Hari pertama bekerja di rumah besar Kakek Joseph, Liana mendapat tugas untuk menemani Siska memberi makan rusa-rusa yang berada di bagian belakang rumah.
Dengan cekatannya, Liana mengangkat jerami dan memberi makan rusa-rusa milik pria tua itu. Dia tidak merasa jijik sama sekali, meski tugasnya tak hanya sampai di situ saja, melainkan juga membersihkan seluruh kandang hewan tersebut.
Siska bahkan tak percaya, jika ada seorang gadis cantik bisa melakukan tugas seperti itu. Awalnya, dia mengira jika Liana akan merajuk minta pulang, karena tak tahan dengan pekerjaan barunya. Tak disangka, di hari pertama pun, sudah bisa dilihat jika gadis itu tak memandang jenis pekerjaan sama sekali.
Saat istirahat siang, Liana duduk di tepi danau jernih, yang berada tak jauh dari kandang rusa berada.
Dia membuka sepatu boot yang dipakainya saat pekerjaan, dan mencelupkan kedua kakinya ke dalam air.
Dengan isengnya, dia menendang air tenang di danau, hingga timbullah riak di atas permukaan.
“Minumlah!” seru Siska menyodorkan segelas minuman dingin kepada rekan barunya.
Liana menoleh, dan meraih minuman tersebut.
“Terimakasih,” sahutnya tersenyum.
Siska duduk di samping Liana, sambil memandangi pemandangan sejuk di depan mereka.
“Sepertinya, kamu sering bekerja kasar?” terka Siska saat melihat tangan Liana yang terlihat kasar.
“Hem, mungkin karena aku sudah terbiasa hidup susah sejak kecil. Jadi, aku tak terlalu pilih-pilih pekerjaan. Asal bisa dapat uang, aku pasti Menerimanya. Tapi entahlah, kan aku juga hilang ingatan,” sahut Liana setelah seteguk jus kalengan masuk ke kerongkongannya.
“Benarkah? Aku kira kamu itu anak manja. Maaf, biasanya gadis yang memiliki wajah cantik selalu begitu bukan. Tak mau susah sedikitpun,” ucap Siska mengutarakan isi hatinya.
“Hahahaha, yah. Memang biasanya seperi itu. Hanya wajah dan penampilan saja yang dipikirkan. Begitukan maksudmu? Tapi sayang nya, sepertinya itu tak berlaku untukku,” ungkap Liana dengan tawa getirnya.
Siska melihat raut sedih di wajah Liana, seolah ikut merasa betapa beratnya kehidupan gadis itu sebelumnya, yang bahkan tak diingatnya lagi.
"Mungkin, ini keuntungan dari amnesiamu. Jadi, kamu tak perlu mengenang masa lalu mu yang pahit itu," ucap Siska.
Liana meneguk kembali minumannya, dan melanjutkan kata-katanya.
“Sebenarnya, aku ingat sedikit tentang masa laluku. Aku yatim piatu sejak kecil. Ibuku meninggal saat umurku sembilan tahun, dan aku harus bisa mandiri sejak saat itu. Jadi, tak ada waktu untukku berpikir selain bertahan hidup,” tutur Liana.
“Benarkah? Maafkan aku. Aku tak bermaksud menyinggung mu sama sekali. Aku hanya bicara apa yang aku pikirkan saja,” ucap Siska merasa bersalah.
“Tak apa. Aku senang jika ada orang yang mau terbuka seperti ini. Setidaknya, kamu tidak perlu menyembunyikan pemikiranmu tentangku, dan jika memang aku ada salah, aku bisa memperbaikinya. Benar begitu kan,” sahut Liana.
“Yah, kau benar. Memang tidak baik berbicara di belakang orang,” ucap Siska.
...👑👑👑👑👑...
Di lain tempat, nampak seorang pemuda tengah berada di sebuah perpustakaan, sambil terus memperhatikan pintu masuk.
Dia seolah tengah menunggu kedatangan seseorang yang sedari beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja menghilang bagai ditelan bumi.
Pemuda yang tak lain adalah Christopher Chen, merasa kehilangan sosok Liana yang menghilang setelah pagi itu sempat bertemu dengannya di depan apartemen, ketika Liana mengantarkan susu ke tempatnya.
Dia bahkan sudah menghubungi pihak Universitas untuk menanyakan alamat tempat tinggal gadis itu, namun tetap tak ada jejak sama sekali. Bahkan, saat dia pergi ke rumah Liana, atau lebih tepatnya rumah bibi Caroline, ada beberapa pria bertubuh besar tengah berjaga di sekitar rumah tersebut.
