Keesokan harinya, Rahmat benar-benar pergi mencari pekerjaan. Ia berkeliling pasar mencari orang yang membutuhkan jasa angkat barang.
“Pak, apakah bapak butuh jasa saya untuk mengangkat barang bapak?”
“Boleh, tolong kamu angkat karung beras- beras ini dan pindahkan ke lapak yang ada di belah sana!” perintah seorang bapak-bapak yang di duga adalah seorang bos beras di pasar yang di datangi Rahmat tersebut.
“Sudah semua Pak, apa ada yang lain lagi?” tanya Rahmat setelah selesai memindahkan karung-karung beras itu.
“Terimakasih, ini bayaran kamu. Buat beli rokok,” ucap bos beras itu sembari memberikan selembaran uang 50 ribu.
“Terimakasih pak, berkat bapak saya bisa makan hari ini,” kata Rahmat sambil menerima uang itu dengan rasa penuh syukur.
“Sepertinya kamu orang baru ya di sini?” tanya Bos beras itu kepada Rahmat.
“Benar, Pak. Baru seminggu,” jawab Rahmat dengan jujur.
“Lalu sekarang kamu tinggal di mana?”
“Saya tidur di emperan Toko jika malam hari,” jawab Rahmat lagi.
“Emm.. Begini, berhubung kamu tidak punya tempat tinggal. Bagaimana kalau kamu ikut saya dan kerja di Pabrik penggilingan beras di gudang saya?” tawar Bos beras.
“Bapak serius?” tanya Rahmat antusias. Lalu di angguki oleh Bos beras. “Kalau begitu saya mau, Pak. Saya mau kerja di Gudang beras bapak.”
“Ya sudah, sore nanti kamu ikut saya pulang,”
Pada saat sore harinya, Rahmat ikut Bos beras itu pulang. “Nah! Ini rumah saya, Gudang nya ada di belakang. Di belakang luas, kamu juga bisa istirahat dan tidur di sana.” Kata Bos beras. “Oiya, nama saya Jono. Siapa nama kamu?”
“Nama saya Rahmat, Pak,” jawab Rahmat dengan sopan.
“Kamu bisa mulai bekerja besok, ada beberapa orang yang juga bekerja di Gudang ini bersama kamu. Tapi jika malam hari mereka akan pulang ke rumah mereka masing-masing.”jelas pak Jono kepada Rahmat.
Setelah itu, pak Jono pun memerintah Rahmat untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Keesokan harinya, Rahmat sudah mulai langsung bekerja di Gudang beras milik pak Jono. Ia bekerja dengan sangat rajin dan telaten, hingga membuat pada buruh lain tidak suka padanya karena takut tersaingi di mata pak Jono.
“Sialan gembel itu! Cari muka sama bos Jono dia!” umpat salah satu buruh di Gudang itu.
“Orang baru tuh! Kayak nya bukan orang sini deh, soalnya baru pertama kali ini liat dia!” sahut Buruh lain.
Hari-hari di lalui begitu cepat, tak terasa sudah lebih satu minggu Rahmat bekerja di Gudang beras milik pak Jono. Namun seminggu lebih pula, ia selalu mendapat perlakuan buruk dari buruh yang lain.
“Kak Rahmat, ini Mayang bawakan untuk kakak,” Seorang gadis muda memberikan rantang makanan pada Rahmat. Ia adalah anak gadis dari pak Jono yang bernama Mayang sari.
Mayang sari gadis cantik berumur 19 tahun, bersikap cuek kepada orang lain. Tapi entah mengapa perlakuannya pada Rahmat sangat berbeda, apakah karena ia kasihan dan iba kepada Rahmat atau menyukai sebagai lawan jenis nya.
“Gak bisa di biarin ini! Kita harus cari cara untuk nyingkirin Rahmat,” ucap Budi salah satu buruh Gudang.
“Kita laporin aja sama bos Jono, kalau setiap hari kerjaannya pacaran sama si Mayang,” kata Baron, buruh yang lainnya.
“Lu yakin bakal berhasil?” tanya si Murat.
“Kalo gak berhasil, kita habisi aja dia. Apa susahnya?” kata Baron menjawab pertanyaan Murat.
“Ya udah, Lu panggil bos Jono. Suruh dia datang kesini, biar dia lihat tu si Rahmat lagi makan sama anak perempuannya!” Budi memerintah Baron untuk memanggil pak Jono.
“Terimakasih Mayang, tapi kamu tidak usah repot-repot. Tidak enak sama Buruh yang lain,” ucap Rahmat dengan sopan. Ia tidak ingin membuat para Buruh lain semakin membencinya.
“Kenapa harus tidak enak kak? Lagian tidak ada urusan sama mereka,” kata Mayang sambil membuka rantang makanan yang ia bawa.
“Sekali lagi terimakasih, Mayang,” ucap Rahmat.
Saat Rahmat hendak memakan makanan pemberian Mayang, tiba-tiba saja datang Baron, pak Jono serta beberapa Buruh lainnya.
“Itu bos, bos bisa lihat sendiri kan?” tunjuk Baron pada Rahmat dan Mayang yang duduk bersebelahan.
Pak Jono mendekati Rahmat dan putrinya. “Mayang, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya pak Jono dengan wajah tidak senang.
