"Apa imblan untukku? Aku seorang pebisnis dan aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan ku,” jawab Joseph dengan tatapan serius.
“Apa Anda masih harus menanyakan hal itu? Saya tidak punya apapun sekarang. Bahkan nama pun tak punya. Saya hanya punya tubuh dan tenaga, tentunya saat sudah sembuh nanti. Jadi, silakan saja Anda jadikan saya pembantu di rumah Anda yang pastinya sangat besar itu, Tuan,” ucap Liana dengan tenang.
Jawaban gadis itu kembali membuat tawa Joseph meledak. Dia tak habis pikir, di setiap ucapan gadis belia di hadapannya, selalu saja terselip maksud tersembunyi.
“Hahahaha ... Kamu memang gadis licik. Baiklah, kita lihat seberapa cantiknya kamu. Kalau memang kamu benar-benar cantik, aku akan bawa kamu pulang, dan ku jadikan pajangan rumah. Tapi kalau jelek, jangan salahkan aku kalau aku akan membuatmu kelelahan mengurus rumah besar ku itu. Hahaha,” sahut Joseph dengan tawanya yang menggelegar.
“Oke, Deal!” sahut Liana mantap dengan mengulurkan tangan.
Joseph memicingkan matanya melihat kepercayaan diri dari gadis itu. Dia pun bangkit berdiri dan berjalan menggunakan tongkatnya, untuk menghampiri si gadis belia itu.
Si tua Joseph pun meraih tangan Liana dan menjabat tangan gadis cerdik di hadapannya.
“Aku harap, kamu tidak menyesal sudah berbisnis denganku, anak muda,” seru Joseph.
“Saya jamin, tidak akan,” sahut Liana dengan yakin.
...👑👑👑👑👑...
Beberapa bulan berlalu. Liana yang kini sudah selesai menjalani fisioterapi untuk memulihkan kondisi kakinya, sudah mulai bisa kembali berjalan normal.
Luka di tubuhnya bahkan telah pulih. Tinggal luka dari operasi pemilihan wajah yang dilakukan beberapa hari yang lalu, yang masih terbalut perban.
Dia kini lebih mirip mumi, yang hanya terbalut perban, hanya di bagian wajahnya saja.
“Hahahahaha.... Hahahahahaha...,” sebuah suara tawa tiba-tiba menggelegar di ruang rawat Liana.
Hari ini, pak tua Joseph datang mengunjungi gadis itu lagi, setelah kunjungannya yang terakhir, kali saat mereka menyepakati sebuah perjanjian tanpa hitam di atas putih, tentang Liana yang meminta wajahnya untuk dipulihkan, dengan imbalan dia akan bekerja di rumah Joseph sebagai tukang bersih-bersih.
“Puas sekali Anda tertawa, Kakek. Lihat saja, saat perban ini di buka, Anda pasti akan terpesona melihat kecantikanku. Tapi, jangan harap saya mau dengan Anda,” seloroh Liana.
Mendengar hal itu, Joseph kembali tertawa semakin keras.
“Memang berapa umurmu? Percaya diri sekali kamu bilang begitu. Kamu ini lebih cocok menjadi cucuku,” ucap Joseph.
“Baiklah. Kalau begitu, saya mau jadi cucu angkat Anda saja,” sahut Liana cepat.
“Hei! Sepertinya aku terlalu baik padamu, hingga kamu banyak meminta,” seru Joseph dingin.
“Aku hanya minta identitas saja. Karena seperti yang Anda tau, aku kehilangan semua hal tentangku setelah kecelakaan waktu itu. Jadi, apa salah kalau saya memintanya dari Anda, Kek?” jawab Liana dengan percaya diri.
Tak ada rasa ragu atau takut sedikitpun yang terpancar di mata gadis, itu saat berhadapan langsung dengan pak tua Joseph.
Anak ini sangat berbeda. Biasanya, mereka akan takut dan pura-pura patuh dengan apa yang aku katakan. Tapi dia, bahkan selalu saja menentang apapun yang ku katakan. Gadis yang menarik, batin Joseph.
Jimmy yang sedari awal terus menemani Liana pun, merasa jika ada yang lain dengan kepribadian gadis ini.
Aku seperti familiar dengan sikap berani dan angkuhnya ini. Seperti seseorang yang sudah lama tidak ku jumpa, batin Jimmy.