Hal itu membuat Christopher urung untuk berkunjung ke sana.
Keesokan harinya, dia kembali tak menemukan keberadaan Liana di kampus. Akhirnya, pemuda itu kembali ke rumah bibi Caroline, dan melihat jika para pria bertubuh besar telah pergi dari sana.
Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah tersebut, namun sepertinya tak ada seorang pun ada di dalam sana. Rumah itu nampak begitu sepi.
Pemuda itu mencoba mengintip ke dalam dari jendela samping, namun seperti yang terlihat jika rumah itu sunyi, dan tak ada siapa pun di dalam sana.
“Hei, anak muda. Sedang apa di situ?” tanya salah seorang tetangga.
Christopher pun berbalik dan berjalan menghampiri tetangga itu.
“Maaf, Bi. Apa benar ini rumah Liana?” tanya Christopher.
“Siapa kamu? Kenapa kamu mencari dia?” tanya bibi tetangga itu balik.
“Perkenalkan, namaku Christopher. Aku teman kuliah Liana. Sudah beberapa hari ini dia tidak datang ke kelas. Aku hanya ingin memberitahunya, jika sebentar lagi ujian tengah semester akan dilaksanakan,” jawab Christopher mencari alasan.
“Oh, jadi kau temannya. Syukurlah jika gadis malang itu punya teman. Aku kira, dia hanya dikelilingi oleh orang-orang yang menindasnya saja. Tapi, sepertinya kedatanganmu sedikit terlambat,” ucap bibi tetangga itu.
“Apa maksud Bibi terlambat? Memangnya di mana Liana sekarang? Tadi pin ku lihat rumahnya sepi,” tanya Christopher bingung.
“Beberapa hari yang lalu, aku lihat dia dibawa oleh anak buahnya Paulo,” jawab bibi tetangga.
“Paulo? Siapa dia?” tanya Christopher.
“Paulo adalah tuan tanah yang memiliki peternakan di sebelah utara kota. Dia sangat suka memperistri gadis-gadis muda seusia Liana, yang dijadikan penebus hutang oleh keluarganya,” jawab bibi tetangga.
Christopher terkejut bukan main. Dia tak menyangka jika gadis yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya, akan bernasib seperti itu.
“Ja ... Jadi, Liana sekarang sudah ...,” tanya Christopher.
“Tapi, aku rasa dia kabur!” sela bibi tetangga.
“Apa?! Kabur, Bi? Apa Bibi yakin?” tanya Christopher yang merasa semakin khawatir.
“Tadi pagi, bibi dan sepupunya dibawa pergi oleh anak buah Paulo. Kabarnya, mereka dibawa ke sana sebagai ganti, karena gadis yang dibawa sebelumnya telah berhasil kabur,” jawab bibi tetangga.
“Benarkah? Lalu, di mana Liana sekarang?” tanya Christopher semakin cemas.
“Tidak ada yang tau di mana dia sekarang. Bahkan, anak buah Paulo pun sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tak ada tanda-tanda keberadaannya. Paulo adalah orang yang terkenal kejam. Dia tak akan segan untuk menghilangkan nyawa orang yang sudah membuatnya kesal. Aku khawatir jika gadis itu sampai tertangkap, entah apa yang akan terjadi padanya,” sahut bibi tetangga.
Mendengar hal itu, Christopher sungguh merasa semakin khawatir dan cemas, akan nasib gadis buruk rupa yang selalu membayangi dan membuat penasaran dirinya.
Di mana kamu Liana? Apa kau baik-baik saja saat ini? batin Christopher.
Sejak saat itu, Christopher terus berusaha mencari keberadaan Liana, sesuai dengan petunjuk yang berhasil ia kumpulkan.
Namun sayang, semua itu berakhir pada sebuah kecelakaan, yang sempat terjadi di sebuah jalan dekat gang kecil di blok G. Bahkan, dia tak bisa melacak di mana rumah sakit yang merawat korban kecelakaan itu.
Christopher meyakini jika kecelakaan itu melibatkan Liana, karena sejak saat itu, gadis buruk rupa yang selalu menjadi perhatian Christopher menghilang bak ditelan bumi.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
💪💪💪💪
2022-03-26
2
Mien Mey
tiba," ktemu kke tjir terus cwo gnteng tjir nyri" ternyta nasubmu ga jlek" amat liana
2022-03-24
2
Indra Saputra
sips
2022-03-21
3