"ibu tidurlah, El tidak akan suka kalau ibu terlalu khawatir seperti ini" ucap ayah Adnan
"bagaimana ibu nggak khawatir yah, anak kita di dalam sana sedang melawan maut. andai saja bisa, biar ibu saja yang menggantikannya" ibu Arini menatap El-Syakir dibalik pintu
"jangan bicara seperti itu bu, ini semua sudah takdir. kita berdoa semoga Allah menyembuhkan anak kita"
ibu Arini menatap ayah Adnan dengan pilu. matanya bengkak seharian menangis.
"El akan bangun kan yah...?"
"tentu saja, anak kita kuat. maka dari itu ibu juga harus jaga kesehatan agar kalau El sadar nanti ibu bisa merawatnya. jangan sampai ibu sakit saat El sudah sadar, itu akan membuatnya sedih. ibu tau betul kan bagaimana sayangnya dia padamu" ayah Adnan membawa ibu Arini ke dalam pelukannya
"terimakasih bu, sudah menjadi ibu terbaik untuk El"
"seorang ibu akan melakukan yang terbaik untuk anaknya yah. El anakku, sampai kapanpun itu dia akan tetap menjadi anak ibu meski dia tidak terlahir di rahim ibu sendiri"
ayah Adnan menghela nafas panjang. ia teringat dengan masa lalunya dulu. ia harus terpisah dengan anak pertamanya dan istrinya.
(apa dia menjaga kalian dengan baik. bagaimana kabar kalian sekarang. aku harap kalian baik-baik saja) batin ayah Adnan
"ayah"
"hummm, ada apa Bu...?"
"ayah melamun saja, ada yang ayah pikirkan...?"
"tidak, ayah hanya kecapean saja dan mengkhawatirkan El"
ibu Arini memegang tangan ayah Adnan
"kita hidup bersama sudah bertahun-tahun yah, ibu tau dari sorot mata ayah, ayah memikirkan sesuatu. apakah ayah memikirkan mereka...?"
Ayah Adnan tersentak dan langsung menatap istrinya itu.
"maafkan ayah bu, tiba-tiba saja ayah kepikiran mereka. tidak seharusnya ayah memikirkan orang lain padahal ayah punya keluarga di sini yang harus ayah pikirkan"
"ayah tidak salah, tidak perlu meminta maaf. tidak ada salahnya memikirkan bagaimana keadaan anak sulung ayah"
"dia pasti sudah besar ya yah, El saja sekarang sudah remaja, sudah kelas XI SMA. mungkin untuk dia, sudah duduk di bangku perkuliahan"
"iya, dia pasti sudah tumbuh menjadi laki-laki yang tampan" ayah Adnan tersenyum
"apa ayah tidak tau dimana mereka sekarang...?"
ayah Adnan menggeleng pelan. setelah berpisah, ia tidak tau dimana mereka dan bagaimana mereka sekarang.
"ayah tidak ingin mencari mereka...?"
"untuk apa. mereka sudah punya kehidupan sendiri. untuk anak ayah, dia pasti akan baik-baik saja karena dia mempunyai ibu yang hebat, kuat dan tangguh"
"apakah El tidak pernah menanyakan mereka...?"
"mereka terpisah secara paksa dan itu semua karena keegoisan kami para orang tua. ibu tau kan waktu itu El masih kecil, dia baru berumur 4 tahun dan kakaknya berumur 8 tahun"
"setiap hari dia terus menanyakan dimana kakak dan ibunya namun ayah selalu menjawab mereka ditempat jauh"
"namun setelah ia mendapatkan kasih sayang seorang ibu, sejak saat itu dia tidak lagi menanyakan mereka. namun terkadang ia terus mengigau memanggil nama kakaknya"
"dan setelah dia remaja, dia tidak pernah lagi menanyakan itu. mungkin karena dia tau ayah tidak akan pernah menjawab pertanyaannya"
"sekarang kita tidur, ini sudah larut malam"
mereka tidur di kursi karena mereka tidak bisa masuk ke dalam ruangan putra mereka.
*********************************
tengah malam, Alana terbangun. ia bangun dengan keringat dingin karena dirinya baru saja bermimpi buruk. dengan tangan bergetar ia mengambil air minum yang ada di sampingnya dan meneguknya sampai habis.
ia melihat ke bawah, Vino dan Leo sudah terlelap dalam mimpi.
perlahan ia turun dan menghampiri mereka kemudian ia membaringkan tubuhnya di samping Leo dengan bantal guling disimpan di tengah-tengah mereka.
**Allahu Akbar Allahu Akbar**
adzan subuh menggema, membangunkan mereka yang akan melaksanakan ibadah subuh.
