“Dia berubah begitu cepat, kakek,” kata Dean kepada kakek sambil memandangi Jack yang sedang berlatih menembak.
“Sudah kakek katakan, dia berbakat dan memiliki kemampuan seperti mendiang kakeknya,” ujar kakek Petter.
“Kakek benar, hanya dengan waktu sesingkat ini. Dia sudah benar-benar menjadi orang yang berbeda,” Dean terpana pada keahlian Rahmat yang sudah berubah menjadi Jackson itu. Ia tidak menyangka sama sekali, jika Rahmat memiliki keahlian yang jenius.
Dor.. Suara tembakan terakhir di lepaskan oleh Jack, sebagai tanda berakhirnya latihan itu.
Jack segera meraih jaket levisnya, lalu segera menghampiri kakek dan Dean.
“Bagaimana penampilanku saat berlatih, kak, kek?” tanya Jack, meminta pendapat pada kedua orang yang sejak tadi melihatnya berlatih.
“Kau sangat hebat, Jack. Semoga kelak kau dapat membalaskan dendamku teruntuk sahabatku itu,” kata kakek dengan wajah yang berubah sendu, kala ia mengingat kematian Marcus dengan cara yang tragis.
Kematian dengan tubuh membiru juga lubang hidung, telinga dan mulut yang mengeluarkan darah. Sungguh kematian yang sangat mengerikan , di saat Brahma tidak mampu melawan ayah mertuanya menggunakan kekuatan. Ia malah menggunakan cara licik dengan meracuni Marcus, kakek dari Jackson itu.
“Kakek tenanglah, aku cucu dari Marcus Morren. Akan membalas pecundang itu, akan ku buat setiap detik hidupnya bagaikan berada di neraka!” sorot mata Jackson menujukan kebencian yang mendalam.
“Sekarang, ayo kita kembali ke dalam,” ajak kakek pergi dari halaman yang ada di belakang rumah itu.
Kakek Petter, Dean dan juga Jackson segera beranjak dari halaman yang luas itu.
Saat malam hari.
“Mau kemana kau, Jack?” tegur kakek Petter.
“Aku ingin keluar sebentar, tidak akan lama!” sahut Jack sambil menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.
“Jangan terlalu larut!”
“Aku hanya pergi sebentar, kek. Percayalah!”
Awal kakek memperlakukanya seperti anak kecil, Jackson seringkali merasa kesal pada kakek Letter. Ini jangan lama-lama, itu hati-hati. Tapi lama kelamaan, Jackson mulai memahami jika kakek tidak bermaksud untuk mengekangnya. Melainkan kakek khawatir dengan keadaannya.
Yang Jackson lihat, kakek tidak pernah membeda-bedakan dirinya dan Dean. Dean yang umurnya jauh lebih tua dari dirinya pun masih di anggap kakek Petter seperti anak kecil.
“Kau juga ingin kemana, Dean?” melihat Dean yang keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa, kakek Letter langsung melemparkan pertanyaan.
“Kakek kenapa belum tidur?” tanya balik Dean.
“Aku bertanya padamu, mau kemana?” mata tua kakek Petter melotot pada Dean.
“Aku ingin ke Club Butterfly black, mencari angin segar,” jawab Dean.
“Kembali ke kamarmu!” perintah kakek Petter pada Dean.
“Tapi kek, Jack saja di izinkan keluar. Kenapa aku tidak?” protes Dean dengan wajah kesal.
“Kau dan Jack berbeda, musuh tidak mengenali wajah Jack. Tapi wajahmu itu sudah pasaran!” kakek sangat geram kepada Dean, ia tidak ingin cucunya itu mengalami hal serupa seperti terakhir kali ia pergi ke Club.
“Apa kau lupa, hah? Dengan hal yang terjadi terakhir kali saat kau pergi ke Club? Kau tidak pulang ke rumah selama seminggu, untung saat itu Jack menolongmu di dalam gedung tua kosong itu!” Jelas kakek dengan suara keras. Membuat nyali Dean menciut. “Sekarang kembali ke kamar!”
Dean segera kembali dengan wajah kesal, tapi ia tetap menuruti kakek Petter. Karena baginya perintah kakek adalah keharusan yang tidak bisa di tolak atapun bantah.
“Aku tidak di izinkan, kakek ke luar rumah😭,” Dean mengirim chat pada Jackson.
“Itu deritamu wahai kakakku yang malang.” Balas Jackson.
“Kau tega sekali, Jack!” kesal Dean.
“Sudah lah, jangan bersedih dan menangis. Besok aku akan membawamu ke Club itu, kakek pasti mengizinkan,” balas Jackson lagi.
