"hubungi ambulan pak, cepat" Vino berteriak, dirinya bahkan gemetar melihat sahabatnya itu sudah bersimpah darah, air matanya tidak dapat ia tahan
"El, bertahan. ambulan akan segera datang" Vino memeluk erat tubuh El tidak peduli dirinya sudah dipenuhi darah sahabatnya itu
setelah beberapa menit ambulan akhirnya datang juga. El segera ditanduk dan dibawa masuk ke dalam mobil ambulan.
sepanjang jalan Vino tidak hentinya menangis. ia genggam tangan El dengan erat. dirinya sangat bingung dengan keadaannya sekarang.
mereka sampai di rumah sakit, El-Syakir segera di larikan ke ruang UGD.
Vino bersandar di dinding. ia sangat takut akan terjadi apa-apa dengan El, bahkan tubuhnya belum berhenti bergetar sampai sekarang.
sadar harus memberitahu keluarga sahabatnya itu, ia merogoh handphonenya di kantong celananya dan menghubungi sahabatnya Leo karena ia tidak mempunyai nomor telepon ayah Adnan ataupun ibu Arini
"kakak kamu kenapa belum datang juga Lana, ini sudah malam" ayah Adnan terlihat khawatir. Leo sudah bercerita bahwa El mengejar orang yang mengikuti Alana tadi
"Lana telpon kak El dulu" baru saja Alana ingin menghubungi nomor El, handphone leo bergetar
drrrrtttt.... drrrrtttt
📞 Leo
halo Assalamualaikum, lu dimana Vin. El mana...? Leo sengaja membesarkan spekar handphonenya
📞 Vino
El...El kecelakaan Le, dia ditabrak mobil dan sekarang dia di rumah sakit
mendengar El kecelakaan, ayah Adnan merebut handphone Leo, Alana sudah mulai menangis mendengar kakaknya kecelakaan
📞 Leo
halo nak Vino, ini om. rumah sakit mana kalian sekarang...?
📞 Vino
rumah sakit xxx om, cepat kesini om, Vino nggak tau harus ngapain.
📞Leo
om segera kesana
panggilan dimatikan. ayah Adnan segera menutup minimarket dan akan segera ke rumah sakit.
"Lana ikut yah" ucap Alana dengan deraian air mata
"kamu di rumah saja tenangin ibu" tolak ayah Adnan
"nggak mau, Lana mau ikut. Lana mau lihat kak El"
"ya sudah ayo. nak Leo om minta tolong, tolong nak leo jemput ibunya El dirumah tapi jangan dulu bilang kalau El kecelakaan, nanti ia shock. jemput saja dan bawa ke rumah sakit. bilang kalau itu perintah om" ucap ayah Adnan
"baik om"
ayah Adnan dan Alana menuju rumah sakit sedangkan Leo kembali ke rumah sahabatnya untuk menjemput ibu Arini.
Leo tiba di rumah El. dengan tenang ia berjalan dan menarik nafas.
"ok Leo, elu cukup menjemput tante Arini dan ke rumah sakit tanpa menjawab pertanyaan darinya" Leo berbicara sendiri
ceklek....pintu terbuka
"loh nak leo, kenapa berdiri saja di situ. terus El dan yang lainnya mana...?" tanya ibu Arini
"emmm begini tante. Leo ke sini mau jemput tante untuk ke rumah sakit"
"rumah sakit.... memangnya siapa yang sakit...?"
"kita ke rumah sakit sekarang ya tante, om Adnan sudah menunggu di sana"
"jawab tante dulu nak Leo, siapa yang sakit...?" raut wajah ibu Arini terlihat begitu khawatir
"nak Leo, siapa yang sakit. apakah El, Alana atau ayah Adnan...?"
Leo merasa bingung sekarang, haruskah menjawab atau diam saja
"jawab tante nak Leo" bentak ibu Arini
"El Tante...El kecelakaan dan sekarang dia di rumah sakit"
"ya Allah El...anak ibu" ibu Arini terkulai lemas
"Tante yang kuat, sekarang ayo kita ke rumah sakit" Leo membantu ibu Arini untuk berdiri
sedangkan di rumah sakit, ayah Adnan dan Alana langsung ke ruang UGD dimana Vino sudah ada di sana.
"nak Vino, bagaimana keadaan El...?" tanya ayah Adnan
"masih ditangani om" suara Vino berubah menjadi serak
Alana sudah menangis dipelukan ayah Adnan
"sebenarnya bagaimana kejadiannya...?" tanya ayah Adnan. matanya sudah memerah menahan tangis
Vino menceritakan kejadian yang sebenarnya, dari awal sampai akhir hingga dirinya berada di rumah sakit.