"uuuggghhh" Vino merenggangkan tubuhnya kemudian ia bangun dan menyalakan lampu
kebiasaan mereka saat tidur adalah mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu kamar saja.
pas setelah ia menyalakan lampu, ia terkejut bukan main. jantungnya bahkan ingin melompat dari tempatnya.
(oh my God..... apakah gue sedang bermimpi...?) Vino menepuk pipinya pelan kemudian mencubitnya
(aaw sakit.... astaga naganaaaaa, oh my God, oh emji helloooooo) Vino mengucek-ngucek matanya
bagaimana tidak shock, pemandangan di depannya sungguh luar biasa. sepasang anak manusia sedang berpelukan entah sadar atau dalam keadaan tidak sadar. siapa lagi kalau bukan Leo dan Alana.
cekrek....
Vino mengambil gambar mereka
(ini akan jadi bukti saksi bisu nantinya. ckckck, gue juga pengen) batinnya merintih
"Le, Alana.... bangun udah subuh nih" leo menggoyangkan tubuh mereka
"5 menit lagi Vin, masih ngantuk gue" ucap Leo masih dengan tetap memeluk Alana
(cih, dasar pedofil. bilang saja nggak mau lepas) gerutu Vino
"bangun, udah subuh. ayo sholat" ucap Vino
Leo merenggangkan tubuhnya dan melihat ke arah Vino. ia belum sadar dengan keadaannya sekarang.
"udah jam berapa sih...?" tanya Leo
"tuh, lihat sendiri" Vino menunjuk jam dinding
Leo melirik jam dinding kemudian ia berusaha untuk bangun namun ia merasa lengan kirinya seakan berat ditindis sesuatu.
saat menoleh ke samping ia terlonjak kaget. ada gadis cantik di sampingnya dan parahnya gadis itu tertidur pulas dengan memeluk dirinya.
"astagfirullahaladzim" Leo meloncat dari tempatnya karena kaget
"uugghh" lenguhan Lana terdengar
Alana membuka matanya pelan. ia melihat Leo yang sedang menatap dirinya dan Vino yang sedang duduk di meja belajar.
"kak Leo sama kak Vino sudah bangun..?" Alana bangun dan duduk
"Lana, sejak k-kapan kamu tidur di bawah...?" tanya Leo gugup
"sejak semalam. Lana mimpi buruk dan nggak bisa tidur jadi Lana tidur di sini" jawab Alana
"memangnya kenapa kak Leo...?" tanya Alana
"nggak...nggak apa-apa" jawab Leo cepat
"semalam itu kalian berpe mmmm" Vino tidak melanjutkan ucapannya karena Leo membungkam mulutnya
"semalam kenapa...?" tanya Alana bingung
"nggak ada. lebih baik sekarang kamu bersih-bersih terus sholat" jawab Leo masih dengan membungkam mulut Vino
"ya sudah, Lana balik ke kamar dulu"
Alana beranjak meninggalkan mereka berdua. Leo menarik tangannya dari mulut Vino.
plak.... Vino menggeplak lengan Leo
"sakit Vin" ringis Leo
"sakit sakit, gue hampir mati bego. elu menutup jalannya pernapasan gue" kesal Vino
"sorry, abis elu mau ngomong yang nggak-nggak sama tuh anak"
"ngomong yang enggak-enggak gimana, itu fakta, real, nyata dan tajam setajam silet. nih lihat" Vino memberikan handphonenya ke Leo
"mampus gue, kalau El tau bisa K.O gue"
"gimana, enak nggak dipeluk-peluk...?" goda Vino
"ck...hapus"
"nggak, ini bagus tau fotonya. mesra banget"
"hapus Vin, gue bayar"
"nggak mau, gue juga punya uang"
"terus elu mau apa...?"
"hummm mau apa ya" Vino mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagunya dan melihat ke atas.
"dekatin gue sama Nisda, elu kan sepupunya. bolehlah tolong gue buat PDKT"
"mau dihajar sama Bara lu dekatin ceweknya"
"mereka kan udah putus, udah mantan kali. ayo dong, ya ya ya"
"ck...ok fine. tapi janji elu hapus fotonya dan jangan bilang sama siapa-siapa tentang kejadian tadi"
"okeh" girang Vino memeluk Leo
hari berganti hari El-Syakir belum juga sadarkan diri. ia telah dipindahkan di ruangan khusus agar keluarganya dapat dengan mudah untuk menjenguknya.
ayah Adnan, ibu Arini dan Alana selalu bergilir untuk menjaga El.
kalau ayah Adnan menjaga minimarket, berarti ibu Arini yang menjaga El. ibu Arini tidak apa-apa meninggalkan laundrynya karena ada kedua pegawainya yang mengurusnya.
bahkan setiap hari kedua sahabat El, Vino dan Leo selalu menjenguknya terkadang mereka tidur di rumah sakit.
seperti malam ini, mereka berada di ruangan perawatan El.
