Satu minggu kemudian, Rahmat semakin dekat dengan pelayan di rumah keluarga Widjhaja itu. Tapi tidak dengan kembaranya dan juga papanya sendiri, Rahmat serasa berkumpul dengan orang asing saat berdekatan dengan papa dan juga saudaranya itu.
Seperti malam itu, Rahmat dengan sengaja pergi ke kamar mbok Nung.
Tok.. Tok.. Tok.. Suara Rahmat mengetuk pintu kamar mbok Nung dengan pelan.
“Tuan muda kedua,” kata mbok yang terkejut. “Kenapa tuan kemari?” tanya mbok Nung dengan takut.
“Mbok, Rahmat boleh tidur di sini ya,” pinta Rahmat dengan wajah memohon.
Tersirat jelas ketakutan di wajah tua mbok Nung. Bukan takut jika Rahmat akan berbuat mesum padanya, tapi takut ia akan di marahi dan di pecat oleh majikannya. Tapi ia juga tidak berani menolak keinginan Rahmat.
“Tapi apa tuan muda kedua tidak apa-apa tidur di kamar, mbok?” sang mbok terlihat ragu-ragu.
“Gak papa, Mbok,” Rahmat segera masuk membawa bantalnya ke dalam kamar mbok Nung.
“Silahkan, tuan,” kata mbok Nung.
“Mbok, jangan panggil Rahmat tuan. Rahmat gak suka,” ucap Rahmat. “Mbok sini, tolong pegang kepala Rahmat,” mbok Nung terkejut mendengar permintaan anak itu. Pemuda berusia 21 tahun itu bersikap seperti anak kecil.
“Sini, mbok. Tolong Rahmat, Rahmat tidak bisa tidur nyenyak selama di sini. Rahmat rindu ibu,” kata Rahmat. Mbok Nung segera naik ke atas ranjang nya. Lalu mendekati Rahmat dan mengelus kepala pemuda itu dengan lembut.
“Tidurlah, tuan.. Mbok akan temani,” kata mbok Nung dengan suara pelan.
“Mbok, kalau kita rindu pada orang yang sudah meninggal. Bagaimana cara kita melepaskan rindu?” tanya Rahmat seperti anak yang masih polos.
“Kita harus kirim doa untuk orang yang kita rindui itu,” kata mbok Nung sambil terus mengelus kepala Rahmat.
“Rahmat rindu sekali sama ibu, Mbok. Malam ini tepat 2 bulan ibu pergi meninggalkan Rahmat, dan sudah hampir dua bulan pula Rahmat berada di Jakarta ini,” jelas Rahmat hingga membuat mbok Nung ikut bersedih.
“Tuan muda harus sabar, sekarang juga kan tuan muda sudah berkumpul dengan papa dan juga saudara kembar, tuan.” Kata mbok Nung.
“Papa dan kakak seperti orang asing bagi Rahmat. Entah kenapa Rahmat merasa tidak senang dan selalu merasa terancam dalam bahaya kalau dekat dengan mereka,” kata Rahmat dengan mata terpejam. Ia menceritakan ketakutan yang ada dalam hatinya kepada mbok Nung.
“Tuan muda tidak boleh berkata begitu, mereka tetap saudara tuan muda. Tuan muda kan baru saja bertemu dengan mereka, jadi wajar jika seperti orang asing,” ucap mbok Nung, ia mencoba berfikir positif dengan majikannya itu.
“Tapi dengan mbok rasanya berbeda, Rahmat merasa tenang, mbok,” jelas Rahmat lagi.
Mbok Nung terdiam, ia tidak tahu harus menjawab anak muda yang haus akan kasih sayang itu. Anak yang malang.
Akhirnya mbok Nung bisa merasa tenang setelah Rahmat tertidur. “Syukurlah ya tuhan.. Anak ini akhirnya tertidur,” mbok Nung pun ikut tidur dengan posisi bersandar pada dinding ranjang dan memangku kepala Rahmat di pahanya. Tangannya sengaja ia letakan di kepala anak muda itu.
Keesokan paginya, Tuan Brahma memanggil-manggil nama Rahmat. Namun tak menyahut, ia pun membuka kamar putra keduanya itu. Tapi tak juga menemukannya.
“Rahmat.. Rahmat..” panggil tuan Brahma. “Kemana anak itu? Apa dia sudah curiga?” guman tuan Brahma.
Ia pun turun dari lantai atas, dan bertanya pada para pelayan.
“Apakah kalian semua melihat tuan muda kedua?” tanya sang tuan pada pelayan.
“Tidak, tuan,” jawab pelayan satu dan dua.
