“Ada maling! Kamarku kemasukan maling!” teriak salah satu wanita di dalam rumah.
“Jessica! Aku tadi lihat Jessica berdiri di depan kamarmu. Sepertinya dia yang mencuri,” sahut yang lain.
“Cepat periksa kamar kalian! Siapa tahu ada yang kehilangan lagi,” seru yang lain lagi.
Caroline sadar jika setelah ini mereka pasti akan mencari dia dan putrinya. Dan mungkin karena kegaduhan ini, akan membangunkan para penjaga yang mabuk.
Wanita tua itu pun tanpa berpikir lagi, seketika langsung keluar dan berlari dengan tenaga tuanya, hingga sampai di tempat Jessica bersembunyi.
Caroline kelelahan karena harus berlari cepat, hingga nafasnya tersengal dengan degup jantung yang berpacu cepat.
Sedangkan Jessica, dia mengintip dari balik tembok gudang, dan melihat jika para penjaga sudah mulai bangun.
“Bu, ayo kita lari ke sungai sekarang! Penjaga itu sudah bangun. Aku nggak mau sampai tertangkap lagi,” seru Jessica.
Namun, Caroline terlihat begitu kelelahan dan nafasnya belum bisa diatur normal. Satu tangannya bertumpu pada lutut, dengan sebelahnya lagi memegangi dada.
“Tunggu ... Tunggu sebentar. Ibu masih ngos-ngosan,” sahut Caroline.
Jessica kembali mengintip, dan di sana sudah semakin gaduh. Dia pun tak peduli jika ibunya masih belum bisa berlari lagi, dan menariknya saat itu juga.
“Jess, tunggu! Jangan di tarik-tarik!” pekik Caroline.
“Cepat, Bu. Kalau mereka sampai menemukan kita, si tua bangka itu pasti akan semakin membuat kita susah. Ayo cepat!” seru Jessica.
Caroline berlari dengan ditarik Oleh putrinya, sambil sesekali melihat ke belakang. Saat dia melihat seorang penjaga keluar dari lubang yang dibuatnya, Caroline pun segera mempercepat larinya dan menarik sang putri masuk ke pepohonan.
“Diam dulu di sini!” seru Caroline.
Dia bersembunyi di salah satu pohon yang berada tak jauh dari jalan utama peternakan. Dia mengintip dari sana dan melihat jika semua sudah berpencar dan mencari keberadaan mereka berdua.
“Kamu lari dulu ke sungai! Ibu akan susul kamu sambil memantau mereka,” seru Caroline.
Jessica pun segera berlari ke tempat yang di sebutkan oleh ibunya. Sementara itu, Caroline bergerak dengan hati-hati sambil sesekali menoleh ke belakang, dan melihat pergerakan para penjaga itu.
Dia mempercepat larinya saat mengetahui salah satu dari mereka melihat keberadaannya di antara pepohonan, dan menunjuk ke arahnya.
“Cepat seberangi sungainya!” pekik Caroline kepada sang putri yang berdiri di tepi sungai.
Jessica melihat dari kejauhan bahwa para penjaga mulai masuk ke dalam hutan dan akan segera menemukan mereka.
Dia tak mau sampai tertangkap, hingga tak peduli dengan ibunya yang tertinggal di belakang.
Dia segera masuk ke air dan menyeberangi sungai dengan arus yang lumayan besar. Saat di tengah sungai, dia melihat Caroline kesusahan untuk menyeberang, dia hendak berbalik namun urung karena takut tertangkap lagi.
Gadis itu melanjutkan langkahnya hingga akhirnya tiba di tepi sungai. Dia berlari semakin cepat hingga naik ke atas dan tiba di jalan raya.
Caroline dengan tenaga tuanya bersusah payah melintasi arus sungai, dalam kejaran penjaga yang sudah semakin dekat.
Tak sampai di sana, setelah keluar dari sungai pun, dia harus segera naik ke atas untuk mencapai jalan raya.
Para penjaga yang mengejar sudah hampir bisa menyusulnya hingga dari kejauhan, terdengar suara sang putri berteriak memanggil.
“Ibu, cepat lari!” teriak Jessica.
Caroline berusaha naik dan saat tiba di atas, dia melihat jika putrinya sudah berhasil mendapatkan bantuan.
Mereka pun segera pergi dari sana menumpang sebuah truk pengangkut sayuran, yang akan pergi ke sebuah kota di negera bagian A.
Dari balik terpal penutup bak belakang, Jessica mengintip ke luar dan melihat, jika penjaga peternakan tampak kesal karena mereka berhasil kabur.
Sedangkan Caroline, nafasnya tersengal dengan tangannya terus memegangi dada.
“Rasanya, jantung ibu mau copot!” seru Caroline.
Namun, keduanya pun tertawa karena berhasil lolos dari kejaran anak buah Paulo. Mereka pun berencana untuk bersembunyi di kota lain dan memulai hidup baru di sana, mengingat rumah mereka yang dulu telah dijual untuk membayar bunga hutang kepada si pria tua itu.
...👑👑👑👑👑...
Di Dream hill, pagi itu Liana kembali mendapat tugas membersihkan ruang kerja Kakek Joseph.
Seperti biasa, dia akan lebih dulu membersihkan semuanya, dan menyisakan cetak biru yang berada di balik lemari buku.
Dia kembali mengambil benda tersebut dan meletakkannya di atas lantai. Dia duduk bersila dan mengeluarkan notebook nya dan mulai mencorat coret di atas buku catatan kecil tersbut.
Gadis itu terlihat tengah membuat sketsa ruangan demi ruangan, yang terdapat pada cetak biru tersebut. Entah kenapa, ada perasaan hangat di hati Liana setiap kali melihat hasil gambarnya yang berasal dari cetak biru itu.
“Benar-benar rumah yang sangat hangat dan indah. Pasti penghuninya akan sangat bahagia,” gumamnya.
Jika sudah berhubungan dengan rancang bangun, Liana seolah lupa waktu dan sekitar. Dia sampai tak sadar, jika dirinya masih berada di area pribadi Kakek Joseph yang terkenal diktator di antara para pelayan dan pekerja di rumah besar tersebut.
Mungkin karena sikap kakek tua itu yang selalu mengalah pada Liana, sehingga membuat gadis itu seakan merasa jika setiap tindakannya bisa dibenarkan.
Namun saat dia sedang serius menggambar, sebuah suara menggelegar dengan nada tinggi mengagetkannya dari belakang.
“Sedang apa kamu di sini?!”
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
Dwi miemie
jangan sampe Jessica ditemukan dan mengaku sebagai cucu kakek jhosep
2025-03-29
0
🦋⃟💎⃞⃟𝘼𝙇𝚏𝚒𝐞𝐞𝐫𝐚.༄㉿ᶻ⋆ ❤
ya ko ketahuan
2022-06-07
1
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
✌✌✌✌
2022-03-26
3