“Tuan, di luar ada Tuan Brahma pemimpin dari perusahaan A. Beliau telah beberapa kali mengirim utusan kemari, tapi kali ini beliau datang bersama Asistennya,” jelas Sekertaris dari kakek Petter sebelumnya.
“Brahma?”
“Benar, Tuan.”
“Suruh dia masuk!” perintah Jackson. Sekertaris itu segera keluar dari ruangan Jack dan Dean.
“Jack, kau gila! Jangan bilang kau akan menyetujui kerja sama yang Brahma ajukan!” protes Dean sambil bersandar di kursi putar miliknya.
“Diamlah! Aku tahu apa yang akan aku lakukan,” Jack berkata dengan santai.
“Aku sekarang tidak mengerti denganmu Jack, Idemu seperti muncul tiba-tiba saja. Kau lebih keras dari yang aku bayangkan,” kata Dean.
“Hidup seseorang berubah setelah melalui beberapa proses, Kak. Tapi terkadang proses yang di lalui beberapa orang adalah proses yang sulit dan juga pahit! Hingga membuat perubahan itu terasa dan terlihat jauh berbeda!” kata Jack dengan wajah yang begitu serius.
“Ahhh... Adek meleleh bang,” ucap Dean sambil merentangkan tangannya dengan wajah yang di buat-buat menjadi selimut mungkin.
Pletak.. Jack melempar kepala Dean menggunakan pulpen yang ada di atas mejanya.
“Jack!” mata Dean melolot seperti menantang permusuhan. Tapi tentunya ia pura-pura, niatnya agar Jack tidak terlalu formal saat bersama dirinya.
Tok.. Tok.. Tok..
“Masuk!” sahut Jack. Mendengar ketukan pintu, Dean segera membenahi duduk dan juga dasi yang ia kenakan. Expresi lucu yang semula ia tunjukan, kini telah berubah menjadi expresi serius yang dingin.
Jack mencebikan bibirnya saat melihat Brahma memasuki ruangan itu bersama dengan Li.
“Selamat si-,” ucapan Brahma terpotong saat melihat orang yang duduk di kursi kebesaran Presdir itu.
“Kenapa ucapanmu terpotong? Apakah Tuan Brahma terkejut melihat saya?” tanya Jack sambil menyunggingkan senyumannya. “Apakah anda mencari Tuan Petter?” tanya Jack kemudian.
“Benar, kami mencari Tuan Petter,” jawab Brahma.
“Silahkan duduk! Saya tidak terbiasa membiarkan orang yang ada di hadapan saya, berdiri seperti anda,”
Brahma dan Li segera menarik dua kursi yang ada di hadapan Jack dan duduk di sana.
“Sebelumnya, perkenalkan saya adalah Brah-“
“Brahma Widjhaja, pemimpin perusahan A. Dan dia, adalah Lian, Asisten pribadi mu!” Jack mencela perkataan Brahma. Hingga membuat Brahma kesal setengah mati.
Setelah setengah jam berada di ruangan Jack, akhirnya Brahma dan Li keluar juga dari ruangan itu.
“Bagaimana? Apakah tuan Brahma setuju?” kini Dean yang angkat bicara.
“Maaf, Tuan. Seharunya keuntungan perusahaan saya, di sama ratakan dengan perusahaan milik, Tuan.” Tuan Brahma tidak terima dengan syarat yang di ajukan oleh Jack dan juga Dean.
“Jika ingin kerja sama ini terjalin, hanya itu satu-satunya syarat yang kami inginkan! Kami akan menjadi pemegang saham 75% dan perusahaan kalian 25%,” kata Dean.
“Li, ayo..” ajak Brahma pada Li. “Kalau begitu, kami permisi dulu,” Brahma pun segera meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Brahma, Dean menjadi sangat senang. Sikap aslinya pun ia tunjukan kembali.
“Wow, Jack. Kau sangat hebat, tak terpikir olehku untuk melakukan hal ini,” kata Dean sambil berjalan dan duduk di pojok meja kerja milik Jack.
“Aku hanya ingin bersenang-senang sebentar saja dengan pria itu, aku sangat puas melihat wajahnya yang kesal.” Jelas Jack.
Sedangkan di dalam mobilnya, Brahma sedang meluapkan emosinya.
“Sialan! Siapa kedua pemuda itu? Kenapa mereka bisa menggantikan Tuan Petter?”
“Mereka berdua adalah cucu dari tuan Petter,” jawab Li “Dan juga, mereka adalah orang-orang yang melakukan pembantaian beberapa minggu terakhir ini,” jelas Li
“Bagaimana bisa kita mengajak mereka berkomplot, sedangkan mereka adalah cucu dari pemilik perusahaan yang sedang kita targetkan!” Brahma memijat batang hidungnya. Ia pusing bagaimana cara mendapatkan TANDDER besar milik perusahaan B.
Li tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya diam dan fokus menyetir mobil.
Sore harinya, di perusahaan B.
“Kak, pulanglah lebih dulu. Aku masih ada perlu di luar,” kata Jack sambil mengemas barangnya.