"kak El yah, ini semua gara-gara Lana" ucap Alana terisak
"tidak sayang, semua karena pengemudi mobil itu yang tidak hati-hati dalam mengendara" ucap ayah Adnan
"Ayah" panggil ibu Arini. ia datang dengan tergesa-gesa
"ayah bagaimana keadaan anak kita. El baik-baik saja kan yah...?" ibu Arini terisak
ayah Adnan memeluk istrinya itu. hatinya hancur melihat keadaan anaknya namun ia harus kuat di depan anak dan istrinya.
"kita doakan El baik-baik saja Bu. ayo duduk dulu" ayah Adnan membawa ibu Arini untuk duduk di kursi yang sudah disediakan
mereka menunggu lama hingga akhirnya pintu ruangan itu terbuka.
"bagaimana anak saya dokter...?" tanya Ibu Arini
"dia mengalami cedera parah di kepalanya, untungnya dia cepat dibawa ke sini kalau terlambat sedikit saja mungkin nyawa pasien tidak tertolong" jawab dokter
"lalu bagaimana sekarang, apakah anak saya baik-baik saja...?" tanya ayah Adnan
"untuk sekarang belum bisa dikatakan baik pak karena ia mengalahkan pendarahan otak dan setelah operasi pasien sekarang mengalami koma" jawab dokter
"ya Allah yah...anak kita yah, anak kita" ibu Arini teriak histeris
ayah Adnan memeluk ibu Arini, Alana dengan sadar atau tidak, ia memeluk Leo yang berada disampingnya. gadis itu terisak dipelukan Leo.
"apakah kami bisa melihatnya dokter...?" tanya ayah Adnan
"bisa pak, tapi hanya satu orang saja yang boleh melihatnya dikarenakan keadaan pasien masih dalam keadaan kritis" jawab dokter
dokter itu berpamitan pergi, mereka belum juga masuk untuk melihat El karena harus memutuskan siapa yang akan masuk ke dalam.
"Lana mau lihat kakak" ucap Alana serak
"ya sudah, biar kamu saja yang masuk. nanti kita gantian" ucap ayah Adnan
Alana masuk ke dalam. saat masuk, ia dapat melihat kakaknya terbaring lemah dengan berbagai macam alat yang entah apa namanya menempel di tubuhnya.
Alana perlahan mendekat dan duduk di samping kakaknya.
"kak" panggil Alana dengan lirih
"maafkan Lana, karena Lana kakak jadi seperti ini" Alana memegang tangan El
"kakak harus sembuh, Lana janji nggak akan nakal dan mendengar perkataan kakak. Lana akan jadi adik yang baik dan penurut"
"hiks...hiks...hiks...Lana janji kak, Lana akan jadi adik baik asal kakak bangun"
"kalau Lana nakal, kakak boleh hukum Lana, Lana ikhlas asal jangan jitak kening Lana karena itu sakit"
"Lana sayang kakak, cepat sembuh ya kak biar kita bisa jalan-jalan lagi tiap sore. kalau kakak bangun Lana akan traktir beli somai karena Lana punya uang dari hasil menabung"
gadis kecil itu menangis sesegukkan. perasaan bersalah menyelimutinya. andai dapat memutar waktu, ia akan terima saja bantuan Meri untuk mengantarnya pulang. namun sayangnya nasi sudah menjadi bubur.
Alana mencium kening kakaknya itu kemudian ia keluar. giliran orang tuanya yang masuk kemudian kedua sahabatnya. mereka saling bergilir untuk melihat keadaan El-Syakir.
Alana, Vino dan Leo disuruh pulang oleh ayah Adnan dan mereka akan menjaga El di rumah sakit.
mereka bertiga tidak ingin pulang namun ayah Adnan memaksa karena besok mereka harus sekolah dan dengan perasaan berat hati, mereka menyetujui perkataan ayah Adnan.
"hati-hati di jalan, om percayakan Alana kepada kalian berdua" ucap ayah Adnan
"kami akan menjaga Alana dengan baik" jawab Leo
setelah berpamitan, ketiganya pulang kerumah. Leo membonceng Alana dan Vino sendirinya.
tiba di rumah, waktu menunjukkan pukul 21.00. mereka membersihkan diri terlebih dahulu kemudian mereka melaksanakan sholat isya karena sejak tadi mereka melewatkannya. apalagi Leo dan Vino, mereka bahkan melewatkan sholat magrib.
"kak Leo dan kak Vino lapar nggak...?" tanya Alana
"banget. kakak lapar banget. saking paniknya tadi kakak sampai lupa kalau belum makan" jawab Vino
"kalau kak Leo...?" Alana menatap Leo
"kakak juga lapar" jawab Leo
"ya udah, kita makan yuk. ibu pasti udah masak tadi" ajak Alana
mereka menuju dapur tempat meja makan berada. dengan telaten Alana menyediakan makanan untuk mereka bertiga.
