“Permisi, botolnya...,” ucap Liana terputus.
Matanya membola saat melihat seorang pemuda yang sangat familier berada di balik pintu.
“Liana? Kamu Liana kan?” tanya pemuda yang tak lain adalah Christopher.
Liana nampak menurunkan topi Apollo nya, agar wajahnya tak bisa terlihat jelas. Meskipun memakai penutup wajah, namun Christopher masih begitu mengenali gadis tersebut.
“Maaf, tolong keluarkan botolnya,” seru Liana.
“Oh, maaf. Sebentar yah,” ucap pemuda itu.
Christopher pun masuk ke dalam tanpa menutup rapat pintunya. Dari arah luar, Liana bisa mengintip betapa bagusnya ruangan di dalam apartemen tersebut.
Saat bayangan Christopher terlihat berjalan ke arahnya lagi, Liana segera mengalihkan pandangannya dan berpura-pura biasa saja.
“Ini botol kosongnya. Jadi, kamu yang...,” ucap pemuda itu sambil menyerahkan botol kosong tersebut.
Namun, Liana segera meraih benda berbahan kaca tersebut dengan cepat dan pamit pergi.
“Permisi,” ucap Liana yang membuat Christopher pun harus memotong kata-katanya.
Gadis itu berlalu begitu saja, sambil terus mengganti botol-botol susu yang kosong di alamat yang sudah tercatat di buku kecilnya.
Christopher terus memperhatikan Liana dari ambang pintu. Ada rasa kagum saat dia melihat perjuangan gadis berwajah cacat itu.
“Selalu dingin seperti biasa,” gumam Christopher.
Selesai mengantar semua susu dan koran, Liana kembali ke depot susu dan agen koran, untuk selanjutnya meminta upah dan mengembalikan botol-botol kosong.
Hari sudah beranjak siang. Matahari pun sudah terlihat keluar sepenuhnya dari peraduan, menyinari setiap sudut kota Metropolis dengan cahayanya.
Saat dia pulang hendak bersiap untuk pergi kuliah, Tiba-tiba, Bibi Carol menyambutnya ketika dirinya baru saja memasuki pintu belakang.
“Liana, kamu baru pulang ternyata. Sini masuk dulu. Ikut bibi sebentar,” seru Bibi Carol dengan begitu ramah.
Liana mengernyitkan keningnya, karena merasa aneh dengan sikap bibinya yang biasanya selalu berlaku kasar padanya.
Ada apa ini? Aku mencium sesuatu yang buruk akan terjadi, batin Liana.
Bibi Carol terus menuntun Liana sampai di ruang tamu. Di sana, sudah ada seorang pria berambut hitam bercampur putih, tengah duduk di tempat tersebut.
Liana menghentikan langkahnya, karena sudah bisa menebak siapa pria tua itu. Namun, Bibi Carol terus menariknya hingga Liana pun masuk dan berada di depan pria yang bisa dibilang renta tersebut.
“Halo, Liana. Si gadis jelek,” ejek pria bernama Paulo itu.
Liana kenal betul siapa itu Paulo. Dia adalah seorang kakek tua yang suka memperistri gadis-gadis muda, hanya untuk dijadikan pemuas n*fsunya, dan setelah bosan, dia akan melempar mereka ke peternakan miliknya di pinggiran utara kota Metropolis yang sangat terkenal kumuh.
Entah kenapa bibi Carol membawanya untuk bertemu dengan pria kejam itu.
Liana gemetar melihat tatapan pria tua Paulo saat memandangnya. Dia seolah tengah menelanjangi dirinya dengan mata tua itu.
“Harganya murah karena wajah jeleknya itu. Tapi cukup untuk membayar hutangmu. Aku akan bawa dia hari ini, dan surat perjanjian hutangnya akan ku berikan padamu besok pagi. Aku harus lihat, apakah dia masih tersegel atau tidak,” ucap Paulo yang membuat Liana semakin ketakutan.
“Baiklah. Tentu saja Anda bisa membawanya sekarang,” sahut bibi Carol.
“Tapi, Bi. Aku mau dibawa ke mana?” tanya Liana gemetar.
“Tentu saja pulang ke rumah calon suamimu. Bibi akan kirimkan barang-barangmu ke sana nanti. Cepat pergilah!” seru bibi Carol.
“Tidak, Bi. Tolong jangan lakukan ini. Aku mohon,” pinta Liana.
Namun, bibi Carol tak memedulikan permohonannya sama sekali. Wanita itu seakan tak mau tahu bagaimana nasib keponakannya nanti.
Paulo memberikan perintah lewat ayunan tangannya kepada kedua anak buah yang sedari tadi berjaga di luar rumah reyot itu.
Mereka pun menyeret gadis malang itu keluar dari rumah, masih dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Dia bahkan tak diizinkan untuk mengemasi barang-barangnya sendiri.
Liana terus meronta, namun sekuat apa pun dia berusaha, tenaganya tak bisa menandingi kedua orang yang membawanya pergi.
Dia dimasukkan ke dalam sebuah mobil Van hitam, dengan Paulo yang duduk di sampingnya. Pria tua yang sangat suka daun muda itu, memerintahkan anak buahnya untuk segera melajukan mobilnya dan pergi dari sana.
“Tolong lepaskan aku, Tuan. Sebaiknya kamu bawa sepupuku saja. Dia lebih cantik dariku,” bujuk Liana.
“Yah, dia memang cantik. Tapi bibimu hanya ingin menjual mu yang tidak berguna saja. Mungkin nanti, kalau bibi mu itu masih suka berhutang, aku bisa mengambil anaknya juga. Hahaha,” sahut Paulo dengan tawa liciknya.
Liana semakin ketakutan mendengar perkataan pria tua itu.
Bagaimana ini? Sepertinya aku tidak bisa meminta dengan cara baik-baik, batin Liana.
Dia pun mulai memikirkan suatu cara agar bisa lepas dari Paulo. Dia melihat jalan yang dilewati mobil tersebut, dan muncul sebuah ide.
Di depan ada perempatan. Semoga saja saat melintas di sana, lampunya merah, batin Liana.
Dia yang begitu tahu jalannya Metropolis pun, hendak merencanakan rute pelariannya.
Saat tiba di perempatan, suatu kebetulan yang baik karena lampu mendadak merah. Liana pun mulai merapat ke handle pintu mobil, yang tadi dia ingat lupa dikunci oleh pengawal Paulo.
Dia pun membuka pintu itu cepat dan segera melompat turun dari mobil, membuat Paulo dan anak buahnya terkejut dan bergegas mengejarnya.
Namun, Liana yang begitu hapal dengan setiap sudut kota itu, berhasil melarikan diri dan menyusuri gang sempit yang menjadi rute pelariannya.
Ya Tuhan, semoga aku bisa kabur dari pria tua itu, batin Liana
Liana terus berlari hingga ke jalan raya di seberang blok. Dia terus menoleh ke belakang, hingga tak terlalu memperhatikan jalanan di depannya. Sampai tiba-tiba,
BRAK! SRAAAAAK!
Sebuah mobil menabraknya hingga terpental begitu jauh.
Liana terkapar di atas aspal pagi itu, di saat pelariannya belum juga selesai.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
kompiang sari
lianaaa ...
2025-02-14
0
Nyoman Muti
crtnya menarik bikin pensaran lanjut thor👍♥️
2023-01-23
1
paty
liana kamu kan kerja knp tdk lsng pindah sj, lbh baik kost aja jd tdk perlu takut menyimpan uang hasil kerja
2022-10-24
1