“Astaga!” kejut Rahmat hingga membuat orang yang melemparkan jaket ke atas meja, memandangnya.
“Kamu siapa?” orang itu mengucek matanya. “Aku berhalusinasi atau bagaimana?” Ia berjalan mendekati Rahmat. Menepuk pipi Rahmat dan pipinya sendiri secara bergantian.
Rahmat yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam saja, ia malah fokus kepada wajah orang sedang menepuk pipinya itu.
Bau Alkohol sampai ke indra penciuman Rahmat. “Ini nyata atau mimpi? Kayaknya aku kebanyakan minum deh,” orang itu pergi meninggalkan Rahmat. Dan berjalan menuju sofa.
“Papa.. Pa..” panggil orang itu sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. “Papa payah, anak pulang gak di sambut,” racaunya.
Rahmat yang melihat hal itu, memberanikan diri untuk mendekati seseorang yang ia duga adalah kakaknya itu. Ia melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki saudaranya. Setelah itu, ia segera kembali ke kamarnya.
Di dalam kamarnya, Rahmat tak dapat memejamkan mata. Pikirannya melayang jauh, raga nya berada di dalam kamar barunya yang mewah. Namun jiwanya melayang entah kemana. Ia menatap kosong langit-langit kamar itu.
“Benarkah dia papa dan juga saudara kembarku? Apa alasan papa meninggalkan ku dan Ibu di desa? Kenapa hanya satu di antara kami yang papa bawa pergi? Kenapa?” hatinya mulai bertanya-tanya.
“Jika papa memang dengan terpaksa meninggalkan aku dan Ibu, kenapa setelah dia meraih kesuksesan dia tidak menjemput kami? Bahkan sampai ibu menghembuskan napas terakhirnya, papa tidak juga kembali untuk kami. Banyak yang tidak aku pahami di sini, kenapa papa pergi dan kenapa setiap kali aku bertanya apa alasan papa pergi meninggalkan kami, ibu tak pernah mau memberi tahu.”
Flashback on
“Rahmat, setelah ibu tiada nanti. Cari lah ayah dan juga saudara kembarmu yang ada di Jakarta,” kata ibu Rahmat sebelum ia meninggal.
“Rahmat masih punya ayah dan juga saudara kembar, Bu?” tanya Rahmat dengan wajah keterkejutannya.
“Iya, Nak. Kalian di pisahkan saat kalian baru berumur 11 bulan,” kata ibu Rahmat.
“Tapi kenapa, Bu? Kenapa kami harus di pisahkan?” tanya Rahmat lagi.
“Ibu tidak bisa memberikan jawabannya padamu, pinta lah penjelasan pada ayahmu saat kalian sudah bertemu,” kata ibu Rahmat lagi. “Sekarang ibu sudah lega, karena kamu sudah mengetahui bahwa kamu tidak di lahirkan sendirian. Dan ibu bisa pergi dengan tenang,” sambung ibu Rahmat sembari tersenyum.
“Ibu tidak boleh berkata seperti itu, Rahmat masih butuh ibu. Ibu pasti akan sembuh, kita akan cari ayah dan juga saudara Rahmat sama-sama,” ucap Rahmat sambil memeluk erat tubuh ibunya yang kurus karena menderita sakit sakitan.
“Waktu ibu sudah tidak banyak lagi, Nak. Tolong ambilkan kotak kayu yang ibu simpan di lubang yang ada di bawah lemari itu,” pinta ibu Rahmat padanya.
Rahmat pun mengambil kotak kayu yang di maksud sang ibu. Lalu memberikan kotak itu pada ibunya.
Ibu Rahmat membuka kotak tersebut lalu memberikan isinya kepada Rahmat. “Apa ini, Bu?” dua buah kalung perak dengan liontin masing-masing seperti bulan sabit yang jika di satukan akan berbentuk menjadi bulan yang sempurna.
“Pakailah salah satunya, dan jika nanti kau bertemu dengan kakakmu. Berikan lagi yang satunya,” ucap ibu Rahmat dengan suara yang kian melemah. “Sampaikan ucapan permintaan maaf ibu padanya, maaf jika ibu tidak bisa memberikan kasih sayang padanya, tidak bisa membersakan nya. Maafkan ketidak berdayaan ibu ini,” kata ibunya lagi.
“Rahmat akan mencari mereka demi ibu,” ucap Rahmat dengan yakin.
“Pintalah keadilan pada ayahmu, dia bernama Brahmana Widjhaja,” Setelah berkata demikian, ibu Rahmat menghembuskan napas terakhirnya. Rahmat menangis terisak, ia sangat terpukul kehilangan sosok ibu yang sangat ia sayangi dan cintai.