Saat ini, Jackson sedang bersandar di samping mobilnya yang terparkir di depan sebuah Kasino (Perjudian). Ia berniat ingin masuk ke tempat itu. Tak lupa, ia sudah mengenakan topeng hitam yang menutup sebagian wajahnya, agar identitasnya tidak di ketahui orang lain.
Tap.. Tap.. Tap.. Ia memasuki Kasino itu dengan kedua tangan yang ia sembunyikan di dalam kantung span yang ia kenakan.
Cukup lama ia berada di tempat itu, hingga akhirnya mengundang perdebatan dan berujung perkelahian.
“Bajingan tua yang menjijikan, tidak mau menerima kekalahan. Malah menyalahkan orang lain bermain curang,” kata Jackson yang duduk santai di kursi yang ada di depan meja perjudian.
“Dasar bocah tengik! Berlagak pintar dan sombong,” kata pria tua yang kalah bermain judi bersama Jackson.
“Serahkan uang itu, jika tidak aku akan memerintah anak buahku untuk membunuhmu!”
“Kerahkan saja seluruh anak buahmu, kita akan lihat apa yang bisa mereka lakukan terhadapku,” ucap Jackson.
“Sialan! Kalian semua, cepat maju. Habisi pemuda sialan ini!” pria tua itu memerintah anak buahnya untuk menghabisi Jackson.
Semua anak buah pria tua itu, maju untuk menghabisi Jackson. Membuat keadaan Kasino itu riuh, para pengujung Kasino yang tidak bersangkutan dengan keributan itu segera membubarkan diri.
Pak, buk..
Suara pukulan dan juga tinjuan terdengar, para anak buah pria tua itu bertumbangan satu persatu dan kini hanya tersisa dua orang.
“Majulah!” tantang Jackson, kedua orang yang ada di hadapannya itu pun maju dengan tepaksa.
Saat salah satu dari mereka berdua hendak menyerang Jackson. Tiba-tiba Jackson menangkap pergelangan tangan orang itu, lalu memutar nya.
Crakc..”Aduh, sakit!” pekik pria itu saat tangan pria itu seakan-akan serasa ingin patah.
“Baimana, pak tua?” tanya Jackson kepada pria tua yang anak buahnya telah di tumbangkan Jackson.
“Heh,” pria tua itu mendengus. Lalu pergi meninggalkan Kasino itu. “Ake belum, dan kita pasti akan bertemu lagi.
Setelah itu, Jackson menuju ke meja perjudian, dan mengambil semua hasil judi yang ia dapatkan.
“Jika masih ada yang berani mengalangi aku, maka akan ku patahkan tangannya seperti mereka!” tunjuk Jackson pada anak buah pria tua sebelumnya tadi.
Semua orang yang ada di Kasino itu hanya bisa menunduk. Termasuk pemilik Kasino itu.
Setelah itu, Jackson segera bergegas pergi. Orang-orang saling bertanya satu sama lain, mengenai siapa pemuda bertopeng itu.
“Siapa pemuda itu?”
“Dia baru pertama kali ie tempat ini, tapi sudah mendapatkan keuntungan yang begitu banyak,”
“Dia hebat sekali,”
Begitulah perkataan orang-orang yang bertujuan kepada Jackson. Sedangkan Jackson, ia segera pulang ke rumah. Takut kakek akan memarahi dirinya, seperti Dean.
“Kau sudah pulang, Jack?” tanya kakek yang bersandar di kursi kayu.
Jackson yang berjalan dengan menggigit sebatang korek kayu di mulutnya langsung memandang ke arah suara tua itu. “Kakek?”
“Kau dari mana?”
“Dari tempat perjudian,” jawab Jackson singkat.
“Apa yang kau cari di tempat itu?”
“Uang dan juga hiburan,” kata Jackson. Lalu, ia mendekati kakek dan membuka jaket yang ia pakai.
“Lihatlah, kek!” Jackson memperlihatkan uang yang ia masukan kedalam kantung jaket besar yang ia pakai.
“Simpanlah, kakek tidak meminta dan tidak butuh!” kakek mendorong tubuh Jackson. Bangkit dan pergi menuju kamarnya.
“Sikap anak ini persis seperti Marcus, hangat di dalam lingkungan orang yang ia sayangi. Tapi mengerikan untuk orang luar,” guman kakek sambil berjalan menggunakan tongkatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
@♕🍾⃝𝙾ͩʟᷞıͧvᷠεͣᵉᶜw⃠❣️
lah Rahmat jadi Jack Mana jago main judi keren
2022-05-14
1
IG: Saya_Muchu
Semangat thor
2022-05-14
2
Tobeli Hiatus 💞
kak kek disingkat jadi = KAKEK🤣🤣
2022-05-13
3