“Ayah, Mayang hanya membawakan bekal untuk kak Rahmat,” jawab Mayang sambil menundukan wajahnya.
“Rahmat, jangan kira kamu bisa mendekati putri saya karena saya yang telah membawa kamu kemari!” pak Jono menunjuk nunjuk wajah Rahmat.
“Maaf pak, saya tidak bermaksud untuk mendekati Mayang,” kata Rahmat.
“Mampus!” Baron dan kawan kawannya tertawa sinis kepada Rahmat yang di marahi oleh pak Jono.
“Kali ini saya maafkan, tapi jika saya lihat lagi kamu masih dekat-dekat dengan putri saya. Saya akan langsung mengusir kamu dari tempat ini!” setelah berkata seperti itu, pak Jono pergi sambil menarik tangan Mayang dari tempat itu.
“Ayo pulang, bikin malu saja!” bentak pak Jono pada putrinya.
“Mayang tidak mau pulang ayah, mayang bisa pulang sendiri nanti,” kata Mayang hingga membuat ayah nya semakin murka.
Setelah pak Jono dan Mayang pergi dari tempat itu, Baron dan rekannya mendekati Rahmat.
Mereka membuang makanan pemberian Mayang, dan kembali menghajar Rahmat hingga babak belur.
Bukk.. Bukk..
Suara pukulan pada bagian perut dan juga bagian tubuh yang lain. Rahmat hanya bisa mengeryit menahan sakit.
“Jika kau masih mau hidup, cepat tinggalkan tempat ini!” ancam Murat.
Setelah berkata demikian, mereka meninggalkan Rahmat yang terkapar tak berdaya di atas tanah depan Gudang beras itu.
“Arrgghh..” Rahmat mengeryit, merasakan nyeri pada tulang tulangnya dan juga perih pada bagian sudut bibirnya.
Dengan sekuat tenaga ia bangkit dari tanah itu. “Aku harus sabar, semoga saja aku bisa cepat menemukan ayah dan juga saudaraku,” Suatu harapan yang ia fikir akan menyenangkan jika bertemu dengan ayah dan juga saudaranya.
Suatu sore, ia di minta menemani Mayang jalan-jalan. Tanpa rasa curiga sedikitpun bahwa semua itu adalah jebakan yang di buat oleh Baron dan rekannya.
“Kak, temani Mayang jalan-jalan yuk?” pinta Mayang pada sore itu.
“Kamu ajak orang lain saja ya, saya masih banyak kerjaan,” tolak Rahmat dengan sopan.
“Ayolah kak, sekali ini saja!” pinta Mayang memohon.
“Saya tidak mau, Ayah kamu salah paham lagi terhadap saya. Apa kamu tidak ingat kejadian tempo hari saat ayah kamu melihat kita bersama, saya menjadi sebagai tersangka di sana. Jika nanti ketahuan lagi, bukan hanya saya yang akan di beri pelajaran tapi juga kamu. Dan saya tidak mau kamu terluka,” ucap Rahmat panjang lebar.
“Ayah gak akan tahu selama kita tidak terlalu lama, lagipula hari ini ayah pulang malam,” jelas Mayang. “Lagi pula kan, kak Rahmat abis gajian. Masa tidak mau membelikan Mayang hadiah,” sambung Mayang.
Dengan terpaksa Rahmat menuruti kemauan Mayang yang keras kepala seperti anak kecil itu.
Akhirnya Mayang dan Rahmat pun segera pergi menuju pasar Sore yang tidak jauh dari tempat itu. Tanpa tahu, bahwa Baron sudah menyiapkan rencana untuk menyingkirkan Rahmat dari lingkungan mereka.
Tidak terasa, hampir satu setengah jam mereka keluar rumah. Kini hari sudah mulai gelap saat mereka tiba kembali, namun ternyata pak Jono dan beberapa anak buahnya telah menunggu Rahmat dan Mayang di halaman depan.
“Berani muncul juga rupanya?” pak Jono bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Rahmat yang berdiri di depan Mayang.
“Ada apa ini, Pak?” tanya Rahmat kepada pak Jono.
“Masih tanya ada apa? Apa kamu buta, tuli? Sudah berapa kali saya bilang jauhi putri saya!” bentak pak Jono pada Rahmat.
“Ayah, kak Rahmat tidak mendekati Mayang, Mayang lah yang selalu mendekati kak Rahmat.” Jelas Mayang.
“Beru dia pelajaran, setelah itu usir dia!” perintah pak Jono kepada beberapa Algojo nya.
Rahmat pun di pukuli tanpa perlawanan, Mayang yang melihat hanya bisa menangis dan berteriak.
Setelah Rahmat terkapar, barulah pak Jono memerintah anak buahnya untuk berhenti.
“Sudah cukup! Sekarang bawa Mayang masuk, dan tinggalkan saja dia di sini!”
“Kak Rahmat, maafkan Mayang,” ucap Mayang yang di tarik paksa oleh anak buah sang ayah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Usmi Usmi
kenapa sih nama Mayang selaluu bikin ulah😀
2025-01-21
0
🇰 ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷
next ka👉
2022-05-29
0
M⃠∂я𝓦⃟֯𝓓🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ❤
liciknya kau whai mnusia🙄
2022-05-22
0