“Ada apa, tuan?” tanya mbok Nung sambil menyiapkan sarapan di atas meja.
“Apakah kamu melihat Rahmat?” tanya tuan Brahma dengan aura dingin.
“Ma-ma-maaf, Tuan.. Tuan muda semalam tidur di kamar saya,” mbok Nung membuat tuan Brahma dan juga pelayan lain terkejut dengan apa yang mbok Nung katakan.
“Apa? Bagaimana bisa?”
“Tuan muda kedua tidak bisa tidur semalam, dia bilang. Dia merindukan mendiang ibunya, yang mana semalam bertepatan dengan dua bulan kematian sang ibu,” jelas mbok Nung dengan takut.
“Ya sudah kalau begitu, tolong sampaikan padanya. Setelah dia bangun, tolong suruh dia menemui saya,” kata tuan Brahma lalu pergi meninggalkan area dapur itu.
“Baik, tuan!” sahut mbok Nung sambil menundukkan kepalanya.
“Papa, sampai kapan aku akan di kurung seperti ini? Aku bosan, pa!”
“Kamu sabarlah sedikit, nanti papa akan bicara padanya,” ucap tuan Brahma kepada putra sulungnya itu.
“Tapi sampai kapan? Nanti-nanti, ini sudah seminggu dari kedatangan Rahmat,” kata putra sulung tuan Brahma itu.
“Secepatnya, secepatnya papa akan bicara padanya. Kamu sabarlah, ini bukanlah perkara yang mudah,” jelas tuan Brahma. Ia meminta putra sulung nya itu bersabar.
“Jika semuanya tidak berhasil, maka aku akan pergi jauh dari kota ini bahkan negara ini,” kata putra sulungnya itu.
“Papa akan melakukan yang terbaik, papa janji,” ucap tuan Brahma sambil mengelus kepala putranya itu.
“Pergilah, Pa. Aku akan tidur saja lagi,” ia meraih ponselnya lalu kembali masuk kedalam selimutnya.
Tuan Brahma menghela napas dengan berat, tapi ia segera keluar kamar putra nya itu. Lalu menutup pintu kamar itu kembali.
Satu jam kemudian, di meja makan rumah itu. Hanya duduk Rahmat dan juga tuan Brahma. Lagi-lagi saudara kembar Rahmat tidak ikut makan bersama.
“Papa, apakah kakak tidak akan ikut makan bersama kita?” pertanyaan yang sama, yang selalu Rahmat tanyakan pada sang papa saat hendak memulai acara makan.
“Biarkan saja, dia. Dia memang seperti itu,” kata tuan Brahma tanpa memandang wajah Rahmat. “Makanlah sarapanmu, tidak usah banyak berfikir,” sambung tuan Brahma.
Rahmat pun tak berkata sepatah katapun lagi, ia langsung memulai acara sarapannya.
“Nanti setelah makan, temui papa di ruang kerja ada hal penting yang ingin papa bicarakan,” kata tuan Brahma saat ia telah lebih dulu menyelesaikan sarapannya.
“Iya,” ucap Rahmat.
Rahmat pun segera menyelesaikan sarapannya, setelah itu ia menyusul sang papa yang berada di ruangan kerjanya.
Tok.. Tok.. Tok..
“Masuklah!” suara tuan Brahma dari dalam.
Rahmat masuk kedalam ruangan kerja papanya itu, lalu duduk di depan sang papa.
“Ada apa, Pa?” tanyanya.
“Papa punya satu permintaan terhadapmu, ini yang pertama dan terakhir,” kata tuan Brahma.
“Permintaan apa? Rahmat akan coba berikan jika Rahmat bisa,” kata Rahmat.
“Ini berkaitan dengan masalah saudara kembarmu,” ucap tuan Brahma sambil menatap lekat wajah Rahmat.
“Berkaitan dengan kakak?” tanya Rahmat yang tidak mengerti.
“Benar, papa ingin kamu menggantikan nya,” kata tuan Brahma lagi.
“Menggantikan apa maksud, papa? Mana mungkin bisa kami bertukar?” terkejutlah Rahmat mendengar perkataan juga permintaan papanya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
❤️⃟WᵃfJonathan
rahmat kenapa dekat sm pelayan sj, namun tidak dgn kembaran dan papa nya sndiri
2022-05-14
0
Kin☀
sudah ku Duga pasti lah Rahmat yang menggantikan kesalahan marco, heiii marco kamu yang salah kenapa Rahmat yang kena imbasnya seharusnya kamu yang menanggung kesalahan kamu sendiri jangan kamu lempar kesalahan kamu ke orang lain
2022-05-14
3
Beast Writer
Ayah pe'a pilih2.
2022-05-14
0