"nak Leo sama nak Vino, apa kalian tidak dimarahi orang tua kalian, karena sering tidur di sini...?" tanya ibu Arini
"ya nggak lah tante" jawab Leo
"syukurlah, ibu takutnya nanti kalian didatangi terus diseret pulang karena keseringan kesini" ucap ibu Arini
"Tante nggak usah khawatir, orang tua kami nggak kayak gitu kok. mereka senang kami peduli dengan sahabat sendiri" timpal Vino
ibu Arini tersenyum hangat. ia sangat senang anaknya memori sahabat seperti Leo dan Vino yang begitu peduli dengan sahabatnya saat kesusahan.
dulu juga waktu El kesusahan membayar uang sekolah, malah mereka yang membayarnya dengan menggunakan uang jajan mereka setiap harinya dan juga mencukupinya dengan tabungan mereka berdua.
"ayah, Alana kenapa belum datang juga...?" tanya ibu Arini
"Lana sudah di lobi rumah sakit, biar ayah jemput dulu soalnya pegangannya banyak" ucap ayah Adnan
"biar Leo saja yang jemput om" ucap Vino
Vino menyikut lengan Leo yang sedang terbengong-bengong dengan usulan sahabatnya itu.
"udah sana buruan" bisik Vino
karena tidak ada respon dari Leo, ayah Adnan beranjak untuk keluar namun Leo segera menahannya.
"om di sini saja. biar Leo yang jemput Alana" ucap Leo
"terimakasih ya nak Leo" ucap ayah Adnan
"sama-sama om"
Leo menatap tajam Vino, sedangkan Vino hanya mengedipkan mata dan tersenyum-senyum menggodanya
Leo keluar kamar dan menuju lobi rumah sakit. karena mereka berada di lantai tiga maka tentu saja mereka harus menggunakan lift.
tiba di lobi, Leo melihat Alana sedang duduk menunggu ayah Adnan.
"Lana" panggil Leo
"kak Leo. kakak di sini juga...?"
"hummm...ayo kakak bantu"
"kamu bawa apa sih, banyak banget...?"
"makanan, pakaian ganti, selimut dan beberapa belanjaan lainnya"
"udah semua kan, ayo naik"
mereka memasuki lift dan ternyata banyak orang yang masuk di lift itu membuat mereka harus berdesak-desakan.
untuk kedua kalinya Alana masuk ke dalam pelukan Leo. kali ini mereka dalam keadaan sadar tidak seperti malam itu.
bagaimana tidak, Alana bahkan diapit oleh seorang bapak-bapak yang kelihatannya genit, sehingga membuat Leo geram dan menarik Alana masuk kedalam pelukannya.
Leo menarik Alana membawanya ke depannya dan ia sendiri membalikkan badan sehingga tangan Leo ia gunakan sebagai tumpuan agar tidak menjepit Alana ke dinding lift.
Alana dapat mencium bau parfum maskulin dari tubuh Leo. entah mengapa ia sangat nyaman berada dalam posisi seperti ini.
tanpa sadar tangannya tergerak memeluk pinggang Leo, membuat Leo tersenyum kecil.
Ting.....
pintu lift terbuka. semua orang keluar termasuk Leo dan Alana.
"maaf ya Lana, tadi kakak melakukan hal yang mungkin membuatmu tidak nyaman"
"nggak kok, Lana nyaman seperti tadi. kakak jadi pelindung aku, sama seperti kak El" jawab Alana tersenyum manis
mereka sampai di kamar El-Syakir. karena belum makan, mereka memutuskan untuk makan malam dahulu.
Alana mengeluarkan semua makanan yang ia masak.
"waaah...ini semua kamu yang masak Lana...?" tanya Vino
"iya, ayo cobain kak" jawab Alana
mereka mulai makan, dan tidak henti-hentinya Vino memuji masakan Alana.
"gimana Le, enakkan...?" tanya Vino
"humm...enak" jawab Leo
Alana tersenyum mendapat pujian dari Leo. mereka makan dengan khidmatnya.
tengah malam, Vino bangun untuk buang air kecil. saat keluar dari kamar mandi ia mendengar El seperti bersuara.
perlahan ia mendekati El-Syakir dan ia mendapati El membuka matanya.
"Alhamdulillah El, kamu sudah sadar...?"
Vino segera membangunkan yang lainnya. mereka sangat senang akhirnya El-Syakir bangun juga dari komanya setelah berhari-hari ia terbaring seperti mayat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
VirgoRaurus 31Smile
memori sahabat atau memiliki sahabat nih....
2025-01-31
0
Doni Gunawan
selanjutnya
2024-12-19
0
Puryani Yani
masih memahami alur ceritanya
2024-11-22
0