“Kau ingin ke apartemen menemui gadis itu?” tanya Dean sambil memainkan kunci mobil yang ada di tangannya.
“Hmm..” Jack hanya ber hmm.
“Aku ingin ikut bersamamu ke apartemen,” kata Dean.
“Pulanglah dulu, katakan pada kakek jika aku ke apartemen. Dan katakan juga, aku memintamu menyusul. Agar kau di izinkan pergi,” ucap Jack.
“Baiklah, Tuan Jackson. Asisten mu ini akan menuruti perintah. Kalau begitu, saya undur diri terlebih dahulu. Nanti saya akan menyusul anda, jika sang kakek tidak mengurung saya di dalam rumah,” kata Dean sambil mencebikkan bibirnya ke kiri lalu ke kanan.
“Hahaha. Memang benar, kak. Kau seperti tahanan rumah semenjak ada aku,” Terbahak lah Jack, ia merasa lucu dengan expresi kesal yang di tunjukan Dean.
Di apartemen, salah satu anak buah Jack. Sedang memaksa Mayang untuk makan. Tapi Mayang selalu menolak dan memaksa minta di lepaskan.
“Tolong patuh lah! Makan makanan ini, jika tidak King akan memarahi kami,” kata anak buah Jack.
“Aku tidak ingin makan, aku hanya ingin di bebaskan dari tempat ini. Aku tidak ingin menjadi tawanan,” Mayang berteriak dengan kencang. Membuat anak buah Jack menutup telinga.
“Biarkan dia mati kelaparan di tempat ini!” suara seseorang dari ambang pintu kamar, di mana tempat Mayang di kurung.
“King. Kami sudah beberapa kali memberinya makan, tapi gadis ini selalu menolak,” adu anak buah Jack itu.
“Biarkan saja, kau pergilah dulu. Aku ingin bicara padanya,”
“Baik, King!” dengan patuh, anak buah Jack segera keluar dari kamar itu.
Jack mendekati Mayang yang duduk di ujung ranjang, tanpa berkata apa-apa.
“Kak Rahmat, aku tau ini kamu. Walaupun orang lain tak mengenali dirimu yang sekarang. Tapi aku tahu, ini kamu, kamu yang aku cari dan tunggu. Walaupun kamu bilang kamu bukanlah Rahmat, tapi hatiku tidak dapat di bohongi,” ucap Mayang dengan lirih.
Jack melepaskan topeng yang ia pakai. “Dengar kan aku Mayang, aku juga selalu mengingatmu. Kamu Mayangku, aku mencintaimu!” Jack merentangkan tangannya, Mayang pun menghambur ke pelukan Jack.
“Aku tau, kak Rahmat masih sama. Mayang bahagia,” kata Mayang. Jack menyunggingkan sedikit senyumannya sambil mendekap tubuh Mayang.
“Ayo, kak. Kita tinggalkan tempat ini, Mayang tidak ingin di sini!”
“Hahaha.. Siapa yang ingin pergi bersamamu? Dasar gadis bodoh!” Jack melepaskan pelukannya pada tubuh Mayang.
“Kau pikir aku benar-benar mencintai dan menyukaimu?”
“Apa maksud Kak Rahmat?” Mayang mendongakan wajahnya pada wajah Jack.
“Kau pikir kan? Apa pantas kau untuk ku? Kau pantas untuk di cintai? Aku Jackson tidak akan tunduk karena cinta! Aku tidak butuh cinta!” geram Jack sambil mencengkram pipi Mayang dengan keras.
Menetes lah air mata Mayang yang sejak tadi sudah menganak sungai. Ia menangis bukan karena cengkraman Jack yang begitu kuat. Tapi ia merasa sakit pada hatinya, hati yang tulus menunggu tuannya untuk datang menjemput, tapi di patahkan begitu saja.
“Kau mematahkan hatiku, Kak. Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan bertahan sampai saat itu tiba,” kata Mayang sambil meringis menahan sakit pada wajahnya yang di cengkram oleh Jack.
“Menangis lah! Menangis lah dengan kencang, aku akan menikmati setiap air matamu yang jatuh dan terbuang. aku akan menganggap penderitaanmu saat ini sebagai cicilan hutang ayahmu di masa lalu!” Jack melepaskan tangannya dari wajah Mayang. Setelah itu ia pergi meninggalkan Mayang sendirian.
Dan ternyata, semua perbuatan Jack pada Mayang. Di lihat oleh Dean, saat melihat Jack hendak keluar dari kamar itu. Dean segera pergi lebih dulu.
“Tak ku sangka, hati Jack berubah sekeras batu,” guman Dean sambil mengedip-ngedipkan matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟMisty_
rasa kecewa mengubah karakter orang,😬
2022-06-10
0
🎧Reo Ruari Onsiwasi
hidup yang ia jack jalani juga keras. jadilah ia seperti itu
2022-05-18
0
@♕🍾⃝𝙾ͩʟᷞıͧvᷠεͣᵉᶜw⃠❣️
aku kitao bnrn Jack suka mayang
2022-05-14
1