itu! Itulah gunanya kenapa papa menggaji mereka,” kata tuan Brahma sambil menuruni anak tangga rumah itu.
Rahmat hanya menoleh pada sang papa, lalu kembali fokus pada cucian piring nya.
“Sudah, tuan muda kedua. Biar mbok saja, nanti mbok kena marah,” kata Mbok Jum.
“Sedikit lagi, mbok. Tuan Brahma tidak akan memarahi mbok, karena bukan mbok yang menyuruh Rahmat.” Rahmat menyusun piring terakhir yang ada di tangannya.
Setelah selesai mencuci piring, Rahmat meraih lap untuk mengelap tangannya agar kering. Lalu ia segera kembali ke lantai atas untuk berganti pakaian.
“Tunggu sebentar ya, Paman. Saya ganti pakaian dulu,” katanya kepada Li.
“Silahkan, saya akan menunggu,” Li berdiri di bawah tangga. Menunggu Rahmat yang naik kelantai atas rumah itu.
“Li, kau ajak dia berkeliling. Berikan apapun yang dia inginkan,” kata tuan Brahma.
“Baik, Tuan.” Jawab Li patuh.
Tak lama kemudian, Rahmat telah selesai berganti pakaian. Ia pun segera turun dari lantai atas, ia takut Li akan lama menunggunya. Jadi ia turun dengan tergesa-gesa.
“Tuan muda kedua, tidak perlu terburu-buru seperti itu!” seru Li saat melihat Rahmat tergesa-gesa.
“Ayo, Paman. Aku sudah siap,” kata Rahmat tanpa menghiraukan ucapan Li.
“Mari,” kata Li.
“Li, perlakukan dia sama seperti tuan muda pertama!” ujar tuan Brahma pada Li. Li pun mengangguk, sepertinya ia sangat paham dengan maksud dari tuan Brahma.
Li pun membawa Rahmat menuju Mall, ia menawarkan segala macam barang. Namun Rahmat menolak semua yang di tawarkan oleh Li.
“Tuan muda kedua, silahkan pilih apapun yang anda inginkan,” kata Li pada Rahmat.
“Tidak, Paman, saya tidak menginginkan apapun.” Tolak Rahmat.
Li pun terdiam, ia seolah memikirkan hal lain. “Karakter anak ini jauh berbeda dengan tuan muda, lalu bagaimana aku harus melakukan nya?” batin Li sambil menatap lekat wajah Rahmat.
Rahmat selalu tersenyum saat bertemu dengan orang lain, bahkan ia selalu membalas sapaan orang lain itu.
“Tuan muda Widjhaha,” sapa seorang gadis. Dan Rahmat langsung membalasnya dengan senyuman.
“Ya tuhan, tuan muda Widjhaja berbeda sekali. Ia terlihat lembut dan sangat ramah, tidak seperti biasanya,” kata seorang gadis pada temannya.
Li yang mendengar hal itu langsung berdehem dengan keras, hingga membuat para wanita yang membicarakan tuan mudanya itu berhenti.
“Ehem..” “Tuan muda kedua, anda tidak perlu tersenyum kepada orang lain. Apapun orang yang tidak anda kenal,” kata Li yang sepertinya sangat tidak senang.
“Tapi kenapa, Paman?” tanya Rahmat pada Li. Ia tidak paham kenapa Li berkata seperti itu.
“Turuti saja perintah saya, atau para wanita itu akan mengikuti kemanapun tuan muda kedua pergi,” kata Li. “Mereka tidak akan membiarkan tuan muda kedua tenang,” sambungnya.
“Jika anak ini bersikap seperti itu, maka semuanya akan sia-sia,” batin Li.
“Ada apa dengan, paman Li? Kenapa dia kelihatan sangat tidak senang?” batin Rahmat bertanya-tanya.
Di pikiran Rahmat, mulai muncul pikiran pikiran negative. Namun sesegera mungkin ia menepis pikiran buruk itu.
“Apakah tuan muda kedua tidak ingin membeli pakaian atau hal semacamnya?” tanya Li pada Rahmat. Ia tidak ingin anak itu berfikiran buruk padanya. Jadi ia mencoba menghilangkan kecanggungan.
“Tidak, paman. Sudah saya katakan saya tidak ingin membeli apapun,” ucap Rahmat. “Bisa bertemu dengan papa dan saudara kembar saya saja, saya sudah sangat senang. Dan semua itu sudah sangat cukup untuk saya,” sambung Rahmat. Lagi-lagi membuat Li termagu.
“Bagaimana ini?” lagi-lagi Li membatin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Reo Hiatus
Seperti orang bodoh ya. Ayolah rahmat. cepat pergi dari situ😷😷😷
2022-05-15
0
Kin☀
li kenapa yaa masa Rahmat senyum ke banyak orang dia gk senang pasti ada yang di sembunyikan 👀
2022-05-14
3
Beast Writer
jgn mau disogok Rahmat
2022-05-14
0