"kak Leo mau yang mana...?" tanya Alana
"kakak bisa ambil sendiri" jawab Leo
"kalau kak Vino...?"
"kakak juga bisa ambil sendiri" ucap Vino
mereka makan tanpa berbicara sedikitpun. meskipun mereka sedih namun mereka juga harus mengisi tenaga agar tidak tumbang nantinya.
setelah makan, Alana membereskan piring kotor kemudian menemui kedua sahabat kakaknya di ruang tengah.
"kamu istirahat saja Lana, ini sudah menjelang larut malam" ucap Vino
"Lana nggak bisa tidur" jawab Alana
"kenapa, kepikiran El ya...?" tanya Leo
"iya, terus Lana juga takut tidur sendiri karena masih kepikiran yang tadi. Lana trauma, nanti kalau Lana sendirian terus dia datangi Lana gimana...?" Alana terlihat takut
"kamu aman sekarang, ada kita berdua yang akan jagain kamu, jadi kamu nggak usah khawatir" ucap Vino
"tetap saja Lana takut. kita tidur bertiga ya" usul Alana
Leo dan Vino tersedak ludah, mereka saling tatap-tatapan. bagaimana bisa mereka harus tidur bertiga, seranjang bertiga.
"kamu tidur di kamarmu saja ya, tenang saja kami berdua akan berjaga di sini" ucap Leo
"iya, lagipula kita nggak mungkin tidur bertiga. kalau kakakmu tau bisa dipenggal kepala kami" timpal Vino
"tapi Lana takut. kita tidur di kamar kak El saja. Lana di ranjang dan kak Leo sama kak Vino di dibawah"
"tapi" Leo dan Vino ragu atas usul Alana
"tenang aja kak, Alana nggak akan bilang sama ayah dan ibu" ucap Alana
"termasuk kakakmu ya, kakak belum mau game over Na" ucap Vino
"iya...iya, Lana bisa jaga rahasia kok. ayo kita tidur, Lana udah ngantuk" ucap Alana
karena Alana memaksa akhirnya mereka bertiga tidur di kamar El-Syakir. sebelum tidur, pintu dan semua jendela diperiksa terlebih dahulu agar tidak ada orang yang bisa masuk.
Alana tertidur pulas di ranjang, sedangkan Leo dan Vino masih terjaga.
"pasti yang mengejar Alana tadi adalah pembunuh itu" ucap Vino
"elu yakin kalau itu orang yang sama yang elu lihat tadi siang...?" tanya Leo
"sangat yakin. pakaiannya bahkan topinya saja warna hitam semua, apalagi dia memakai masker juga" jawab Vino
"motifnya apa sih sebenarnya sampai dia membunuh gitu. kayaknya ya, dia mengincar orang yang sudah ia buntuti beberapa kali dan saat ada kesepakatan maka di situ dia beraksi" ucap Leo
"berarti akhir-akhir ini dia sering membuntuti Alana dong" ucap Vino
"bisa jadi. berarti untuk sekarang Alana belum aman karena bisa saja orang itu kembali lagi mengincarnya" ucap Leo
"sakit jiwa kayaknya tuh orang. membunuh dijadikan sebagai kesenangan baginya" geram Vino
"karena El lagi sakit berarti sekarang tugas kita adalah menjaga Alana sampai El sembuh"
"elu benar Le, bagaimanapun juga Alana udah kita anggap adik kita juga"
"hoaaammm.... tidur yuk"
Vino menutup matanya. ia terlihat sangat kelelahan. matanya bengkak karena menangis, begitu juga dengan Leo.
di tempat lain, seorang laki-laki sedang memperhatikan foto yang berada di tangannya.
"dimana lagi aku harus menemukanmu mas. bahkan Burhan sudah pindah ke kota ini untuk mencarimu namun kamu tidak ketemu juga"
"aku ingin mengambil amanah Burhan yang ia titipkan untukmu'"
ia kembali menyimpan foto itu dan melihat ke ranjang yang terdapat seseorang berbaring di atasnya.
"sudah lama kamu tidur, namun kamu tidak pernah bangun juga" gumamnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
VirgoRaurus 31Smile
waduh...udah ketabrak mobil, ditanduk pula...kasihan, kejam nian si Author.
2025-01-31
0
VirgoRaurus 31Smile
kesepakatan apa kesempatan Thor....beda arti tuh
2025-01-31
0
Doni Gunawan
selanjutnya lagi
2024-12-19
0