Di tengah rasa penasaran semua orang tentang sosok Liana, si gadis aneh yang tiba-tiba saja hadir di tengah mereka, seorang dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan tersebut.
Para petugas medis itu akan membuka perban penutup wajah Liana, yang beberapa hari ini menutupi bekas operasi pemulihan wajah.
“Apa Anda sudah siap, Nona?” tanya dokter itu.
“Persiapkan dirimu, jika ternyata wajahmu memang benar-benar jelek,” ejek Joseph.
“Anda yang harus bersiap-siap, Kek. Jangan sampai karena wajah cantikku ini, Anda jadi pingsan ... Hei, paman. Apa kakek Joseph ada riwat penyakit jantung? Sebaiknya segera siapkan obat yang biasa diminumnya,” seru Liana kepada Joseph dan Jimmy.
Kedua orang dewasa itu kembali dibuat kesal oleh tingkah gadis kecil yang sedang pura-pura amnesia.
“Apa bisa dimulai?” tanya sang dokter.
“Mulai saja dok,” seru Liana.
Dia menutup matanya, dengan tangan yang menggenggam erat pinggiran selimut yang menutupi badannya. Meski dia terus bertingkah angkuh dan percaya diri, namun di dalam hatinya, dia pun gugup dan takut jika wajahnya tak bisa pulih seperti sedia kala.
Semua yang ada di ruangan itu menegang. Tak terkecuali Joseph, yang sedari tadi memang menunggu saat perban itu dibuka. Dia sengaja datang hari ini, untuk melihat langsung wajah gadis itu, dan sekaligus ingin memastikan jika gadis itu hanya omong besar.
Namun, saat perban berhasil dibuka sepenuhnya, Tiba-tiba saja, pak tua Joseph yang sedari tadi duduk, kini berdiri dan begitu terperangah melihat wajah gadis di depannya.
Bahkan, Jimmy pun ikut terkejut dan menoleh ke arah pak tua itu.
“Tuan, ini ...,” ucap Jimmy yang tak mampu meneruskan perkataannya.
Joseph berjalan hendak menghampiri Liana, yang masih belum membuka matanya. Tangannya terulur seolah hendak meraih gadis itu.
“Lilian,” panggilnya lirih.
Seketika itu, Liana membuka mata, karena salah mendengar saat Joseph memanggilnya dengan nama Lilian, bukan Liana.
Dia terlihat takut. Takut jika ternyata kakek tua itu kenal dengannya.
“Lilian,” panggil Joseph sekali lagi.
Lilian? Jadi, dia panggil aku Lilian? Kukira Liana. Hampir saja. Tapi, siapa itu Lilian? Batin Liana.
“Siapa Lilian? Apa itu namaku? Apa kakek mengenalku?” tanya Liana yang kembali tenang dan berpura-pura amnesia lagi.
Namun, saat Joseph hendak meraih gadis itu, Jimmy segera menahannya dan menyadarkan pak tua itu, bahwa di hadapannya adalah orang yang berbeda.
“Tuan, sadarlah. Dia gadis nakal itu. Bukan Nona Lilian,” ucap Jimmy lirih.
Joseph pun seketika tersadar, jika yang dilihatnya adalah gadis kecil berusia belasan tahun, yang hanya memiliki wajah mirip dengan putrinya yang telah menghilang belasan tahun yang lalu.
Pria tua itu pun kemudian berbalik dan berjalan pergi dari ruang rawat tersebut. Namun, saat baru sampai di ambang pintu, Joseph mengatakan sesuatu kepada Jimmy.
“Setelah dia benar-benar sehat, bawa dia pulang ke rumah besar! Dia harus membayar semua biaya rumah sakitnya selama ini,” seru Joseph.
Dia kemudian berjalan pergi meninggalkan Jimmy, yang begitu kaget dengan keputusan tuan besarnya.
Rumah besar? Maksud Tuan, rumah besar yang ada di Dream hill? Batin Jimmy bingung.
Dia kemudian menoleh dan menatap lekat wajah gadis yang baru saja berubah itu. Dia kembali dibuat bingung dengan gadis yang ditabraknya beberapa bulan lalu.
Kenapa ada hal seperti ini? Wajahnya, sikapnya, semua sama. Apa mungkin dia....,
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
epifania rendo
cucunya
2022-11-17
1
Alya Yuni
Pasti cucunya kakek Josep
2022-03-27
2
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
💪💪💪💪💪cepat kamu up ya👍🏼👍🏼👍🏼
2022-03-25
3