“Ibu, jangan tinggalkan Rahmat. Rahmat tidak bisa tanpa ibu,” kata Rahmat dengan berlinang air mata.
Flashback off
Rahmat segera bangkit dari ranjangnya, lalu segera mencari benda pemberian mendingan ibunya yang berupa kalung bulan sabit itu.
“Untung masih ada,” ucapnya lalu menyimpan benda itu lagi.
“Besok aku harus meminta penjelasan pada Papa,” katanya lagi. Lalu Segera beristirahat.
“Bagaimana dengan anak itu, Li?” tanya tuan Brahma kepada Li. Orang kepercayaannya itu.
“Sepertinya dia sudah beristirahat, Tuan,” kata Li yang berdiri di hadapan meja kerja tuan Brahma.
“Bagus, perlakukan dia dengan baik. Jangan biarkan dia kekurangan apapun, jika saatnya tiba nanti kita akan memberitahu dia,” ucap tuan Brahma sambil menyulut sebatang rokok lalu menghi*ap rokok itu perlahan. Menikmati setiap his*pan asap dari rokok tersebut.
“Tapi bagaimana jika anak itu menolak, Tuan?”
“Jika dia menolak, gunakan cara lain!” ujar tuan Brahma.
“Baik, Tuan. Saya yang akan mengurus semuanya.” Kata Li, setelah itu Li pamit pergi.
“Li..” panggil tuan Brahma pada Li.
Li yang baru sampai di ambang pintu ruangan kerja tuan Brahma itu kembali membalikan tubunya.
“Ya, Tuan?”
“Besok kau bawa anak itu berkeliling, belikan barang apa saja yang ia inginkan,” kata Tuan Brahma.
“Baik, Tuan.”
“Kalau begitu pergilah,” ucap tuan Brahma.
***
“Orang itu bernama Rahmat, kakek,” kata seseorang kepada pria tua yang tak lain adalah kakeknya.
“Dari mana asal anak itu?” tanya sang kakek sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa.
“Dia bilang dia berasal dari Desa, datang kemari untuk mencari ayah dan juga saudaranya,” kata orang itu yang tak lain adalah Dean. “Tapi, Dean seperti tidak asing dengan wajah itu!” sambung Dean.
“Maksudmu?” tanya sang kakek.
“Begini kakek, apakah kakek mengenal putra tunggal tuan Brahma? Pengusaha terkaya dengan daftar nomer 3 di Kota ini,” kata Dean kepada kakeknya.
“Putra tunggal Brahmana Widjhaja maksudmu?”
“Benar kakek, sepertinya Tuan Brahma memiliki putra kembar. Dan salah satunya adalah anak itu, yang telah menyelamatkan Dean,” kata Dean lagi. Dean tersenyum sendiri saat mengingat perkataan Rahmat yang mengatakan dirinya sendiri dengan sebutan bodoh.
“Kenapa kau tersenyum, Dean? Apa ada hal yang lucu hingga membuatmu tersenyum sendiri seperti itu?” tanya sang kakek yang heran kepada cucunya itu.
“Tidak kakek, Dean hanya mengingat ucapan anak itu yang menyebut dirinya dengan sebutan bodoh,” kata Dean.
Kakek Dean geleng-geleng kepala melihat tingkah Dean yang kerap kali bertingkah konyol.
“Kau ikuti anak itu dengan cara diam-diam. Jangan biarkan dia pergi jauh, kelak anak itu akan berguna untuk kita,” kata sang kakek, yang entah apa tujuannya.
“Jangan peralat anak itu kakek, dia adalah anak yang lugu.” Kata Dean yang secara sengaja tidak mengizinkan sang kakek untuk memanfaatkan orang yang sudah menolongnya.
“Dia lugu karena selama ini tidak di ajarkan, kakek yakin dia memiliki kemampuan. Karena dia adalah keturunan dari Marcus Morren, kakek dari pihak ibunya.” Jelas kakek pada Dean.
“Marcus Morren siapa? Lalu apa hubungannya dengan kita?” tanya Dean penasaran.
“Belum saatnya kau tahu, turuti saja perintah kakek. Selalu ikuti dia, jangan bairkan orang lain menyakitinya,” kata Kakek dengan santai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
⭐Reo Ruari Onsiwasi⭐
itu saudara kembarmu
2022-05-14
1
Kin☀
misteri bangett sihh tapii baguss jadi gk berhenti bacaa😄
2022-05-14
4
ulie
beneren kembar si rahmat....masih mistery....penasaran
2022-05-14
2